Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 192. Insecure


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Hoaamm..." Amayra menguap, dia membuka matanya perlahan-lahan. Baru saja dia bangun dari tidur nyenyaknya di dalam pelukan Satria.


Adzan subuh berkumandang membangunkan Amayra. Dia melihat suaminya masih tertidur pulas. "Mas, sudah adzan subuh.." Amayra menggoyangkan tubuh sang suami seraya membangunkannya.


Satria membuka matanya perlahan-lahan. "Hem.. sudah subuh ya?" Satria melirik ke arah istrinya yang sudah duduk di ranjang.


"Iya Mas. Kita shalat subuh yuk,"


"Umm..iya." sahut Satria sambil merentangkan tangannya. "Uhhh...badanku," keluh Satria saat merasakan tangan dan tubuhnya pegal-pegal.


"Kenapa Mas? Pegal ya?" Amayra menatap suaminya dengan cemas.


"Gak apa-apa sayang,"


"Pasti gara-gara aku tiduran di tubuh kamu, ya? Aku pijitin ya Mas?" tanya Amayra pada suaminya. Dia merasa bersalah karena sudah membuat Satria pegal-pegal.


"Boleh, nanti pijitin aku ya. Tapi sekarang kita shalat subuh dulu."


"Iya Mas," jawab Amayra dengan kening berkerut.


"Udah jangan gitu sayang. Aku ke kamar mandi duluan, kamu siapkan sarung, peci dan teh hangat untukku ya." pesan Satria kepada istrinya.


Amayra mengangguk sambil tersenyum. Dia melihat sang suami masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu sekalian mandi. Wanita itu mengambil kerudung dan memakainya. Dia keluar dari kamarnya, lalu pergi ke dapur untuk mengambil air panas dan menyeduh teh.


Dia melihat Diana sedang membuat sesuatu di dapur. "Kak Diana,"


"Eh May? Kamu mau ngapain?" tanya Diana sambil mengocek kopi didalam gelas dengan sendok.


"Aku mau buatin teh untuk mas Satria. Kakak lagi buatin kopi buat kak Bram, ya?" Amayra bertanya balik.


Diana melihat ke arah Amayra, "Heem, dia sudah mau kopi jam segini. Mau aku buatin teh nya sekalian?"


"Gak usah kak, aku buat sendiri." jawab wanita hamil itu sambil tersenyum.


"Oke. Aku duluan ya May," Diana mengambil kopi yang sudah siap disajikan diatas piring kecil.


Amayra terlihat bingung. Kemudian dia memanggil kembali Diana. "Kak.."


"Ya?" Diana menoleh ke arah Amayra.

__ADS_1


"Kakak baik-baik saja kan? Kakak gak ada masalah?" tanya Amayra cemas dengan Diana yang akhir-akhir ini menjadi pendiam dan kadang dia mudah marah.


"Aku gak apa-apa, memangnya aku kenapa?" Diana malah bertanya balik pada Amayra.


"Ah...enggak kok. Gak apa-apa kak, aku cuma tanya." jawab Amayra tidak mau memperpanjang obrolannya dengan Diana. Ketika dia menangkap sinyal dari raut wajah Diana yang tidak bersahabat itu, dia tampak judes tidak seperti biasanya.


Diana pergi begitu saja dan tidak bicara lagi. Dia juga terlihat tidak mau bicara dengan Amayra. Wanita itu menaiki tangga sambil membawa kopi, wajahnya terlihat sedih dan terluka.


"Ya Allah, kenapa aku memiliki rasa iri ini pada Amayra? Sabar Diana...sabar.." Diana mengusap dadanya dengan sebelah tangan. Hatinya masih berharap dia cepat memiliki buah hati bersama Bram, namun doanya masih belum terkabul.


Setelah shalat subuh berjamaah, tak terasa waktu sudah pagi saja. Semua orang sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi. Amayra dan Dewi yang menyiapkan sarapan. Entah kenapa Amayra ingin sekali memasak untuk semua orang.


Dia memasak nasi goreng spesial telur dan sosis. Hingga masakan itu tercium sampai ke meja makan.


"Wah...si bibi tumben masaknya harum banget," Cakra tersenyum sambil mengendus bau masakan yang mengunggah seleranya.


"Iya, biasanya dia masak gak sampai sewangi ini." ucap Nilam yang heran. Dia tau masakan Dewi tidak wangi seperti ini.


Tak lama kemudian, Dewi datang dan membawa nampan berisi 4 piring nasi goreng. Dia menyajikannya ke atas meja. Amayra juga berada dibelakangnya, dia membawa 3 piring nasi goreng dan menyajikannya ke atas meja makan.


"Kayaknya masakan bi Dewi enak nih," Bram bersiap menyantap nasi goreng itu. Dia sudah memegang sendoknya.


"Masakan saya memang enak kok tuan." ucap Dewi sambil tersenyum.


