Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 180. Protektifnya Satria


__ADS_3

Entah apa yang direncanakan didalam kepalanya. Clara masih saja menyimpan dendam membara pada pasangan suami istri itu. Perihal dirinya yang dipermalukan, ayahnya yang dipenjara dan lisensinya sebagai dokter bedah dicabut.


Kini Clara bekerja di rumah sakit lain sebagai asisten dokter. Dia belum bisa naik menjadi dokter bedah karena pengalamannya kurang. Pendidikan tinggi saja tidak cukup untuk membuatnya belajar, Clara juga sering melakukan kesalahan dalam operasi-operasi kecil.


"Setiap aku melakukan operasi, semua dokter dan suster di rumah sakit itu selalu mengaitkan aku dengan papa yang gagal dalam operasi. Kenapa satu kesalahan saja membuat papa menderita? Bahkan namaku jadi dibawa-bawa. Papa...tenang saja, aku akan membalaskan dendam kita pa." Clara meremas tangannya dengan geram, tatapan tajam mengarah pada Amayra dan Satria yang sedang memilih buah-buahan ditempat lain di supermarket yang besar itu.


Amayra tiba-tiba melihat kebelakangnya. Dia merasakan ada tatapan tajam mengarah padanya. "Sayang, kenapa? Apa kamu mau makanan yang lain?" Tanya Satria sambil melihat istrinya yang celingukan kesana kemari.


"Ehm.. enggak Mas." Amayra melihat ke arah tempat makanan kaleng. Dia yakin bahwa dia melihat ada seseorang yang tengah memperhatikannya dan Satria.


Apa aku salah lihat? Aku merasa kalau ada yang memperhatikanku dan Mas Satria?


"Bilang aja sayang? Mau makan apa? Nanti aku beliin. Oh ya apa kamu mau makan malam diluar apa di rumah?" tanya Satria cerewet.


"Aku gak mau beli apa-apa lagi Mas. Aku mau pulang aja,"


"Pulang? Terus makan malamnya gimana? Mau di rumah aja?" Satria keheranan.


"Iya, aku mau masak makan malam aja." Amayra terlihat tidak fokus, dia merasa terancam dengan tatapan orang aneh itu


Aku yakin ada yang sedang melihat kami.


"Aku aja yang masakin. Ya udah, kita bayar dulu ya ke kasir." Satria mendorong troli itu, sambil memegang tangan istrinya dengan penuh kasih sayang.


Setelah selesai berbelanja, Amayra dan Satria masuk ke dalam mobil dan bergegas untuk pulang ke rumah mereka. Keduanya terlihat bahagia, tentu saja karena kehamilan Amayra yang sekarang sudah tidak disembunyikan lagi.


Satria benar-benar menjaga istrinya, dia tidak mau Amayra kelelahan sedikitpun. Bahkan Satria juga menawarkan pada Amayra untuk digendong olehnya. "Sayang, mau aku gendong?"


"Mas.. aku bisa jalan sendiri. Aku gak apa-apa Mas."


"Kamu dari tadi nolak terus deh? Aku tuh pengen manjain kamu. Waktu kamu hamil yang pertama, aku selalu buat kamu sedih dan aku gak manjain kamu. Kali ini aku akan mencurahkan semua kasih sayang pada kamu dan anak kita, sayang. Mau ya dimanja?" pinta Satria pada istrinya. Tangannya merengkuh pinggul sang istri.


"Mas, kamu tuh kenapa sih jadi begini? Aku gak mau dimanja manja gitu. Kayaknya kamu deh yang manja, akhir-akhir ini makan pun kamu pilih-pilih." Amayra memegang pipi suaminya dan mencubitnya dengan gemas.


"Kata kak Diana aku yang gantiin kamu ngidam, jadi aku yang mual-mual. Tapi gak apa-apa deh, aku senang bisa merasakan ngidam anakku sendiri." Satria merasa sangat bahagia, dia tak bisa menutupi rasa bahagianya menjadi seorang ayah. Walau sebelumnya dia pernah menjadi ayah untuk Rey, tapi rasanya kali ini berbeda.


Dokter bedah itu memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang. Posisi mereka masih berada didekat garasi rumah. "Mas...malu nanti ada yang lihat," ucap Amayra takut ada yang lihat mereka berpelukan.


