
...🍀🍀🍀...
Entah darimana datangnya pikiran seperti itu dari Bram, tiba-tiba saja dia ingin meminta salah satu bayi kembar adiknya yang baru lahir.
"Mas, apa maksud kamu mengambil? Apa itu seperti apa yang aku pikirkan?!" Diana menatap suaminya dengan tak percaya.
"Iya, aku bermaksud untuk mengadopsi salah satu anak kembar Satria dan Amayra. Kemudian kita akan membesarkannya seperti anak sendiri." Bram menjelaskan tujuannya.
Diana menghela nafas, "Mas, aku gak setuju dengan rencanamu."
"Kenapa?" Bram mengerutkan keningnya dia menatap bingung pada Diana.
Wanita itu mendekati suaminya, "Mas, kita gak boleh mengambil si kembar dari Satria dan Amayra. Jika kita melakukan itu, sama saja dengan kita memisahkan Amayra dan Satria dari anak-anak mereka. Kita bisa saja membantu mereka mengasuh si kembar, tapi kita gak boleh mengambil dan mengadopsinya. Bagaimana pun juga mereka adalah orang tua si kembar, pasti mereka nanti akan tersinggung kalau kita meminta itu pada mereka. Jangan ya mas, kita gak boleh melakukan ini, kita bisa merawatnya bersama-sama saja tanpa harus mengambil salah satunya!"
Bram terdiam mendengar ucapan Diana padanya, setengah hatinya membenarkan ucapan istrinya itu. Namun setengah hatinya yang lain, dia ingin memiliki anak sama seperti adiknya. "Mas, aku paham kamu ingin segera memiliki seorang anak...kita bisa mengadopsi anak lain, tapi jangan anak Satria dan Amayra. Si kembar adalah keponakan kamu mas, kita gak boleh ngambil salah satu satu mereka dari orang tuanya. Kamu paham kan apa maksudku, mas?"
"Ya sayang, maaf karena aku berpikiran sempit. Maaf juga jika aku membuatmu tersinggung, aku...hanya..." Bram resah tidak jelas, hatinya kacau tanpa sebab. Saat dia melihat dua bayi mungil itu, dia teringat pada Rey anaknya yang sudah tiada.
Diana memeluk suaminya dengan lembut. "Tidak apa-apa mas, aku paham kok kenapa kamu begini. Kita gak usah bahas lagi ya sayang, aku gak mau kamu sedih."
"Iya, lebih baik kita istirahat saja sekarang. Kamu juga pasti lelah, mandilah lebih dulu." Bram menyuruh istrinya untuk mandi.
"Mas, kenapa kita tidak mandi bareng aja?" Tanya Diana seraya mengajak suaminya mandi bersama.
"Ya?" Bram tersedak kaget mendengar ajakan Diana untuk mandi bersama.
"Iya mas, sudah lama kan kita tidak mandi bersama." Diana tersenyum polos.
Bram beranjak dari tempat atas ranjangnya."Kamu yakin mau mandi bersama? Kamu gak lelah emangnya?"
"Lelah sih iya, tapi kan nanti kalau lagi mandi bisa saling pijat dan-"
Grep!
Tiba-tiba saja Bram menggendong istrinya seperti tuan putri. Diana terkejut ketika lengan kekar suaminya menangkup tubuhnya. "Mas, kenapa kamu menggendongku? Aku Bisa ke kamar mandi sendiri kok!"
__ADS_1
"Ini kamu yang minta ya, di kamar mandi." bisik Bram pada istrinya yang mengisyaratkan sesuatu.
Diana menelan salivanya, dia akhirnya paham apa maksud di kamar mandi itu. "Tu-tunggu mas, bu-bukan mandi itu yang aku mak-"
Sebelum Diana menyelesaikan kata-katanya, bibir Bram sudah lebih dulu menutup bibirnya. Mereka pun masuk ke dalam kamar mandi bersama.
🍁🍁🍁
Di kamar hotel yang mewah, lengkap dengan fasilitas kolam renang kecil disana. Anna baru saja keluar dari kamar mandi, setelah dia membersihkan tubuhnya yang lengket itu. "Ken, giliran kamu yang mandi. Sana!" Anna memberikan handuk pada suaminya.
Ken terpana melihat istrinya yang memakai baju handuk dan rambut panjang sebahu yang basah itu.