"Hehe ini bukan masakan saya, non Mayra yang masak."


Nilam tersenyum menatap Amayra,"Pantesan baunya enak. Ya, Amayra emang pinter masak sih. Amayra juga bisa buat kue enak banget waktu itu," Nilam memuji-muji menantu dari anak tirinya itu. Namun tatapannya mengarah tajam pada Diana.


Beruntungnya Satria, dia mendapatkan wanita baik walau dari keluarga miskin. Tapi dia pintar dan juga cepat hamil. Tidak seperti menantuku.


Kenapa mama Nilam melihatku seperti itu?. Batin Diana merasa tidak nyaman.


Diana tidak jago memasak seperti Amayra, kemampuan memasaknya juga tidak bagus. Bahkan Bram yang baru saja belajar masak, bisa memasak lebih baik darinya. Disinilah Diana mulai insecure lagi dengan dirinya sendiri.


"Benarkah itu Ma? Amayra jago bikin kue?" tanya Cakra yang tidak tahu


"Eh.. opa jangan salah, Mayra juga jago bikin eskrim waktu di sekolah dulu. Semua orang bahkan guru-guru memuji Mayra katanya Mayra bisa jadi koki." Anna ikutan memuji Amayra.


"Wah...hebat dong. May, lain kali kalau kamu ada waktu.. kamu buatkan lah papa kue ya? Papa mau icip-icip." Pinta Cakra ramah pada Amayra.


"Iya Pa, nanti May buatkan ya." Kata Amayra sambil tersenyum, lalu dia duduk di samping suaminya.

__ADS_1


"Diana, kamu juga.. belajarlah memasak. Masa suami kamu terus dimasakin sama orang lain, dia juga pasti mau makan masakan istrinya." kata Nilam ketus pada menantunya.


"Bram gak keberatan kok Ma, lagian Bram sama Diana masih bisa pesan makanan di luar." Bram membela istrinya.


"Pesan makanan diluar itu gak selalu bagus Bram, kalau kamu lagi gak punya uang gimana? Masa mau makan terus diluar? Hambur dong uangmu itu," Nilam menatap sinis ke arah Diana.


"Terus kenapa Ma? Gak masalah kok hambur uang, uangku banyak. Diana juga punya gaji dan-"


Nilam memotong ucapan Bram, "Bram, kamu tuh susah dibilangin ya. Mama cuma suruh istri kamu belajar masak untuk kebaikan kamu juga. Malu dong cewek gak bisa masak, apalagi udah jadi istri. Kalau kamu gak mau belajar masak dari orang lain, belajar dari Amayra aja kalau dia ada waktu."


Suasana pagi itu menjadi tegang karena Nilam terus bicara tentang Amayra dan Diana. Amayra dan Satria juga merasa tidak nyaman dengan ucapan Nilam pada Diana.


Satria jadi teringat dulu saat Nilam selalu berkata ketus dan memperlakukan Amayra dengan kasar. Dia jadi kasihan pada Diana.


Bram menaikkan alisnya, dia terlihat marah."Ma, mama kenapa sih-"


Diana memegang tangan Bram, dia meminta agar suaminya diam dan tidak membalas perkataan Nilam yang dirasa sudah kelewatan.


"Iya Ma, Diana akan belajar masak. Untuk mas Bram dan untuk semua orang yang ada di rumah ini," ucap Diana sambil tersenyum pahit.


Keadaan itu berhasil teratasi ketika semua orang menyelesaikan sarapan mereka dan memulai aktivitas seperti biasanya. Anna, Amayra dan Satria masih berada didepan rumah. "Om, aku numpang ya ke kampus!"


"Kenapa? Kamu gak dijemput sama si bocah sok kegantengan itu?" Sindir Satria pada Anna yang akhir-akhir ini sering dijemput oleh Ken.


"Ken lagi gak ada, dia izin kuliah hari ini."


"Wah, kamu bahkan tau kemana Ken pergi. Jadi, hubungan kalian sudah semakin dekat ya?" tanya Amayra sambil tersenyum.


"Ehem," Satria berdehem. Dia kesal karena Amayra membicarakan tentang Ken.


"Jangan marah dong papanya utun." ucap Amayra sambil menggandeng tangan suaminya dengan manja.


Anna tercengang melihat Amayra yang kini terlihat berbeda pada Satria. Sejak hamil Amayra banyak berubah, dia jadi sering berdandan dan manja pada om nya.


"Om, apa ini Mayra yang aku kenal?" tanya Anna sambil tertawa kecil.


"Entahlah," Satria tersenyum lembut.


Kedua wanita itu masuk ke dalam mobil Satria, Amayra duduk di kursi depan. Anna di kursi belakang. Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang memperhatikan mereka dari kejauhan. Seorang pria bertopi.


"Jadi kamu sudah berkeluarga, Satria?"

__ADS_1


...*****...


__ADS_2