Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 270. Sayang keluarga (End)


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Rey dan Zayn melihat Zahwa yang jatuh terduduk, mereka cemas dan akhirnya menemukan kaki Zahwa yang terluka. "Kamu kenapa Zahwa? Kok bisa luka gini?" Tanya Zayn pada adiknya, dia melihat darah di kaki kiri Zahwa.


"Tadi waktu aku kabur, aku pecahin kaca jendela. Terus aku naik ke jendela, pecahannya kena kakiku." Jelas gadis kecil dengan bibir monyong dan wajah cemberutnya.


"Sini, aku gendong!" Zayn menawarkan punggungnya yang kecil itu untuk menggendong Zahwa.


Namun Zahwa malah terdiam, dia tidak percaya bahwa kakaknya yang selalu menganggap dia biang masalah ternyata bisa bersikap hangat padanya dibalik cueknya itu


"Biar kakak aja yang gendong Zahwa," Rey membungkukkan badannya di depan Zahwa.


"Kak Rey, biar aku aja..."


"Yang ada nanti kamu malah jatuh, badanmu dan Zahwa kan sama-sama kecil. Ah salah, nanti kamu malah ketiban Zahwa yang gembul." Goda Rey pada si kembar.


"Ah! Kakak Rey jahat banget sih, aku dikatain gembul lagi. Aku gak mau digendong kakak Rey,"


"Cie yang ngambe....udah ah ngambeknya nanti aja. Ayo naik! Kita harus kembali sama om Satria, Tante Amayra dan juga om Bima, mereka pasti lagi cari kita."


"Hemph!" Zahwa menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Zahwa si gembul yang cantik?" Rey melirik ke arah Zahwa yang masih cemberut dan tidak mau naik ke punggungnya.


Setelah bujukan dari Zayn dan Rey dengan pujian 'Cantik", akhirnya Zahwa mau naik ke punggung Rey. Mereka pun berjalan menuju ke luar hutan, setelah berjalan cukup jauh.


"Kenapa kita gak sampai-sampai? Kak Rey, kakak turunin aku aja. Kakak pasti capek gendong aku, aku kan berat kak." Ucap Zahwa yang kasihan melihat Rey yang sudah berkeringat.


"Enggak kok, aku gak capek? Kata siapa aku capek?" Sangkal Rey.


Aku memang capek, tapi aku gak akan biarkan kamu jalan dalam kondisi seperti ini, Zahwa.


"Eh kakak, gak boleh boong loh. Nanti hidungnya panjang kayak Pinokio!" Jari Zahwa menunjuk nunjuk pipi Rey.


"Zahwa, itu bukan hidung tapi pipi." ucap Rey sambil tersenyum. Senyuman itu tidak bisa dilihat oleh Zahwa.


"Aku tau, aku tekannya pipi karena ke hidung gak sampe." Kata Zahwa polos.


"Hehe," Rey hanya cengengesan mendengar ucapan Zahwa yang selalu bisa membuat dia tersenyum.


"Kak Rey, kak Zayn, aku kira kalian gak akan mencari aku. Aku pikir kalian, gak sayang sama aku." Zahwa tertunduk, tangannya masih melingkar di leher Rey.


"Eh, kok kamu bilang gitu sih?" Rey terheran-heran, dia masih berjalan sambil menggendong Zahwa.


"Siapa yang bilang kalau kami gak sayang sama kamu? Kami sayang sama kamu, kok!" Kata Zayn sambil mengangguk-anggukan kepalanya.


"Karena aku suka buat masalah, aku juga suka usil terutama sama kak Zayn."


"Zahwa, aku kan sudah bilang maaf...aku gak sengaja mengatakan itu karena aku marah. Aku emang kesel sama kamu, tapi aku sayang kok." Kata Zayn bersungguh-sungguh.


"Hehe makasih, aku terharu banget!" Zahwa tersenyum lebar.


"Hey, aku serius tau!" Seru Zayn.


"Maafin aku ya kak Zayn, aku sering buat gaduh dan usil. Tapi aku senang bisa bertemu dengan kakak lagi, aku juga sayang kakak, aku sayang kalian berdua. Kakak adik saling menyayangi..."


