Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 103. Harun sakit


__ADS_3

Satria dan Amayra masih bergumul di kamar itu. Menikmati setiap sudut tubuh mereka masing-masing di siang hari.


"Kak, u-udah dong," pinta Amayra dengan suara terengah-engah.


"Bentar lagi May," Satria menyelipkan jarinya pada jari cantik sang istri. Dia menggenggam erat jari-jari itu.


Tetesan keringat terlihat ditubuh kekarnya, otot-otot dada yang sixpack itu terlihat lelah. "Lima menit lagi saja ya?" ucap Amayra seraya memohon suaminya untuk berhenti.


"Iyah, lima menit.. oke.." ucap Satria sambil mencium leher Amayra dengan lembut, lalu menggigit lehernya. Tubuh Amayra dalam posisi tengkurap, sementara sang suami berada diatasnya dengan posisi yang sama.


"Auw..geli kak," pekik wanita itu dengan suara mendesah nan lembut. Satria tergugah mendengar suara istrinya, dia semakin berpacu dalam semangat pergelutan ranjang itu.


Lima menit itu tidak berakhir dalam lima menit seperti apa yang dikatakannya. Satria malah menambah durasi pergelutan ranjang itu dan berakhir dalam waktu 20 menit.


Bukannya terlihat lelah, Satria malah terlihat bugar dengan senyuman penuh kepuasan. "Sayang, aku cinta kamu." ucap Satria dengan mendaratkan ciuman pada kening wanita yang baru saja memberikan banyak cinta kepadanya.


Amayra menggeleng-geleng, dia tidak percaya jika suaminya memiliki stamina yang bagus. Amayra menghela napas panjang, tubuh mungil itu berkeringat tanpa sehelai benang ditubuhnya kecuali selimut. "Haaahhh.." Amayra melenguh panjang.


Katanya lima menit lagi. Lima menit dengan mudah menjadi sepuluh menit, lalu jadilah sampai sekarang.


"Kamu lelah ya? Kamu mandi duluan ya, aku mau jaga Rey dulu," ucap Satria sambil tersenyum bahagia.


Wanita itu tersenyum, "Tidak apa-apa aku lelah begini, asalkan kita semakin romantis,"


"Oh gitu ya? Kamu jangan godain aku May, bentar lagi bulan puasa lho!" Seru Satria dengan senyuman manis menggoda.


Mendengar kata bulan puasa, membuat Amayra yang berbaring langsung beranjak duduk di ranjang itu, "Oh ya, bentar lagi bulan ramadhan ya? Berarti setelah bulan suci ramadhan berakhir kakak akan segera pergi ke Afrika,"


"May, aku belum memutuskannya. Dua hari lagi aku akan memutuskannya,"


"Ah ya baiklah,"


"Ini bulan ramadhan pertama kita, aku harap kita akan tetap rukun seperti ini. Dan aku mohon jangan ada yang kamu sembunyikan dariku, jika ada lebih baik kamu bilang sekarang ya sebelum bulan puasa nanti kamu gak boleh, bohong." ucap Satria sambil mencubit gemas hidung mancung sang istri, seraya menggodanya.


"Hihi, emangnya aku tukang bohong? Bukannya Kakak tuh yang tukang bohong?" gerutu Amayra dengan suara mencicit dan mulut yang mengerucut.


"Siapa yang tukang bohong? Berani ya kamu bilang suamimu begitu?" Satria mencubit pipi Amayra dengan gemas. Gadis yang dulu kurus dan memiliki wajah tirus itu, kini terlihat gemukan setelah menikah. Terlihat dari pipinya yang mulia chubby.


"Habisnya kakak gak bilang sih kalau kakak suka sama pie Cherry," gumam Amayra kesal.


"Apa?" Satria terpana.


"Wanita itu tau, tapi istrimu gak tau." Amayra mendesis kesal.

__ADS_1


"Wah.. sekarang istriku yang pemalu sudah mulai berani bicara ya? Baguslah, kalau kamu cemburu bilang saja cemburu," Satria tersenyum mendengar ocehan istrinya itu.


"Siapa yang cemburu? Ish, aku kesal karena dia tau tentang kak Satria," ucap Amayra sebal.


"Tapi dia tidak tahu semua tentangku, hanya kamu yang boleh tau semuanya." ucap Satria sambil menatap sang istri dengan penuh cinta.


"Memangnya aku tau semuanya?" Amayra berfikir.


"Ya, malah hanya kamu yang tau tentang hal ini!" Satria mendekati istrinya, lagi-lagi dia terpesona melihat mata polos dan wajah polos wanita berusia 18 tahun itu.


"A-apa itu kak?"tanya Amayra bingung.


"Kamu tau semua bagian tubuhku, cuma kamu," bisik Satria dengan senyuman menggoda.


"Kakak! Kamu mesum ih!" Amayra memukul-mukul dada suaminya. Mereka bercanda bahagia dan menjadi lebih dekat dari sebelumnya.


Setelah selesai membersihkan diri, Satria memasak untuk makan siang. Sementara Amayra menunggu sambil mengajak Rey untuk bicara.


...****...


Disaat keluar kecil Amayra kembali damai, badai datang pada Harun yang sedang dilanda rasa galau. Dia berada di rumahnya sendirian, sambil memegang dokumen dengan wajah sedih.


