
...🍀🍀🍀...
Amayra gemas dengan anaknya yang sudah mulai pintar mengoceh itu. Tak terasa usianya sudah hampir menginjak 6 bulan. Anak itu semakin pintar dan aktif saja.
"Mas...Mas Satria? Mas, gak apa-apa?" Tanya Amayra pada suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Uhhh...aku gak apa-apa. Tapi May, bisa gak sih masaknya gak usah pakai bawang putih atau bawang bawangan? Baunya itu menyengat sekali," keluh Satria sambil menahan mual-mualnya.
"Biasanya juga kan suka pakai bawang putih, Mas kan suka bawang-bawangan. Mas lupa ya? Mas pernah ngomel sama aku, karena aku masak telur gak pakai daun bawang! Kenapa sekarang gak suka pakai bawang?" Tanya Amayra keheranan. Sebelumnya Satria sangat suka bawang bawangan. Apa-apa harus pakai bawang, sekarang suaminya melarang istrinya untuk tidak memasak memakai bawang.
"Pokoknya jangan masak pakai bawang! Aku gak suka bawang sekarang, bau." Gerutu pria itu sambil memonyongkan bibirnya.
"PFut.. hahahaha.." Amayra tertawa lepas melihat suaminya.
"Loh? Kok kamu malah ketawa sih?" Tanya Satria dengan dahi mengerut.
"Mas, kalau kamu lagi cemberut gitu. Kamu mirip banget sama Rey." Wanita itu tersenyum sambil melihat Rey dan Satria yang memiliki kemiripan. Walaupun mereka tidak memiliki ikatan darah secara langsung, namun Bram dan Satria memilki kemiripan juga. Maka Rey juga agak mirip dengan Satria.
"Huh? Aku disamain sama Rey," gumam Satria sambil melirik ke arah Rey yang mulutnya belepotan dengan makanan. "Gak apa-apa deh, aku kan papa nya!" Kata Satria dengan bangga.
"Iya, Mas kan papanya. Oh ya Mas, kalau Mas gak mau nasi gorengnya. Mau sarapan roti aja?" Amayra menawarkan roti untuk sarapan suaminya.
Satria mengangguk, "Iya sayang, roti aja."
"Aku ambilkan ya Mas," kata Amayra perhatian. Wanita itu mengambil dua roti dan mengoleskannya dengan selai coklat bercampur selai kacang. Dia menyajikannya diatas piring.
Amayra mempersilahkan suaminya untuk memakan rotinya. Sementara Amayra membersihkan wajah Rey dari kotoran sisa makanan, kemudian dia menghabiskan nasi goreng yang tidak mau dimakan suaminya itu.
"May, kok akhir-akhir ini kamu banyak makan ya?" Tanya Satria keheranan dengan nafsu makan istrinya. Amayra sudah menghabiskan dua piring nasi goreng. Punya Satria dan miliknya sendiri.
"Apa aku gak boleh banyak makan, Mas?" Tanya Amayra yang tiba-tiba menghentikan aktivitas makannya itu. Dia menatap suaminya dengan sedih. "Apa Mas gak suka aku gemuk?"
"Enggak sayang, maksudku bukan gitu. Malah aku senang kalau kamu gemukan, aku cuma nanya aja kenapa kamu jadi banyak makan gak seperti biasanya?" Jelas Satria pada istrinya.
Akhir-akhir ini setiap aku pulang lembur atau aku pulang kerja. Amayra selalu titip makanan, martabak, kue cucur, nugget pisang, kebab bahkan sampai seblak yang pedas-pedas. Biasanya dia gak pernah begitu? Apa ini karena dia sedang menyusui Rey, makanya n*fsu makannya besar ya?
"Ya udah, aku gak akan makan banyak-banyak.. nasi gorengnya gak akan aku abisin. Tadinya aku mau habiskan nasi goreng karena mubazir, taunya Mas gak suka aku makan banyak! Ya, cowok emang suka gitu deh...gak suka lihat istrinya gemuk," Ucap Amayra sambil mendorong piring yang sudah kosong itu. Dia mengomel pada Satria.
Katanya gak mau dihabiskan tapi lihat saja, nasi gorengnya sudah habis sampai tak bersisa begitu? Dasar wkwkwk.
