
...🍀🍀🍀...
Hati Amayra terluka melihat ayahnya pergi dalam keadaan sedih dan berurai air mata. Seperti dirinya sendiri yang tersakiti. "Ayah.." lirih wanita itu sedih.
Bram melihat Amayra yang sedih, dia segera mengambil jaket dan kunci mobilnya.
Amayra yang masih berdiri di dekat gerbang melihat Bram mengendarai mobilnya keluar dari rumah itu,memakai baju santainya dan jaket tipis. Amayra bertanya-tanya mau kemana Bram pergi dengan pakaian seperti itu?
Ternyata Bram menyusul Harun yang sedang mencari ojeg disekitar sana. Hari sudah mulai gelap, pertanda sudah mau malam. Bram melihat Harun berjalan masih disekitar komplek, segera memarkirkan mobilnya tepat dipinggir Harun. Dia keluar dari mobil itu dan menghampiri Harun.
"Ayo pak, saya antar pulang!" Seru Bram pada Harun dengan sopan.
Harun menggelengkan kepalanya, "Tidak usah pak Bram, saya bisa pulang sendiri."
Sepertinya benar, pak Harun mendengar ucapan mama. Wajahnya merah seperti habis menangis. Ya Allah, aku jadi merasa bersalah.
Bram merasa bersalah melihat Harun yang terlihat sedih karena mendengar ucapan mamanya. Sekali lagi Bram membujuk Harun untuk diantar pulang olehnya, tapi Harun tetap menolaknya. "Tidak perlu, pak Bram pulang saja!"
Kenapa akhir-akhir pak Bram banyak berubah? Sebenarnya ini beneran atau pura-pura?
Harun heran karena Bram bersikap sopan, ramah dan lembut kepadanya. Bram yang sebelumnya selalu cuek pada Harun dan Amayra, akhir-akhir ini selalu memperhatikan mereka. Bukan hanya perhatian pada Rey saja, tapi pada Amayra juga. Perhatian yang tidak seharusnya dia tujukan pada istri adiknya.
Apa yang membuat Bram berubah? Lebih tepatnya setelah operasi itu membuat Bram banyak berubah. Emosinya lebih mudah dikendalikan dan dia tampak lebih tenang walau kadang sikapnya dingin.
"Saya mohon pak, pulang dengan saya ya pak. Nanti Amayra sedih kalau tau bapak pulang sendirian dalam keadaan seperti ini." Bram membujuk Harun dengan lembut.
"Memangnya saya pulang dalam keadaan seperti apa?" tanya Harun mengernyitkan dahi.
"Bapak pulang dalam keadaan sedih dan tidak enak hati. Saya tidak bisa membiarkan bapak seperti itu, saya mohon demi Amayra.. pulang bersama saya ya," ucap Bram sambil tersenyum pada pria paruh baya itu, senyumannya menunjukkan kesungguhan.
Harun menatap Bram dan melihat ke dalam matanya. "Kenapa kamu melakukan semua ini? Kamu pasti punya maksud lain kan?" Harun curiga ada alasan dibalik sikap baik Bram.
"Saya hanya tidak ingin ibu dari anak saya bersedih," jawab Bram jujur. Dia memang tidak mau Amayra bersedih.
"Kamu sadar gak sih...kalau kamu bertingkah seperti suami anak saya? Bertingkah tidak seperti seharusnya dan tidak pada tempatnya,"
Bram tersentak mendengar ucapan Harun, dia sepertinya menyadari bahwa sikapnya memang diluar batas. "Saya memang salah pak. Tapi saya melakukan ini karena saya tidak mau ibu dari anak saya bersedih...kalau Mayra bersedih, Rey anak saya juga akan ikut bersedih. Kesedihan Amayra bisa memberikan pengaruh untuk Rey, anak saya."
"Lucu sekali mendengar kamu bicara seperti ini, kalau saja dulu kamu tidak pengecut.. mungkin kamu tidak akan..ah sudahlah, apa yang aku bicarakan? Kamu pulang saja, saya akan pulang sendiri. Bilang pada anak saya, kalau saya tidak apa-apa," ucap Harun sambil mendesah memikirkan masa lalu putrinya.
"Pak..saya-"
Allahuakbar Allahuakbar...
