Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 138. Curhatnya Amayra


__ADS_3

Amayra cemberut dengan bibir mengerucut, dia tidak berkata-kata. Bram dan Diana saling curi pandang, mereka melemparkan pertanyaan lewat mata. Ada apa dengan Amayra?


Tanpa bicara apapun, Amayra masuk ke dalam kamarnya. Dia mengganti bajunya, kemudian pergi keluar kamar dengan wajah sedikit cerah.


"Maaf ya kak Bram.. kak Diana, barusan aku capek banget." Kata Amayra sambil melihat anaknya yang masih tidur di kasur tengah rumah.


"Kamu kayak lagi kesel dari tadi narik nafas terus?" tanya Bram pada adik iparnya.


"Itu wajah kamu juga...kamu dicakar kucing apa gimana sih?" Diana melihat wajah Amayra seperti ada bekas cakaran disana.


"Aku gak apa-apa kok," jawab ibu satu anak itu dengan wajah sedihnya.


"Ayo cerita sama kakak kakak mu ini, ada apa sih Mayra?" ucap Bram sambil menatap adik iparnya itu.


Amayra menceritakan semua yang terjadi sambil menangis, dia tidak menutupi apapun dari orang-orang yang sudah menjadi keluarganya. Apalagi sejak Satria pergi ke Afrika, hubungan antara Amayra, Bram dan Diana semakin dekat karena Rey.


"Udah jangan nangis ya, ya ampun keterlaluan banget sih tuh orang!" Diana menepuk-nepuk bahu Amayra dengan lembut, seraya menenangkannya.


"Ah...dia cewek yang waktu itu nyebarin berita tentang kamu sampai kamu dibully satu sekolah dan akhirnya dikeluarkan?" tanya Bram, dia kembali teringat cerita tentang Amayra yang dulu viral karena hamil diluar nikah.


"Iyah.. dia yang itu..hiks...hiks.. kenapa airnya terus keluar?" Amayra terus menyeka air matanya. "Kalau Mas Satria lihat gimana? Hiks.." gumam wanita itu sambil menangis.


Ibu mana yang tidak akan sakit hati jika anaknya di hina seperti itu. Itulah perasaan Amayra saat ini. Bram terlihat kesal saat mendengar seseorang menghina Rey, karena Rey adalah anaknya juga.


Setelah menenangkan Amayra yang sedih, Bram dan Diana pamit pulang. Diana melihat wajah calon suaminya yang masih terlihat marah dan tidak tenang. Pria itu terus menghela napas.


"May, kamu sabar ya..kami pamit dulu, kalau ada apa-apa kasih tau kamu ya," ucap Diana pada wanita yang sudah seperti adiknya sendiri.


"Iyah. Kak Diana sama kak Bram jangan cerita sama Mas Satria ya, nanti aku yang bilang sama suamiku!" kata Amayra mengingatkan kedua kakaknya itu.


"Iya baiklah, kamu kasih tau dia sendiri." Diana tersenyum.


Melihat Amayra bersikap seperti ini, dia terlihat seperti anak remaja yang sedang merajuk.


Diana dan Bram pamit mengucap salam. Mereka naik ke dalam mobil Bram, rencananya Bram akan mengantar Diana ke rumahnya lebih dulu sebelum dia pulang ke rumahnya.


"Sialan!" Ucap Bram memaki sambil memukul setir kemudinya.


"Mas.. tenang Mas.. istighfar kamu Mas!" Kata Dian mengingatkan.


"Astagfirullahaladzim.. aku gak bisa tenang di. Anakku dan ibunya dihina seperti itu diluar sana. Pasti Amayra sering mengalami semua ini, semuanya karena dosaku dimasa lalu! Anakku dan ibunya juga ikut menanggung semuanya," ucap Bram sambil menundukkan kepalanya, menyesal atas apa yang sudah dia lakukan dulu karena pengaruh alkohol.


"Mas, itu kan sudah berlalu. Kamu sudah berubah dan berusaha memperbaiki semuanya. Sekarang kamu jangan menyesali yang sudah berlalu, kita bantu saja Amayra dan Satria!"

__ADS_1


"Caranya?"


"Telepon pengacara keluargamu, kita tuntut dan habisi orang yang sudah menganggu adik dan anak kita!" Kata Diana dengan wajah kesalnya.


"PFut.. hahaha.."


"Loh, kok malah ketawa sih?" tanya Diana yang heran melihat Bram malah tertawa.


"Habisnya kamu imut banget sih kalau marah," ucap Bram sambil mengulurkan tangannya pada hidung Diana lalu mencubitnya dengan gemas.


"Mas.. Bram.." kening Diana semakin berkerut. "Aku serius!"


"Iya deh iya, aku telepon pengacaraku sekarang. Siapa tadi nama tersangkanya?" tanya Bram dengan seringai di bibirnya.


"Hiyy.. kamu kalau marah serem juga ya," ucap Diana yang bergidik ngeri melihat wajah Bram ketika dia menyeringai dan tersenyum sinis.


