Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 87. Waspada Bram


__ADS_3

"Aku tidak perlu mengatakannya padamu, mungkin kamu bisa lihat sendiri," jawab Satria dengan menyunggingkan sedikit senyum dibibirnya.


"Alhamdulillah...maka saya harap anda bisa membahagiakan Amayra dan anaknya," ucap Iqbal sambil tersenyum tanpa rasa iri didalam hatinya. Tanpa Satria mengatakannya, Iqbal juga sudah paham perasaan Satria pada Amayra. Dia melihat ada cinta dan kasih sayang Satria pada Amayra, apalagi saat Satria cemburu. Perasaan Satria terlihat sangat kentara pada wanita berhijab itu.


"Kamu tidak akan bertanya lagi?" tanya Satria masih curiga pada Iqbal yang memiliki perasaan pada Amayra.


Iqbal menggeleng, "Saya sudah cukup melihatnya. Namun.. pak Satria, anda tidak perlu waspada terhadap saya. Saya memang pernah menyukai Amayra, tapi sekarang saya sudah tidak memiliki perasaan itu lagi. Bapak jangan cemas, karena saya memiliki batasan bagaimana harus bersikap,"


"Ehm...itu, kalau kamu tidak menyukai Amayra lagi. Kenapa tadi kamu melihatnya terus?" tanya Satria ragu-ragu.


"Saya melihatnya?" Iqbal terperangah, dia merasa tidak melihat Amayra terus-menerus.


Satria menjawab,"Ya, kamu terus melihat Amayra dengan tatapan aneh."


"Saya bukan melihat Amayra, tapi saya melihat pak Bram," Iqbal memperjelas bahwa dia melihat Bram, bukan Amayra.


"Melihat kak Bram? Kenapa?" mata Satria memicing, dia semakin curiga karena Iqbal melihat Bram.


"Sepertinya saya sudah harus pergi, karena kesalahpahaman telah selesai," ucap Iqbal sambil beranjak dari tempat duduknya. Dia menolak menjawab pertanyaan Satria.


Kalau aku bicara tentang kecurigaan ku pada pak Bram, takutnya ini akan menjadi fitnah.


Satria semakin penasaran, dia tidak membiarkan Iqbal pergi begitu saja. Dengan tegas dia bertanya kenapa Iqbal memperhatikan Bram. Iqbal akhirnya menjawab jujur bahwa dia memperhatikan Bram, karena Bram terus melihat Amayra dan Rey dengan tatapan yang berbeda.


Setelah pembicaraan itu Iqbal pamit pulang dengan sopan, Satria juga terlihat lebih ramah pada Iqbal tidak seperti sebelumnya. Malah Satria berterimakasih pada Iqbal, karena Iqbal sudah mengingatkannya tentang Bram. Hatinya menjadi lebih tenang karena Iqbal bukanlah ancaman yang sebenarnya, tapi Bram kakaknya sendiri. Dialah ancaman yang paling berbahaya dan bisa meruntuhkan rumah tangga Amayra-Satria dengan cara apa saja.


Iqbal sudah pulang bersama dengan Harun, diantar oleh pak Muin. Satria kembali ke kamarnya, dia melihat sang istri tidur sambil duduk dan kepalanya bersandar di kayu ranjang. Kepalanya terantuk beberapa kali, dia terlihat sedang menunggu suaminya.


"Dia pasti menungguku, sampai ketiduran." gumam Satria sambil melihat jam dinding yang menunjukkan sudah pukul 10 malam. Tak terasa waktu sudah berlalu cukup lama, sejak dia mengobrol dengan Iqbal.


Satria mendekati istrinya, duduk di samping Amayra. Tangannya terulur membelai pipi sang istri, wajah lelah Amayra terlihat jelas saat dia tertidur pulas. Wanita itu bahkan tidak sadar kalau suaminya sudah tiba.


"Aku tidak akan membiarkan siapapun mengambil kamu dan Rey dariku. Kalian adalah hidupku mulai sekarang sampai selamanya, kalian adalah keluargaku. Satu-satunya tempat aku kembali, karena kalian adalah rumahku," gumam Satria sambil melihat baby R yang sedang tidur di ranjang dan melihat istrinya penuh cinta.


