Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 207. Luluh


__ADS_3

Bima menatap wajah Amayra yang terlihat kebingungan. Amayra sendiri masih menatap tulisan Bima yang ada di bukunya. Pikirannya bertanya-tanya, apakah kepribadian, tulisan tangan seseorang bisa berubah karena orang itu amnesia?


Beberapa hal aneh dirasakan Amayra ketika tinggal bersama Bima. Kepribadian Satria yang berbanding terbalik dengan kepribadian Bima, menjadi pemicunya.


Wajah ini adalah wajah suamiku...tapi mengapa aku merasa kalau kepribadiannya adalah orang asing? Apakah benar ini karena mas Satria sedang hilang ingatan? Tapi...ini sangat aneh, terutama tulisan tangannya.


"May? Kamu kenapa? Apa kamu sakit?" tanya Bima cemas.


"Ah...aku enggak apa-apa kok mas." jawab Amayra masih dengan wajah yang bingung.


"Beneran gak apa-apa?" Bima memberanikan dirinya memegang kening Amayra.


"Mas..."


"Kamu gak demam kok. Mungkin kamu lelah karena banyak beraktivitas, istirahatlah Mayra." ucap Bima sambil tersenyum lembut.


Amayra melihat senyuman lembut Bima padanya, senyuman yang meruntuhkan sedikit kecurigaan Amayra pada Satria palsu itu. "Ini pasti hanya perasaanku saja, gak mungkin mas Satria itu orang lain.Jelas-jelas dia ada di depanku bahkan senyumannya masih sama, ya...mas Satria berubah karena dia sedang hilang ingatan."


"Aku gak apa-apa kok mas, oh ya...apa mas mau kopi?" tanya Amayra menawarkan kopi pada Bima.


"Boleh May." jawab Bima sambil tersenyum.


Amayra tersenyum tipis, dia beranjak dari tempat duduknya dia sendiri yang akan membuatkan kopi itu. Amayra agak terkejut, karena ia tau Satria tidak suka kopi dan lebih suka minum teh di pagi hari.


Setelah membuatkan kopi dan mengantarnya pada Bima, Amayra kembali duduk disampingnya. Bima menyeruput kopi itu pelan-pelan, sesekali dia meniupnya. "Makasih ya Mayra." ucap Bima sambil tersenyum.


"Sama-sama mas.."


Amayra memerhatikan Bima. Dia terlihat resah lagi dengan kening berkerut. Dia teringat hati-hati disaat dia baru menikah dengan Satria. Ada dimana suatu pagi, Amayra menyeduhkan teh untuk Satria dan pria itu langsung memuntahkannya karena dia paling anti dengan kopi.


Lalu kenapa Satria yang sekarang menyukai kopi? Amayra semakin resah dengan pria yang ada dihadapannya itu. "Dia adalah mas Satria, aku tidak boleh meragukannya. Memangnya dia bisa menjadi siapa? Mas Satria kan tidak punya saudara kembar! Dan jikalau ada, saudara kembar itu tidak akan menyamar menjadi mas Satria. Gak mungkin!"


"Aww.." pekik wanita hamil itu sambil memegang perutnya. "Ughh.."


Mendengar Amayra merintih kesakitan, Bima buru-buru menyimpan gelas kopinya. "May, kamu kenapa?"

__ADS_1


Apa terjadi sesuatu pada keponakanku?


"Tidak apa-apa Mas, bayi kita menendang."


"Be-benarkah?" tanya Bima tergagap.


"Iya, coba deh mas...kamu pegang perutku. Kamu pasti bisa merasakannya menendang." Amayra memegang tangan Bima, dia meletakkan tangan Bima ke perutnya.


Bima gelisah, dia seharusnya tidak menyentuh Amayra. Namun melihat mata polos penuh harapan itu, Bima menjadi tak tega. Dia ingin membuat Amayra juga bahagia. Bima memegang dan mengelus perut buncit itu, dia merasakan ada sesuatu yang bergerak-gerak bahkan menendang tangannya. "Eh iya? Dia beneran menendang tanganku! Benar-benar ada kehidupan didalam sini." Bima tersenyum manis.


Entah kenapa dia terlihat bahagia saat merasakan tendangan kehidupan dari dalam perut Amayra. "Ya kan mas?"


"Kenapa dia bisa bergerak seperti ini?"


"Itu karena dia merasakan kehadiran papanya, dia ingin di sapa oleh papanya."


"Apa aku begitu? Apa yang ada didalam sini, aku bisa menyapanya?" tanya Bima polos sambil melihat pada perut buncit itu, dengan posisi duduk berlutut jongkok didepan Amayra.


