Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 98. Pertengkaran pertama


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Satria memeluk istrinya dengan erat, dia melahap bibir cantik Amayra dengan rakus. Tanpa memberinya ruang untuk bernapas. "Hmphh!"


Amayra terjatuh di atas ranjang empuknya, Satria berada diatas tubuhnya. Bau alkohol dari tubuh Satria tercium menyengat, Amayra ingat jelas bau ini yang sudah membuat hidupnya hancur. Bau yang sangat dia benci, dia jadi teringat kembali masa lalunya dengan Bram yang tak mau dia ingat.


Amayra mendorong tubuh suaminya, dia menolak sang suami yang berada dalam keadaan tidak sadarkan diri. Dia tidak mau melayani Satria yang mabuk, dia ingin mereka berdua dalam keadaan yang sadar. "Hentikan ini kak," pintanya pada Satria yang terus memainkan rambutnya dan memegang gunung kembar miliknya.


"Sayang...aku mau.." Satria beranjak bangun, dia mendesah sambil memeluk Amayra yang duduk di ranjang.


Wanita itu menolak permintaan sang suami untuk pertama kalinya. Satria tetap memaksa Amayra, dia memegang tangan istrinya dengan erat. "Kak.. kakak bukan orang pemaksa seperti ini? Lepaskan aku kak, kakak sedang tidak sadar!" Seru Amayra dengan suara pelan, dia takut membangunkan Rey yang sedang tidur.


Bibir Satria menjelajahi setiap sudut tubuh bagian atas sang istri dengan mahir, sesekali dia menggigit tubuh itu dengan gemas. Amayra memalingkan wajah beberapa kali, berusaha menolak apa yang dilakukan suaminya. Namun sayang tangannya terkunci rapat. Amayra pun mencium bibir Satria sebagai bentuk peralihan.


Suaminya bukan orang yang penuh n*fsu, tampaknya alkohol sudah meracuninya. Amayra kesal pada Satria, dia mencoba mendorong suaminya. Ketika tangan Satria mulai terlepas dari tangannya, akhirnya dia meraih gelas berisi air minum, kemudian dia menyiramkan air itu ke kepala dan wajah Satria.


Byur


"Istighfar kak!" ucap Amayra sambil meletakkan kembali gelas kosong di atas meja disamping tempat tidur itu.


Satria mengusap-usap basah yang ada di wajahnya, dia melihat sang istri tanpa hijab di kepalanya. Dia melihat murka di mata isterinya. "May, kenapa kamu siram aku?" tanya Satria keheranan. Bukan hanya wajahnya yang basah, tapi bantal dan tempat tidur juga basah karena air yang disiramkan oleh Amayra.


"Kakak sudah sadar?" tanya Amayra dengan suara dingin yang membuat Satria membeku.


"Memangnya aku kenapa? Lalu kenapa aku berada disini?" tanya Satria sambil memegang kepalanya. "Uhhh..."


"Kepala kakak sakit ya? Apa enak minum-minuman haram seperti itu?" tanya Amayra dengan suara tegas.


"Kamu kenapa sih tiba-tiba marah, bahkan sampai menyiram aku dengan air?" Satria tidak ingat apa yang terjadi. Dia memegang kepalanya yang terasa nyut-nyutan.


"Kalau aku tidak menyiram kakak, mungkin kakak tidak akan sadar." Amayra mengepalkan tangannya dengan kesal, dia tidak bisa menahan kekesalannya pada Satria.


"Aku tidak sadar?" tanya Satria dengan wajah bingung.


Amayra tidak bicara lagi, lebih baik diam daripada marah-marah pada orang yang bahkan tidak mengingat apa yang terjadi. Dia mengambil pakaian tidur Satria di lemari, kemudian dia memberikan handuk pada suaminya.

__ADS_1


"Mandilah kak! Sampai bau alkohol itu tidak tercium lagi," ucap Amayra dengan suara dingin.


"Alkohol?" Satria menengadah terkejut. Dia terdiam dan berfikir, mencoba mengingat apa yang terjadi pada dirinya. Perlahan terlintas ingatan ketika dirinya berada di restoran, dia tak sengaja meminum sesuatu yang masam dan dia mengira minuman itu adalah air biasa.


Amayra melangkah pergi, tapi tangan Satria memegangnya. "May, aku bisa jelaskan semuanya!" Satria menatap sang istri dengan sedih.


Astagfirullah, bagaimana bisa aku tidak waspada dengan meminum alkohol?


"Oh ya? Memang banyak yang harus kakak jelaskan padaku, tapi sekarang lebih baik kakak membersihkan diri dulu," ucap Amayra sembari menepis tangan Satria yang memegangnya.


Amayra keluar dari kamar itu, entah dia mau kemana. Satria tidak berani bertanya padanya, karena wajah Amayra terlihat serius dan marah. Sudah jelas karena dia pulang dalam keadaan mabuk. Satria mendesah mengingat Amayra dalam keadaan berantakan, mungkin dia sudah melakukan hal yang membuat Amayra sangat marah.


Satria turun dari ranjangnya, dia mengambil handuk kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri di malam yang larut itu.


Setelah selesai membersihkan dirinya, Satria memakai pakaian tidur. Dia melihat istrinya sedang menyimpan sesuatu di atas meja, sebuah cangkir dan satu buah mangkuk yang entah apa isinya.


"Hem...baunya harum ya? Kamu buatkan apa May?" Satria mencoba mencairkan suasana diantara mereka yang dingin.


