Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 205. Amayra itu kuat


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Tunggu, tunggu...bukankah ini salah. Bagaimana bisa aku tidur bersama dengan adik iparku sendiri? Jika Satria tau, dia bisa kecewa padaku.


"Oh ya, Amayra..."


"Ya mas?" sahut Amayra pada Bima.


"Karena kondisiku masih belum pulih, sebaiknya untuk sementara waktu kita tinggal dulu di kamar yang terpisah." ucap Bima pada Amayra.


"Kenapa mas? Aku janji kok gak akan ganggu tidur mas. Kata dokter juga...bukankah lebih baik kalau kita bersama, itu bisa mempercepat kembalinya ingatan mas Satria." kata Amayra sambil menatap polos pada suaminya itu.


Gawat! Satria gimana ini?


Bima berkata."Tapi aku ingin tidur sendiri dan aku gak mau menganggu kamu yang sedang hamil. Aku tidak apa-apa kok tidur sendiri."


Ayolah setuju saja! Kamu tidak boleh tidur denganku.


"Mas...kamu kan masih sakit, kamu pasti membutuhkan aku." kata Amayra pada Bima. "Kalau tengah malam nanti kamu butuh apa-apa, disini ada aku yang bisa bantu.'


"Aku tidak membutuhkan kamu, aku bisa sendiri. Lagian kamu juga butuh istirahat kan? Nanti kamu sama bayi ki-kita bisa kenapa-napa kalau terlalu lelah." Bima tergagap, dia kesulitan untuk berkata lembut seperti Satria yang asli.


Astaga Satria! Sulit sekali menjadi dirimu. Kalau bukan karena dua keponakanku yang belum lahir itu, aku ogah!. Bima sudah tidak tahan untuk


"Iya May, itu benar. Kalian berdua sama-sama lagi sakit, masa orang sakit merawat orang sakit? Malam ini kamu tidur saja sama Anna atau Diana, Satria bisa tidur denganku...aku yang akan jaga dia." Bram datang ke kamar itu sambil membawakan makanan untuk Satria.


"Tapi kak...aku gak enak meninggalkan mas Satria disini dan aku tidak merawatnya." Amayra menundukkan kepalanya.


"Gak apa-apa. Kamu pikirkan saja kesehatan kamu dan bayi kamu dulu, jangan sampai stress. Ingat kata dokter ya!" Bram perhatian pada adik iparnya itu.


Bram dan Diana membantu Amayra dan Bima untuk makan malam. Setelah makan malam, Diana membawa Amayra pergi ke kamar lain di lantai bawah, sementara Bram tidur dengan Bima.


"Sat, kalau kamu butuh apa-apa atau mau ke kamar mandi. Kamu bangunkan saja aku ya," ucap Bram sambil mengambil bantal dan selimut tipis di atas ranjang itu.


"I-iya kak."


Disisi lain Bima lega karena dia tidak tidur sekamar dengan Amayra, tapi dia juga merasa tidak nyaman karena Bram akan tidur sekamar dengannya disana.


Kenapa juga si Bram harus tidur bersamaku disini?

__ADS_1


"Kamu terlihat bingung, semoga ingatan kamu cepat kembali. Kasihan Amayra sama anak kalian yang belum lahir." ucap Bram sambil tersenyum lembut.


Dia membawa selimut dan bantal itu ke atas sofa yang tak jauh dari ranjang yang ditempati Bima.


"Oh ya, aku mau tanya kak."


"Ya?"


Bima menatap pada foto seorang bayi laki-laki di atas dinding. Dia adalah foto alm. Rey. "Bayi yang lucu itu, anak siapa dia dan dimana dia?"


Apa dia anak Satria? Sejak tadi aku penasaran dengan bayi itu. Bayi itu terlihat mirip dengan si Bram.


"Itu..." Bram terlihat ragu saat akan menjelaskannya.


Apa aku harus menjelaskan pada Satria kalau Rey adalah anakku dan Amayra? Tapi...bukankah ini malah akan memperumit semuanya. Lebih baik jangan!


"Anak itu adalah anak pertama kamu dan Amayra." jawabnya.


"Oh...lalu dimana dia berada sekarang?" tanya Bima sambil melihat ke arah Bram yang masih duduk di sofa.


Aneh, aku sama sekali tidak pernah mendengar tentang bayi ini.


"Meninggal? Kenapa?" tanya Bima dengan kening berkerut.


"Rey sakit meningitis." jawab Bram sedih. "Satria, apa ada yang ingin kamu tanyakan lagi?"


"Iya, ini tentang Amayra." jawab Bima.


