Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 33. Aku minta maaf


__ADS_3

Wanita yang berada di dalam mobil itu adalah Alexis. Dia lah orang yang memerintahkan preman-preman itu untuk mencelakai Amayra dan anaknya. Alexis merasa kalau akhir-akhir ini sikap Bram padanya mulai berubah, semenjak Amara tinggal di rumah Calabria. Bram yang awalnya selalu acuh pada Amayra, mulai terlihat peduli padanya. Alexis iri dan takut, kalau bram akan luluh oleh Amayra dan juga bayi yang ada di dalam kandungannya itu.


"Kalau bayi itu tidak mati, bagaimana nasibku nanti? Bram pasti akan terus memperhatikannya karena ada bayi itu. Aku harus memastikan kalau dia keguguran." Gumam Alexis sambil menggigit kuku jarinya, dia berharap Amayra kehilangan bayinya.


Alexis pun menginjak kembali pedal gas nya, dia memutar stir mobilnya, kemudian dia mengikuti mobil Satria yang membawa Amayra ke rumah sakit.


"Ah..uhhh.." Amayra merintih kesakitan, dia berada di dalam dekapan Anna yang duduk di kursi belakang mobil.


"Om, cepetan! Kasihan Amayra!" Anna mengelus kepala Amayra. Anna terlihat cemas pada sahabat nya itu.


"Aku gak apa-apa, tolong pelan-pelan saja dan fokus menyetirnya kak." Pinta Amayra dengan suara lemas. Dia merasa seperti ada sesuatu yang akan keluar dari perutnya.


"Iya, ini udah cepet An!" Satria menyetir dengan keadaan panik. Sesekali Satria mencuri pandang melihat Amayra dari kaca spion mobilnya.


Beberapa menit kemudian, mereka sampai di depan rumah sakit. Satria segera menggendong istrinya, membawanya masuk ke dalam rumah sakit dengan panik. Anna juga ikut ke dalam rumah sakit.


"Aku bisa jalan sendiri kak.." Amayra menahan sakit di perutnya.


"Kamu diam saja!" Satria sedikit membentak Amayra yang terus meminta jalan sendiri.


Kenapa kak? Kenapa kakak bilang tidak suka padaku, tapi kakak peduli padaku?Membuatku berharap pada kakak. batin Amayra sedih.


Tanpa melalui prosedur pendaftaran, Satria langsung membawa Amayra ke tempat dokter kandungan bersama dengan Anna.


"Hei, kalian harus mendaftar dulu!" kata Diana pada Satria yang tiba-tiba masuk ke ruangan itu dan membawa Amayra di dalam gendongan nya. "Eh, Satria?" Diana terperangah melihat yang datang kesana adalah Satria, temannya.


"Ughh.." Amayra menahan sakit diperutnya, wajahnya terlihat pucat.


"Diana, tolong istri ku!" seru Satria panik sambil menggendong istrinya.


Istri? Jadi ini Satria?. Diana terkejut mendengar Satria memanggil wanita berhijab yang digendong nya itu sebagai istri.


"Baiklah, baringkan dia di ranjang itu! Aku akan memeriksa nya!" titah Diana pada Satria untuk membaringkan Amayra di ranjang yang ada di dalam ruangan itu.


Dengan hati-hati, Satria membaringkan Amayra di ranjang pasien itu. Tanpa sadar Amayra mencengkram tangan Satria, karena dia sedang berusaha menahan sakit perutnya yang sulit ditahan. Wajahnya pucat dan berkeringat.


"Iya, aku akan disini." ucap Satria memenangkan Amayra dan menggenggam tangan wanita itu. Satria menatap cemas pada Amayra.


"Aku gak apa-apa kak, kakak bisa meninggalkan ku disini.." ucap Amayra sambil tersenyum di bibirnya yang pucat itu. Amayra melepaskan tangan Satria.


Satria kembali menggenggam kembali tangan Amayra, "Tidak, aku akan tetap disini. Aku tidak akan meninggalkan kamu lagi!" ucap nya tegas.


Diana terpana melihat Satria, temannya yang dingin itu bisa mencemaskan seorang wanita sampai seperti ini. Diana langsung memeriksa kondisi Amayra dengan tes USG juga untuk mengecek kondisi bayi yang ada di perutnya.