"Lihat saja sendiri," jawabnya ketus dengan muka masam.


Satria menelan ludahnya sendiri, tak pernah dia melihat wajah cantik itu menunjukkan ketidakramahan padanya. Karena dia selalu melihat melihat wajah cantik itu tersenyum ketika berada didekatnya. "Ah iya, makasih ya."


"Memangnya untuk siapa lagi," jawab Amayra ketus.


"Eh...iya," ucap Satria sambil memakan sup itu. Dia menghabiskan tehnya juga, keadaannya menjadi lebih baik setelah menghabiskan apa yang sudah disediakan oleh Amayra.


Selama Satria makan, Amayra hanya diam saja menunggunya. Amayra mengambil mangkuk dan gelas kosong itu. Dia pergi menyimpan nya ke dapur. Satria mengekori Amayra dari belakang, dia membantu Amayra mencuci piring dengan memaksa. Amayra diam saja kemudian berjalan pergi ke kamarnya.


"Apa kamu akan terus seperti ini May?" tanya Satria. "Bukankah kita harus bicara agar semua masalah cepat selesai!" sambung Satria tegas.


"Aku ngantuk, kita bicara lagi nanti ya kak?" Pinta Amayra tanpa menatap lawan bicaranya itu.


"May aku minta maaf, aku tidak sengaja meminum alkohol itu. Kamu tau kan aku bukan pecandu minuman keras? Aku akan membayar semua dosaku, aku minta maaf karena sudah menyentuh dan meminum minuman yang haram itu," jelas Satria merasa bersalah. Dia berharap setelah penjelasan ini, amarah sang istri akan mereda.


"Iya," jawab Amayra singkat.

__ADS_1


Tapi bukan hanya itu saja yang paling membuat Amayra marah. Kemarahannya tidak berhenti disana. Amayra berjalan pergi meninggalkan suaminya.


"Memangnya kamu sesuci apa sampai kamu marah seperti ini hanya karena aku tak sengaja meminum alkohol?" Satria yang emosi, tak sengaja mengucapkan kata-kata itu pada istrinya.


Deg!


Amayra tersentak kaget mendengar pertanyaan suaminya dengan suara meninggi itu seolah mengajak bertengkar. Amayra membalikkan badannya, dia menoleh ke arah Satria yang berdiri tak jauh darinya. Matanya mulai berkaca-kaca. "Ya kakak benar, aku memang bukan wanita suci, aku wanita kotor yang kakak nikahi. Aku wanita yang sudah melalukan berzina dengan pria lain dan menikah dengan pria lain juga. Aku bukan wanita suci, aku memang tidak suci!" ucap Amayra dengan senyuman pahit terukir di wajahnya.


Api telah menyulut emosi pada pasangan suami-istri itu ditengah malam yang dingin. Kepala mereka sama-sama panas dan tidak bisa berfikir jernih. Sakit hati Amayra oleh lidah tak bertulang itu.


Ya Allah, apa yang aku katakan barusan?


"Astagfirullah, May aku gak maksud ngomong kayak gitu. Bukan begitu maksudku, aku-" Satria kebingungan, dia merasa bersalah pada Amayra.


Wanita itu sudah terlanjur marah dan sakit hatinya. Wanita mana yang tidak sakit jika suaminya berkata seperti itu tentang kesucian dan kehormatan. Amayra seolah disindir oleh Satria, perkataan Satria padanya seperti menghina kehormatan Amayra.


"Kakak maaf, malam ini kakak tidur di kamar sebelah saja. Aku akan tidur dengan Rey," Amayra sesegukan menahan tangisnya yang akan pecah. Matanya memerah, wajahnya sudah mulai panas, dia ingin segera menumpahkan air dibawah matanya.


"May.. maaf May, maafin aku." Satria memegang tangan Amayra seraya meminta istrinya untuk memaafkannya. Tapi, Amayra bahkan tak mau melihat ke arahnya.


Pelan-pelan Amayra melepaskan tangan Satria dari dirinya. "Maaf kak, aku mau sendiri dulu." Ucapnya sambil menangis.


Amayra berjalan cepat menuju ke kamarnya, dia menutup bahkan mengunci pintu kamar itu. "May, jangan kaya gini dong.. aku benar-benar tidak tenang. Maafin aku May, maksudku bukan begitu. May, buka pintunya dong."


"Hiks.. kalau kakak menghargai aku, tolong untuk malam ini.. aku mau sendiri," pinta Amayra sambil menangis.


"Tapi aku gak tenang kalau kamu menangis seperti itu, May!" ucap Satria sambil mengetuk pintu, dia merasa bersalah mendengar istrinya menangis karena dirinya, karena ucapannya.


"Tolong kakak pergi dan jangan berisik," ucap Amayra memohon.


Kekuatan lidah tak bertulang memang berbahaya, bisa menyakitkan hati seseorang lebih dari menyakiti tangan dengan silet. Satria pun diam karena tidak mau membuat gaduh disana yang bisa membuat Rey bangun.


Jika terluka oleh silet masih bisa dilihat lukanya dengan mata telanjang, tapi luka hati tidak bisa terlihat dan tak tau bagaimana cara menyembuhkannya.


Satria pun mengambil selimut dan bantal, dia tidur didepan kamar Amayra dan Rey.

__ADS_1


Ya Allah....aku membuatnya menangis.


...-----*****------...


__ADS_2