
...🍀🍀🍀...
Pagi itu memang pagi yang sibuk untuk Amayra. Hari pertamanya magang di sebuah SMA negeri di kota Jakarta dan sebelum itu dia harus mengurus suami juga kedua anak kembarnya.
Selesai sarapan dan menyuapi kedua anaknya, Amayra bersiap untuk berangkat ke rumah keluarga Calabria bersama suaminya untuk menitipkan si kembar.
"Cie...Bu guyuu cantik banget sih," ucap Satria memuji istrinya yang sudah berpakaian rapi dan mengenakan jas mahasiswa, bersiap untuk pergi ke sekolah magangnya.
"Masa jangan memujiku kayak gitu," ucap Amayra tersipu malu dengan pujian suaminya.
"Ya, kamu memang cantik sayang. Tapi kenapa sih kamu harus magang di SMA? Kenapa gak di SD atau SMP aja?" tiba-tiba saja Satria mengeluh karena istrinya magang di SMA.
"Mas, aku gak bisa milih mau magang dimana. Itu kan sudah ketentuan dari kampusnya, jadi aku gak bisa milih mau kerja magang dimana," ucap Amayra sambil mengemasi popok dan perlengkapan si kembar ke dalam tas selempang besar yang selalu dibawa bawa saat si kembar bepergian.
"Huh!" Satria mendengus kesal.
Hem, kalau Amayra digodain anak-anak SMA disana...gimana?
"Kenapa mas? Kayaknya kamu marah?" Amayra bingung melihat Satria yang terlihat marah.
"Siapa yang marah? Nggak, kok." sangkal Satria pada pertanyaan istrinya. "Kamu jaga diri ya sayang," kata Satria.
"Iya tentu saja mas, kamu juga hati-hati ya." Amayra tersenyum lembut.
Satria menengadah melihat senyuman manis dibibir istrinya itu."Jangan menyalahgunakan senyum kamu ya, sayang."
Gawat! Melihat senyuman Amayra setiap hari saja, aku terpesona setengah mati, bagaimana dengan orang diluar sana yang baru pertama kali melihat senyumannya?
"Hah? Apa maksud kamu mas?" Amayra mengerutkan keningnya.
"Sudahlah, ayo kita berangkat."
Tok, tok, tok
Seseorang mengetuk pintu rumah itu dan mengucapkan salam dengan suara lantangnya. "Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam," jawab suami-istri itu kompak.
"Itu suara kak Bima," gumam Amayra saat mendengar suara lantang itu.
"Biar aku yang buka pintunya, kamu kasih minum anak-anak. Mereka belum minum usai makan barusan," Satria beranjak dari tempat duduknya, kemudian ia berjalan untuk membuka pintu.
Terlihat Bima berdiri disana sambil membawa dua mobil-mobilan ditangannya. "Astagfirullahaladzim kak!" Satria terkejut melihat dua mainan mobil-mobilan yang dibawa oleh Bima.
"Selamat pagi Satria, mana si kembar unyu unyu ku itu! Aku mau lihat mereka? Aku bawakan mobil-mobilan untuk mereka berdua, yang biru untuk si ganteng dan yang merah muda untuk si cantik my Zahwa." Bima langsung masuk ke dalam, raut wajahnya tampak sumringah dan selalu sumringah ketika dia bertemu dengan si kembar.
Satria dan Amayra juga sudah terbiasa dengan perhatian Bima pada anak kembar mereka. Walau terkadang mereka pikir Bima berlebihan, anak bayi sudah dibelikan mainan anak dewasa.
__ADS_1
"Selamat pagi May,"
Bima mengucapkan selamat pagi pada Amayra, tapi tatapannya mengarah pada Zahwa dan Zayn yang masih duduk di kursi. "Selamat pagi kak Bima," jawab Amayra ramah.
"Halo princess dan prince nya om Bima, hari ini om Bima bawain hadiah buat kalian! Nih, kalian bisa pakai mainannya nanti ya. Jangan rebutan," Bima bicara pada Zahwa dan Zayn.
Wajah kedua bayi mungil itu membuat Bima enggan meninggalkannya. Dia berharap bisa mempunyai anak-anak seperti Zayn dan Zahwa. "Duh duh duh...gemesin banget," Bima mencubit pipi Zahwa dengan gemas.
"Aduh kak Bima, kalau kak Bima sudah belikan semuanya untuk Zayn dan Zahwa, lalu kami orang tuanya beli apa dong? Mainan, makanan, semuanya sudah kak Bima belikan. Tolonglah beri kesempatan kami sebagai orang tuanya untuk membelikan sesuatu untuk anak kami," kata Satria yang akhirnya mengomel juga.
"Hahaha, maafkan aku adikku tersayang. Aku hanya menunjukkan kasih sayangku pada si cantik dan si tampan ini, aku kan tidak mungkin memberikan kasih sayang pada kamu dan istrimu." Kata Bima sambil menepuk-nepuk bahu Satria
"Kami tidak keberatan kalau kakak perhatian pada anak-anak kami, tapi kakak butuh pelampiasan untuk kasih sayang yang berlebih, kenapa kakak tidak cari jodoh saja?"
