Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 59. Cemburu


__ADS_3

🍀🍀🍀


Di dalam perutnya itu ada anakku? Perutnya sudah sebesar itu?


Bram ingin mendekati Amayra, tapi dia ragu untuk mendekat nya. Tatapan mata Bram tertuju pada perut buncit Amayra yang sudah terlihat meski dia memakai baju panjang.


Amayra ingin menghindar dari Bram, tapi kakak ipar nya itu sudah terlihat di depan matanya. Terpaksa dan enggan, Amayra menyapa kakak iparnya itu.


"Assalamualaikum," sapa nya sembari memberi salam dengan sopan, tapi dia memalingkan wajah dari Bram seolah tak ingin melihat pria itu.


"Waalaikumsalam," jawab Bram sambil menatap Amayra.


Setelah selesai menyapa nya, Amayra berjalan melewati Bram begitu saja. Dia berjalan menuju ke ruang rawat Nilam sambil membawa kantong besar itu. Bram langsung menyambar kantong yang dibawa oleh Amayra, dia mengambilnya.


"Eh? Kenapa?" Amayra terperangah dan langsung melihat ke arah Bram dengan heran.


"Ini baju-baju mamah kan?" tanya Bram sambil menatap wanita itu. Amayra langsung menundukkan kepalanya, tidak mau bertatapan dengan Bram. Wanita itu hanya membalasnya dengan anggukan lemah.


Dia menghindari ku? Apa dia sebenci itu padaku? Sampai tidak mau melihatku?


Bram menunjukkan wajah kecewa nya karena Amayra tidak mau bicara atau melihatnya.


"Kamu tidak mual lagi ketika melihat ku?" tanya Bram penasaran dengan kondisi Amayra yang biasanya selalu mual saat melihatnya.


"Sekarang saya sudah tidak mual lagi, kandungan saya sudah kuat," jawab Amayra dengan suara dingin nya.


"Oh gitu ya? Syukurlah," ucap Bram canggung dengan senyuman pahitnya.


Amayra menunjuk ke arah kamar nomor 102, "Kamar mama Nilam yang ini kan?"


"Iya," jawab Bram.


"Biar saya yang bawa tas nya, pak!" Seru Amayra.


"Gak usah, ini berat. Biar aku aja, kamu masuklah," ucap Bram dengan suara lembut.


Aneh sekali, biasanya dia selalu marah-marah kalau ada aku. Sekarang kok dia sikapnya agak lembut ya?


Amayra mengerutkan keningnya dia tidak bicara lagi, kemudian masuk ke dalam ruang rawat Nilam. Dia melihat Nilam sedang berusaha mengambil air minum yang ada diatas meja. Amayra buru-buru menghampiri nya dan mengambilkan gelas berisi air minum itu.


"Mama mau minum ya? Biar May bantu ya ma," Amayra hendak membantu Nilam untuk duduk, tapi Nilam meronta-ronta menolak disentuh oleh Amayra bahkan menepis tangannya.

__ADS_1


"Anwak sampwah, lepwaskan akwu!" Nilam kesulitan bicara karena bibirnya bengkok. Nilam menatap Amayra dengan penuh kebencian sama seperti biasanya.


Mau apa si anak sampah ini kemari? Apa dia ingin menertawakan ku?


"Ma, May bantu minum ya?" Amayra membawa air minum itu, dia hendak meminumkan air di dalam gelas itu pada Nilam.


Namun Nilam menepis nya dengan kasar, hingga air di dalam gelas itu tumpah ke wajah dan baju Amayra.


"Astagfirullah!" Amayra terkejut karena air itu tumpah ke wajah dan bajunya.


"Ma! Jangan gitu dong, Amayra mau bantu mama! Kok mama gitu sih?" Bram protes pada sikap mama nya yang masih saja memendam kebencian pada Amayra.


"Pergwii!! Akwu tidak mau melihwat anak sampwah!" Nilam mengusir Amayra dari sana dengan suara ketus nya.


"May, kamu gak apa-apa? Ada yang sakit kah?" tanya Bram sambil menatap Amayra dengan penuh perhatian.


"Saya gak apa-apa, sebaiknya saya pergi dari sini. Saya takut tekanan darah mama Nilam jadi tinggi karena emosi melihat saya," Amayra langsung sadar diri untuk segera pergi dari sana. "Ma, Amayra pamit pulang dulu ya! Maaf May gak bisa menginap disini, semoga mama cepat sembuh. Assalamualaikum," Amayra berpamitan pada ibu mertuanya.


Wanita hamil itu pergi keluar dari ruangan itu dengan hati sedih. Dia ingin menginap dan menjaga Nilam, tapi Nilam masih saja tidak suka padanya karena dia anak tukang sampah. Daripada membuat Nilam semakin emosi, Amayra pun memutuskan untuk kembali pulang dalam kondisi baju yang basah.


"May! Tunggu!" Bram memanggil Amayra sambil berlari menghampiri nya, dia membawa sapu tangan.


"Ada apa pak Bram?" Amayra menoleh ke arah Bram dengan tatapan datar seperti biasanya. Bahasa yang formal dan tegas.


"Kak Satria?" Amayra menoleh ke arah suaminya, dia menyunggingkan senyum manis ketika Satria datang.


