
...🍀🍀🍀...
Amayra tersentak kaget melihat Bram membawa bayi kecil itu dengan wajah pucat. Dia yang belum lama bangun dari tidur panjangnya, tak tau apa yang terjadi pada Bram. Mengapa pria itu memakai pakaian pasien, wajahnya pucat dan kenapa dia membawa baby R kehadapan nya? Apa maunya pria itu?
"Pak Bram, apa bapak tidak dengar apa kata dokter dan suster? Baby Rey masih membutuhkan perawatan, keadaannya masih belum stabil. Kenapa bapak membawanya seperti ini? Kembalikan bayi itu!" tanya Amayra sambil bangkit dari ranjang pasiennya.
"Aku tidak akan mengembalikannya sebelum kamu melakukan perjanjian denganku!" Bram melihat baby R dengan penuh kasih sayang dan mata berkaca-kaca.
Baby R terbangun dan mulai menangis, "Owaa...owaa..."
Amayra menghela napas, "Berikan Rey padaku, dia menangis!" Seru nya dengan wajah marah pada Bram.
Bram menatap Amayra dengan mata berkaca-kaca, dia ingin wanita itu menatapnya dengan cinta sama seperti ketika Amayra menatap Satria. Penuh kelembutan dan kasih sayang, entah kenapa Bram cemburu pada sikap Amayra pada Satria. Kenapa bukan padanya, Amayra bersikap seperti itu? Padahal dia adalah ayah dari Reyndra.
"Lakukan dulu perjanjian denganku! Baru aku akan kembalikan bayi ini ke tempat yang seharusnya,"
"Om, Anna mohon jangan macam-macam om! Baby Rey dia-" Anna terkejut melihat kegilaan Bram di depan matanya.
"Anna, diam!" bentaknya pada Anna. "Ini bukan waktu dimana kamu bisa ikut campur!" Teriak Bram emosi pada keponakannya itu.
Amayra, Anna, Fania dan suster yang berada disana tidak tega mendengar baby Rey yang terus menangis di dalam gendongan ayah kandungnya sendiri. Amayra akhirnya memilih mengalah pada Bram.
"Kamu mau apa? Katakan perjanjian apa itu?" tanya Amayra dengan suara tenang.
"Aku mau kamu menandatangani ini!" Bram menyerahkan secarik kertas perjanjian yang dibuat oleh pengacaranya. Amayra mengambil kertas itu dan membacanya baik-baik.
Di dalam secarik kertas itu tertulis bahwa Amayra, Satria, atau siapapun juga tidak boleh melarang Bram menemui Baby Rey. Jika Amayra dan Satria melarangnya menemui baby Rey, maka Bram akan mengambil baby Rey dengan dalih hak asuh anak.
Amayra tak percaya dengan apa yang tertulis disana, "Apa maksudnya semua ini?"
Penasaran dengan surat yang membuat Amayra marah, Anna dan Fania mengambil suratnya, kemudian membaca isinya dengan seksama.
"Tandatangani sekarang, kalau kamu tidak mau aku merebut anak ini!" Bram berkata dengan tegas, mengancam Amayra untuk menandatangani surat itu.
Maafkan papa nak, papa terpaksa melakukan ini untuk mendapatkan kembali mama mu dan kamu. Maafkan papa.
__ADS_1
"Bapak mengancam saya?" Amayra menaikkan alisnya, matanya menatap marah pada ayah kandung dari baby Rey.
"Aku tidak mengancam, aku serius."
"Pak Bram, ada hak apa kamu membuat surat seperti ini? Kamu tidak berhak atas baby Rey, meski kamu ayah kandungnya tapi kamu gak berhak!" Amayra berusaha menahan emosinya, tapi dia tetap saja emosi setiap berhadapan dengan Bram.
"Sepertinya kamu lupa, aku adalah ayah biologis dari anak ini. Aku bisa mengambil anak ini kapanpun aku mau, karena aku adalah ayahnya. Aku tidak meminta macam-macam, aku hanya minta agar kamu tidak melarang ku bertemu dengan anakku, itu saja! Apa susahnya?" Bram menekan Amayra untuk menandatangani surat perjanjiannya. Bram mulai bermain hukum untuk mendapatkan apa yang dia inginkan dari Amayra.
Wanita itu sebenarnya enggan untuk mengabulkan permintaan Bram, tapi dia tidak tahan mendengar suara anaknya yang menangis. Lagipula hanya membiarkan Bram bertemu dengan baby Rey saja, Amayra pun menyanggupi permintaan Bram untuk menandatangani suratnya.
"Owaa..owaa.."
"Baik, saya akan tandatangan. Tapi serahkan dulu Rey pada saya," pinta Amayra pada Bram.
Bram menolak dengan tegas,"Tandatangan dulu!"
