
Maaf readers untuk chapter ini, mungkin mengandung keuwuan yang berlebih, mohon bijak dalam membaca ya! 🙏🤭
❤️❤️❤️
Anna terpana, mengagumi keindahan tubuh sang suami yang bisa dibilang sixpack. Roti sobek yang sangat indah menyegarkan mata.
"Ugh..." Ken menggelinjang kegelian dengan sentuhan Anna pada dada bidangnya itu.
"Ma-maaf Ken, aku gak sengaja megang itu." Anna menarik tangannya kembali, dia memalingkan wajah dari tatapan nanar membara Ken kepadanya.
Tanpa sadar aku memegang dada Ken, kenapa sih aku ini?
Ken tersenyum, dia mengambil satu tangan Anna lalu mencium punggung tangannya dengan lembut. "An, lihat kemari...lihat aku."
"Gak ah, malu." Anna menolak, meski tangannya baru saja di kecup barusan.
"Anna..." Ken meraih wajah Anna dengan telapak tangannya, dia menaikkan dagu Anna. Hingga wajah mereka saling berhadapan dan kedua mata mereka saling menatap satu sama lain.
Keduanya berada dalam gelora cinta yang membara, hasrat sudah membendung dalam diri mereka dan minta untuk segera dikeluarkan. "An, kamu siap kan?"
Anna terdiam sesaat, ketika dia mendengar pertanyaan Ken yang mengartikan ajakan malam pertama mereka. Malam dimana mereka akan melakukan penyatuan tubuh, jiwa dan hati.
"Mana mungkin aku menolak tugas istri, terlebih lagi aku sudah menjadi milik kamu. Ken." Anna tersenyum lembut, dia menyambut ajakan suaminya dengan senang hati.
"Baiklah." Ken juga tidak sabar membuka Anna yang sudah sah menjadi istrinya. Saat dia akan mencium Anna, lagi-lagi Anna mendorongnya. "Ada apa?"
"Jangan lupa pengamannya disana," Anna menatap ke arah atas lemari kecil yang ada didekat ranjang itu, diatas sana ada sesuatu seperti bungkus permen.
Ken melihat ke arah sana, lalu dia tersenyum. "Tenang saja, aku gak akan lupa... sekarang kan masih pemanasan dulu."
"Ken, kamu-"
Ken menangkup tubuh Anna, dia membuat Anna duduk di pangkuannya. Pria itu sudah bersiap untuk melahap Anna, jari jemarinya yang nakal mulai bergerilya mencari-cari tali pengait pelindung gunung kembar Anna.
Bibirnya sibuk memberikan tanda cinta di tubuh Anna, terutama bagian lehernya yang indah dan mempesona. Suara kecupan itu bahkan terdengar nikmat didengar, terlebih lagi suara Anna yang melenguh kegelian.
__ADS_1
"Ughhh... Aahhh...Ken...Ken..." Anna membenamkan kepala suaminya pada kedua buah gunung kembar miliknya.
Tubuhku panas dan bagian bawahku menjadi gatal. Batin Anna merasakan panas dan Gatak pada tubuhnya.
"Anna, suara kamu indah sekali." Ken memuji sang istri, kemudian dia melepas pengait pelindung gunung kembar Anna. Dia melempar benda itu dengan asal kemana saja.
Bibir Ken terbenam pada bibir cantik milik Anna, dia mengecap, memilin dan menikmati indahnya bibir itu. Keduanya bersahutan, saling memeluk dengan mesra satu sama lain. Dengan hasrat menggelora, menggebu-gebu dalam jiwa.
Tak puas dengan bibir, Ken mulai beralih lebih ke bawah lagi. Dia menyesap salah satu gunung kembar itu dengan lembut dan hati-hati. Anna kegelian lagi dibuatnya. "Ken...ughh...geli..."
"Sabar ya," pinta Ken pada Anna untuk bersabar, belum waktunya melakukan adegan puncak.
Selesai bermain disana, Ken membaringkan Anna diatas ranjang. Dia membuka kedua kaki Anna, merentangkannya. Anna terkejut dengan tindakan yang tiba-tiba itu, tindakan yang tidak pernah dia rasakan. "Ken, jangan menatapnya begitu! Aku malu!" Seru Anna malu ketika Ken menatap bagian lubang surgawi yang masih tertutupi oleh segitiga pengaman itu.
