
...****...
Jadi tanggal lima belas Juli, hari dimana aku menikahi Amayra.
Satria hanya senyum-senyum sendiri setelah menyadari apa yang membuat Amayra marah padanya, sambil rebahan di atas ranjang. Dia melihat istrinya dari belakang. Lalu memalingkan tubuhnya sambil memeluk guling.
Kenapa Mas Satria diam saja? Jangan-jangan dia benar-benar gak ingat tanggal 15?
Amayra tiba-tiba saja diam saat dia sedang mengetik, karena Satria hanya diam saja ketika dia sedang ngambek pada suaminya itu.
"Mas.." Amayra melihat suaminya yang rebahan di ranjang dengan santai.
Lebih baik aku tanya Mas Satria saja deh tanggal lima belas itu, walaupun dia gak ingat. Aku mau merayakan satu tahun pernikahan aku dan Mas Satria.
"Apa?" Sahut Satria tanpa melihat ke arah istrinya.
"Jadi tanggal lima belas gima-"
Satria menyela, "Aku kan sudah bilang kalau tanggal lima belas nanti aku sibuk, ada seminar dan jadwal operasi. Mungkin juga aku akan pulang malam pada tanggal itu karena jadwalku sangat padat. " Jelas Satria tegas.
"Aku belum selesai bicara udah main di potong-potong aja! Huh!" gerutu wanita itu dengan bibir mengerucut dan wajah cemberut.
"Jangan tidur malam-malam, aku bobo duluan ya. Besok aku harus kejar.. hoaaamm.." Satria menguap sambil memakai selimutnya.
Amayra pasti lagi marah-marah, biarin aja deh. Tenang aja May, nanti kamu akan senyum-senyum. Tunggu aja ya sayang...
Satria menutup mata sambil senyam-senyum, dibelakang Amayra tanpa sepengetahuannya.
Sementara itu Amayra mendesahh kesal, dia tak percaya Satria akan tidur lebih dulu darinya. Dia semakin kesal lagi saat Satria cuek saja ditanyakan soal tanggal 15. Inti dari jawaban nya adalah sibuk!
"Huh! Dasar cowok gak peka, harus aku terus deh yang peka. Tau ah, kesel deh..ishh.." Amayra mendesis kesal sambil menatap suaminya. Kemudian dia melanjutkan lagi mengerjakan tugasnya dengan hati kesal.
...****...
Di malam yang sama namun berbeda tempat, Diana dan Bram sedang makan malam bersama di rumah keluarga Calabria. Dalam rangka silaturahmi untuk membicarakan tentang pernikahan Bram dan Diana yang akan dilaksanakan kurang lebih 2 Minggu lagi.
"Kamu gak usah cemas masalah dekorasi, makanan dan tempat pernikahan. Mama yang akan atur semuanya.."kata Nilam sambil tersenyum.
"Maaf Ma, tapi kami sudah sepakat mau melakukan prosesi akad dan resepsi pernikahan di rumah Diana." Jelas Bram pada mamanya.
"Apa? Mengapa begitu?" Tanya Nilam kedengaran tidak senang mendengar penjelasan Bram.
"Kami ingin pernikahan yang sederhana," jawab Bram sambil melihat ke arah calon istrinya yang duduk tepat disebelahnya.
"Haahhh.. Bram, Diana, coba deh kalian pikirkan kembali. Pernikahan pertama kalian sama-sama pernikahan siri, kalau pernikahan ini dilakukan sederhana juga.. orang-orang tidak akan tau tentang kalian. Mama sih ingin kalau pernikahan kalian mewah dan disaksikan banyak orang, supaya banyak orang yang mendoakan juga." Nilam menjelaskan apa maksudnya yang ingin pernikahan Bram dan Diana diadakan secara mewah.
Pernikahan Satria dan Amayra saja dulu mewah, walaupun si Amayra hamil duluan. Masa pernikahan anak sulung keluarga Calabria dilakukan sederhana? Kan malu sama orang-orang. Celetuk Nilam dalam hatinya.
Diana dan Bram saling melirik, mereka kembali bingung. Dalam hati mereka membenarkan ucapan Nilam. Pernikahan mereka dilakukan secara siri bersama pasangan mereka saat itu, jika kali ini diadakan sederhana juga. Apa yang akan dipikirkan orang-orang di luar sana?