Bram melepaskan dirinya dari tangan Satria yang memegangnya, "Aku cuma mau bantu dia membersihkan wajahnya,"


"Tapi gak usah pegang-pegang juga kan?" Satria menatap tajam pada kakak nya yang menyentuh wajah Amayra. "May, kenapa wajib kamu bisa basah kaya gini? Baju kamu juga basah?" Satria menoleh ke arah istrinya, dia terkejut melihat Amayra dalam kondisi basah.


"Gak apa-apa kak, tadi aku ketumpahan air," jawab Amayra sambil tersenyum seolah semua baik-baik saja.


Kenapa dia berbohong kalau mama yang menyiram nya dengan air?


Bram terperangah mendengar Amayra berbohong untuk melindungi mama nya. Dia bahkan tidak seperti wanita lain yang akan mengeluh karena diperlakukan seperti itu oleh orang lain. Tapi, Amayra tidak banyak bicara dan selalu tersenyum dalam keadaan apapun.


"Ketumpahan air? Ayo ikut ke ruangan ku, aku akan bantu kamu mengeringkan nya. Disana ada pengering pakaian," Satria tersenyum, di memegang tangan Amayra dan menggenggam nya.


"Iya kak," Amayra membalas genggaman tangan Satria.


Mereka pun berjalan sambil bergandengan tangan bersama menuju ke ruangan tempat Satria bekerja. Sementara Bram, dia hanya berdiri disana karena dia bukan siapa-siapa. Dia merasa seperti nyamuk yang menganggu kemesraan Satria dan Amayra.

__ADS_1


"Ya Tuhan, kenapa hatiku sakit?" Bram memegang dadanya, dia terluka melihat Amayra dan Satria yang terlihat semakin dekat.


Amayra dan Satria tiba di ruangan kerja Satria. Amayra melihat pot bunga tanaman matahari yang ada di dekat jendela.


"Bunga nya sudah tumbuh," Amayra tersenyum melihat bunga matahari yang dia tanam susah mulai tumbuh walau masih kecil.


"Hem iya, aku kan selalu menyiram nya tepat waktu seperti saran kamu," Satria mencolokkan kabel hairdryer dan menyalakan nya. "Kemari lah dan buka kerudung mu!" Titah Satria pada istrinya.


"Buka kerudung? Kenapa?" tanya Amayra bingung.


"Kerudung mu basah kan? Pasti rambutmu juga basah, sini biar ku keringkan rambutmu dulu!" Satria sudah bersiap dengan hairdryer kecilnya.


"Ta-tapi ini bukan di rumah," Amayra berjalan menghampiri suaminya dengan wajah polos itu dia menatap Satria.


Satria paham apa maksud istrinya, dia pun berjalan menuju ke arah pintu dan mengunci pintu ruangan itu. Kemudian dia kembali menghampiri Amayra dan memintanya duduk di kursi dengan patuh. Amayra juga melepas kerudung nya, lalu Satria mengeringkan rambut panjang istrinya itu. Terakhir, Satria memeluk Amayra dari belakang.


"Ka-kakak!" Pekik nya terkejut dengan pelukan dari suaminya.


Satria mencium leher Amayra dengan lembut, membuat wanita hamil itu kegelian. "Unchh.. kakak, kenapa?"


"May, kamu harus menjaga dirimu." Satria masih memeluk istrinya.


"Menjaga apa maksud kakak?" tanya Amayra heran.


"Kamu tidak boleh disentuh oleh pria lain, kamu kan istriku!" Seru Satria kesal memikirkan Bram yang menyentuh pipi Amayra.


"Apa kakak cemburu pada pak Bram?" tanya Amayra langsung menebak apa yang membuat suaminya kesal.


"Aku tidak bisa mengelak nya," jawab Satria dengan bibir mengerucut.


"Aku minta maaf ya, aku juga tidak tahu kalau dia akan memegang wajahku. Aku kaget sampai tidak sempat menepisnya, maaf aku tidak menjaga diriku dengan baik," Amayra meminta maaf pada Satria.


"Lain kali kamu harus langsung memukul atau menendang nya! Bagaimana jika aku salah paham?" Satria mengomel kesal pada istrinya.


"Apa kakak meragukan perasaan ku?" tanya Amayra sambil membalikkan tubuhnya, dia ingin melihat wajah pria yang di sedang cemburu itu dari dekat.


"Aku tidak meragukan nya, aku tau kamu mencintai ku.. tapi aku meragukan perasaan nya nya," Satria terlihat bimbang dan takut.


"Meragukannya? Siapa?" tanya Amayra bingung siapa yang diragukan oleh Satria.


"Sudahlah, tidak usah dibahas lagi. Pakai lagi kerudung mu, aku akan mengantar kamu pulang," Satria mencium kening istrinya dengan lembut penuh kasih sayang.

__ADS_1


Aku takut, aku meragukan perasaan nya. Bagaimana jika perasaan nya berubah padamu? Apalagi dia sudah bercerai dari istrinya, kamu juga mengandung bayinya. Lalu siapa aku kalau suatu saat nanti dia jatuh cinta padamu?


...---***---...


__ADS_2