"Maaf An, ini naluri lelaki." Ken tidak kuat lagi, dia pun melorotkan segitiga pengaman yang membungkus lubang surgawi istrinya.
Dia menyesap dan bermain-main disana cukup lama, sampai hingga sudah tiba waktunya untuk bagian yang ditunggu-tunggu karena kedua tubuh insan muda itu sudah memanas dan segera membutuhkan pelepasan.
"Sayang, sudah cukup kan?" Lirih Ken sambil membelai rambut Anna ke belakang.
Ken memegang tangan Anna, menunjukkan pada Anna bahwa kebanggaannya sudah mengeras. Anna terkejut bukan main, menyentuh benda kebanggaan suaminya itu.
Besar sekali, juga panjang. Otak Anna mulai travelling kemana-mana.
"Sayang, siap ya?" Tanya Ken sambil tersenyum.
"Iya, tapi kamu pelan-pelan ya...aku takut."
"Iya tentu saja, kamu juga rileks ya." Ken mengusap kening Anna dengan lembut penuh kasih sayang.
Ken mulai membenamkan kebanggaannya itu pada tubuh Anna, lubang yang tidak pernah tersentuh oleh siapapun juga. Awal-awal Anna merintih kesakitan, seperti ada yang robek dibawahnya. Namun lama kelamaan dia menikmati permainan yang dipandu oleh Ken.
Mereka pun bergulat setengah malam, di malam pertama pernikahan mereka. Subuh itu Anna masih tertidur lelap, sampai dia tidak mendengar adzan subuh berkumandang di mesjid yang letaknya tak jauh dari hotel itu.
Sedangkan Ken sudah bangun lebih dulu, dia melihat Anna tertidur tanpa memakai sehelai benang kecuali selimut yang menutupi tubuh polosnya.
__ADS_1
"Cantik sekali kamu An, akhirnya kamu menjadi istriku." Ken mencium kening Anna, mengusap keringat di wajah cantiknya.
Ken merasa tadi malam seperti mimpi indah yang menjadi nyata. Kini dia dan Anna sudah resmi menjadi pasangan suami-istri.
🍀🍀🍀🍀
Subuh itu di rumah sakit, ruangan tempat Amayra di rawat.
Amayra membuka matanya perlahan-lahan, dihidung dan tangannya ada selang infus terpasang. Dia terbangun ketika mendengar suara alunan lantunan ayat suci Al-Quran terdengar merdu menggema di ruangan itu.
Amayra lihat ke arah samping sebelah kirinya, dia melihat seorang pria memakai peci berwarna putih sedang duduk di atas sajadah, dialah orang yang melantunkan ayat suci Alquran. Dia adalah suaminya, Satria.
"Shadaqallahul-'adzim'..." Satria menutup Al-Qur'an. Dia menyimpan Alquran itu diatas meja.
"Mas..." lirih Amayra memanggil suaminya.
Satria menoleh ke arah ranjang di ruangan itu, dia tercengang tidak percaya mendengar suara istrinya. "Sayang?"
Pria itu berjalan mendekati Amayra, dia menatap istrinya dengan cemas. Amayra menyunggingkan senyuman indah di bibir pucatnya itu. "Mas..."
"Alhamdulillah kamu sudah siuman sayang," Satria lega melihat Amayra sudah siuman.
Alhamdulillah ya Allah, terimakasih.
"Anak-anak kita mana mas? Aku dimana?" Amayra langsung menanyakan keberadaan anaknya saat dia bangun.
Ya Allah, tubuhku lemas sekali.
"Kamu di rumah sakit sayang, kamu pendarahan kemarin. Kamu jangan pikirkan dulu anak-anak ya, mereka aman kok sama papa dan mama...kamu harus sehat dulu ya."
Amayra mengangguk lemah, dia memang mencemaskan anaknya dan ingin segera bertemu dengan si kembar. Namun tubuhnya lemah belum bisa beranjak dari tempat tidurnya. "Iya mas."
"Kalau kamu mau lihat si kembar, aku video call mama nanti. Sekarang kamu harus diperiksa dokter dulu ya sayang." Satria mengelus kepala Amayra dengan lembut.
...****...
__ADS_1