Dibantu oleh suster, Diana memasangkan selang infus untuk menambah cairan yang bilang dan mempercepat penyembuhan nya. Setelah hampir setengah jam di dalam ruangan itu, Diana dan seorang suster berhasil menyelamatkan bayi yang hampir keguguran itu.

__ADS_1


"Dok, bagaimana keadaan bayi saya? Baik-baik saja kan?" tanya Amayra dengan mata yang sayu, memandang ke arah dokter.


Diana menunjukkan layar monitor usg pada Amayra, Satria dan Anna yang ada disana. Mereka melihat foto sebuah janin di layar monitor itu. "Alhamdulillah, bayi nya selamat..kamu sangat kuat, kamu pasti sangat kesakitan." Diana memuji Amayra yang tidak mengeluh kesakitan ketika dokter itu berusaha menyelamatkan bayinya.


Amayra menatap layar monitor itu dengan mata yang berkaca-kaca. Benar-benar ada kehidupan di dalam perutnya, dia tidak percaya bahwa ada amanah dari Allah yang dititipkan disana. Satria dan Anna juga menatap layar monitor yang memperlihatkan gambar janin di dalam rahim yang mungkin kini berukuran sebesar kacang tanah itu.


"Apa itu sepupuku?" tanya Anna tidak percaya melihat janin yang dulu masih berbentuk embrio, kini sudah mulai terlihat jelas. Seperti bayi kecil yang mungil, dan bayi kecil itu berada di dalam perut Amayra.


"Dia masih kecil sekali, seperti kacang," gumam Amayra sambil tersenyum pahit, kemudian diA menangis ketika teringat pelajaran IPA yang menyinggung tentang kehamilan. "Hiks..hiks.." miris perasaan nya, perih hatinya melihat USG anaknya.


"May, kamu kenapa? Apa ada yang sakit?" tanya Satria cemas melihat Amayra tiba-tiba menangis. Dia mulai terlihat peduli pada istrinya itu.


"Hei, kamu kenapa? Tenanglah, tidak baik untuk bayimu jika kamu menangis." Diana berusaha menenangkan Amayra yang menangis. Dia merasa kasihan, setelah mendengar cerita dari Anna sebelumnya tentang gadis itu yang hamil diluar nikah, karena ulah Bram.


Bagaimana bisa dia yang masih sangat muda harus menanggung semua beban berat ini? Dan kasihan juga dengan Satria yang harus menjadi kambing hitam karena kesalahan besar kakak nya pada gadis ini. Diana membatin.


"Hiks..huuuhuuu.." Gadis itu berurai air mata, dia tidak menghentikan air matanya yang mengalir deras membasahi wajahnya.


Ya Allah kenapa air mata ini tidak bisa dihentikan?. Terlintas kenangan indah dan buruknya, setelah dia melihat hasil USG bayinya.


"Amayra, kamu kenapa?" tanya Anna yang ikutan cemas dengan keadaan Amayra.


"Diana! Cepat periksa dia, seperti nya dia kesakitan!" seru Satria panik.


"Tapi-" Satria ragu-ragu untuk meninggalkan Amayra yang masih menangis, dia ingin menenangkan Amayra sekaligus meminta maaf padanya.


"Om, kita pergi dulu keluar ya." Anna mengajak Satria keluar dari ruangan itu.


Satria dan Anna keluar dari ruangan itu, mereka membiarkan Diana memeriksa kondisi Amayra sekalian menenangkan nya. Beberapa menit kemudian, Diana keluar dari ruangan itu. Dia mengatakan bahwa Amayra sudah baik-baik saja dan sedang tidur. Kemudian Diana memberikan resep vitamin untuk Amayra, pada Satria. "Kamu tenang saja Sat, dia baik-baik saja."


"Lalu kenapa dia menangis seperti itu kalau bukan karena kesakitan?" tanya Satria sambil memegang resep obat yang diberikan oleh Diana.


"Aku bilang dia baik-baik saja, bukan berarti semuanya baik-baik saja. Dia sakit, sangat sakit, Sat."


"Dia sakit apa?" Satria penasaran.


"Hatinya, dan itulah yang paling sulit untuk sembuh. Kamu tau kan itu Sat, hati adalah bagian dari tubuh manusia yang sulit di sembuhkan? Dia gadis yang baik dan tegar, Sat. Jika aku jadi dia, aku pasti sudah bunuh diri dan menyembunyikan diriku dari dunia, tapi dia tetap menghadapi semuanya dan mempertahankan bayinya. Karena ketika semua mimpimu terenggut dan kamu adalah korban dari seorang pria, perempuan masih tetap disalahkan." jelas Diana pada Satria. Dia menjadi miris dengan nasib Amayra.