Suara adzan magrib berkumandang mengalun indah, terdengar dari mesjid besar yang berada di ujung kompleks dan tak jauh dari sana. "Sudah magrib," gumam Harun.
Harun berjalan menuju ke arah masjid yang berada di ujung kompleks. Dia berniat menunaikan dulu ibadah shalat magrib disana sebelum pulang ke rumah. "Pak, saya antar.. bapak mau ke masjid kan?" tanya Bram yang menangkap niat Harun untuk pergi ke mesjid.
"Tidak usah,"
Bram membuka pintu mobilnya, "Pak, saya juga mau shalat magrib dulu. Sekalian saja... saya ingin dapat pahala juga karena mengantar bapak untuk beribadah" Dia meminta Harun jangan menolaknya lagi.
Tak enak terus menerus menolak Bram dan akan menghabiskan waktu, akhirnya Harun masuk ke dalam mobil Bram dan ikut dengannya. Mereka menuju ke mesjid untuk melaksanakan shalat magrib.
Shalat? Bram kapan kamu pernah shalat? Apa itu 20 tahun yang lalu, atau lebih dari itu? Aku sudah lupa bacaannya.
__ADS_1
Bram menyetir mobilnya sambil menggigit bibir bagian bawah, dia terlihat resah. Dia yang sudah lama tidak shalat, lupa semua bacaan shalat. "Maaf kalau pertanyaan saya lancang, apa kamu shalat?" tanya Harun sopan.
"Tentu saja pak, sa-saya kan muslim." Bram gelagapan, sambil mengusap wajahnya dengan resah.
Malu sekali aku. Batin Bram terpukul mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Harun.
"Jangan malu bertanya kalau ada yang kamu tidak tau. Kalau saya bisa jawab saya akan jawab." Harun tersenyum lembut.
"I-iya pak," jawab Bram bingung.
Hanya butuh waktu 5 menit untuk sampai ke mesjid besar itu. Terlihat hanya beberapa orang saja yang masuk ke dalamnya, padahal mesjid itu cukup besar menampung banyak orang. Bram memarkiran mobilnya ditempat parkir, dia dan Harun keluar dari mobil.
Bram terperangah melihat keindahan gedung mesjid yang besar itu. Sudah lama dia tidak menginjakkan kakinya di tempat ibadah umat Islam itu. Dia bahkan tidak ingat kapan terakhir dia kesana.
Pria tampan dengan sedikit brewok di wajahnya itu menggaruk kepalanya dengan gelisah. "Pak Bram, ayo masuk! Kita shalat berjamaah bersama.." ajak Harun pada pria yang berdiri mematung didekat mobilnya.
"Ah iya pak, baik saya akan segera kesana..hehe," Bram nyengir.
Aduh bagaimana ini? Bisa malu kalau aku ketahuan tidak bisa berwudhu apalagi shalat
Harun dan Bram berjalan menuju ke area mesjid, mereka hendak berwudhu terlebih dahulu sebelum melaksanakan shalat.
...********...
Cakra menegur istrinya habis-habisan setelah dia tau apa yang diucapkan Nilam tentang Harun pada Amayra dan terdengar oleh besannya itu. Dia meminta sang istri untuk meminta maaf pada Amayra dan Harun. "Nilam kamu ini.. kamu tidak pernah berubah ya? Allah sudah kasih kamu peringatan waktu itu! Sekarang kamu begini lagi?"
Nilam mengorek kupingnya dengan ibu jari, malas mendengar omelan suaminya. "Aduh pah, kenapa sih masalah kaya gini aja di besar-besarkan? Kenapa juga mama harus minta maaf padahal apa yang mama katakan ini demi kebaikan Rey dan Amayra juga?" Nilam menolak meminta maaf.
"Nilam...kamu sudah menyinggung besan dan menantu kita. Kamu sadar itu tidak? Kalau kamu tidak mau meminta maaf pada Amayra dan pak Harun, aku tidak akan memberikan kamu uang bulan ini! Camkan itu!" Cakra menatap murka pada istrinya yang kembali pada sifat lamanya. Sifat angkuh, ego tinggi, bicara pedas tanpa disaring.
