
Setelah satu minggu berada di rumah sakit, Amayra dan baby Rey yang keadaannya sudah membaik sudah diperbolehkan pulang oleh dokter.
Karena lahir prematur, baby Rey terlihat lebih kecil dari bayi yang lahir normal. Hal itu membuat Amayra mencemaskan kondisi anaknya. Tapi penjelasan Diana membuat Amayra menjadi lebih tenang. "Asalkan kamu rajin memberinya asi dan mengurus baby Rey dengan telaten, insya Allah baby Rey akan cepat tumbuh. Perhatian dari orang tua adalah hal yang paling penting,"
"Insya Allah ya dokter. Terimakasih selama ini dokter sudah membantu saya dan baby Rey," Amayra tersenyum sambil menggendong anaknya.
"Kamu gak perlu sungkan sama saya, dari dulu saya ingin adik perempuan. Bisa gak kamu panggil saya kakak?" tanya Diana seraya meminta pada Amayra.
Selama satu minggu itu, Diana dan Amayra sering berkomunikasi. Mereka menjadi semakin dekat seperti kakak dan adik, mengobrol membicarakan masalah baby Rey dan sharing masalah ibadah yang kurang dipahami oleh Diana sebagai muslimah.
"Kebetulan saya juga tidak punya kakak, apa boleh saya memanggil dokter Diana dengan panggilan kakak?" Amayra tersenyum ceria, membalikkan pertanyaan Diana.
"Haha, oke kita sepakat ya? Kamu adikku mulai sekarang!" Diana tersenyum lembut pada Amayra. "Panggil aku kakak ya,"
"Baiklah kakak," ucap Amayra memanggil Diana dengan sebutan kakak.
Sekarang aku tau kenapa Satria sangat mencintai Amayra. Dia membawa aura positif kepada semua orang disekitarnya. Tapi, aku cemas pada pak Bram, aku yakin dia memiliki niat tidak baik pada rumah tangga Amayra dan Satria. Apa benar keinginannya hanya itu saja?
"Satria, kamu harus jaga baik-baik ya anak dan istrimu. Berikan mereka kasih sayang berlimpah, wanita yang baru melahirkan itu membutuhkan suasana bahagia dan harus dimanja!" Diana mengingatkan temannya itu.
"Itu pasti, aku akan memanjakannya," Satria tersenyum sembari melirik ke arah Amayra dan baby Rey. Amayra tersenyum malu melihat sang suami memandangnya.
"Bagus, karena kalau kamu membuat adikku menangis! Aku tidak akan tinggal diam!" Diana mengancam Satria dengan tangan terkepal bersiap memukul.
"Haha, tenang saja di," Satria tertawa kecil. Kemudian Diana mendekati Satria, membisikkan sesuatu ke telinganya. "Satria, hanya kamu lah yang pantas mendapatkan cinta suci Amayra, kamu harus berhati-hati dan menjaga mereka dengan baik," bisik Diana pada Satria. Ketulusan cinta Satria pada wanita itu, membuat Diana yakin bahwa Satria adalah satu-satunya pria yang pantas mendapatkan cinta Amayra.
Satria tersenyum tipis mendengar bisikan dari Diana, didalam hatinya dia juga cemas karena Bram dan Amayra masih bisa terhubung lewat Rey, anak mereka.
Amayra tak mendengar apa yang dibisikkan oleh Diana pada suaminya. Dia hanya melihat dengan kening berkerut, dengan pertanyaan di dalam hatinya apa yang dibicarakan Diana pada Satria?
__ADS_1
"Apa sih yang kalian bicarakan?" tanya Amayra yang akhirnya tak bisa menahan rasa penasarannya.
"Hahaha, gak apa-apa kok! Aku cuma suruh dia cepat mengantar kamu pulang, kamu pasti mau beristirahat." Diana tertawa kecil.
"Oh begitu ya kak?" Amayra yang polos percaya begitu saja dengan ucapan Diana.
"Makasih ya Di, atas bantuan kamu selama ini merawat Amayra dan Rey," Satria berterimakasih pada Diana yang selama satu minggu itu membantu Rey memulihkan kondisinya.
"Santai aja Sat, kalau ada apa-apa sama baby Rey atau Amayra. Datang saja kesini ya, hubungi aku juga gak masalah kok," kata Diana perhatian.
"Makasih ya kak," ucap Amayra lembut.
Ketika Amayra dan Satria selesai berpamitan pada Diana dan suster disana yang merawat mereka. Bram sudah berada di depan pintu ruangan itu, wajahnya masih terlihat pucat. Amayra sudah tau tentang Bram yang menderita sakit otak akibat kecelakaan itu. Dia merasa sedikit kasihan pada Bram, karena Bram seperti itu untuk menyelamatkan dia dan Rey. Kasihan dalam artian berterimakasih, bukan ada perasaan yang lain.
