
Lisa menggoyangkan tubuh Amayra, seraya memintanya untuk bangun. Namun, gadis itu tetap tidak sadarkan diri. "Gimana ini? Amayra gak sadar juga!" Lisa panik.
Ken juga terlihat syok melihat Amayra seperti itu, dia benar-benar tidak sengaja mendorongnya. "Ken, cepat kamu bawa dia ke rumah sakit!" ujar Keisha yang baru saja datang, dia langsung cepat tanggap melihat kondisi Amayra.
Tanpa bicara apa-apa, Ken menangkup tubuh wanita itu. Dia menggendongnya dan terlihat cemas. Kali ini dia sudah keterlaluan walau dia tak sengaja.
"Aku yang akan menyetir, kamu gendong saja dia!" kata Keisha buru-buru.
"Ya kak," jawab Ken panik dengan keringat mulai bercucuran di wajahnya.
Dia dan kakaknya membawa Amayra ke rumah sakit. Sementara Lisa membawa tas Amayra, dia juga akan menyusul ke rumah sakit. Saat dalam perjalanan ke rumah sakit bersama Anton setelah meminta izin dari kakak senior, Lisa merasakan ada sesuatu yang bergetar di tas Amayra.
"Suara apa itu Lis?" tanya Anton yang berada disamping Lisa. Dia mendengar suara getaran
"Gak tau, dari tas Amayra.." jawab Lisa sambil merogoh sesuatu didalam tas Amayra. "Maaf ya May, aku buka tas kamu.. aku takutnya ada yang penting," Lisa meminta izin pada Amayra walau orangnya tak ada disana.
Lisa mengambil ponsel yang bergetar itu,tak sengaja dia menjatuhkan semua isi tas Amayra ke bawah mobil. Lisa memunguti barang-barang Amayra, diantaranya ada Al-Qur'an, tasbih, buku, tempat pensil, hand sanitizer, botol air minum, mainan bayi juga ada.
"Anton, kamu lihat dulu siapa yang telepon!" seru Lisa yang sedang memunguti barang-barang Amayra.
Anton mengambil ponsel Amayra, dia terkejut melihat nama yang menelpon ke ponsel Amayra. "Suamiku❤️ calling"
"Suamiku? Amayra udah nikah?" tanya Anton sedikit menyentak, dia tidak tahu kalau temannya sudah menikah.
"Iya, emangnya kamu gak tau? Cepet angkat teleponnya! Aduh, dimana lagi tadi tasbihnya.. jatuh kemana?" Lisa kebingungan mencari tasbih yang jatuh tadi dibawah mobil taksi itu.
Tut..
Anton mengangkat teleponnya, "Assalamualaikum sayang, apa kamu lagi sibuk?" sapa Satria pada istrinya.
"Waalaikumsalam pak,"
Suara suaminya soft banget. Anton membatin.
Deg!
Satria tersentak kaget mendengar suara pria yang menjawab telepon istrinya. Dia langsung menaikan alis dengan curiga, "Kamu siapa? Mana istri saya?" tanyanya dengan suara meninggi.
"Ba-bapak jangan salah paham dulu, saya teman kampus Amayra. Saya memegang ponselnya karena Amayra tidak bisa menjawab panggilan saat ini," Anton menjelaskan.
"Kenapa dia tidak bisa jawab?" tanya Satria dengan kepala mendidih, belum apa-apa dia sudah marah.
"Amayra dibawa ke rumah sakit pak, saya dan teman saya sedang menyusul Amayra ke rumah sakit dan membawa tasnya. Mohon bapak jangan salah paham," jelas Anton dengan sopan.
Satria terdiam, wajah marah tadi berubah menjadi khawatir. "Rumah sakit? Kenapa istri saya bisa dibawa ke rumah sakit?" tanya Satria panik.
"Amayra ter-"
Tut...Tut ...Tut...
"Ah, terputus.." ucap Anton sambil melihat panggilan yang terputus itu.
"Pasti sinyal, suami Amayra kan berada di Afrika saat ini."
"Afrika?"
__ADS_1
"Ya, Amayra bilang kalau suaminya sedang berada di Afrika dan melakukan tugas sukarelawan."
"Kerja suaminya apa?" tanya Anton penasaran
"Dokter bedah," jawab Lisa.
"Wow keren! Tapi aku baru tau lho kalau Amayra udah nikah, aku kira dia masih single.." ucap Anton tak percaya.
"Awalnya aku ngira juga gitu, ternyata dia udah nikah dan punya anak." Lisa menjelaskan singkat.
"Dia nikah muda ya," gumam Anton tak percaya Amayra sudah menikah bahkan sudah punya anak.
Anton tak sengaja melihat foto wallpaper di ponsel Amayra, disana ada foto bayi.
...*****...
Sementara itu Satria berada didalam kepanikan setelah bicara dengan Anton. Dia sedang didalam basecamp pada jam istirahat, dia yang bermaksud meminta maaf malah menerima berita tidak menyenangkan dari Anton.
"Astagfirullah, kenapa Mayra dibawa ke rumah sakit? Dia kenapa?" Satria mencoba menelpon lagi ke ponsel Amayra. Namun sinyal masih belum terhubung, Satria resah dan gusar disaat bersamaan. "May.. kamu kenapa? Ya Allah.. May.."
Rasa ingin pulang itu semakin besar, tatkala dia mengetahui Amayra dibawa ke rumah sakit. Akhirnya dia mengambil keputusan. Dengan penuh tekad dia menemui dokter Daniel, dia meminta izin kepada dokter Daniel untuk pulang lebih dulu.
"Apa maksud kamu? Kamu mau pulang ke Indonesia?" tanya Daniel tercengang.