Wajah seperti akan menghabisi seseorang, ya sebagai seorang pebisnis yang sukses. Jatuh atau dijatuhkan adalah hal yang biasa dan Bram sudah terbiasa berada di posisi atas. Dengan kekuatannya dia bisa membuat perusahaan dibawahnya gulung tikar dalam semalam.


*****


Malam itu selepas shalat isya, bel rumah berbunyi. Amayra membuka pintunya dan masih memakai mukena putih bagian atasnya saja. Dia melihat suaminya sudah berdiri depannya sambil tersenyum cerah.


"Assalamualaikum.. sayang, aku pulang."


Tak lupa Satria balas mencium kening istrinya penuh kasih sayang. Dia terlihat bahagia dengan jabatan barunya itu, berbeda dengan Amayra di hari pertamanya kembali masuk kampus.


"Kenapa sayang? Kok wajahmu cemberut begitu?" Tanya Satria melihat wajah istrinya yang tidak baik.


"Maaf Mas, bukan maksudku menyambut Mas Satria dengan wajah seperti ini." Ucap Amayra sambil mengambil tas hitam milik suaminya.


"Terus kenapa sayang? Hmm?"


Mereka masuk ke dalam rumah, tak lupa Amayra mengunci pintu depan. Amayra dan Satria langsung masuk ke dalam kamar. Disana Amayra membantu sang suami melepaskan dasinya.


"Mas.. mau mandi sekarang?" tanya Amayra sambil melihat ke arah wajah tampan Satria yang kini sudah tampak brewok itu seperti orang-orang Turki.


"Nanti saja deh sekalian basah, aku mau makan dulu isi tenaga." Ucap Satria sambil tersenyum pada istrinya.


"I-isi tenaga? Emang mau ngapain?" Tanya Amayra dengan mata melebar mendengar ucapan suaminya.


Satria mendekat ke arah istrinya sambil berbisik ke telinganya. "Minta jatah," ucap Satria sambil tersenyum.


Glek!

__ADS_1


Amayra menelan salivanya, hatinya yang sudah lama tidak berdebar karena suaminya itu kini kembali berdebar kencang.


"Mas.." lirih istrinya yang malu-malu.


"Aku lapar, mau makan dulu. Kamu siapkan gih! Aku mau main sama si kecil dulu," ucap Satria pada istrinya.


Wajah Mayra kenapa ya? Ah aku tanya nanti saja biar suasananya tenang.


"Baik Mas.." jawabnya patuh.


Amayra pergi ke dapur untuk mengambil makanan yang sudah dimasaknya untuk Satria. Sementara Satria bermain bersama Rey yang sedang berguling-guling diatas ranjang. "Anak papa gemesin banget sih, ini mainannya nak.. "


"Hoahh...haaaoo.." oceh si bayi mungil yang akan memasuki usia 5 bulan itu.


Satria gemas melihat Rey yang sedang mencoba duduk tegap. Air liurnya menetes disudut bibir karena dia mengusap jempolnya, berulang kali Satria mengusap air liur Rey. "Apa kamu lapar nak?"


"Tadi Rey sudah makan bubur bayi kok, sebentar lagi waktunya dia tidur." Jawab Amayra sambil membawa nampan berisi sepiring nasi, disertai lauk pauk dan segelas air putih untuk suaminya.


Satria berterimakasih pada istrinya yang sudah menyiapkan makanan. Dia pun memakan makanan itu untuk mengisi tenaga, sambil makan Satria ingin mendengar apa yang membuat Amayra bersedih. Dia juga menanyakan luka di wajah cantik istrinya itu. Amayra mengatakan tentang Reina pada suaminya.


Satria tercengang, dia tidak menyangka bahwa Reina akan satu kampus dengan Amayra. Dia kesal karena Reina berani menganggu istrinya. Dalam hati dia bermaksud meminta bantuan Bram lagi. Rupanya Reina masih belum kapok menganggu Amayra setelah apa yang dialami oleh keluarganya yang hampir bangkrut.


Ada dendam apa Reina pada Amayra sehingga kebencian mendarah daging dalam dirinya untuk wanita itu?


Saat itu Satria hanya bisa menenangkan sang istri dengan memeluknya. Dalam pelukan Satria, Amayra merasa aman. Setelah keadaan sudah tenang, Satria mulai mencium kening istrinya.


"Sayang.."


"Ya Mas?"


"Malam ini kamu aman, kan?" Tanya Satria sambil menatap istrinya.


"A-aman apa maksud Mas?" Amayra bertanya balik apa maksud suaminya.


"Ya ampun... maksudku, kamu gak lagi datang si M, kan?" Satria tersenyum lembut.


"Enggak," Amayra menggeleng.


"Alhamdulillah, Rey juga sudah tidur. Aku mau minta jatahku," bisik pria itu dengan senyuman manis dibibirnya.


Satria menatap istrinya dengan panas, dia menantikan malam pertama lagi bersama Amayra yang sudah berpuasa selama kurang lebih dua bulan lamanya.


...----****----...

__ADS_1


Pasti menanti chapter berikutnya kan? Sabar ya 🙏☺️


__ADS_2