Satria tertegun mendengar ucapan Diana. Dokter itu mengatakan lagi kalau Amayra belum boleh pulang sampai keadaannya membaik setelah 24 jam pemantauan. Diana juga mengingatkan kalau Amayra tidak boleh dalam keadaan tertekan, agar dia bayi nya kuat.


Tak jauh dari sana, Alexis mendengar obrolan Diana dan Satria. Alexis kesal karena Amayra dan bayinya selamat walau sudah di dorong dengan keras seperti itu. Alexis pun pergi dari sana dengan hati yang kesal, sebelum dia ketahuan.


"An, lebih baik kamu pulang duluan. Kasih tau opa sama oma mu, kalau Amayra masuk rumah sakit."


"Iya om, om harus disini ya jaga Amayra. Tapi, aku juga harus kasih tau pak Harun. Dia pasti cemas karena Amayra tidak ada di rumah nya."

__ADS_1


"Ya, kamu pergilah dulu ke rumah pak Harun. Beritahu dia kalau Amayra terluka."


"Jangan kasih tau ayah!" seru Amayra sambil membuka matanya. Satria dan Anna langsung menoleh ke arah Amayra yang sudah bangun dari tidurnya.


"Eh, bukannya kamu tidur May?" Anna menyergap Amayra dengan pertanyaan.


"An, bilang aja sama ayah ku. Kalau kak Satria menjemput ku pulang ke rumah, jangan bilang padanya kalau aku di rumah sakit .Dia bisa cemas!"


Ayah bisa menyalahkan kak Satria kalau dia tau kalau aku hampir keguguran, aku tidak mau dia terlibat dalam urusan ku lagi. Sudah cukup dia bertanggungjawab untukku, aku tidak mau merepotkan atau meminta lebih padanya.


"Tidak apa Anna, jangan berbohong. Katakan saja yang sebenarnya kalau Amayra-"


Wanita itu memangkas ucapan Satria, dia beranjak duduk, "Enggak! Kamu gak boleh bilang An, kamu gak boleh.. uhhh.." Amayra memegang perutnya yang menegang, dia tidak bisa bangkit bahkan hanya untuk duduk.


"Kamu belum boleh banyak bergerak!" Satria kembali membaringkan Amayra di ranjang pasien dengan hati-hati.


"Anna, jangan kasih tau ayahku kalau aku masuk rumah sakit. Jangan ya..." pinta Amayra pada Anna seraya memohon.


"Iya, aku gak akan kasih tau pak Harun." jawab Anna setuju.


Satria menghela napas, dia kesal pada Amayra yang masih saja keras kepala. Anna pergi pulang dulu ke rumah dan mengabari pak Harun juga kalau Amayra sudah dibawa kembali oleh Satria.


Satria menunggu istrinya disana, mereka hanya terus berdiam diri dan tidak bicara satu sama lain. Sampai Satria memulai pembicaraan, "Apa kamu lapar? Atau kamu haus?"


Amayra menggeleng lemah, dia tidak berani menatap wajah pria yang sudah menolaknya itu. Entah karena malu, atau karena dia tidak mau mengharapkan Satria lagi.


Mengapa kakak terus peduli padaku? Bagaimana aku bisa melupakan kakak kalau kakak bersikap baik seperti ini?


"Ehm, Amayra aku minta maaf."


"Untuk apa?"tanya Amayra sambil menoleh ke arah suaminya.


"Untuk semua yang aku katakan saat itu menyakiti perasaan kamu. Sampai kamu pergi dari rumah, aku juga tidak menghubungi mu sama sekali. Harusnya aku-"


"Sudahlah kak, kumohon jangan membahasnya lagi. Tolong lupakan apa yang pernah aku katakan pada kakak! Anggap saja aku tidak pernah mengatakan perasaan ku!" ucapnya sambil memalingkan wajah dari Satria.


Lupakan?


Kedua matanya membulat menatap Amayra, dia terpana mendengar kata-kata Amayra


Deg!


Entah kenapa ada rasa sakit yang tidak bisa dimengerti oleh Satria dia dalam satu satu bagian tubuhnya. Tepatnya di dekat dada.


...---***---...

__ADS_1


__ADS_2