
Ken mengetuk kaca mobil Satria. Melihat wajah Ken membuat Satria yang tadinya tersenyum langsung berwajah masam.
Dia membuka kaca mobilnya tanpa membuka pintu mobil itu. Satria melirik sinis pada Ken, sama seperti saat pertama kali mereka bertemu. Sikapnya dingin dan datar saat berhadapan dengan Ken.
"Assalamualaikum pak Satria,"
"Waalaikumsalam," jawab Satria singkat.
Mau apa si bocah tengil ini?
Ya Allah, ini orang dingin banget. Kebanyakan makan es batu kali ya? Dia bahkan gak tanya kenapa aku mengetuk kaca mobilnya. Batin Ken.
"Pak Satria, maaf saya hanya ingin mengembalikan gelang ini." Ken mengambil gelang Amayra yang berada di saku celananya.
Mata Satria melebar melihat gelang yang dia berikan pada istrinya berada di tangan Ken. Dia teringat bahwa Amayra bilang gelang itu dipakainya.
Setelah kupikirkan lagi, Amayra sama sekali tidak terlihat memakai gelang dariku. Kenapa gelangnya ada ditangan dia? Amayra bohong padaku?
"Kenapa gelangnya ada di kamu?" Tanya Satria sambil mengambil gelang itu dari tangan Ken. Dia menatap curiga ke arah Ken.
Melihat tatapan curiga Satria kepadanya, membuat Ken menurunkan alisnya,"Jangan salah paham pak, saya menemukan gelang ini kemarin di kampus. Amayra menjatuhkannya dan saya tak sengaja memungutnya."
Apa Amayra cerita pada suaminya tentang pernyataan cintaku? Gak mungkin kan? Tapi kenapa wajahnya begitu? Seperti akan menelanku?
Satria meremas gelang itu, dia menahan kesalnya. Kesal karena istrinya sudah berbohong tentang gelang yang hilang. Kenapa juga Amayra harus bohong? Ditambah lagi Ken yang mengembalikan gelang itu, Satria semakin terbakar api cemburu.
"Tolong jangan salah paham pak!" Kata Ken menegaskan sekali lagi.
"Makasih," jawab Satria dingin. Kemudian pria itu menaikkan kaca mobilnya dan kembali menyetir.
Ken melihat kepergian Satria, dia pun menghela nafas. "Astagfirullah, akhirnya aku bisa bernafas lega. Tadi rasanya sesak banget," Ken memegang dadanya. Dia merasakan bau gosong dari wajah Satria dan ucapannya yang sinis.
__ADS_1
Satria pergi ke rumah sakit dalam keadaan marah, dia mengambil jas dokternya yang tergantung diatas gantungan baju. Wajahnya yang ramah dan selalu menyapa para dokter dan perawat, kini berubah masam karena badmood.
"Kenapa sih kamu harus bohong May?" Ucap Satria yang lalu menyimpan gelang itu ke dalam saku bajunya dengan kesal.
"Dokter Satria, sudah ada pasien yang mau diperiksa." Kata suster Maya yang berdiri didepan pintu.
"Baik, simpan daftar pasiennya diatas meja." Kata Satria dingin.
"Ya dokter," suster Maya meletakkan sebuah dokumen diatas meja. Dia heran melihat sikap Satria yang dingin pada hari itu dan tak seperti biasanya.
Dokter Satria kenapa kayak kesal gitu ya?
...****...
Sementara itu di kampus, Amayra mencari-cari gelangnya di kelas. Dia menanyakan keberadaan gelangnya pada office boy bahkan sampai tukang sampah. Tapi tidak ada yang menemukan gelang itu.
"Ya Allah gimana ini, gimana kalau Mas Satria sampai tau tentang gelangnya yang hilang! Dia pasti marah dan kecewa banget sama aku."
Wanita itu mengajaknya dan Rey untuk makan siang disebuah rumah makan lesehan. "Gimana kalau makannya di rumahku aja kak?"
"Oh, emangnya Rey lagi ada di rumah May? Gak di rumah mama Nilam?" Tanya Diana pada adik iparnya itu.
"Iya kak, aku akan masak makan siang untuk kakak!" Saran Amayra pada Diana untuk makan di rumah saja, lebih hemat dan sekalian menjaga Rey dari rewel yang tidak terduga.
"Oke, kamu dimana? Di kampus ya? Aku jemput kamu, kamu ajak Anna juga." Kata Diana bersemangat.
"Hari ini Anna gak masuk kampus kak," jawab Amayra.
"Oh gitu. Ya udah aku jemput kamu ya!" Kata Diana sambil menyetir mobilnya.
Mereka pun pergi ke rumah Amayra dan berencana untuk makan siang bersama. Diana membawa bahan masakan yang akan mereka masak.
__ADS_1
"Kak, biar aku aja yang masak. Calon pengantin masa masak sih?" Tanya Amayra sambil tersenyum pada Diana yang tinggal 5 hari akan melangsungkan pernikahan dengan Bram.
"Gak apa-apa dong, haha apa hubungannya sama calon pengantin dan gak masak?" Diana tertawa kecil mendengar ucapan Amayra.
"Kakak jagain Rey aja ya, biar aku yang masak!" Kata Amayra semangat. Meski dalam hati dia masih kepikiran gelang.
Diana, Amayra dan Dewi makan siang bersama di rumah itu. Mereka mengobrol tentang pernikahan Diana yang sebentar lagi akan dilangsungkan. Amayra dan Dewi berdoa agar pernikahan Diana dan Bram berlangsung lancar sampai hari H.
Tak terasa hari pun berganti, sore itu Diana pulang dari rumah Amayra. Dewi juga pamit pergi ke rumah Calabria karena masih ada pekerjaan disana. Di rumah hanya tinggal Amayra dan Rey saja.
Sore itu, Satria sudah pulang. Mobilnya terparkir di depan garasi. Saat pria itu keluar dari mobil, dia mendorong pintu mobil dengan keras seolah ia emosi. Wajahnya juga tidak hangat seperti sebelumnya.
"Rey, lihat itu papa pulang.."ucap Amayra sambil menggerakkan tangan Rey, dia tersenyum melihat sang suami berjalan ke arahnya. "Mas, sudah pulang?"
"Assalamualaikum," ucap Satria dingin.
"Waalaikumsalam, sini tasnya Mas." Ketika Amayra akan meraih tas Satria, pria itu Majah masuk ke dalam rumah dan mengabaikannya.
Amayra menggendong Rey dan ikut masuk ke dalam rumah. "Mas, mau aku siapkan air hangat?"
"Gak usah. Oh ya, gimana? Udah ketemu?" Satria melirik sinis pada istrinya itu.
"Ketemu apa Mas?"
"Gelangnya."
Deg!
Amayra terkejut mendengar ucapan suaminya itu. Satria menatap istrinya dengan tajam.
Darimana Mas Satria tau kalau gelangku ilang?
__ADS_1
...----****----...