Bibir Satria mengecup lembut kening sang istri, kemudian dia merentangkan kedua tangan dan menangkup tubuh istrinya pelan-pelan. Dia membaringkan Amayra diatas ranjang, memakaikan wanita itu selimut yang hangat. Satria melihat kepala sang istri yang berkeringat, dia berniat melepas hijabnya. Namun, mereka masih berada dirumah Calabria.


Satria berjalan ke arah pintu dan hendak menutup pintu, saat akan menutup pintu kamarnya. Satu tangan dan satu kaki menahan pintu yang hampir tertutup itu.

__ADS_1


"Siapa?" Satria bertanya siapa yang menahan pintu itu.


"Ini aku," suara berat seorang pria terdengar dari depan kamar. Tangan itu mendorong pintu kamar, hingga kamarnya terbuka.


"Kakak? Mau apa kakak kesini?" tanya Satria dengan suara dingin. Ternyata kakaknya yang datang, dengan tangan membawa keresek besar entah apa isinya.


"Ini untuk Amayra sama Rey," ucap Bram sambil menyerahkan keresek besar berisi makanan itu pada Satria.


"Makanan ya? Gak usah, kami gak kekurangan makanan kok," jawab Satria menolak dengan ketus pemberian dari Bram.


Aku sudah tau pasti akan begini, maafkan aku pak Harun. Bram terlihat bingung.


"Ini bukan dariku! Ini dari pak Harun, apakah kamu akan menolaknya?" Bram menatap Satria dengan tajam. Berharap Satria akan menerimanya.


Satria sedikit mengernyitkan dahi dan berfikir, jika itu dari ayah mertuanya. Maka tidak ada alasan untuk dia menolak makanan yang dibawa Bram. Satria langsung mengambil keresek itu, "Benar ini dari ayah mertuaku?" Satria tidak langsung percaya.


"I-iya, kalau begitu.. selamat malam, maaf aku menganggu kalian." ucap Bram sopan, sambil melihat Amayra yang sedang tertidur pulas bersama Rey diatas ranjang empuk.


"Selamat malam kak dan terimakasih," Satria langsung menutup pintu kamar tepat didepan Bram, bahkan sebelum pria itu pergi dari sana.


Bram terlihat kesal dengan kelakuan adiknya itu, tapi dia hanya bisa mengelus dada. Mencoba menahan amarahnya, "Sabar Bram, sabar...yang penting Amayra dan Rey sudah menerimanya," gumam Bram sambil menghela napas.


...*****...


Tengah malam itu Rey terbangun dan menangis, diantara popok basah atau ingin minum susu. Amayra juga ikut terbangun, dia melihat suaminya tertidur disamping Rey sebelah sisi ranjang yang lain. Rey berada ditengah-tengah antara Amayra dan Satria.


Kapan aku kembali ke ranjang? Seingat ku aku tidur disana. Amayra bingung bagaimana caranya dia bisa berbaring di ranjang dengan selimut. Ah, sudah pasti ini karena suaminya.


"Uwee.. uwee.." Rey merengek menangis.


"Sayang ku.. kenapa?" Amayra mengecek popok Rey, tidak ada yang basah atau kotor. Popoknya masih bersih, namun demi kenyamanan si bayi. Amayra mengganti popoknya dengan yang baru.


Setelah menimang dan menyusui anaknya, Rey kembali tidur. Amayra juga ikut tidur, karena besok mereka akan kembali ke rumah Satria. Keesokan harinya, Satria mendengar suara adzan subuh berkumandang. Buru-buru dia bangun, melihat istri dan anaknya masih tertidur pulas. Satria bersiap untuk melaksanakan shalat subuh, pertama-tama dia mengambil air wudhu. Setelahnya dia mengenakan sarung dan keluar dari kamar untuk pergi ke mushala kecil di rumah itu.


Alangkah kagetnya dia melihat seorang pria yang tidak pernah terlihat melangkahkan kakinya di mushala itu. Satria melihat pria itu dari belakang.


"Kak Bram?" gumam Satria tak percaya melihat kakaknya ada disana sedang tertidur pulas. Dia juga melihat ada buku iqra dan tasbih. Apa yang dilakukan kakaknya disana?

__ADS_1


Satria segera membangunkan Bram, sekalian mengajaknya shalat subuh bersama. Sungguh diluar dugaan, Bram dan Satria shalat subuh berjamaah didalam mushala itu.