"Kali ini Papa setuju sama mamamu. Pernikahan kalian harus diketahui semua orang, tidak boleh sederhana. Karena apa? Karena ini ibaratkan pernikahan pertama untuk kalian berdua," ucap Cakra yang sependapat dengan Nilam.
"Baiklah Ma, Pa, Diana ikut saja dengan Papa dan Mama." Diana setuju dengan calon ibu dan calon ayah mertuanya itu. Dia tersenyum sambil memandang Bram.
Setelah selesai makan malam, Bram mengantar Diana pulang mengendarai mobil menuju ke rumahnya.
__ADS_1
"Kamu yakin mau ikutin Mama dan papaku? Bukannya kamu ingin pernikahan yang sederhana?" Bram bertanya pada calon istrinya itu.
"Setelah kupikir pikir lagi, mama dan papa ada benarnya Mas. Pernikahan kita ibaratkan pernikahan pertama, karena pernikahan kita dulu dilakukan secara siri. Mari kita menikah, pernikahan yang dihadiri oleh semua orang." Kata Diana sambil tersenyum bahagia.
"Baiklah, aku sih gimana kamu aja." Bram tersenyum sambil menatap Diana penuh kasih sayang. Dia tak sabar untuk hari pernikahan mereka nanti.
Diana dan Bram sudah memantapkan hati mereka untuk menuju ke pelaminan. Masalah persiapan pernikahan juga dilakukan bersama-sama. Nilam yang akan berkontribusi besar dalam acara pernikahan anaknya ini.
...****...
Keesokan harinya, pagi itu Amayra sudah menyiapkan semua keperluan seperti biasanya. Keperluan Satria suaminya dan Rey, anaknya sebelum dia berangkat ke kampus. Namun pagi itu ada yang berbeda, karena Amayra terlambat bangun.
"Kamu ngerjain tugas sampai jam berapa sih? Sampai bisa kelewat jam subuh?" Tanya Satria.
"Kenapa Mas jadi marah-marah sih?" Amayra yang masih kesal pun jadi marah-marah. Dia terlihat buru-buru menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya.
"Kamu tuh yang marah-marah, aku kan cuma tanya.." Satria bicara dengan bibir mengerucut, kening berkerut melihat istrinya berjalan kesana-kemari.
Ditambah lagi Dewi bilang dia akan terlambat datang, Amayra jadi keteteran karena dia terlambat bangun.
"Sudahlah Mas, ayo sarapan dulu!" Ujar Amayra pada suaminya yang akan berangkat kerja.
"Ok," jawab Satria sambil duduk di kursi meja makan. Didepannya sudah tersaji nasi goreng spesial telur dan sosis buatan sang istri tercinta.
Sementara Satria sedang makan, Amayra sedang menyuapi anaknya yang bangun lebih pagi dari biasanya. "Ayo sayang makan ya.. Am.."
"Kamu juga sarapan May, kamu kan kuliah pagi."
"Kakak sarapan aja duluan," jawab Amayra dengan suara ketus.
"Papapa...papa..." Gumam Rey mengoceh.
"Iyah, padahal aku yang melahirkan Rey. Tapi kenapa kata pertama yang diucapkan Rey adalah papa." Amayra langsung cemberut.
Satria tersenyum gemas melihat istrinya yang kesal karena nama pertama yang disebut oleh Rey adalah papa bukan mama.
"Udah jangan cemberut, nanti cantiknya nambah.." Satria mencubit pipi Amayra, memperlakukan istrinya seperti boneka yang menggemaskan.
Imut banget Mayra.
"Aku bukan anak kecil Mas, udah ah jangan pegang-pegang! Aku lagi marah nih!" Seru Amayra sambil menepis tangan suaminya.
"Terus gimana dong? Rey sepertinya lebih sayang sama aku daripada mama nya," Satria mengecup pipi Rey dengan penuh kasih sayang.
"Hemph!" Amayra memalingkan wajahnya, tak mau melihat Satria.
