
...πππ...
Seakan lelah terbayarkan, seakan rasa sakit itu menghilang seketika saat Amayra dan Satria melihat bayi kembar mereka yang kedua telah lahir ke dunia dengan selamat dan sehat tanpa kekurangan. Bayi perempuan yang cantik dan menggemaskan.
"Aku akan memandikannya dulu ya!" Diana tersenyum sambil melihat ke arah bayi yang digendongnya itu.
Amayra dan Satria mengangguk sambil tersenyum. Satria terlihat tampak lelah, wajah tampannya sumrawut, bahkan rambutnya juga acak-acakan akibat ulah istrinya.
Selagi Diana memandikan bayi itu di atas baskom kecil. Satria menghampiri Amayra, dia mengucapkan lagi rasa syukur kepada Allah dan terimakasih kepada istrinya karena sudah melahirkan anak mereka dengan selamat dalam prosesi kelahiran normal yang mungkin tidak semua wanita akan melahirkan normal bila mengandung bayi kembar.
"Kamu luar biasa sayang, terimakasih kamu sudah melahirkan kedua anak kita dengan selamat... terimakasih juga karena kamu baik-baik saja." Satria mengusap kening Amayra yang basah dengan keringat itu.
"Alhamdulillah mas, ternyata melahirkan normal begini ya rasanya?" Amayra juga baru pertama kali merasakan lahiran normal, karena dulu saat melahirkan Rey tidak dengan cara seperti ini, tapi dengan operasi sesar.
Satria tersenyum lebar, dia mengecup kening istrinya dengan penuh rasa syukur. "Ngomong-ngomong mas, kenapa rambut sama baju kamu acak-acakan gitu? Wajah kamu juga kayak di cakar kucing?" Amayra baru ngeh jika penampilan suaminya berbeda.
Ini kan ulah kamu May, apa kamu gak sadar? Hehe. Satria tertawa dalam hati mendengar pertanyaan Amayra.
"Gak apa-apa sayang, aku gak apa-apa...semaunya sudah terbayar dengan melihat kedua anak kita yang tampan dan cantik." Kata Satria lembut.
Tak lama kemudian, Diana datang dan membawa bayi perempuan yang sudah dimandikan itu. Dia menyerahkan bayinya pada Satria, dengan senang hati Satria menggendong anaknya. Satria langsung mengadzani dan membacakan lafadz iqamah pada bayi perempuannya itu, hampir saja dia lupa melakukannya.
"Sayang, lihat anak kita... cantik sekali mirip kamu."
"Sini mas, aku mau gendong bentar." ucap Amayra meminta pada Satria untuk menggendong anaknya. Satria pun menyerahkan bayi mungil itu pada istrinya.
"Dia mirip kamu sayang."
Amayra menggendong anaknya, dia tersenyum lembut di wajah pucatnya. "Matanya mirip kamu mas," tangan Amayra menyentuh pipi bayi kecil itu.
Tiba-tiba saja, Amayra jatuh tidak sadarkan diri. Satria terkejut dan langsung memegangi bayinya yang berada di pelukan Amayra. "Sayang...kamu kenapa? Sayang?!" Satria panik mencoba membangunkan Amayra.
Diana terkejut melihat Amayra tiba-tiba tidak sadarkan diri, dia mengecek kondisi Amayra. "Astagfirullahaladzim, Satria...kita harus segera membawa Amayra ke rumah sakit!"
"Kenapa? Amayra kenapa?"
"Amayra pendarahan!" Diana melihat darah bercucuran di atas ranjang itu, berasal dari tubuh Amayra.
Pendarahan saat melahirkan bisa terjadi sesaat setelah bayi dilahirkan. Wanita dianggap mengalami pendarahan apabila darah yang keluar selama persalinan lebih dari dua liter. Kehilangan banyak darah saat melahirkan bisa membuat wanita sulit mempertahankan tekanan darah. Kondisi ini apabila tidak segera ditangani bisa menyebabkan syok sampai kematian.
__ADS_1
"Kenapa tidak disini saja? Kak Diana bisa menanganinya kan?" Tanya Satria pada Diana terburu-buru.
"Satria, alat-alat yang aku bawa hanya seadanya saja! Aku akan telpon pihak rumah sakit, agar mereka bisa mengikuti ambulan segera!" Diana mengambil ponselnya didalam tas.
"Biar aku yang bawa Mayra ke rumah sakit, biar cepat!"
Satria menyerahkan bayi perempuannya pada Diana, kemudian dia menggendong Amayra yang tidak sadarkan diri itu. "Sat, apa kamu kuat?" tanya Diana pada Satria yang baru saja bisa berjalan kembali.