Entah kenapa aku takut melihat kak Bram seperti ini. Apa dia benar-benar berubah atau ada maksud lain?


"Ada apa Satria? Kenapa kamu melihatku begitu?" tanya Bram sambil melangkahkan kaki keluar dari mushala.


Satria tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya, "Enggak apa-apa kak, aku cuma heran saja kenapa kakak berubah seperti ini? Apakah kakak-"


Bram langsung menyerobot ucapan Satria yang belum tuntas, "Ya, seperti yang kamu pikirkan. Aku memang ada maksud lain. Pertama ini memang karena Amayra dan Rey, tapi yang kedua ini karena murni aku ingin menjadi manusia yang lebih baik," jelas Bram.


"Hah..kakak, aku tidak mau bermusuhan dengan kakak karena ini. Amayra sudah menjadi istriku, Rey juga adalah anakku, tidak bisakah kakak berhenti?" tanya Satria dengan sopan pada Bram.


"Ya kamu doakan saja supaya aku bisa mengubah niatku berubah menjadi yang kedua, agar aku tidak berharap lagi pada istri dan anakku," ucap Bram yang bingung dengan keadaannya sendiri. Hatinya masih ada rasa ingin memiliki Amayra, namun jika dipikirkan secara logika. Hal itu sudah tidak mungkin terjadi.


Satria melihat Bram pergi lebih dulu darinya. Dia menghela napas, ternyata seperti apa yang dikatakan Iqbal kalau kakaknya masih memiliki perasaan seperti itu pada Amayra.


Haa.. sudahlah jangan dipikirkan lagi, nanti siang aku, Amayra juga Rey akan pergi dari rumah ini dan tidak akan kembali. Satria tidak mau ambil pusing dengan Bram, karena dia akan kembali ke rumahnya bersama istri dan anaknya.


Namun hal itu sepertinya harus ditunda karena terjadi sesuatu. Ketika Satria kembali ke kamarnya, dia melihat Rey terbangun dan menangis. Tapi Amayra yang biasanya akan bangun saat Rey bangun dan menangis, masih tidur dengan mata terpejam.


"Uwee...uwee.."


"Sayang, Mayra.. Rey bangun nih, kayanya dia mau susu." Satria menggendong Rey, menimang-nimangnya sedikit untuk menenangkan. Satu tangannya menggoyangkan tubuh sang istri yang masih berbaring itu. "Sayang.." lirih Satria memanggil lagi istrinya. "Rey sayang bentar ya nak, ayah bangunkan dulu ibu," ucapnya pada Rey dengan lembut.


Amayra tidak bangun, tubuhnya malah gemetar seperti menggigil. Satria kemudian memegang kening Amayra. "Astagfirullah, badannya panas banget!"


Pria itu panik ketika dia merasakan suhu tubuh istrinya yang tinggi. Segera dia menyiapkan botol susu formula dan menyeduh susu formula itu sebisanya, untuk membuat Rey berhenti menangis. "Sabar ya sayang, kayanya ibu lagi sakit," Satria menempelkan botol dot berisi sufor itu pada bibir mungil Rey. Rey langsung menyedotnya seperti kehausan.


Satria tak bisa diam saja begitu melihat istrinya sakit, akhirnya dia memanggil Dewi yang sedang beres-beres di dapur. Satria menitipkan Rey padanya, sementara dia akan merawat Amayra yang sepertinya sedang sakit.


"Tolong ya bi, titip Rey sebentar." pesannya pada Dewi dengan wajah yang panik.


Dewi melihat kepanikan di wajah Satria,"Iya tuan, jangan khawatir."


Satria kembali ke dalam kamarnya, dia memeriksa kondisi istrinya yang tidak sadarkan diri. "May, sayang.. hey.. sayang..kamu dengar aku?" Satria menepuk pelan pipi istrinya yang terasa panas. Wajah sang istri sudah pucat pasi.


Dia mengambil termometer, guna mengukur suhu tubuh Amayra. "Astagfirullah," pekik Satria terkejut melihat angka 40 derajat di termometer itu.

__ADS_1


Melihat kondisi Amayra, sepertinya mereka tidak jadi pulang hari itu.


...----****----...


__ADS_2