Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 211. Dimana suamiku?


__ADS_3

🍀🍀🍀


Suara tembakan yang pecah itu membuat Amayra berteriak takut. "Kyaaaaakkk!!!"


Darah bekas tembakan itu berceceran kemana-mana, termasuk wajah dan tangan Amayra. Pria bule bernama Pierre itu jatuh tergeletak di lantai tidak berdaya, setelah peluru menembus dadanya.


Amayra ikut jatuh terduduk, ibu hamil itu terlihat syok melihat pemandangan yang ada didepannya. Belum pernah dia mengalami hal seperti ini dalam hidupnya. Pemandangan yang menurutnu sangat mengerikan.


"Aaahhhhh!!!" Amayra memegang kepalanya dengan kedua tangan, tampaknya Amayra syok berat.


Mas Satria membunuhnya...tidak, dia bukan mas Satriaku. Tapi dia siapa kalau bukan mas Satria?


Bima berjalan mendekati Amayra, dia menyimpan pistolnya di lantai. "May...kamu-"


Ketika tangan Bima akan meraih tubuh wanita itu. Amayra melotot kepadanya dengan wajah marah. "Jangan sentuh aku! Kamu...pembunuh!" tangan Amayra gemetar, juga dengan tubuhnya.


"May...."


"Siapa kamu? Dimana suamiku yang sebenarnya?!" teriak Amayra bertanya kepada Bima dimana Satria sebenarnya.


Akhirnya semua penyamaran Bima selama empat hari ini terbongkar. Amayra sudah tau bahwa dia bukanlah Satria, suaminya.


"Aku memang bukan Satria, tapi aku bukan orang jahat." ucap Bima sambil memegang tangan Amayra.


Astaga....ini adalah salahku. Dalih demi kebaikan itu ternyata adalah kesalahan besar.


Amayra menepisnya dengan kasar. Dia tidak mau menatap pria yang memiliki wajah suaminya itu. "Kamu tenang dulu, aku tau kamu marah...aku akan jelaskan semuanya. Tenangkan dirimu ya, aku akan-"


Plakkkk


Sebuah tamparan keras dari tangan cantik yang bergetar itu mengenai wajah Bima. "Jangan bicara lagi! Kamu jahat, pembohong...dimana mas Satria! Dimana!"


Wanita hamil itu menangis sambil memukul-mukul tubuh Bima. "Kamu... ughhhh..." Amayra merintih kesakitan sambil memegang perutnya.


"May, kamu kenapa? Perutmu sakit?" Bima mencoba memegang Amayra.


"Ughhhh..... aaahhhh..." Amayra merasakan sakit di perutnya dan dia juga merasakan ada yang mengalir dari tubuhnya.


Bima panik melihat darah mengucur di kaki Amayra. Dia segera menangkup tubuh wanita hamil itu. "Lepaskan aku! Aku tidak mau...jangan sentuh aku!!" teriak Amayra menolak sentuhan dari Bima, dia masih menangis juga menahan sakit.


Bima tidak bicara apapun, dia bingung harus menjelaskannya dari mana karena terlalu banyak yang harus dia jelaskan pada Amayra. Rasa penyesalan bersalah sekarang dia rasakan saat melihat wanita itu pendarahan.

__ADS_1


Pikirannya saat ini adalah keselamatan Amayra dan bayinya. Lalu setelah itu barulah dia akan menjelaskannya.


"Jack!" Bima memanggil Jack.


"Ya bos Bim!"


"Bawa dokter dan tolong si Pierre."


"Apa? Menolongnya? Kenapa tidak dibiarkan mati saja?"


"Lakukan saja apa yang aku suruh!" Teriak Bima pada anak buahnya itu.


Jack mengangguk patuh. Kemudian Bima membawa Amayra keluar dari gedung yang terbengkalai itu. "Ugghh....lepaskan aku, lepas!!!"


"Tenanglah, aku akan membawamu ke rumah sakit." sergah Bima membentak wanita itu yang terus meronta meminta dilepaskan.


"Aku tidak mau....katakan dulu dimana suamiku?!" Amayra keras kepala dan tidak mau diam saat dia digendong oleh Bima.


Apa mas Satria sudah tiada? Tidak, tidak mungkin kan.


"Jika aku katakan, apa kamu akan diam?"


"Iya..." jawab Amayra dengan nafas terengah-engah.


"Jadi...mas Satria..." Amayra terkulai lemas, matanya tertutup rapat. Wanita itu tidak sadarkan diri.


"May?! Amayra! Sadarlah!" Bima panik melihat Amayra yang tidak sadarkan diri.