Tiba-tiba saja mata Zahwa tertutup, kepalanya menyentuh punggung Rey dan gadis kecil itu semakin membuat Rey keberatan. "Kak Rey! Zahwa kenapa? Matanya tertutup!" Ujar Zayn panik melihat saudaranya seperti itu.


"Kamu jangan khawatir, Zahwa hanya tidur.. kakak bisa merasakan nafasnya," ucap Rey.


"Alhamdulillah...tapi kenapa Zahwa tidur kayak orang mati? Tiba-tiba tidur gitu, aku kan kaget!"


"Zahwa kan memang gitu, masa Zayn gak tau?" Rey tau benar bagaimana Zahwa saat tertidur, anak itu mudah sekali tidur dan sekalinya tidur pasti sangat pulas, tidak peduli dimanapun dia berada.


"Gak tau, tapi kak Rey tau banyak ya tentang Zahwa. Kayaknya Zahwa lebih dekat sama kakak daripada sama aku!" Seru Zayn.


"Apa kamu marah?" tanya Rey sambil melihat Zayn yang berjalan disampingnya itu.


"Nggak lah, aku malah senang karena aku sama Zahwa punya kakak yang baik banget kayak kak Rey. Makasih ya kak, kakak udah jadi kakak kami...hehe." Zayn tersenyum bangga memiliki Rey sebagai kakaknya.


"Iya, kakak juga senang karena punya adik yang lucu seperti kalian!" Rey tersenyum.


Walaupun kalian gak tau yang sebenarnya, bahwa aku bukan kakak sepupu kalian, aku hanya anak angkat. Tapi aku sudah janji gak akan menganggap diriku seperti itu. Aku adalah kakak kalian dan selamanya akan begitu.


****

__ADS_1


Tak lama kemudian, suara Amayra yang berteriak teriak memanggil Zahwa, Rey dan Zayn. "Zahwa! Rey! Zayn!"


Rey dan Zayn langsung terperangah bahagia mendengar suara Amayra memanggil nama mereka tak jauh dari sana.


"Tante!" Rey berteriak memanggil Amayra.


"Mama!" teriak Zayn memanggil namanya.


Amayra, Bima dan Satria pun mendatangi asal suara itu. Akhirnya mereka semua bertemu disana, Amayra langsung melihat Zahwa yang ada di punggung Rey.


"Rey, Zahwa kenapa? Dia--" Amayra cemas melihat Zahwa seperti tidak sadarkan diri.


"Kakinya terluka Tante, tapi Zahwa gak apa-apa kok...dia cuma tidur." Jelas Rey pada tantenya itu.


"Iya Ma, Zahwa cuma tidur aja kok." Zayn membenarkan.


"Alhamdulillah ya Allah," Satria, Bima, Amayra lega karena Zahwa sudah ditemukan.


Saat Amayra akan mengambil Zahwa dari Rey, Satria mengatakan bahwa dia yang akan menggendong anak perempuannya itu. Satria pun menggendong Zahwa dengan hati-hati.


"Kakinya terluka, sepertinya aku harus menjahitnya." Kata Satria cemas saat melihat luka di kaki anaknya yang robek itu.


"Iya mas, ayo kita pulang anak-anak." Amayra melihat ke arah Rey dan Zayn.


Alhamdulillah, terima kasih ya Allah...Zahwa sudah ditemukan.


"Iya Tante," jawab Rey.


Tiba-tiba saja Rey terjatuh lemas hingga membuat semua orang disana panik dan bertanya apa yang terjadi pada Rey. Zayn pun menjelaskan pada semua orang bahwa Rey sepertinya lemas karena lelah menggendong Zahwa cukup lama.


Amayra langsung menuntun Rey dan membantunya berjalan, sementara Bima menuntun tangan Zayn. Mereka pun sampai ke rumah keluarga Calabria.


"Alhamdulillah, Zahwa..." Nilam dan Cakra melihat Zahwa yang berada di gendongan Satria. Mereka lega karena Zahwa sudah ditemukan.


