
Satria menatap tajam ke arah saudara kembarnya itu."Kakak mau jawaban yang jujur atau bohong?"
"Pertanyaan kamu lucu banget deh, tentu saja jawaban yang jujur dong." Bima tersenyum lebar.
"Aku tidak suka kakak perhatian sama istriku, jadi kakak gak usah antar jemput kami lagi." kata Satria jujur, terang-terangan mengatakan perasaannya terhadap Bima.
Bima tercekat, dia melihat ke arah Satria yang duduk di kursi belakang. Raut wajah Satria terlihat kesal. "Satria, kamu cemburu sama aku?" Bima menunjuk pada dirinya sendiri.
"Gak tuh, gak cemburu." Sangkal Satria.
"Kalau gak cemburu terus apa? Bener kata Amayra, kamu tuh jaim." ucap Bima sambil tersenyum tipis. Dia ingat dulu Amayra pernah mengatakan kalau Satria orangnya jaim, itu terjadi saat Bima berpura-pura menjadi Satria dulu.
"Apa? Amayra bilang aku jaim? Kapan kalian ngobrol tentang aku?!" Seru Satria.
"Ehm...itu saat kamu koma. Udahlah skip aja, aku minta maaf ya kalau udah buat kamu cemburu. Tapi aku gak ada apa-apa sama Amayra, aku peduli padanya karena dia sedang hamil keponakanku, itu saja Sat." jelas Bima pada Satria.
Satria masih mengerutkan kening saja bahkan setelah Bima menjelaskannya dia tidak puas dengan jawaban saudara kembarnya itu.
"Satria kamu masih gak percaya sama aku? Gila aja, masa aku jatuh cinta sama adik iparku sendiri yang lagi hamil! Memangnya aku tidak logis?" Bima berusaha meyakinkan Satria bahwa dia tak mungkin menyukai Amayra.
"Yang benar?"
"Iya dong, masa iya aku jatuh cinta sama cewek yang lagi hamil. Lagian Amayra gak cantik-cantik amat, dia biasa aja." kata Bima sambil tersenyum.
"APA? Kakak bilang Amayra gak cantik?" Satria terlihat kesal saat istrinya dibilang tidak cantik oleh kakaknya.
Eh, aku salah ngomong ya?. Bima menggaruk-garuk kepalanya dengan bingung.
"Dia cantik sih cantik." kata Bima bingung mau jawab bagaimana.
"APA? Dia cantik?" suara Satria meninggi ketika mendengar istinya di puji oleh Bima.
Bima tercenung bingung. "Dibilang gak cantik salah, dibilang cantik juga salah. Aku harus bilang apa?"
__ADS_1
"Haha, udah yuk ah kita pulang. Oh ya kata mama Nilam dia pengen ketemu, kita ke rumah besar dulu aja ya." Bima menyalakan mobil dan mulai tancap gas.
"Iya deh kak." jawab Satria setuju.
Hem, walaupun kak Bima bilang dia gak suka sama Amayra...tapi aku tetap saja khawatir. Amayra kan banyak yang suka walau semua orang sudah tau dia menikah denganku. Aku harus carikan pacar untuk kak Bima.
Satria dan Bima pun pergi ke rumah Calabria. Mereka disambut ramah oleh Nilam dan Cakra. Tidak seperti biasanya yang selalu memasang cemberut pada Satria dan Bima, kini Nilam terlihat ramah.
Tanpa basa-basi dan panjang lebar, Nilam meminta maaf pada Satria atas perlakuannya selama ini yang sudah menyakiti hatinya dan Amayra.
"Maafkan mama ya Satria, selama ini mama selalu menganggap kamu orang lain hanya karena kamu bukan lahir dari rahim mama. Padahal kasih sayang kamu kepada mama, sama seperti kasih sayang anak kepada ibunya. Mama minta maaf nak, mama janji untuk ke depannya mama akan bersikap baik sama kalian...hiks..." Nilam menangis sambil memegang tangan Satria dengan tulus.
"Ma, udahlah kita gak usah bicarakan masa lalu. Satria sama Amayra udah lama melupakan yang terjadi. Mama jangan sedih ya, yang penting mama sudah sadar sekarang...Satria senang." ucap Satria sambil tersenyum, tangannya menyeka air mata Nilam dengan lembut.
"Kamu mau maafin mama kan?" tanya Nilam pada Satria.