"Siapa yang lihat kita jam segini? Udah lewat isya, juga kan? Lagian kita ini suami istri, sah-sah aja dong berpelukan." Pria itu tak peduli mau dimanapun dia dan istrinya berada. Dia tetap ingin bermesraan dengannya.


Entah kenapa aku jadi ingin selalu dekat dengan Amayra.


"Mas Satria. Kita teruskan didalam saja.. aku-"


Kruuuukkkk...


Suara yang asalnya dari perut itu, membuat Satria melepaskan pelukannya. "Mas..."


Kruuuukkkk..


"Suara perut kamu, May?"

__ADS_1


Amayra mengangguk. "Iya.."


Satria membungkukkan badannya, dia menatap dan memegang perut datar istrinya. "Anak papa lapar ya? Maafkan papa ya nak, papa malah ajak mama kamu ngobrol disini. Ya udah, ayo masuk ya...papa yang masak buat kamu."


"Hehe iya sepertinya anak kita, lapar Mas." Ucap Amayra sambil tersenyum.


"Kamu masuk duluan, aku bawa barang belanjaan dulu." Satria menyuruh istrinya masuk ke rumah lebih dulu.


Wanita itu patuh, dia masuk lebih dulu ke dalam rumah. Sementara Satria membawa barang belanjaan didalam mobil. Dia pun segera masuk ke dalam rumah setelah membawa semua barang belanjaannya dari dalam mobil.


Sebelum memasak makan malam untuk istrinya, dia mengajak sang istri shalat isya berjamaah seperti biasanya. Kemudian mereka kedua pergi ke dapur untuk memasak.


"Mas, kamu yakin gak mau aku bantuin masaknya?" tanya Amayra sambil duduk dengan tangan bersedekap di wajahnya.


"Gak apa-apa. Kamu duduk manis aja disana, sayang." Satria sudah bersiap memakai celemek. Dia berencana memasak sup untuk istrinya.


Senang deh diperhatikan Mas Satria.


"Mas, mau masak apa?" tanya Amayra sambil melihat bahan makanan yang di sediakan oleh suaminya diatas meja dapur.


"Aku mau masak sup ayam." Jawab Satria sambil mengambil pisau dapur di tempat penyimpanan pisau.


"Sup ayam? Tapi aku lagi gak mau sup ayam. Masa jam segini makan sup ayam?" Amayra menolak menu yang akan dimasak suaminya itu.


"Terus kamu mau makan apa?" tanya Satria sambil menyimpan pisau itu ke atas meja.


"Ehm.. aku mau.." Amayra berpikir apa yang diinginkannya.


"Eh? Kamu mau kita makan diluar?"


"Enggak, makannya mau disini."


"Terus gimana?"


"Makanannya pesan aja Mas. Aku lagi mau sate Maranggi, sama lontong."


"Oke, sayang." Satria melepaskan kembali celemeknya.


Mereka memutuskan untuk memesan makanan lewat jasa online lewat ponselnya. Satria memesan sate Maranggi, lontong sesuai pesanan istrinya. Tak lama kemudian, tukang antar makanan datang ke rumah. Satria mengambil makanan itu dan membawanya pada Amayra.


"Aku ambil piringnya dulu ya sayang,"


"Biar aku saja Mas." Amayra beranjak dari tempat duduknya.


"Sama aku aja sayang, kamu terusin nontonnya." Satria melihat Amayra sedang nonton drama Korea di televisi.


Amayra kembali duduk dan menikmati tontonannya itu. Dia tersenyum-senyum melihat adegan romantis di film. Tak lama kemudian, Satria datang ke ruang tengah membawa dua piring kosong dan pisau kecil.


Kemudian pria itu memotong-motong lontong dengan pisau, lalu dia meletakkan lontong yang sudah dipotong itu di atas piring. Tak lupa dia menyajikan sate yang sudah dibelinya lewat online itu. "Sayang, ayo makan dulu."


"Iya Mas, bentar." Amayra masih fokus pada televisi.

__ADS_1


Satria terperangah saat melihat tontonan istrinya. Bukannya drama Korea seperti tadi, melainkan film horor yang menampakkan banyak darah disana.