"Kalau kamu mau dapatkan uang bulanan lagi, kamu tenangkan hati besan dan menantu mu dulu.. baru bicara padaku." Kata Cakra tegas sambil berjalan menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.
"Pah! Papa!" Nilam berteriak memanggil suaminya, tapi sang suami masih terus berjalan ke lantai dua rumah itu. "Ish.. kenapa aku harus minta maaf? Salahku dimana sih?"Wanita itu mendesis kesal.
Di dalam kamarnya, Amayra sedang menidurkan Rey di ranjang bayi. Di kepalanya masih terngiang-ngiang wajah sang ayah yang menangis, itu karena dia sakit hati dengan ucapan Nilam. Bukan hanya Harun yang sakit hati dengan ucapan Nilam, tapi Amayra juga merasakan hal yang sama. Sebagai seorang anak dia akan sakit hati jika anggota keluarganya dihina seperti itu. Walau tidak dihina secara tidak langsung, tapi dengan cara menyinggung.
Amayra sedih memikirkan sang ayah, bukan memikirkan ucapan mertuanya.
Sementara itu Satria dalam perjalanan pulang dia singgah dulu di mesjid untuk melaksanakan shalat Magrib. Dia baru saja selesai belanja makanan untuk Amayra setelah pulang dari rumah sakit. Dia memarkirkan mobilnya di parkiran, dia melihat mobil tidak asing berada disana. "Lho? Ini kaya mobil kak Bram?" tebaknya sambil melihat mobil sport berwarna merah itu.
Satria mengambil air wudhu, kemudian dia masuk ke mesjid. Dia melihat Harun dan Bram disana. Satria terperangah melihat Bram ada disana juga, orang yang tidak pernah menginjakkan kakinya ditempat suci itu. Satria menyapa ayah mertuanya, tak lupa dia mencium tangan Harun sambil mengucap salam dengan sopan. Layaknya menantu idaman, Satria sudah banyak belajar agama dari ustad Arifin salah satu kenalannya dari pondok pesantren ternama dari kota Garut.
Dia sudah menghafal doa wudhu, shalat, terutama tugasnya sebagai seorang imam keluarga. Pengetahuannya tentang agama memang tidak bisa dibandingkan dengan ustad atau kiyai, tapi dia terus belajar agar menjadi lebih baik tanpa menghilangkan jati dirinya sendiri.
"Kamu baru pulang kerja Sat?" tanya Harun ramah.
"Iya pak, saya baru saja pulang. Mendengar adzan magrib saya singgah dulu disini," jawab Satria jujur. Matanya melirik ke arah Bram dengan heran.
Kenapa kak Bram bisa sama pak Harun ya?
Bram bingung dengan maksud tatapan Satria padanya. Satria ingin bertanya kenapa kakaknya berada disana, tapi Iqamah sudah berkumandang dan mereka harus segera melaksanakan shalat magrib.
Semua pria yang berada didalam masjid, berjajar dengan rapi di Shaf nya masing-masing. Harun berada ditengah-tengah antara Satria dan Bram. Mereka melaksanakan shalat berjamaah, Bram terlihat kaku dan dia lupa lupa ingat bacaan shalat. Bahkan gerakannya saja ada yang salah, setelah rukuk dia malah langsung sujud bukan i'tidal terlebih dahulu. Hal itu membuatnya malu sendiri apalagi didepan Harun dan Satria. Padahal Harun sedang khusuk shalat bersama para jamaah yang lain dan tidak memperhatikan Bram.
Hati Bram tertampar karena Satria selalu lebih baik darinya, dia masih memiliki rasa iri pada adiknya itu.
__ADS_1
...*****...
Bram pulang lebih dulu ke rumah, karena Satria mengantar Harun dulu. Lagi-lagi dia merasa sakit kepala. "Uh...ya ampun kepalaku,"
"Tuan, tuan tidak apa-apa?" tanya Dewi yang sedang lewat disana sambil membawa teh di nampan.
"Tidak apa-apa, bi Dewi ambilkan aku segelas air ya." titahnya pada ART itu. Bram duduk di sofa ruang keluarga sambil memegang kepalanya.
"Baik tuan,saya juga akan mengantar teh ini sekalian pada nyonya besar." ucap Dewi patuh.
"Iya jangan lama-lama...oh ya ambil kan juga obatku di kamar diatas meja ya!" Titahnya lagi pada Dewi.