"Iya dong mas. Kamu pasti lupa apa kak Diana, dia pernah bilang kalau anak didalam kandungan juga bisa merasakan kasih sayang orang tuanya. Setelah itu setiap pagi kamu selalu menyapa anak kita, kamu mengucapkan salam dan menanyakan keadaannya."


"Dia siapa mas?" tanya Amayra yang mendengar jelas apa yang digumamkan Bima.


"Maksudku itu aku...jadi sebelum hilang ingatan, aku sering melakukan itu?" tanya Bima.


Amayra mengangguk pelan.


Baiklah...aku lakukan ini demi anak dan istrimu Satria. Aku tidak punya maksud apa-apa, maaf aku menyentuh perut istrimu.


Tangan Bima mengelus perut buncit itu. "As-assalamualaikum..."


Sudah lama pria itu tidak mengucapkan salam, hingga lidahnya kaku dan bicara pun tergagap. Amayra tersenyum, dia meminta agar Bima terus bicara karena bayi mereka akan mendengarnya.


"Assalamualaikum, selamat pagi anak-anak papa. Bagaimana kabar kalian? Kalian baik-baik saja kan didalam sana?" untuk yang satu ini, Bima tidak berpura-pura. Dia tulus menanyakan keadaan bayi kembar yang ada di perut Amayra.


"Alhamdulillah baik pa." jawab Amayra dengan suara kecilnya.

__ADS_1


Bima menengadah ke arah Amayra, dia yang selalu dingin pada orang lain kini sedang tertawa lepas bersama Amayra. Keduanya tertawa bersama dan saling melempar candaan.


"Suaramu seperti Mickey mouse May," seru Bima sambil tertawa.


"Mickey mouse? Bukannya mas selalu bilang kalau suaraku seperti Masha?"


"Masha? Siapa Masha?" Bima tidak tahu film kartun Masha and the bear.


"Masha and the bear, mas.." jawab Amayra sambil tersenyum.


Bima memegang dadanya, entah kenapa saat melihat wanita itu tersenyum dan tertawa hatinya menjadi bahagia dan jantungnya berdegup kencang tanpa alasan. Kenapa dia harus bahagia hanya karena melihat senyuman dan tawa orang lain? Pikirnya dalam hati terheran-heran.


Kenapa aku ikut bahagia melihat senyuman dan tawa si wanita beban ini ya?


Nilam dan Cakra melihat Amayra dan Bima dari kejauhan. Mereka senang karena akhirnya terdengar tawa dari pasangan suami-istri itu setelah 3 hari Amayra dan Bima saling berjauhan seperti orang lain.


"Sepertinya Satria mulai membuka hatinya. Syukurlah dia sudah bicara dan bahkan tertawa dengan istrinya."


"Ya, papa benar. Tapi apa papa merasa ada yang aneh gak sih sama Satria? Semenjak dia hilang ingatan, kepribadiannya sedikit berubah...apa memang orang hilang ingatan seperti itu?" Nilam mengutarakan kepada suaminya, bahwa ada yang aneh dengan kepribadian Satria sejak pria itu mengalami kecelakaan.


"Ya, papa juga merasa Satria agak berubah...ya itu mungkin karena dia masih bingung atau memang dia sedang linglung dengan keadaan di sekitarnya. Itulah yang membuat Satria sedikit berubah." jelas Cakra memberikan pendapatnya tentang keadaan Satria.


****


Malam itu, Amayra mengajak suaminya untuk tidur satu kamar karena dia ingin merawat Satria dari dekat. Bima menolak tawaran itu, pasalnya bagaimana bisa dia tidur satu kamar dengan istri adiknya.


"May, bukankah lebih baik kita tinggal di kamar yang terpisah dulu sebelum ingatanku kembali?Aku tidak mau kamu..."


"Mas...aku adalah istrimu, sudah kewajibanku untuk merawat kamu. Aku pikir setelah kejadian tadi pagi, kamu sudah mulai mempercayai aku. Tapi ternyata aku salah, kamu masih belum mempercayaiku sepenuhnya." Amayra menundukkan kepalanya dengan sedih.


Bima tidak berdaya melihat wanita hamil itu bersedih, hatinya yang dingin kini mulai luluh. "Baiklah, malam ini kita tidur bersama."


"Kalian gak bisa tidur bersama!" suara seorang pria terdengar tegas, melarang Bima dan Satria untuk tidur satu kamar.


...****...

__ADS_1


__ADS_2