"Sayang jangan marah terus dong, dari semalam kamu marah-marah terus. Bilang dong, apa yang harus aku lakukan supaya kamu gak marah lagi?" Tanya Satria yang semakin ingin menggoda istrinya.
"Mas harus luangkan waktu ditanggal lima belas itu, kalau enggak aku akan tetap marah.." kata Amaya tegas.
"Memangnya tanggal lima belas ada apa sih?" Satria menatap istrinya yang sedang ngambek itu.
"Ya coba Mas ingat sendiri, ada apa ditanggal itu? Jangan tanya aku," ucap Amayra yang enggan memberitahu ada apa dengan tanggal lima belas itu.
"Aku gak ingat, perasaan itu cuman hari Senin biasa deh." Satria terlihat cuek dan pura-pura tidak tahu.
__ADS_1
"Nyebelin! Mas nyebelin.."
Satria tersenyum, kemudian dia mencium pipi Amayra dengan lembut. "Nyebelin juga, kamu cinta mati sama aku kan?"
Wajah Amayra memerah mendapatkan ciuman dari suaminya itu, "Ja-jangan pikir aku akan lemah ya..aku masih marah, masih marah!" kata Amayra tegas.
"Iya deh iya, kamu masih marah sama aku. Oke gak apa-apa, marah juga istriku tetap imut kok." Ucap Satria dengan tawa kecilnya.
"Mas..aku tuh lagi marah malah digodain terus,"
Mas Satria nyebelin banget. Masa dia gak ingat tanggal lima belas?
"Habisnya kamu imut sih..."
Mayra istriku, tanggal lima belas tinggal beberapa hari lagi. Dan hari itu kamu pasti udah gak marah sama aku.
"Udah ah bercandanya, kamu sarapan dulu. Biar aku jaga Rey," ucap Satria pada istrinya.
"Aku mau sarapan di kampus aja," jawabnya dengan wajah kesal.
"Sekarang sayang.. sarapan dulu sana!" Ucap Satria pada istrinya. Lalu dia menggendong Rey.
"Tapi.."
"Dosa, nolak perintah suami apalagi perintahnya itu demi kebaikan." Kata Satria tak mau dibantah.
"Aku emang gak bisa menang lawan kamu, Mas.." Amayra menghela napasnya.
"Mau melawanku? Kamu tidak akan bisa May.." ucap Satria sambil menyunggingkan senyuman dibibirnya.
Setelah semua urusannya di rumah selesai, Amayra dan Satria berangkat bersama sambil membawa Rey ke rumah keluarga Calabria. Mereka bermaksud menitipkan Rey pada Nilam.
Disana juga ada Diana yang kebetulan sedang mengambil jadwal libur satu hari. Diana lah yang akhirnya mengasuh Rey, dia senang sekali karena Rey bisa bersamanya.
Amayra dan Satria jadi tenang jika Rey berada ditangan ibunya yang lain. Satria mengantar istrinya dulu ke kampus. "Sayang, semoga berhasil persentasinya ya.." kata Satria mendoakan.
"Iya Mas, bismillah.. makasih ya Mas," walaupun dalam keadaan masih kesal karena suaminya, dia masih bersikap baik.
"Senyum dong. Aku mau kerja jadi semangat nih," pinta Satria pada istrinya yang sedari tadi terus cemberut. Bukan dari tadi melainkan dari beberapa hari yang lalu dan itu gara-gara tanggal lima belas.
"Nih.." Amayra senyum dengan terpaksa.
Cup!
Satria mengecup lembut bibir istrinya didalam mobil itu. "Mas.. kamu tuh. Nanti kalau ada yang lihat gimana?"
"Tinggal tunjukan saja buku nikah," ucap Satria santai. "Kita juga gak akan ditangkap,"
"Ya ampun," Amayra tersenyum mendengar candaan dari suaminya. "Sekarang Mas suka bercanda ya, kayak Ken aja.. dia juga suka bercanda..haha..." Amayra tertawa kecil.
"Apa? Aku seperti Ken?" wajah Satria langsung berubah saat nama Ken disebut oleh Amayra.
Ya Allah, apa aku salah bicara? Kok wajah Mas Satria jadi begitu?
.......
__ADS_1
...----****-----...
Jangan lupa kasih like, komen nya ya 🥰