"Sudah sejak lama, aku sudah maafin mama kok." ucap Satria tidak keberatan.
Nilam dan Satria berpelukan penuh haru. Bima dan Cakra tersenyum bahagia melihat pemandangan itu. Semoga saja Nilam benar-benar menyesal dan berubah, tidak berubah menjadi dzalim kembali.
****
Kampus Amayra.
Amayra masuk ke dalam ruangan kelasnya, dia melihat Lisa sudah berada disana. Lisa membantu Amayra berjalan. "Lisa, aku bisa jalan sendiri." Amayra menepis tangan Lisa pelan-pelan, sambil tersenyum.
"Benaran? Aku khawatir itu perut kamu udah buncit banget, udah 9 bulan kan?" tanya Lisa sambil menatap perut buncit temannya itu.
"Baru mau 8 kok." jawab Amayra sambil tersenyum.
Lisa terperangah, dia tidak percaya bahwa kandungan Amayra baru akan memasuki usia 8 bulan karena perut Amayra terlihat sangat membuncit dan besar. "Yang benar? Bukannya mau 9 bulan ya? Tapi kok gede banget ya...apa karena didalam sini ada dua dede bayi?" tanya Lisa polos.
"Iya kali ya, hehe." jawab Amayra sambil tersenyum.
__ADS_1
Lisa, Amayra dan mahasiswa jurusan matematika lainnya melaksanakan ujian naik semester. Tak terasa sebentar lagi mereka akan naik semester dan tak lama lagi mereka akan melakukan program KKN. Program yang kehadirannya sangat dinantikan oleh setiap mahasiswa disetiap perguruan tinggi.
Setelah 1 jam melaksanakan ujian, Amayra, Lisa dan Anna pergi ke kantin kampus mereka untuk memakan beberapa cemilan disana.
"Woah, twins yang mau bakso apa mamanya?" Tanya Anna sambil memandang Amayra yang sedang makan bakso dengan lahap.
"Hehe, gak tau kenapa nih lagi pengen banget makan bakso di kantin kampus." Amayra menambahkan saus ke dalam baksonya, bakso itu ditemani bihun dan juga daging sapi.
"Ya udah, ikutin aja deh maunya...nanti dede bayinya ngiler." kata Lisa sambil tersenyum dan memakan mie ayam yang dia pesan.
Ketika sedang asyik mengobrol bertiga, Anton dan seorang temannya baru saja keluar dari ruangan dekan.
"Hey Anton! Mana Ken?" tanya Anna berseru pada Anton.
Anton menghampiri Anna, Amayra dan Lisa di salah satu meja kantin. "Ken? Kenapa tanya Ken sama aku?" Tanya Anton heran.
"Ken hari ini gak ikut ujian, katanya ada urusan sama kamu. Kamu juga gak masuk ujian, jadi aku pikir kamu sama dia." ucap Anna dengan kening berkerut dan mata penuh pertanyaan.
"Haahh...sama aku? Gak tuh, daritadi aku habis dari ruang dekan...lagi ngomongin biaya kuliah. Aku gak sama dia." Anton menggelengkan kepalanya, dia menjelaskan bahwa dia tidak bersama Ken.
Kemana dia? Katanya dia bersama Anton? Kenapa dia bohong?!. Anna terlihat kesal, dia mendengus marah.
"Wah wah...aku nyium bau gosong disini." Lisa melirik sekilas pada Anna yang terlihat kesal itu.
"Aku malah cium bau bakso disini." Ucap Anton sambil melihat bakso yang sedang dimakan oleh Amayra.
"Anton mau bakso juga? Pesan aja! Yang cincang lebih mantap loh!" Kata Amayra sambil tersenyum.
"Hey! Kalian malah ngomongin bakso sih? Aku lagi kesel nih!" Anna cemberut, dia kesal karena Ken berbohong.
Amayra membawa segelas jus jeruk, lalu dia meletakkan gelas dingin itu di pipi Anna. "Jangan kesel kesel An, dinginkan hati kamu." Amayra tersenyum.
"Heem bener tuh, pengantin baru harus banyak senyum." Anton duduk disamping Lisa dan mengambil cemilan disana.
__ADS_1
Ken kemana sih?. Anna resah sendiri memikirkan Ken yang bohong. Dia pun mengangkat ponselnya dan berniat menelpon Ken saat itu juga.
...*****...