"Alhamdulillah," Bram dan Diana juga melihatnya dengan lega, tak lupa selalu mengucap syukur


Zahwa membuka matanya perlahan, dia mendengar suara-suara disekitarnya. Suara yang tidak asing yang membangunkannya. "Zahwa?" sambut sang papa yang sudah tersenyum lebar tepat didepan matanya.


"Papa? Aku...gak mimpi kan, ini benar-benar papa?!" tangan kecil Zahwa mencubit gemas pipi papanya.


"Iya ini papa, nak." Satria memegang tangan kecil putrinya dengan lembut.


Rasanya seperti mimpi, bahwa dia bisa kembali ke rumah dan bertemu keluarganya lagi. "Huhuuuuu..."


"Zahwa..." Amayra menatap putrinya itu.


"Makasih ya Allah, makasih karena aku masih bisa ketemu sama semuanya...hiks..."


Amayra, Satria memeluk Zahwa dengan penuh kasih sayang. Amayra bahkan mengecup kening Zahwa sambil mengatakan maaf padanya karena dia sudah marah-marah pada Zahwa. Dengan polos Zahwa menjawab bahwa mamanya tidak perlu minta maaf dan wajar mamanya marah karena dia nakal. Amayra berkata lagi, Zahwa itu tidak nakal hanya usil saja.


*****


Malam itu, Zahwa dibawa ke kamar dan rencananya luka di kakinya akan di jahit oleh Satria, akan tetapi dia tidak tega. Tapi jika tidak dijahit, maka luka itu akan terus terburai dan berdarah, pasti nanti akan infeksi dan Zahwa akan kesakitan.


"Pa, kenapa papa diam? Katanya mau jahit lukaku?" Zahwa melihat papanya yang sudah membawa jarum dan benang yang biasa digunakan untuk menutupi luka. Benang yang bisa langsung menjadi daging.


Dokter bedah itu tidak menjawab, dia ragu dan bingung. 'Duh,aku gak tega...apalagi Zahwa masih kecil'


"Zahwa, ini akan sakit...kamu yakin gak apa-apa?" Amayra memberanikan diri bertanya ada putrinya.


Mata polos Zahwa menatap papa dan mamanya."Pasti rasanya sakit kan seperti kata mama dan papa? Tapi daripada sakitnya keterusan, mendingan sakit sekali. Aku gak apa-apa kok, papa jahit saja lukaku pa!"


"Gak apa-apa ya Zahwa? Papa gak akan lama kok, kamu pegang aja papa atau mama kalau kamu ngerasa sakit ya?" Bujuk Satria yang sebenarnya tidak tega untuk menjahit kaki Zahwa yang terluka.


"Gak apa-apa kok pa," Zahwa menggeleng-gelengkan kepalanya.


Zayn, saudara kembarnya bersembunyi di belakang mamanya. Dia takut melihat jarum apalagi kaki adiknya akan di jahit. Zayn bergidik ngeri, ya dia memang takut jarum suntik.


"Kenapa kamu sembunyi Zayn? Katanya kamu mau lihat adik kamu."


"Zayn masih takut jarum ya? Ya ampun, gimana dong dengan cita-cita kamu jadi dokter, kalau kamu takut jarum." Goda Satria pada putranya yang ketakutan.


"Aku gak takut jarum, aku cuma ngeri." Gerutu Zayn dengan suara pelan.


Satria pun mulai menjahit kulit kaki Zahwa yang terlepas itu. Terlihat Zahwa menahan sakit, Amayra dan Zayn mengajaknya mengobrol agar Zahwa tidak terlalu kesakitan.

__ADS_1


"Oh ya Zahwa, kamu berani banget! Katanya orang gila itu suka mukulin bahkan membunuh anak yang diculiknya, tapi kamu masih selamat...kamu hebat."


"I-iya dong, aku kan pintar." Zahwa memegang tangan Zayn dengan erat, menahan sakitnya.


"Iya kamu pintar! Kamu kan adikku! Setengah kepintaran ku ada di kamu,"


"Apa? Jadi aku pinter gara-gara kakak, gitu?"


"Hem ya gitu deh," jawab Zayn percaya diri.