"Bapak gak dengar Rey menangis terus?" Amayra tak mau kalah dengan Bram. Sakit hati dan benci sudah bersemayam di hatinya untuk pria bernama Bram. Amayra tak habis pikir karena Bram menggunakan kesehatan dan keselamatan Rey untuk mencapai tujuannya.
Ya Allah, istighfar! Jangan marah, jangan benci! Jangan, May!
Amayra meneriaki dirinya sendiri di dalam hati, dia berusaha membantah akar kebencian didalam hatinya untuk Bram.
Ya Allah, kepalaku mulai pusing lagi. Sabar ya nak, maafkan papamu. Tunggu sebentar lagi, ini demi kamu dan mama mu juga. Bram memandang putranya dan menepuk-nepuk lembut punggung bayi mungil itu. Upaya Bram berhasil membuat bayinya berhenti menangis. Bram setengah tak percaya karena dia bisa menenangkan anaknya.
"Baik, aku tandatangani!" Amayra mendengus kesal, hatinya tak henti mengucap istighfar menahan rasa marah pada Bram. Amayra mengambil kertas itu dan meminjam bolpoin dari seorang suster.
Dia langsung menandatangani surat itu, lalu menyerahkannya pada Bram. Bram melihat surat itu sambil tersenyum tipis, surat itu adalah kartu as yang membuka jalannya dengan maksud untuk merebut kembali Amayra dan anaknya dari Satria.
Bagus, syukurlah suratnya sudah ditandangani.
Amayra menggendong bayinya pelan-pelan, "Tenang ya nak, ibu disini sayang," ucap nya pada baby Rey. Kemudian dia menyerahkan kembali baby Rey pada suster yang berada disana untuk membawanya kembali ke ruang NICU.
"Om, apa yang om lakukan? Om sudah gila ya? Sudah berapa kali om membuat kecewa?" Anna menegur sikap Bram yang tidak dewasa, menggunakan keselamatan Rey demi dirinya sendiri.
Bram mengabaikan ucapan Anna, dia terus memandangi surat itu dengan.
__ADS_1
"Anda sudah puas pak Bram?" Amayra tersenyum sinis dan menatap tajam ke arah Bram.
"Ya, aku sudah puas. Terimakasih dan aku minta maaf sudah memaksa kamu," Bram tersenyum puas. "Ohok! Ohok!"
"Om Bram!" Anna kaget melihat om nya.
Tubuh Bram ambruk ke lantai, mulutnya kembali memuntahkan darah. Amayra, Fania dan Anna tercengang melihat kondisi Bram. Satria, Nilam dan Cakra langsung menghampiri Bram yang jatuh terduduk dilantai.
"Bram! Bram!" Nilam panik melihat anaknya terlihat lemah dan tidak berdaya.
"Ma, tolong simpan surat ini ma! Jaga baik-baik suratnya," ucap Bram seraya menyerahkan kertas itu pada Nilam, dia tersenyum dengan mulut yang berlumuran darah.
Nilam mengambil surat itu dari tangan Bram, dia menangis melihat kondisi putranya. Amayra terpana melihat kondisi Bram yang tiba-tiba seperti itu. Hatinya bertanya-tanya apa yang terjadi pada Bram? Apa Bram sakit? Kemudian logika kembali menepis hatinya, bahwa dia tak boleh peduli pada Bram.
Satria meminta perawat membawa Bram kembali ke ruangannya untuk ditangani. Nilam, Anna dan Cakra ikut bersama Bram. Sementara Amayra masih berdiri di depan ruangannya bersama Fania.
"May, kamu gak apa-apa?" tanya Fania sambil menggandeng tangan sahabatnya itu.
"Aku gak apa-apa," Amayra terjatuh lemas, Satria ada disana dan menangkap tubuh sang istri.
"May, apa yang terjadi? Kenapa kak Bram bisa ada disini?" tanya Satria pada istrinya.
Fania menyadari kalau pasangan suami istri itu perlu waktu untuk berdua, dia pun pergi keluar dari ruangan itu untuk menyusul Anna. Amayra duduk di atas ranjang, dia terlihat sedih.
"Ada apa? Kak Bram bilang apa lagi sehingga kamu sedih begini, hem?" Satria membelai pipi Amayra dengan lembut, sama seperti suaranya yang lembut.
"Pak Bram memintaku menandatangani surat kak," jawab Amayra sedih.
"Surat apa?"
"Surat yang meminta agar aku membiarkan dia bertemu dengan Rey dan kalau aku menolaknya! Dia akan membawa Rey dariku! Aku terpaksa menandatangani nya!" jawab Amayra sambil bersandar di bahu suaminya.
"Itu gak akan terjadi May, selama ada aku disini. Aku suami kamu dan aku adalah ayahnya Rey," ucap Satria sambil memeluk istrinya dengan lembut, seraya menenangkan sang istri.
Kak Bram apa yang mau kamu lakukan?
__ADS_1
...----***---...
Mau lanjut lagi? 😍😉