Dewi mengangguk patuh,"Baik tuan,"
Dewi segera melaksanakan perintah majikannya. Dia pergi ke dapur untuk mengambil air minum dan obat Bram. Bram segera meminum obat sakit kepalanya itu, seusai operasi dia sering merasa sakit kepala. Setelah meminum obat itu, Bram berniat langsung kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Dia melihat kamar Amayra yang tertutup rapat.
Apa dia baik-baik saja? Dia pasti menangis.. Bram melihat pintu kamar itu dengan khawatir, lebih tepatnya dia khawatir dengan orang yang ada didalamnya.
Beberapa menit kemudian, Satria pulang ke rumah dengan senyum lebar dan membawa sekeresek besar makanan untuk istrinya. Dia langsung masuk ke dalam kamar dengan langkah mengendap-endap.
Dia melihat punggung sang istri yang sedang membelakanginya, Amayra duduk di atas ranjang bersama Rey yang sedang tidur disana. Satria tersenyum jahil, dia mengeluarkan kotak coklat berbentuk love dari dalam keresek yang dia bawa.
Amayra pasti senang, aku belikan coklat kesukaannya.
Satria memeluk sang istri dari belakang, dia menunjukkan coklat dengan kotak berbentuk hati pada Amayra. "Assalamualaikum istriku, aku cinta kamu.." ucap pria itu dengan lirih, mengecup pucuk kepala Amayra penuh kasih sayang.
"Waalaikumsalam.." Amayra terkejut dengan kehadiran suaminya yang begitu tiba-tiba. Buru-buru dia menyeka air matanya.
Satria mendengar suara serak Amayra, dia membalikkan tubuh Amayra menghadap kearahnya. "May, kamu nangis? Kenapa hem.." Satria khawatir melihat mata Amayra yang sembab dan mata merahnya. Dia yakin kalau istrinya sedang menangis.
"Kakak udah pulang? Maaf ya aku gak sadar kakak pulang, harusnya aku menyambut kakak..hehe," Amayra berusaha memaksakan sebuah senyuman di depan suaminya.
"May jangan mengalihkan pembicaraan, aku suamimu....sedang bertanya padamu. Kamu tidak mau jawab kenapa kamu menangis?" Tangan kekar Satria memegang kedua bahu Amayra, seraya meminta wanita itu mengatakan apa yang terjadi.
"Aku gak nangis kak, aku cuma lelah.." jawab Amayra sambil memalingkan wajahnya dari Satria.
"Aku tau kamu May, kalau kamu bohong..pasti kamu memalingkan wajahmu dariku." Satria sudah tau sebagian besar sikap istrinya setelah hampir satu tahun dia hidup bersamanya.
Tangan Satria meraih dagu Amayra, dengan maksud membuat wanita itu menatapnya. Tapi Amayra tak berani menatap Satria, dia masih menunduk tidak mau bicara. Satria yakin istrinya menangis bukan hanya karena lelah. "Amayra Alifya Husna..." Satria memanggil nama lengkap sang istri, hingga wanita itu mendongak melihat ke arahnya. "Saat ku panggil nama lengkap, baru kamu menoleh ke arahku.."
"Apa kakak marah padaku?" tanya nya dengan mata berkaca-kaca, bibirnya mengerucut.
"Marah?" Pria itu terpana.
"Kakak memanggil nama lengkap ku, biasanya hanya saat kakak marah saja. Apa kakak marah?"
"Aku tidak marah, aku hanya bertanya kenapa kamu menangis. Apa aku harus marah dulu supaya kamu bicara?" Satria memicingkan matanya, menatap sang istri dengan tajam.
Amayra menggeleng,"Tapi aku gak nangis,"
"Ya, gak nangis sekarang. Tapi baru beberapa detik yang lalu kamu meneteskan air mata. Ada apa May, bicara pada suamimu?" Satria menatap Amayra dengan penuh pertanyaan dan kecemasan.
Amayra menghela napas, dia menolak bicara.
...---****---...
__ADS_1
Mau lanjut lagi? Kasih vote sama gift nya 2 bunga aja gak apa-apa kok 😅😅🤧😘😍 makasih dukungannya ya 🤭🙏😚