Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 179. Hamil lagi


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Entah apa yang merasuki Amayra, begitu sampai didepan rumah mereka. Amayra keluar dari mobil sambil membanting pintu mobil itu. Satria keheranan dengan mood swing istrinya yang sangat sensitif.


"Perasaan dulu waktu hamil Rey, Amayra gak gini-gini amat deh. Kali ini dia gak kelihatan lagi hamil, tapi sensitifnya subhanallah." gumam Satria terperangah dengan sikap istrinya yang marah gara-gara rujak.


Satria ikut turun dari mobil dan membawa kantong berisi baju-baju mereka. Sesampainya didalam rumah, Satria melihat Amayra sedang melihat-lihat kulkas. "May, kamu lagi apa?"


Amayra tidak menjawab, dia terus mencari-cari sesuatu di lemari esnya itu. Entah apa yang dia cari disana. "Kata Bi Dewi, ada soda disini." gumam wanita itu yang sangat ingin minum soda. Amayra menemukan soda itu, dia terlihat sumringah saat memegangnya.


"Ah ini dia!" Amayra langsung meneguk soda didalam botol itu dengan cepat.


Satria menghampiri istrinya begitu dia melihat soda didalam botol yang dipegang oleh Amayra sudah habis setengahnya. "Sayang, gak boleh! Kamu tuh lagi ham-"


"Ughh..." Amayra memegang perutnya, dia merintih kesakitan.


"Kenapa sayang? Perut kamu sakit?" tanya Satria dengan wajah panik.


"Kayak ada yang keluar Mas, mungkin.. aku mau datang bulan." jelasnya sambil merasakan ada seseorang yang keluar dari tubuhnya.


"APA?!!" Satria tersentak kaget mendengar ucapan istrinya. Dia melihat ke arah perut Amayra.


Kemudian dia melihat sedikit bercak darah di belakang baju Amayra. "Darah, sayang!" pekik Satria terkejut.


"Udah sebulan lebih aku gak datang bulan, ternyata hari ini datangnya." Ucap wanita itu dengan wajah polosnya, disaat suaminya sedang panik. "Tapi kok sakit ya, biasanya aku gak suka sakit haid..apa karena udah lama?" gumam wanita itu bingung.


"Astagfirullahaladzim!! Anakku!"


Tanpa pikir panjang, Satria langsung menggendong istrinya dan membawanya masuk ke dalam mobil. Amayra bingung dengan sikap suaminya. Apalagi saat Satria menyebutkan soal anak. Satria langsung ngebut menuju ke rumah sakit.


"Mas kamu kenapa sih? Aku kan cuma sakit haid biasa, kenapa aku harus sampai dibawa ke rumah sakit?" Amayra bertanya pada suaminya dengan keheranan.


"Kamu bisa diam dulu gak! Gak lihat apa aku lagi panik begini?" Satria menggendong istrinya keluar dari mobil, mereka sudah masuk didalam rumah sakit.


Ini salahku...salahku..


Mas Satria kenapa ya?


Satria menggendong istrinya ke lorong dokter kandungan dan anak. Tempat Diana berada, Amayra semakin heran, kenapa suaminya membawa dia ke dokter kandungan bukan dokter umum saja.


"Satria, Amayra?" Diana terlihat keluar dari ruangannya, dia sudah memakai baju biasa.


"Kak Diana! Tolong!" seru Satria panik.


Diana langsung paham begitu melihat darah di baju Amayra. Dia menyuruh adik iparnya dan istrinya masuk ke dalam ruangan itu. Diana memeriksa kondisi Amayra, sementara disisi lain Satria sedang duduk gelisah menunggu hasil.


"Kak gimana keadaannya?" tanya Satria gelisah.

__ADS_1


"Sabar dulu Sat, aku kan baru mau periksa!" Kata Diana sambil memegang tangan Amayra. "May, kamu ada sakit? Gimana perut kamu?" tanya Diana pada Amayra.


"Sakit di perut aja."


"Suster, ambilkan alat USG!" titah Diana pada seseorang suster diruangan itu.


Loh? Kok alat USG?. Amayra masih polos dan tidak tahu apa-apa.


"Baik dokter," jawab suster itu patuh. Dia mengambilkan alat USG dan mesinnya juga kesana.


Diana menyingkap baju Amayra, hingga perutnya terlihat. Diana meletakkan alat USG itu di perut Amayra, sambil melihat ke layar monitor. "May, apa masih sakit?" tanya Satria pada istrinya.


"Mas, kenapa sih kamu sampai kayak gini?" tanya Amayra keheranan melihat suaminya yang cemas.


"Kak, gimana? Amayra sama bayinya gak apa-apa kan?" tanya Satria pada Diana.


Amayra tercengang mendengar pertanyaan Satria pada Diana. Mendengar kata bayi didalam sana.


"Alhamdulillah cuma flek ringan, tidak termasuk pendarahan yang parah kok. Lihat tuh, di layar monitor."


Satria dan Amayra melihat ke layar monitor, mereka melihat ada satu titik kecil disana. "Apa maksudnya? Aku hamil?"


Satria tersenyum haru melihat titik kecil itu. "Itu anakku. Amayra sedang mengandung anakku." Batin Satria bahagia.


"Iya sayang kamu hamil lagi."


Akhirnya Diana membantu Satria untuk menjelaskan semuanya pada Amayra. Amayra pun mengerti kenapa semua orang menyembunyikannya lebih dulu, tapi dia juga kesal karena mereka tidak memberitahukan kabar bahagia ini dari awal.