Dia segera membawa wanita hamil itu masuk ke dalam mobil, dengan perjalanan yang ngebut. Dia sampai di rumah sakit dengan cepat, menggendong Amayra ke ruang UGD. Beberapa perawat dan dokter disana mengenalinya sebagai Satria.


"Tolong! Tolong selamatkan dia!" Pinta Bima pada salah satu dokter disana.


"Dokter Satria tenanglah, kami akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan Bu Amayra dan bayinya." jelas dokter Mira menenangkan Satria.


Tangan Bima berlumuran darah, darah dari tubuh Amayra. Dia menunggu di ruang tunggu dengan cemas, pikirannya tidak bisa tenang, apalagi dengan hatinya. Baru kali ini Bima merasakan yang namanya sakit, tubuhnya gemetar hebat dan dia sangat mengkhawatirkan seseorang.


Disana Bima keresahan menunggu Amayra yang diperiksa oleh dokter. "Ya Allah, aku mohon...selamatkan mereka dan jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Amayra dan bayinya."


Bima menunggu Amayra, sambil bolak-balik kesana-kemari dengan resah. Untuk pertama kalinya dia menangis karena seseorang. "Apa ini....apa aku menangis? Apa ini air mata?"


Diana yang baru saja memeriksa pasien, melihat Bima berada di lorong UGD rumah sakit. Diana bersama seorang suster akan pergi melaksanakan shalat ashar. "Satria? Sedang apa kamu disini?" Diana menatap Bima dengan cemas, lantaran bajunya berdarah-darah.

__ADS_1


Bima tak bisa menjelaskan panjang lebar, dia hanya menjawab. "Amayra...dia ada di dalam ruang UGD."


"APA? Apa yang terjadi padanya?!" Diana langsung memegang baju Bima dan mendadak emosional.


Setelah mendengar jawaban singkat dari Bima, dia langsung menelpon Bram dan memberitahunya bahwa Amayra dan Bima ada di rumah sakit.


"Katakan! Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Diana tegas.


Lebih baik aku mengaku saja, daripada keadaan semakin rumit.


"Sebenarnya saya bukanlah Satria dan Amayra sudah tau semuanya." Bima akhirnya mengakui bahwa dia bukanlah Satria.


"APA? Jadi, kamu benar-benar bukan Satria?" tanya Diana dengan mata terbelalak menatap pria yang ada didepannya itu.


Jadi, kecurigaan mas Bram selama ini benar. Aku tidak percaya ini..


"Iya, saya juga sudah tau kalau kamu dan kak Bram mencurigai saya." ucap Bima yang berat sekali mengatakan kebenaran.


"Hah! Jika kamu bukan Satria, lalu kamu siapa? Kenapa kamu berpura-pura menjadi Satria dan kenapa wajah kamu mirip dengan dia? Tidak mungkin...kalau kalian memiliki wajah yang sama persis namun tidak memiliki hubungan darah?"


Diana berpikir logis, pasalnya tidak mungkin jika ada orang di dunia ini yang memiliki wajah yang benar-benar mirip seperti Satria dan Bima yang hampir tidak ada bedanya.


"Saya adalah saudara kembarnya." kata Bima sambil menatap Diana.


"Saudara kembar? Selama aku berteman dengannya aku tidak pernah tau bahwa Satria punya saudara kembar."


"Ceritanya panjang dan saya juga baru tau belum lama ini kalau saya punya saudara kembar." jelas Bima sopan pada Diana.


Percaya tidak percaya, wajah Satria dan Bima seperti pinang dibelah dua. Diana percaya Satria dan Bima adalah saudara kembar meski ia tak tau bagaimana ceritanya. Itu karena Amayra juga akan memiliki bayi kembar.


"Aku akan mengecek kondisi Amayra di dalam, aku khawatir karena dokter Mira cukup lama memeriksanya." Ucap Diana yang resah karena dokter Mira belum keluar juga dari Raung UGD.


"Baik,"


"Apa kamu mau masuk?" Diana menawarkan pada Bima, karena dia melihat pria itu terlihat resah dengan tangan gemetar menunggu Amayra didepan sana.


"Tidak, saya tidak berhak." jawab Bima merasa bersalah. Dia mencemaskan Amayra dan ingin melihatnya, tapi dia merasa tidak pantas.


Diana tidak bicara lagi, dokter kandungan itu segera masuk ke dalam ruang UGD. Sementara Bima menunggu diluar.


Tak lama kemudian, sebuah tinju keras melayang ke tubuhnya. Hingga membuat Bima jatuh terjengkang.

__ADS_1


"Dasar penipu!"


...******...


__ADS_2