"Iya, saya ingin pulang sekarang juga!" kata Satria tegas.
"Lalu bagaimana dengan karir kamu sebagai dokter kepala?" tanya Daniel dengan mata melebar menatap Satria.
"Keselamatan keluarga saya lebih penting dibanding jabatan," ucap Satria yang sudah tidak memikirkan apapun lagi selain Amayra. Matanya berkaca-kaca, resah memikirkan istrinya.
"Maafkan saya dokter Daniel, saya akan tetap pulang. Saya tidak peduli dengan jabatan itu,"
Daniel menghela napas sambil memegang kepalanya dengan gusar. "Kamu ini.. baiklah kalau itu yang kamu mau. Pulanglah, temui istri dan anakmu!" seru Daniel kesal.
"Terimakasih dokter Daniel.." Satria tersenyum tipis, dia berterimakasih pada Daniel karena sudah memberinya izin.
"Jangan berterimakasih padaku, setelah kembali ke rumah sakit. Kamu akan mendapatkan hukuman," ucap Daniel tegas.
"Saya akan terima," jawab Satria tidak masalah.
Segera setelah bicara dengan Daniel, Satria membereskan barang-barangnya dan bersiap pulang. Dia akan naik helikopter petugas militer untuk sampai ke bandara.
Dia melihat foto Amayra dan Rey. Kerinduan dan kekhawatiran Satria tidak bisa dibendung lagi terhadap keluarga kecilnya. "May.. Rey, aku akan pulang..kalian pasti baik-baik saja kan?" gumam Satria cemas.
"Kak Satria!" Clara tiba-tiba berada dibelakangnya dan berteriak memanggil Satria.
"Ada apa?" tanya Satria cuek.
"Aku dengar kakak mau pulang?" tanya Clara dengan napas terengah-engah.
"Iya,"
"Kakak gak boleh pulang! Bahaya kak, aku takutnya ada badai susulan.. terus...karir kakak gimana?"
Kenapa kak Satria sudah mau pulang? Harusnya aku bersama kak Satria lebih lama lagi.
__ADS_1
"Itu bukan urusan kamu dokter Clara, lebih baik kamu fokus pada urusanmu sendiri. Kamu selau ada kesalahan dalam memeriksa pasien!" Seru Satria mengingatkan.
Satria berjalan pergi dan mendorong kopernya setelah dia berpamitan dengan semua rekan kerjanya. Clara tidak bisa menghentikan keputusan Satria, dia hanya berharap kalau Satria tidak jadi pergi.
Tepat saat Satria akan naik helikopter, tiba-tiba saja angin bertiup kencang datang ke arahnya.
"Ada apa ini?" gumam Satria merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan situasi disana.
...****...
Di rumah sakit, Ken sedang mengurus administrasi Amayra. Sementara Keisha sedang bicara dengan Diana di depan kamar Amayra. Diana yang sebelumnya sedang berniat membeli makanan pada jam istirahat, dia melihat Ken menggendong Amayra ke ruang perawatan.
"Sekali lagi saya minta maaf ya kakaknya Amayra," ucap Keisha merasa bersalah karena Ken, Amayra sampai masuk ke rumah sakit.
"Tidak apa-apa, lagian adik kamu juga tidak sengaja kan?" kata Diana sambil tersenyum menenangkan Keisha.
"Iya dokter Diana," jawab Keisha sambil tersenyum canggung.
Aduh jadi gak enak sama kakaknya Amayra. Walaupun Ken gak sengaja, tapi kan ini terjadi karena Ken yang jahil
"Kak, aku udah urus administrasinya. Kalau dia sampai hilang ingatan, aku akan tanggungjawab kok!" kata Ken yang baru saja datang dari bagian administrasi rumah sakit.
"Somplak kamu ya!" Keisha memukul kepala adiknya dengan keras. Dia melotot marah pada Ken.
"Aduh..sakit kak.." Ken menggerutu sambil memegang kepalanya.
"Kamu ngomong sembarangan ya!" Keisha membentak adiknya itu.
KLAK
Pintu ruangan Amayra terbuka, terlihat seorang dokter wanita keluar dari sana. "Dokter Mira, gimana keadaan adik saya?" tanya Diana cemas.
"Sejauh ini tidak ada masalah dengan kepalanya selain luka luar, namun setelah sadar.. saya akan memeriksanya lebih lanjut. Jika ada gejala muntah atau pusing setelah dia sadarkan diri, segera beritahu pada saya!" jelas dokter Mira.
Diana, Ken dan Keisha mendengarkan penjelasan dokter dengan wajah cemas. Ken juga terlihat merasa bersalah.
"Dokter Diana, kami akan menjenguk Amayra.. bolehkah?" tanya Keisha sopan.
"Silahkan, saya titip Amayra sebentar ya. Saya mau menelpon dulu," ucap Diana sambil mengangkat ponselnya. Dia bermaksud menelpon Bram.
"Baik dok," jawab Keisha.
Keisha dan Ken masuk ke dalam ruangan Amayra. Gadis itu masih belum siuman, kepalanya diperban, terpasang selang infus ditangannya.
"Apa kamu merasa bersalah?" tanya Keisha pada adiknya yang terus melihat ke arah Amayra.
"Iya,"
"Apa menurut kamu, maaf saja cukup?" tanya Keisha tegas.
"Enggak," jawabnya sambil menggeleng lemah.
"Kamu ini Ken.." Keisha gusar, dia memandangi adiknya dengan kesal.
"Aku benaran gak sengaja kak, aku emang jahil tapi ku gak mungkin nyelakain orang.." gumam Ken merasa bersalah.
__ADS_1
...---****---...