"Kalau aku tau sejak awal, bahwa aku sedang hamil. Aku gak akan makan nanas sama minum soda, pantas saja Anna melarangku makan nanas. Dan sikap kalian selama ini karena kalian sudah tau keadaanku." Gerutu Amayra pada Diana dan Satria.


"Maafin kami ya May," kata Diana sambil tersenyum seraya memohon maaf.


"Maafin aku sayang. Tapi kamu bahagia kan?" Satria bertanya pada istrinya tentang kondisi hati Amayra.


"Alhamdulillah.. aku bahagia Mas, Allah memang sudah menyiapkan rencana indah untuk kita berdua." Amayra memegang perutnya sambil tersenyum, air matanya berlinang dengan perasaan haru.


Satria memeluk Amayra. "Alhamdulillah sayang, kalau kamu senang."


Diana tersenyum melihat kebahagiaan Amayra dan Satria. Dalam hati dia juga berharap agar segera dikaruniai momongan seperti Amayra. Kapan dia bisa punya anak dengan Bram? Dia sangat menantikan hari itu.


Diana memberikan Amayra dan Satria pesan-pesan untuk menjaga kehamilan trimester pertama. Makanan, minuman apa yang dilarang dan makanan, minuman apa yang bagus untuk kandungan Amayra.


"Tuh kan! Dengar apa kata kak Diana, kamu gak boleh makan nanas sama minum soda. Itu sebabnya kamu keluar flek, bisa berbahaya buat anak kita." Satria mengingatkan istrinya dengan mengomel.


"Iya Mas. Maaf aku kan gak tau kalau aku lagi hamil dan aku juga lagi pengen makan itu." cicit Amayra dengan bibir yang mengerucut.


"Iya gak apa-apa. Ini juga salahku, karena aku sudah menyembunyikannya dari kamu. Yang penting kamu sudah tau," ucap Satria sambil tersenyum bahagia. Bahagianya akan segera menjadi seorang ayah lagi.

__ADS_1


Setelah pemeriksaan itu, Satria dan Amayra pergi dari rumah sakit. Mereka langsung pergi ke supermarket untuk membeli makanan yang tidak ada di kulkas


Sementara itu Diana menunggu suaminya didepan kantor. Tak lama kemudian Bram sudah ada didepannya saja. "Hai dokter jutek! Lagi nunggu orang ganteng ya?" goda Bram pada istrinya.


"Ya ampun Mas, kamu tuh pedenya." Diana menepuk bahu suaminya, dia tertawa kecil.


"Emang aku ganteng kan? Di, kita makan malam diluar yuk!" ajak Bram pada istrinya untuk makan malam diluar.


"Iyah, ayo. Tapi kita pergi dulu ke mesjid ya...shalat isya dulu." ucap Diana pada suaminya.


"Iya sayang." Jawab Bram sambil menggandeng tangan istrinya dengan mesra, layaknya pengantin baru.


...*****...


Di supermarket, Amayra dan Satria membawa troli sambil melihat-lihat makanan dan barang yang akan mereke beli.


Satria yang paling bersemangat berbelanja, dia juga membawa troli belanjanya. Dia tak membiarkan Amayra lelah sedikitpun. Dia senang bisa menunjukkan perhatiannya pada Amayra.


"Sayang, ini berat..biar aku yang angkat." Satria mengambil kaleng susu yang dibawa istrinya, lalu dia masukan ke dalam troli belanja.


"Ini cuma kaleng susu, Mas. Gak berat sama sekali." Amayra mengernyitkan dahi.


"Gak boleh, kamu gak boleh angkat yang berat-berat. Mulai sekarang bi Dewi yang akan kerjakan pekerjaan rumah," ucap Satria protektif pada istrinya yang sedang hamil itu.


"Mas, ibu hamil juga perlu bergerak. Masa aku diam aja. Dan aku juga masih kuliah, Mas." Kata Amayra sambil tersenyum.


"Oh ya, soal kuliah..kamu gak boleh capek-capek juga. Gak boleh ikut kegiatan kampus yang menyita banyak waktu, aku gak mau kamu sama bayi kita kenapa-napa. Kamu dengar apa tadi kata kak Diana? Kamu tadi nge-flek, hampir keguguran..kandungan kamu masih tahap awal.. jadi harus dijaga."


"PFut.. hahaha." Amayra malah tertawa mendengar ocehan suaminya.


"Loh? Kok malah ketawa?" Tanya Satria sambil mengambil susu hamil di jajaran tempat susu.


"Mas jadi kayak dokter kandungan, cerewet. Hehe." Amayra nyengir dengan ocehan suaminya itu.


"Ya, anggap saja begitu. Terserah kamu aja deh," Satria tersenyum bahagia. "Yuk kita beli buah-buahan buat kamu, kita penuhi isi kulkas. Tapi buahnya jangan nanas ya."


Amayra mengangguk. "Aku mau pisang sama jeruk, Mas."


"Iya kita beli semua yang kamu mau, kecuali yang dilarang dan berbahaya untuk anak kita. Gak boleh ya, sayang?"Satria menatap istrinya sambil memegang perut datar itu.


Amayra tersenyum, keduanya sama-sama bahagia dengan kehamilan Amayra. Apalagi kini Amayra sedang hamil anak suaminya.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang melihat mereka dibalik rak supermarket itu. Terlihat seorang wanita berambut pendek sedang berada disana membawa troli belanjaannya juga.


"Cewek kampungan itu hamil lagi? Enak bener, anaknya baru mati.. dia langsung dikasih hamil lagi. Menderitanya terlalu sebentar. Oke, nanti aku akan tambahin penderitaan kalian. Siap-siap aja.." wanita itu tersenyum jahat.


...-----****----...

__ADS_1


__ADS_2