"Ya, tanyakan saja!"


"Apakah Amayra memang orang yang cengeng dan lemah seperti ini? Ataukah dia seperti ini karena sedang hamil?" tanya Bima penasaran dengan sosok Amayra.


"Satria, kok kamu bicara seperti itu tentang istrimu. Dia adalah wanita paling kuat yang pernah aku temui, walaupun dia terlihat lemah diluar... sebenarnya dia adalah wanita yang kuat."


"Kuat bagaimana? Aku melihat dia menangis terus." gumam Bima menggerutu tentang Amayra.


"Dia menangis begitu karena dia sangat mencintai kamu Sat. Dia mengkhawatirkan keadaan kamu, coba saja kalau kamu ada diposisi dia, kalau orang yang kamu cintai melupakan kamu... bagaimana rasanya? Pasti sedih kan? Menurutku itu adalah hal wajar."


"Hem begitu ya. Lalu apa maksud kakak dengan wanita yang kuat? Memangnya dia kuat kenapa?"

__ADS_1


Bram terdiam cukup lama ketika mendengar pertanyaan Bima yang ini. Dia teringat peristiwa masa lalu akan dosanya, dimana dia memperkosa Amayra sampai hamil dan meninggalkannya sendirian. Disaat wanita itu sedang membutuhkan dirinya dan pertanggungjawaban dari Bram. Tapi Bram malah pergi bersama Alexis keluar negeri tanpa peduli keadaan Amayra. Dimana wanita itu menghadapi semua hinaan semua orang sendirian, di keluarkan dari sekolah, kehilangan cita-citanya, tapi dia tetap mempertahankan Rey dan tetap bertahan hidup.


Astagfirullah...aku jadi teringat dengan dosa-dosaku. batin Bram sambil mengelus dadanya.


Kenapa dia malah melamun? Dia sedang berpikir apa?. Bima melihat Bram dengan keheranan.


"Kak Bram? Apa kakak tidak apa-apa?" Tanya Bima pada Bram yang malah melamun, dia melihat pria itu berkaca-kaca.


Kenapa dia malah menangis?


"Ah...ya, pokoknya dia adalah wanita yang kuat, tabah dan penyabar. Kamu tidak akan mendapatkan wanita seperti dia lagi di dunia ini, dia adalah satu dari sejuta...ini yang selalu kamu bilang padaku. Kamu sangat mencintai Amayra karena dia adalah wanita yang kuat dan tegar. Dia berbeda dari wanita lain, dia juga Sholehah dan tidak meninggalkan shalatnya." jelas Bram memuji Amayra.


"Begitukah? Lalu kak...maaf aku menanyakan ini, tapi aku sangat penasaran. Dari kata-katamu aku menangkap sesuatu, apa kamu pernah menyukai istriku?" Bima menatap tajam ke arah Bram. Dia penasaran bagaimana perasaan Bram pada Amayra.


"Hahahaha...iya itu dulu kok. Sekarang aku sudah punya Diana dan dia sudah punya kamu. Jangan dibahas lagi ya Sat... pokoknya kamu cepat ingat, agar aku tak perlu menjelaskannya lagi." Bram tersenyum, dia mendoakan Bima/ Satria agar dia cepat pulih. Dia tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan hubungan rumit yang pernah terjadi pada Bram, Amayra dan Satria di masa lalu.


Cepat ingat? Lebih baik kamu doakan saja agar Satria cepat sadar. Ah sial! Aku ingin mengatakan semuanya.


Setelah itu Bram pergi tidur, diam-diam Bima keluar dari kamar itu dan membawa ponselnya dan ponsel Satria. Dia memindahkan nomor-nomor penting dari ponselnya ke ponsel Satria agar penyamarannya tidak dicurigai.


"Aku harus menelpon Jack dan menanyakan tentang dalang dibalik semua ini."


Tut...Tut....


Pada tengah malam itu, Bima menelpon Jack anak buahnya. "Jack, bagaimana? Apa kamu sudah membuat dia mengaku?"


"Dia masih belum mengaku bos," jawab Jack.


"Lalu bagaimana keadaan Satria?" tanya Bima berbisik-bisik, dia takut ada yang mendengarnya


"Pak Satria masih berada dalam keadaan koma."


"Baiklah...kamu harus buat dia mengaku, kalau perlu siksa dia sampai dia tidak tahan lagi untuk-"


Kenapa aku merasa ada yang berdiri dibelakangku?


Ketika sedang berada ditengah pembicaraan bersama Jack, ada siluet seseorang berdiri dibelakangnya.


...----****----...

__ADS_1


__ADS_2