Hari itu dia tidak pergi bekerja seperti yang seharusnya dia lakukan, dia hanya berdiam diri di kamarnya. "Aisha, apa yang harus aku lakukan?" Harun melihat foto seorang wanita cantik berjilbab, dengan baju berwarna biru. Wanita itu tersenyum di dalam foto sambil menggendong bayi. Dia adalah Aisha, ibu Amayra yang meninggal saat dia melahirkan Amayra.


#Flashback


Semuanya bermula dari satu bulan yang lalu Harun selalu merasa mual, muntah dan sakit kepala secara berulang. Dia juga merasa mudah lupa dan mudah lelah.


Pada suatu hari Harun sedang bekerja dengan temannya mengangkut sampah di komplek. Tiba-tiba saja setengah tubuhnya kaku dan tidak bisa bergerak.


"Pak, bapak kenapa?" tanya pria paruh baya teman pak Harun dengan cemas.


"Gak tau nih kenapa, tiba-tiba sebelah kaki saya dan sebelah tangan saya tidak bisa digerakkan," Harun duduk di sebuah kursi panjang dengan dibantu temannya.


Temannya itu menyarankan agar Harun diperiksa saja ke rumah sakit. Namun saat itu Harun mengabaikannya, sampai gejala paling parah muncul saat dia baru saja pulang dari shalat berjamaah magrib di mesjid terdekat rumahnya.


"Astagfirullahaladzim,"


Tiba-tiba saja dia tidak melihat apa-apa, pandangannya gelap gulita. Beberapa kali Harun mengucapkan kalimat istighfar dengan ketakutan. Ditambah lagi kakinya tidak bisa bergerak separuh, sama seperti sebelumnya.


Akhirnya saat keadaannya mulai membaik, dia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit dan tidak mau mengabaikan kondisi tubuhnya lagi. Namun, berita kurang menyenangkan datang dari seorang dokter yang mengatakan bahwa dia terkena kanker otak stadium akhir.


Dokter spesialis kanker itu merekomendasikan dokter bedah terbaik kepada Harun untuk melakukan operasi otak. Dokter itu tak lain adalah Candra. Harun pun berkonsultasi dengan dokter Candra, bagaimana baiknya.

__ADS_1


"Dok, jika saya tidak melakukan operasi.. apakah saya akan baik-baik saja?" tanya Harun yang tidak mau melakukan operasi.


"Maaf pak, saya bukan tuhan yang bisa menentukan keadaan seseorang. Tapi satu hal yang saya tau, kita harus berusaha dulu sebelum menyerahkan semuanya pada takdir,"


"Iya Dokter benar juga. Ya Allah kenapa aku berfikiran negatif seperti ini. Tapi dok, berapa lama lagi waktu saya menurut pandangan medis?" tanya Harun serius.


Candra mengatakan melihat dari keadaan Harun saat ini, kemudian besar waktu Harun mungkin tinggal 2-3 bulan lagi atau mungkin lebih singkat dari itu. Harun tersenyum pahit mendengar diagnosa tentang penyakitnya.


Candra juga menjelaskan bahwa tingkat keberhasilan operasi adalah tipis, tapi dia tetap menyarankan itu pada Harun. Harun belum berkata setuju, dia masih bingung bagaimana cara memberitahu Amayra dan Satria tentang hal ini.


#Endflashback


Harun pun jatuh tertidur dengan memeluk foto anak dan istrinya sambil menangis.


...*****...


Sore itu, Bram pulang lebih cepat. Dia terlihat sangat lelah setelah pekerjaan menumpuk di kantornya. Para karyawan Calabria grup yang lain juga sudah bubaran.


"Erik, ngapain kamu masih disini?" tanya Bram pada sekretarisnya yang masih sibuk dengan dokumen di meja.


"Iya pak, sebentar lagi saya juga mau pulang kok. Saya sedang membereskan file untuk rapat besok," ucap Erik sambil tersenyum.


"Sudah kerjakannya besok saja, pulanglah lebih dulu!"


Erik terperangah mendengar ucapan Bram yang memintanya pulang bukan meminta lembur. Kini Bram sudah banyak berubah sejak belajar dengan ustad Arifin dan membaca buku tentang agama Islam.


Bram dan Erik keluar kantor bersama, Bram menaiki mobilnya sendirian. Erik juga memiliki mobilnya sendiri dan bergegas pulang. Bram menyetir menuju ke rumahnya.


Tiba-tiba saja dia merasa sakit kepala menyerang lagi dirinya. "Ughh.. kepalaku,"


Seketika itu Bram langsung menepikan mobilnya di pinggir jalan, setelah sakit kepalanya dirasa sudah tidak mau diajak bekerjasama. "Aku tidak bawa obat, ugghhh.."


Bram mencari-cari obat dimobilnya, obat sakit kepala yang selalu dia minum ketika dia sakit kepala. Lalu dia baru ingat kalau dia tidak membawa obatnya. Bram pun mencari ponselnya, dia hendak meminta bantuan pada dokter Bevan.


Tangannya terkulai lemas, dia tidak bisa menahan sakit kepalanya itu. "Ughh..ya Allah.."


Tok, tok, tok!


Seseorang menggedor kaca mobil Bram, seraya memanggil pria itu. "Pak Bram! Apa bapak ada di dalam? Bapak baik-baik saja bukan?" suara seorang wanita memanggil Bram dengan cemas.


"Ugghhh... siapa itu," Bram menundukkan kepalanya di setir kemudi. Dia tidak kuat melihat siapa wanita yang sudah menggedor kaca mobilnya.


...-----****-----...

__ADS_1


__ADS_2