Satria tersenyum melihat dua piring yang sudah kosong itu. Nasi gorengnya sudah habis tak menyisakan satupun butir nasi disana. Istrinya memiliki nafsu makan yang besar.
"Aku gak larang kamu makan banyak kok, aku malah senang selama kamu sehat. Tapi.. jangan banyak makan kalau sudah kenyang, gak baik kan kalau makan setelah kenyang. Perut kamu bisa sakit, sayang.." Ucap Satria lembut pada istrinya itu.
"Iya baik Mas. Aku paham.. aku juga gak tau kenapa, akhir-akhir ini aku banyak makan." Amayra mengangguk paham pada perkataan suaminya, bibirnya mengerucut.
__ADS_1
"Mungkin karena mau musim hujan, makanya kamu mudah lapar."
"Iya ya.. tapi mas juga aneh loh, kenapa nafsu makan jadi berkurang. Mas juga jadi sering mual-mual dan pilih-pilih makanan," Amayra juga heran pada suaminya yang akhir-akhir ini selalu mual dan pilih-pilih makanan.
"Aku juga gak tau, nanti aku mau periksa lagi sama temenku di rumah sakit." Kata Satria heran dengan keadaannya dan Amayra yang berbanding terbalik itu.
Istrinya memilik n*fsu makan yang besar, sedangkan n*fsu makannya jadi turun drastis. Bahkan Satria jadi tidak suka makan daging, lebih suka makan mie atau telur.
Setelah Amayra selesai sarapan, dia memasakkan lagi telur ceplok, sosis dan juga nasi baru untuk Satria, dia mengemasnya di kotak bekal milik Satria. Hari itu Amayra tidak ada kelas dan dia hanya menjaga Rey di rumah saja.
"May, aku berangkat dulu ya. Rey, jagoan papa...papa berangkat dulu ya sayang. Baik-baik sama Mama," ucap Satria sambil menggendong Rey dan mencium pipi anak itu dengan gemas.
Muach!
"Papwaa.. abubuuu.. mamwa.."
"Eh, jagoan papa sudah bisa bilang Mama?" Satria melihat ke arah Rey yang sedang digendongnya itu.
Amayra datang sambil membawakan tas hitam dan kantong kain yang berisi sebotol minuman, juga makanan bekal untuk Satria. "Mas baru tau ya? Tadi dia juga sudah bilang mama, sekarang Rey semakin gemas saja ya Mas?" Wanita itu tersenyum, membanggakan anaknya yang sudah mulai banyak mengoceh.
"Wah.. Alhamdulillah, jagoan papa sudah mulai aktif ya. May, Rey sudah mau berusia 6 bulan ya?" Tanya Satria pada istrinya.
"Iya Mas," Amayra mengangguk.
Amayra tersenyum bahagia melihat suaminya sedang menggendong Rey dengan penuh kasih sayang. "Babwa...papwa.."
"Iya sayang, papa berangkat kerja dulu ya. Doakan pekerja papa lancar," Satria mengecup sekali lagi kening dan pipi Rey, sebelum dia menyerahkan Rey kembali pada mamanya.
Amayra menggendong anaknya dengan hati-hati.
"Sayang, aku berangkat dulu ya?" Satria mengulurkan tangannya seraya berpamitan pada istrinya. Amayra mengambil tangan Satria dan mencium punggung tangan suaminya. "Iya Mas, hati-hati ya Mas..semoga pekerjaan mulia Mas, lancar."
"Aamiin. Makasih doanya sayang, Rey juga doakan papa ya.." Satria mengusap rambut Rey yang masih belum tumbuh banyak itu. Rey menatap Satria sambil tersenyum lebar, tangannya melambai pada Satria.
"Dadah papa!"
"Dadah.. assalamualaikum istriku dan anakku."
Satria tersenyum kemudian dia masuk ke dalam mobilnya. Disepanjang perjalanan dia melihat foto anak dan istrinya yang berada didepan mobil. Foto itu adalah penyemangatnya dalam melakukan segala aktivitas.
Setelah Satria pergi dari rumah dengan mengendarai mobilnya. Amayra dan Rey kembali ke dalam rumah, karena melihat langit mendung pertanda akan segera hujan.
"Padahal masih pagi, tapi sudah mendung saja ya non." Kata Dewi yang sedang menjemur pakaian di halaman belakang rumah itu. Dia melihat Amayra dan Rey sedang main didekat sana.
