Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 96. Satria galau


__ADS_3

"Waalaikumsalam," jawab Diana.


"Oh ya, dokter jutek!"


"Ya, apa lagi? Katanya mau pergi?" tanya Diana heran.


"Nama kontak saya jangan diganti ya," ucap Bram sambil menyunggingkan senyuman di bibirnya.


"Hah?" Diana menengadah ke arah Bram.


Pria itu pun tancap gas menuju ke kantornya dengan ngebut. Diana tersenyum sendiri, kemudian dia melihat ponselnya dan panggilan nomor Bram disana.


"PFut.. apa apaan ini? Ternyata dia narsis juga.. haha.." Diana tertawa melihat nama Bram ditulis di kontak ponselnya dengan nama "CEO tampan," Hal itu sontak membuat Diana tertawa terpingkal-pingkal dengan kenarsisan Bram.


Diana pun masuk ke dalam rumah sakit dengan senyum ceria, padahal hari itu dia bertemu sosok Bram yang menurutnya menyebalkan. Tapi kini mungkin pikirannya sudah lain terhadap Bram dan kesannya mulai berubah. Di dalam perjalanan menuju ke ruangannya, dua melihat banyak pasien sudah mengantri disana, pasien yang didominasi oleh ibu hamil.


Dia segera melaksanakan tugasnya memeriksa semua pasien yang hadir. Setelah beberapa jam berlalu, jam makan siang pun tiba. Diana pergi keluar dari ruangannya untuk mencari makan siang. Namun, dia melihat Satria sedang berdiri dalam keadaan bersandar di tembok lorong. Wajahnya tampak resah seperti memiliki beban hidup yang berat.

__ADS_1


"Satria? Ngapain kamu bengong disitu? Kamu gak ada operasi?" tanya Diana pada teman kuliahnya itu.


"Eh Diana?" Satria terlihat kurang fokus, dia langsung berdiri tegap didepan temannya itu.


"Apa kamu sudah bicara pada Amayra tentang keberangkatan kamu ke Afrika?" tanya Diana yang langsung merujuk pada permasalahan itu.


"Sudah," jawab Satria sambil mendesah.


"Lalu? Apa dia gak setuju?" tanya Diana menebak dari wajah Satria.


"Dia setuju, tapi..." Satria bingung bagaimana menjelaskannya pada Diana. Tapi hanya dia satu-satunya teman yang bisa diajak bercerita.


Satria menceritakan secara singkat tentang pembicaraannya dengan kepala rumah sakit, juga dokter Candra. Satria menolak pergi ke Afrika dan meminta dokter lain menggantikannya, karena masi banyak dokter bedah lain yang bisa menggantikannya. Akan tetapi taruhannya adalah pekerjaan. Hal ini sangat berisiko untuk karirnya sebagai dokter dan entah kenapa dokter Candra tidak mau Satria digantikan oleh siapapun. Karena memang Satria adalah dokter bedah paling berkompeten dan selalu berhasil dalam operasinya.


"Apa alasan dokter Candra menolaknya Sat?"


"Ya itu karena dia bilang kalau aku adalah dokter paling berkompeten di rumah sakit ini," jawab Satria gusar. Kini dia berada dalam kegalauan antara karir dan keluarga. Apalagi setelah penolakan dirinya ditolak oleh pihak rumah sakit dan mengharuskan dia untuk pergi

__ADS_1


"Itu memang benar sih, tapi seharusnya dia mendengarkan pendapat kamu juga. Apakah mungkin ini rencana sengaja dari dokter Candra?"


"Rencana apa maksud kamu?"


"Sat, apa di dalam daftar nama itu ada dokter Clara juga?" tanya Diana curiga.


"Iya ada,"


"Haahh.. sudah aku duga, ini pasti rencana mereka. Mereka sengaja ingin membuat kamu terpisah dari Amayra dan Rey, lalu kamu bisa berdekatan dengan wanita itu." Diana yakin bahwa ini adalah rencana Candra dan Clara.


Satria menggeleng, dia tidak percaya bahwa dokter Candra yang selalu bersikap adil profesional dalam pekerjaan, bisa melakukan rencana seperti itu. "Makasih sudah mendengarkan aku Di, aku benar-benar lega bisa cerita sama kamu,"


"Intinya kamu harus bicara sama Amayra, gimana baiknya.. apa dia benar-benar setuju atau tidak? Semangat ya Sat, bicarakan baik-baik dengannya," Diana menyemangati temannya itu.


"Semoga Allah memberiku petunjuk, bagaimana baiknya," ucap Satria bingung.


Aku harus bicara lagi dengan Amayra, kalau dia tidak mau aku pergi. Maka aku akan tetap tinggal disini, keluar dari rumah sakit dan mencoba mencari pekerjaan di tempat lain. Ya Allah, aku harus bagaimana? Walau nanti hanya dua bulan pergi. Rasanya seperti pergi bertahun-tahun, satu hari saja sudah seperti setahun.

__ADS_1


...----****----...


__ADS_2