Setelah selesai di obati dan minum obatnya, Zahwa tertidur pulas di ranjang itu. Satria, Amayra dan Zayn juga tertidur bersama disana.


*****


Waktu pun berlalu, kembali seperti semula. Satria kembali dengan rutinitasnya sebagai dokter bedah di rumah sakit, Amayra juga bekerja sebagai guru yang menjadi cita-citanya sejak dulu.


"Bu Amayra, selamat pagi!" sapa seorang siswa laki-laki pada Amayra yang sedang berjalan di lorong kelas.


"Pagi, tapi lain kali tambahkan Assalamualaikum juga ya." Wanita itu tersenyum ramah sambil membawa buku-buku ditangannya.


"Iya Bu, Assalamualaikum." kata siswa itu ramah sambil tersenyum.


Amayra kembali berjalan menuju ke depan sekolah. Lalu dia mendengar suara seorang pria berdehem.


"Ehem!"


"Mas, kamu sudah datang?" Amayra terkejut melihat suaminya sudah berada didepan mobil menunggu dirinya.


"May, aku udah bilang kan jangan tebar pesona." Satria mengerutkan kening melihat istrinya.


"Mas, apaan sih? Senyum doang dianggap tebar pesona, masa aku harus cemberut. Nanti disangka guru judes dong."


"Ya bagus, biar semua orang gak terpesona sama kamu."


"Aku udah nikah, udah punya dua anak, punya suami ganteng, apa yang bisa dilihat dari aku?" Amayra menautkan alisnya, menatap suaminya.


"Kamu cantik, baik, sholehah dan aku cinta kamu." Kata Satria sambil memegang tangan istrinya.


Tersipu, Amayra mendengar pujian dari suaminya. Hatinya berdebar seperti ada kembang api disana. "Mas, jangan puji aku seperti itu..."


"Tidak ada lagi yang seperti kamu May dan ini bukan pujian."


"Apaan sih...udah ah pulang, Zahwa sama Zayn pasti udah nunggu kita." Ajak Amayra pada suaminya.


"Oke,"


Kecupan manis tiba-tiba mendarat di kening Amayra, hingga membuat beberapa orang disana melihatnya.


"Mas!"


Satria malah tersenyum santai, seolah tak terjadi apa-apa. Sementara istrinya malah malu-malu.


"Aciee...cie...Bu Amayra," kata beberapa murid disana.


Mereka pun masuk ke dalam mobil, lalu pergi menuju ke rumah besar Calabria. Amayra heran kenapa tidak menjemput anak mereka ke sekolah, tapi malah pulang ke rumah. Satria tidak menjawab.


Sesampainya di rumah besar Calabria, Satria membawa istrinya ke taman belakang. Lalu Amayra di kejutkan dengan hadirnya semua orang disana dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya.


"Selamat....ulang tahun kami ucapkan..selamat panjang umur kita kan doakan,"


Wanita berprofesi sebagai guru dan ibu dua anak itu, terpana melihat dekorasi disana yang diperuntukkan untuknya yang sedang berulang tahun hari itu.


Semua keluarga memberikan selamat ulang tahun untuk Amayra. Termasuk si kembar, Rey, anaknya Anna, anaknya Bima juga.


Akhirnya, Amayra yang selalu melalui banyak cobaan itu memperoleh akhir yang bahagia bersama suami, anak-anak dan semua keluarganya.


Tak terasa waktu telah berlalu, seorang anak remaja perempuan yang cantik dengan seragam putih abu keluar dari kamarnya, bersamaan dengan seorang pria tampan yang memakai seragam putih abu juga.


Mereka kedua saling melempar senyum, bersiap untuk memulai hidup dan kisah yang baru. Zahwa dan Zayn!


Bagaimana kisah mereka? Apakah kalian penasaran?


...****...


...End...

__ADS_1


Assalamualaikum, hai Readers makasih banyak atas dukungan kalian untuk novel Cinta Suci Amayra, tak terasa waktu telah banyak berlalu 🤧 Sampai juga pada penghujung bab dari kisah ini yang berakhir bahagia.


Jangan lupa mampir ke novel author yang lain ya 😍😍😍


__ADS_2