"Insya Allah kak, aku titip si kembar!" Seru Satria pada Diana.
"Iya kamu tenang saja," Diana menganggukkan kepalanya.
Satria keluar dari kamar itu dengan membawa Amayra dalam gendongannya. Nilam, Cakra, Bram, Anna dan Ken melihat mereka. "Ada apa? Kenapa Satria..." Cakra melihat Satria berlari pergi dengan panik sambil menggendong istrinya.
"Amayra pendarahan dan harus segera dibawa ke rumah sakit," jelas Diana singkat.
"Apa?" Semua keluarga Calabria terkejut mendengarnya.
Bima yang baru kembali dari urusannya, mini berada didepan hotel, juga melihat Satria berlari dengan membawa Amayra terburu-buru keluar dari hotel. "Sat, kenapa kamu-" Bima kaget melihat Satria sudah bisa berjalan dan Bima juga kaget melihat Satria menggendong Amayra.
"Kak, cepat antar kami ke rumah sakit!" Seru Satria terburu-buru.
Satria dan Bima masuk ke dalam mobil bersama Amayra juga. Satria meminta Bima untuk mencari jalan pintas agar menghindari kemacetan karena pada hari itu jalan sedang ramai. Tentu saja karena hari itu adalah bertepatan dengan hari kemerdekaan Republik Indonesia.
"Kak! Cepetan kak!" Satria panik, dia memeluk istrinya yang tidak sadarkan diri.
Ya Allah, tubuh Amayra terasa dingin. May, aku mohon...aku mohon.
"Oke Sat, kamu pegangan ya!" Bima tancap gas, dia mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan maksimal.
Dengan skillnya dalam menyetir, Bima berhasil menguasai jalanan itu. Bima bisa menyetir dengan hati-hati dan ngebut pula.
Mereka pun sampai di rumah sakit dengan cepat, setelah melalu jalan pintas menghindari kemacetan. "Sat, biar aku bantu gendong-" Bima turun dari mobil lebih dulu dan membukakan pintu mobil belakang.
"Gak apa-apa kak, aku bisa!" Satria memangkas ucapan kakaknya yang bermaksud menolong Amayra.
Satria menggendong istrinya, kemudian dia masuk ke dalam gedung rumah sakit. Amayra langsung dilarikan ke ruang UGD dan segera mendapatkan perawatan.
*****
__ADS_1
Masih di hotel, Nilam menggendong bayi perempuan Amayra dan Satria, sedangkan Cakra menggendong bayi laki-laki anak pertama Satria.
"Owaa... owa...."
"Pa, gimana ini? Si cantik nangis," ucap Nilam cemas mendengar suara tangisan cucu perempuannya.
"Mungkin adikku haus, Oma." kata Anna pada Nilam.
"Oh ya, mungkin dia haus...tapi gimana ini? Ibunya gak ada disini."
"Sementara berikan dulu susu formula saja ma," ucap Diana menyarankan.
"Kamu benar Diana," Nilam membenarkan ucapan menantunya itu. "Bram, tolong suruh Muin membeli botol dot dan susu formula untuk si kembar ya."
"Baik Ma,"
Tiba-tiba Ken berucap,"Om, biar Ken aja yang beli."
"Eh, pengantin baru diem aja. Mending kalian istirahat, kamar kalian diatas kan? Kalian pasti lelah karena banyak yang terjadi hari ini." Kata Bram pada pengantin baru itu.
Anna dan Ken saling melirik, mereka bahkan lupa bahwa ini adalah hari pertama mereka sah sebagai suami istri karena terlalu banyak kejadian yang terjadi pada hari itu.
****
Bram dan Diana pergi ke rumah sakit, sementara Cakra dan Nilam membawa si kembar pulang ke rumah. Kedua bayi itu terus menangis meski sudah digendong dan diberi susu.
"Aduh ma, gimana ini? Si kembar kok belum berhenti nangis." Cakra menimang-nimang cucu laki-lakinya, dia cemas karena bayi mungil itu masih menangis.
"Owaaaa...owaa..."
"Iya pa, papa telpon Bram atau siapa saja yang ada di rumah sakit. Tanyakan kondisi mama si kembar, perasaan mama gak enak," Nilam cemas sambil menggendong cucu perempuannya yang juga menangis.
"Hus, mama jangan bicara sembarangan!" Cakra meminta istrinya untuk jaga bicara.
Cakra akhirnya menyerahkan bayi laki-laki itu kepada Dewi dan dia pun menghubungi Bram yang berada di rumah sakit.
...****...
Hai Readers iklan dikit ya βΊοΈπ aku ada rekomendasi novel karya temenku nih, siapa tau kalian suka β€οΈβ€οΈβΊοΈ
__ADS_1