Dengan gerakan cepat, Satria menutup mata istrinya dengan satu tangan. "Astagfirullah..sayang, gak boleh! Kenapa kamu nonton yang ginian?!"


"Mas, apa-apaan sih? Ini lagi seru, juga!" Amayra langsung menyingkirkan tangan Satria yang menutup matanya. Satria kembali menutup mata sang istri. "Ish.. Mas Satria! Aku lagi nonton."


"Kamu lagi hamil, gak boleh kayak nonton kayak ginian! Gak baik buat anak kita, sayang."


"Uhhh...tapi aku pengen nonton." Keluh wanita itu dengan bibir mengerucut.


"Nonton boleh, tapi jangan nonton ini. Aku pindahkan ke film lain ya?"


"Huhhh.. ya udah deh."


Satria memindahkan filmnya ke film kartun. Amayra kesal padahal dia ingin nonton film horor. Namun pada akhirnya Satria berhasil membujuk Amayra dengan sate Maranggi.


Wanita hamil itu memakan satenya dengan lahap, sampai dia tak sadar sudah menghabiskan semua satenya dan tidak menyisakan untuk Satria. "Mas, gimana ini? Satenya aku habisin semua." Amayra menatap suaminya dengan memelas disertai dengan rasa bersalah karena sudah menghabiskan sate.


"Gak apa-apa sayang, lihat kamu makan aja aku udah kenyang." Satria tersenyum, dia merasa tak keberatan Amayra menghabiskan sate itu.


"Maaf Mas, aku makannya kebanyakan. Uhh.. maaf." kedua mata cantik itu mulai berkaca-kaca seperti akan menangis.


Pria itu tersenyum sambil menatap istrinya, "Gak apa-apa. Kamu gak usah nangis gitu, kamu kan makan gak sendirian. Ada dedek bayi didalam perut kamu, jadi wajar kan kalau kamu makannya banyak."


"Aku masak aja buat Mas ya? Mas kan belum makan malam!"


"Gak apa-apa sayang. Gak usah," ucap Satria sambil tersenyum.


Sebelum tidur, Satria menyiapkan segelas susu vanila ibu hamil untuk istrinya. "Sayang, minum dulu." Ucap Satria sambil menyimpan segelas susu itu di atas meja.


"Kenapa gak yang rasa coklat, Mas?" Tanya Amayra heran melihat susu berwarna putih di dalam gelasnya.


"Kamu mau rasa coklat? Ya udah aku buatkan yang-"


Amayra memegang tangan suaminya, "Mas...daritadi kamu terus kesana-kemari. Apa kamu gak capek? Udah..Mas bobo aja, aku gak enak sama Mas."


Dari tadi, Mas Satria bulak balik terus gara-gara aku.


"Gak enak gimana sayang?"


"Mas selalu mengabulkan permintaan aku, Mas juga rela bulak balik untuk aku. Aku kan gak enak," ucap Amayra.


Tangan Satria mencubit hidung Amayra dengan gemas. "Sama suami sendiri masa gak enak? Demi kamu sama anak kita, apa sih yang enggak. May...aku cuma mau kamu jaga kesehatan dan jaga anak kita baik-baik, itu aja. Selebihnya biar aku yang lakukan, apapun mau kamu aku akan berusaha penuhi. Jadi, kamu harus bilang ya kalau kamu ada keinginan atau mau apa apa. Jangan dipendam sendiri, ok sayang?"


Amayra memeluk suaminya, dengan rasa terharu yang mendalam. Dia merasa sangat beruntung karena memiliki suami sebaik Satria.


"Aku.. adalah wanita yang paling bahagia di dunia ini. Karena aku bisa menjadi istri Mas Satria Alvian Calabria. Seorang dokter bedah yang pandai membedah hatiku, selain tampan, dia juga imam yang baik." Amayra memuji suaminya habis-habisan.


Satria tidak mau kalah merayu istrinya. "Aku juga sangat beruntung, aku pria paling beruntung di dunia ini. Karena aku mendapatkan istri secantik kamu, udah cantik, penyabar, sholehah pula."


Keduanya sama-sama tersenyum, kemudian mereka tertidur dengan posisi berpelukan.

__ADS_1


...-----*****-----...


__ADS_2