"Iya, sudah mau masuk musim hujan." Kata Amayra sambil melihat langit yang mendung itu.
__ADS_1
Amayra melihat anaknya yang aktif bermain dengan mainannya. Rey sudah bisa duduk tegak sambil mengambil beberapa mainan di sekitarnya. Amayra juga mengajarkan nama-nama mainan itu pada anaknya. Tak lupa Antara mengajarkan Rey nama-nama Asmaul Husna, agar ketika anaknya besar nanti dia sudah bisa mulai menghafal Al-Qur'an juga tentang agama.
Amayra ingin anaknya menjadi anak yang Sholeh dan hafiz Alquran. Berbakti pada orang tua, agama dan negara.
"Alif...Alif...ini namanya Alif nak," Amayra menunjukkan pada Rey huruf huruf Arab di white board yang dia tulis. Rey memperhatikan mamanya sambil memegang spidol hitam yang disimpan mamanya diatas lantai. "Eh sayang, itu spidol punya Mama. Kamu mau nulis, nak?"
"Abubwuu..bubu.." oceh Rey sambil menatap mamanya dengan kedua mata polos itu.
Amayra menangkap ucapan Rey, "Rey mau buku? Nulis dibuku ya?" Wanita itu tersenyum pada anaknya.
"Bubwuu..babwa.."
Setelah Amayra mengambilkan buku, Rey mencoba menulis disana. Menggerakkan tangannya yang mungil untuk membuka tutup spidol. "Sayang, biar mama bukain ya?"
"Babwa!!" Rey bicara dengan suara keras, seperti melarang ibunya untuk ikut campur dengan urusannya.
"Ya udah gimana Rey aja deh," Wanita itu menonton anaknya yang sedang bermain dengan spidol dan buku itu. Rey mencoba membuka tutup spidol, kemudian spidol itu terpental ke wajahnya.
"Huaa....huaa... huhuu.." Anak itu menangis.
"Astagfirullah, sayang..haha.." Amayra gemas melihat tingkah anaknya itu. Dia pun mengambil Rey dan membujuknya agar tidak menangis.
...*****...
Sesampainya di tempat parkir rumah sakit, ketika dia berjalan meninggalkan parkiran itu. Satria melihat seseorang yang tidak ingin dia temui lagi. Orang itu telah memusnahkan senyuman bahagia di pagi harinya.
"Kak Satria.." lirih Clara sambil menghampiri Satria dengan wajah sedihnya. "Pagi kak," Clara menyapa Satria dengan suara pelan.
Satria berjalan melewatinya begitu saja, ditangannya ada tas hitam dan kantong kain yang selalu dibawanya dari rumah. Satria malas meladeni wanita yang sudah pernah memfitnahnya itu.
"Kak Satria! Aku kesini bukan untuk menganggu kakak, aku kesini karena aku ingin minta maaf sama kak Satria." Ucap Clara pada Satria yang sudah berjalan memunggunginya itu.
Satria menghela nafas, dia membalikkan tubuhnya dan melirik tajam ke arah Clara. "Maaf untuk apa?"
"Aku akan jelaskan...tapi bisakah kita bicara di tempat lain?" Tanya Clara pada Satria, dia meminta bicara ditempat lain dan bukan di tempat terbuka seperti ini.
"Maaf gak bisa. Bicara ditempat lain atau tempat tertutup bisa menimbulkan fitnah, aku tidak mau istriku salah paham lagi." Satria berusaha menjaga hati istrinya, jauh-jauh dari wanita lain dan dari fitnah besar yang pernah terjadi. Dia tidak mau hubungannya dan Amayra kembali retak karena kesalahpahaman walau itu hanya kesalahpahaman kecil.
Demi papa, aku harus meminta maaf pada kak Satria. Atas semua yang aku lakukan, kak Satria pasti bisa memaafkan papa. Batin Clara.
"Baiklah kalau kak Satria ingin aku bicara disini. Aku ingin bilang kalau aku minta maaf atas semua kesalahanku pada kak Satria juga istri kak Satria...lalu aku minta agar kak Satria membebaskan papaku."
Satria tercengang mendengar ucapan Clara, dia menatap wanita itu dengan sarkas.
...----****---+...
__ADS_1