"May, Sat, kalian mau pulang ya?" tanya Bram ramah kepada adik dan adik iparnya itu.
"Iya kak," jawab Satria singkat. Matanya menatap waspada kearah Bram.
"Tidak perlu, kak Satria bawa mobil kok. Kakak ipar tidak perlu repot-repot mengantarkan kami,"
Amayra sengaja menekankan kata kakak ipar, hal itu bertujuan agar Bram tidak melewati batasannya. Tapi Bram terlihat masa bodoh, karena faktanya baby Rey adalah anaknya dan Amayra sebenarnya adalah miliknya. Bram baru akan berjuang mendapatkan mereka, dia terlihat pantang menyerah dalam mencari celah.
"Oh begitu ya? Baiklah kalau Satria memang membawa mobil. Tapi pulanglah ke rumah besar," ucap Bram berusaha sabar, dia menyembunyikan niat liciknya dibalik senyuman pahit di wajahnya.
"A-Apa maksud kakak pulang ke rumah besar?" tanya Satria terperangah mendengarnya.
"Iya, papa dan mama berpesan padaku untuk menyampaikan pada kalian kalau kalian harus pulang ke rumah besar sementara waktu. Kamu kan sibuk bekerja dan kamu pasti tidak selalu ada di rumah, otomatis Amayra akan sendirian mengurus baby Rey. Jadi ada baiknya kalau kalian tinggal di rumah yang banyak orang dan bisa membantu Amayra mengurus baby Rey,"
"Kakak jangan keterlaluan ya! Kenapa kami harus kesana?" Satria marah dan menangkap maksud ucapan Bram, dia ingin Amayra dan baby Rey dengan dekatnya.
__ADS_1
"Kak Satria, tenanglah kak. Istighfar!" Amayra memegang tangan suaminya, seraya memintanya untuk tenang.
"Jangan marah padaku dong, ini kan kata mama dan papa," kata Bram sambil tersenyum santai.
Ini baru saja dimulai Satria.
Ucapan Bram ada benarnya, Satria akan sibuk bekerja dan tidak bisa selalu bersama Amayra dan bayinya. Jika Amayra tinggal di rumah keluarganya sementara waktu, pasti banyak orang yang akan membantu menjaga anaknya. Terlebih lagi ini adalah permintaan Cakra dan Nilam, tak enak juga bila menolaknya.
Amayra dan Satria sepakat untuk tinggal di rumah itu selama satu bulan, setelah Amayra sudah benar-benar bisa mengurus anaknya sendiri. Hari itu juga Amayra, Satria dan baby Rey kembali ke rumah keluarga Calabria.
Anna, Nilam, Cakra dan semua orang di rumah itu menyiapkan penyambutan untuk baby Rey. Anggota baru di dalam keluarga Calabria, yang mungkin akan menjadi pewaris perusahaan Calabria selanjutnya.
"Non Mayra, alhamdulillah non Mayra baik-baik saja dan bayinya juga selamat," ucap Dewi sambil melihat baby Rey yang tampan.
"Alhamdulillah bi, Allah masih memberikan keselamatan untuk aku dan Rey," Amayra tersenyum mendengar ucapan selamat dari Dewi.
Semua orang memberikan hadiah untuk Amayra dan bayinya. Nilam yang paling bahagia atas kelahiran cucunya itu, dia memberikan Rey satu unit mobil. Hadiah yang berlebihan untuk bayi yang baru berusia satu minggu.
Hadiah dari Cakra tak kalah besar, dia memberikan setengah saham nya pada Rey. Jika Rey sudah besar nanti, dia ingin kalau Rey menggantikan Bram untuk mengurus perusahaan. Entah kenapa Satria jadi tersinggung mengetahui fakta itu, fakta bahwa Bram adalah ayah kandung Rey membuat hatinya tertampar.
"Lihat Anna, Rey sangat lucu kan? Kamu tau gak dia mirip banget sama om kamu waktu kecil," Nilam tersenyum sambil memegang pipi Rey dengan lembut.
"Iya benar oma, Rey benar-benar mirip dengan om Bram," ucap Anna membenarkan kata-kata Nilam, dia menggendong bayi itu. Satria semakin sedih mendengarnya, wajahnya langsung pucat. Fakta memang tidak bisa dia hindari.
Ya Allah perasaan tidak nyaman apa ini? Rasanya hatiku seperti ditusuk-tusuk.
Melihat wajah Satria yang pucat, membuat Bram tersenyum puas.
Lihat dan rasakan ini Satria, semoga kamu sadar kalau kamu sebenarnya tidak ada tempat untuk Amayra maupun Rey. Kamu hanya suami pengganti!
__ADS_1
Amayra melihat Satria pergi begitu saja dengan wajah yang marah. Amayra segera menyusul suaminya, "Kak Satria kenapa ya?"
...---***---...