Bima langsung tersedak saat mendengar usul dari Satria. "Haha, sepertinya aku sudah terlambat. Aku pamit ya, assalamualaikum."
Kenapa Satria dan semua orang terus mengungkit tentang pernikahan? Wanita adalah racun dunia, sepertinya aku tak mau menikah.
Bima langsung pamit pergi, dia selalu menghindar saat ditanya tentang pernikahan dan jodoh. Satria dan Amayra sudah menduganya bahwa Bima akan lari seperti itu. "Selalu saja, kak Bima seperti itu ya mas." ucap Amayra sambil tersenyum.
"Haha, sudah kuduga sih."
Setelah itu Satria dan Amayra segera membawa si kembar ke rumah keluarga Calabria. Mereka menitipkan anak mereka pada Nilam dan Cakra yang masih berada di rumah.
Satria mengantar Amayra ke sekolah tempat Amayra magang, hatinya terlihat tidak tenang karena banyak anak SMA disekitar istrinya. Dia cemburu.
"Sayang, inget ya jangan tebar pesona! Jangan sembarangan senyum sama orang," Satria mewanti-wanti istrinya.
"Hah? Mas, kamu udah ingatkan itu berapa kali loh. Memang kenapa?" Amayra bingung.
"Dengarkan saja apa kataku,"
"Iya sayang, iya.." Amayra mencubit gemas pipi Satria. "Kamu mirip Zayn kalau lagi cemberut gini."
"Salah, Zayn yang mirip aku." ucap Satria sambil meraih pinggul Amayra.
"Mas, aku harus segera berangkat." Amayra merasakan perasaan yang berbeda dari tatapan Satria kepadanya, seperti meminta sesuatu. Belum lagi tangan Satria meraih pinggulnya.
"Iya aku tau,"
"Terus kenapa kamu pegang-pegang aku?"
"Habis akunya belum di kasih sih, malam juga aku tidak jadi memintanya karena kamu sudah tidur duluan," ucap Satria mengoceh karena semalam dia tidak jadi bersenggama dengan istrinya.
Jadi mas Satria ngambek karena aku tidur duluan.
Amayra melingkarkan tangannya pada leher Satria, kemudian dia mencium pipi suaminya dengan lembut. "CUP!"
__ADS_1
"Apa-apaan? Cuma gini doang?" Pria itu tidak puas hanya dengan ciuman di pipi.
"Mas, nanti kamu telat-"
Satria yang tidak sabaran, dia mencuri keindahan ranum bibir milik istrinya dengan lembut. Amayra melayani pagutan bibir suaminya.
"Mas, sudah..." Amayra melepaskan pagutan bibirnya, dia teringat waktu yang sudah mau siang.
"Iya, udah deh. Nanti malam dilanjut lagi ya? Kamu jangan tidur duluan,"
"Iya baik mas, tapi itu..." Amayra melihat noda lipstik dibibir Satria.
"Apa sayang?"
Amayra meraih bibir Satria, mengusap noda lipstik dibibir suaminya. "Nah sudah,"
"Kamu pakai lipstik? Tumben," kata Satria merasa heran biasanya istrinya tak pakai lipstik.
"Iya dong mas, hari ini aku mau kelihatan rapi!"
Dengan sengaja Satria mengusap habis dia lipstik dibibir Amayra dengan tisu. "Mas! Kok dihapus sih lipstik ku?"
"Sayang, cantik itu untuk suami...jadi kamu pakai lipstik ini kalau didepanku saja." Satria menatap istrinya dengan nanar.
Amayra tersenyum, dia mengerti rasa khawatir suaminya yang cemburu itu. "Mas, kamu tenang saja. Mas kan tau di hatiku hanya ada mas sama anak-anak kita saja,"
"Hem," Satria tersenyum dia pun menyemangati istrinya yang akan segera pergi ke sekolah magangnya.
*****
Di tempat lain, Bima sedang termenung sendirian di sebuah warung pinggir jalan. Dia bersama 3 anak buahnya sedang berencana untuk makan di warteg kecil itu.
Namun Bima dan ketiga anak buahnya melihat warteg itu sedang diacak-acak oleh 2 orang preman. "Bayar hutang gak Lo!"
"Tolong pak, jangan berbuat kacau disini! Saya akan bayar hutangnya kok, pasti. Tapi kalau cara bapak seperti ini, saya gak akan bayar." ucap seorang wanita sambil melihat ke arah wartegnya yang sudah di porak porandakan oleh kedua pria berbadan besar itu.
"Lo gak mau bayar utang?" Preman itu menarik baju si wanita dengan kasar.
"Kalau bapak terus melakukan ini, saya akan lapor polisi!"
"Dasar gak tahu diri, Lo!" Seru Preman itu, tangannya melayang hendak memukul si wanita.
BRAK!
"Woy! Lo ganggu selera makan gue aja," Bima tidak tahan dan akhirnya dia membantu wanita pemilik warteg kecil itu.
Dia kan saudara kembarnya suami Amayra?. Wanita itu tercekat melihat Bima disana.
__ADS_1
...*****...