Haha, nanti aku akan membuatmu mandi lagi. Ide licik Ken sudah mulai bermain didalam pikirannya.
"Oke sayang, aku mandi dulu ya." Ken mengambil handuk itu, dia tersenyum pada istrinya.
"Apaan sih sayang sayang? Hishh lebay." Anna menundukkan kepalanya dengan malu-malu, dipanggil sayang.
"Terus aku harus panggil apa dong? Masa panggil nama doang, kita kan udah suami-istri?" goda Ken seraya mengangkat dagu sang istri, menatap matanya dengan nanar.
Aku tau Ken ganteng, tapi dia kelihatan lebih ganteng pake banget... kalau dilihat dari dekat, duh Anna tahan! Kamu gak boleh menjerit.
"Kalau gitu aku ke kamar mandi ya sayang, jangan bobo dulu." Ken memberanikan dirinya mengecup pipi Anna.
Cup!
Anna refleks lalu dia memegang pipinya, kemudian Ken berjalan dengan senyum tengilnya menuju ke kamar mandi.
Asyik, sekarang aku sudah sah mau melakukan apa saja bersama Anna.
KLAK
Pintu kamar mandi itu ditutup oleh Ken, setelah suaminya masuk ke dalam sana. Anna langsung duduk di atas ranjang, wajahnya memerah, kepalanya menggeleng-geleng tidak karuan. "Tenanglah jantung...tenanglah! Ya Allah.. jantungku seperti akan melompat, bukankah Ken terlalu tampan?"
Anna berusaha mengatur nafasnya, menenangkan jantungnya yang terasa mau meledak melihat ketampanan Ken dari dekat. Bahkan pria itu baru saja menciumnya, membuat hati Anna semakin berbunga-bunga.
__ADS_1
Anna pun memakai baju yang telah di berikan oleh Amayra untuk malam pertama mereka. Dia melihat baju yang tampak seksi itu, bagaimana tidak seksi, yang Amayra berikan pada Anna adalah ling*rie berwarna putih. "Wah! Kenapa Tante Mayra memberikanku yang seperti ini? Ini tipis banget, ya ampun."
Cekret!
Pintu kamar mandi itu terbuka, Anna segera menyembunyikan baju itu di atas ranjang pengantinnya. Dia melihat Ken dengan setelan baju handuknya, menampakkan tubuhnya yang hot itu.
Tadi Ken yang dibuat terpana oleh Anna, kini giliran Anna yang dibuat terpana oleh Ken. Rambut basah, jakun yang naik turun, otot dada yang sixpack membuat saliva Anna ikut naik turun.
"Sayang, kok kamu masih pakai handuk aja? Belum pakai baju?" Ken mendekati Anna seraya menggoda gadis itu lagi.
"Ehm..aku...aku..." Anna tergagap, dia memalingkan wajahnya dari Ken.
Gimana ini? Ken kayaknya ngajak aku malam pertama. Aku belum siap.
"Kamu mau langsung dibuka aja?" Ken menarik tali baju handuk Anna.
Anna memegang tangan Ken dan melarang Ken melakukan hal yang lebih jauh. "Ja-jangan Ken! Kita makan dulu yuk!"
"Kita kan sudah makan tadi," Ken semakin mendekati Anna, nafasnya berhembus pada leher Anna.
"Sholat isya! Kita shalat isya dulu!" Anna lagi-lagi menghentikan Ken untuk meraba-raba tubuhnya.
"Sayang, kamu lupa ya kalau kita sudah shalat isya." Ken menjawab lagi dengan tegas.
"Oh sudah ya?" Anna mengerutkan keningnya. Dia tidak tahu harus beralasan apa lagi pada suaminya.
"Kamu mau alasan apa lagi?" Ken mencium leher Anna, mengecupnya dengan lembut. Anna terkejut dengan sentuhan Ken.
Ken mendorong pelan tubuh istrinya ke atas ranjang dan kini Anna berada dibawah tubuhnya. "Ken..."
"Anna, kamu gak perlu takut! Kita jalani malam ini sesuai dengan alurnya dan naluri tubuh kita." Ucap Ken sambil membelai rambut Anna dengan lembut.
Dia menatap wajah cantik itu dengan nanar, begitu juga dengan Anna yang menatap Ken penuh cinta. Tangan Anna meraba-raba pada dada sixpack suaminya, tanpa dia sadari karena dia mulai tergoda.
...*****...
__ADS_1