Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 220. Luka lama Anna


__ADS_3

...๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€...


"Pernikahan? Anna dan Ken? Mereka masih sangat muda pa..." Bram terheran-heran dengan perkataan Cakra yang ingin menikahkan Anna dan Ken.


"Haaahhh...daripada mereka berbuat dosa lebih baik dinikahkan saja cepat-cepat." Cakra menghela nafasnya lagi.


"Memangnya ada apa sama Anna dan Ken, pa? Apa ada yang terjadi?" tanya Amayra penasaran kenapa papa mertuanya tiba-tiba memutuskan perkara pernikahan Anna dan Ken.


"Huft...jadi begini ceritanya."


Cakra menceritakan apa yang terjadi pada Amayra, Bram dan Diana tentang dia dan istrinya yang melihat Anna dan Ken berduaan didalam kamar, hampir melakukan hubungan intim.


Bram, Diana dan Amayra terkejut mendengarnya. Mereka tidak menyangka bahwa Anna dan Ken hampir tergoda oleh rayuan setan.


"Astagfirullah, Anna dan Ken...ya keputusan papa dan mama sudah benar untuk menikahkan mereka. Bram mendukung kok..."


Amayra no komen tentang hal ini, dia mendukung keputusan ibu dan ayah mertuanya karena ini yang terbaik untuk mereka agar terhindar dari dosa zina.


Setelah semua orang pergi, Amayra berdua saja bersama suaminya di kamar itu. Di kamar mereka kini ada dua ranjang, Bram yang memindahkan ranjang kamar satunya ke kamar itu agar Amayra yang sedang hamil besar bisa tidur nyenyak dan leluasa diatas ranjang empuknya.


Suara mesin medis terdengar menggema di ruangan itu. Amayra mengusap kening suaminya yang masih terbaring lemah disana, berharap agar suaminya cepat siuman dari koma.


"Mas, aku shalat Ashar dulu ya." ucap wanita hamil itu meminta izin suaminya.


Amayra berjalan ke arah kamar mandi untuk mengambil air wudhu, kini dia sudah mulai kesulitan untuk melangkah cepat. Kakinya bengkak, mungkin pengaruh dari kehamilan, berat badannya juga bertambah banyak karena dia sedang mengandung bayi kembar. Berbeda saat hamil Rey dulu, Amayra kini terlihat lebih gemuk.


Setelah susah payah pergi ke kamar mandi dengan hati-hati, Amayra keluar sambil membawa handuk kecil dan mengusap basah di wajah dan rambutnya bekas air wudhu. Amayra mengambil mukena dan sajadah yang ada di atas sofa kamarnya. Dia pun memakai mukena itu dan memulai shalatnya. Dia shalat dengan posisi duduk bersila karena tubuhnya saat ini dia mulai kesulitan untuk posisi rukuk atau sujud.


Ibu hamil terutama yang di usia menjelang akhir kehamilan, mungkin akan kesulitan menjalankan shalat sambil berdiri. Mengingat kondisi perut Amayra yang sudah semakin membesar, terdapat beberapa gerakan shalat seperti sujud dan rukuk yang agak susah buat dilakukan. Bagi Amayra tidak masalah untuk menjalankan shalat dengan posisi duduk bersila. Bahkan shalat dengan posisi duduk bersila ini juga dianjurkan oleh istri Rasulullah, yakni Aisyah. Seperti yang tertuang dalam hadis berikut ini: โ€œAku melihat Nabi Muhammad SAW shalat sambil duduk bersila.โ€ (HR. Nasaโ€™i 1672 & Daraquthni 1499).


Setelah melaksanakan shalat Ashar, Amayra mengangkat kedua tangannya seraya berdoa kepada Allah SWT.


Amayra membacakan doa kesembuhan Nabi Ayyub as yang terabadikan dalam surat Al Anbiyya ayat 83.


"Bismillahirrahmanirrahim, Robbi annii massaniyadh dhurru wa anta arhamar roohimiin."


Artinya: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang."


Amayra membacakan doa kesembuhan lainnya yang diperuntukkan untuk Satria yang masih berada dalam keadaan koma.


"Bismillah, bismillah, bismillah. U'idzuka bi izzatillahi wa qudratihi min syarri ma ajidu wa uhadziru. Asโ€™alullahal 'adhima rabbal 'arsyil 'adhim an yasyfiyaka."


Artinya: "Dengan nama Allah, dengan nama Allah, dengan nama Allah, aku lindungi kamu berkat kemuliaan Allah dan qudrah-Nya dari kejahatan barang yang aku rasakan dan yang aku khawatirkan. Aku memohon kepada Allah Yang Maha Besar, Tuhan Arasy yang maha besar agar Dia menyembuhkanmu."


Amayra mulai meneteskan air mata, berharap doa tulusnya akan sampai kepada yang kuasa.


Ya Allah, tolong berikan kesembuhan untuk suamiku...kembalikan keadaan suamiku seperti sedia kala. Berikanlah suamiku kesempatan untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya, mendekatkan dirinya kepada-Mu, ya Allah... hamba dan anak hamba masih membutuhkan sosok mas Satria sebagai kepala keluarga, sebagai imam hamba dan ayah untuk kedua anak yang masih ada didalam perut hamba ini. Hamba mohon kepada engkau ya Allah...izinkan hamba mengabdi pada suami hamba dan menjadi istri yang baik untuknya...hamba mohon tolong selamatkan suami hamba, berikan kesembuhan untuknya.


Wanita hamil itu mengusap wajahnya dengan kedua tangan sembari menyeka air matanya. Dia beranjak bangun dan melepas mukenanya, kemudian dia menghampiri Satria dan membersihkan wajah suaminya dengan handuk.


"Walaupun kamu berada dalam keadaan seperti ini, kamu harus tetap bersih. Jangan lupa bersih adalah sebagian dari iman...mas yang selalu mengatakan itu padaku. Jadi, aku akan membantu mas Satria membersihkan tubuh. Aku dan anak kita selalu menunggu kamu mas, cepatlah siuman..." Amayra tersenyum lembut, dia mencium kening suaminya penuh kasih sayang. Tangannya membelai pipi sang suami dengan lembut.


*****


Di kamar Diana dan Bram, Anna sedang berada disana. Dia memohon bantuan pada om dan tantenya itu untuk membujuk Nilam dan Cakra agar membatalkan pernikahannya dan Ken.


"Om...Tante..please, tolong bantu aku batalkan pernikahanku dan Ken!" Anna mengatupkan kedua tangannya seraya memohon pada om dan tantenya itu.


"Om heran sama kamu Anna, kamu kan pacaran sama si Ken...disuruh nikah harusnya kamu senang dong. Kenapa malah ingin membatalkan pernikahan?" tanya Bram dengan kening berkerut menatap Anna. Disamping Bram, ada Diana yang juga terheran-heran dengan permintaan Anna.


"Aku emang pacaran sama Ken, aku juga suka sama dia...tapi kan kami masih terlalu muda untuk menikah, om. Masa depan kami kan masih panjang, kami juga sama-sama belum dewasa dan juga belum siap berkeluarga!"


Bram menyentil kening keponakannya itu dengan keras. "Auw! Sakit om!" pekik Anna sambil memegang keningnya itu.


"Mas, kok Anna disentil gitu sih?" Diana menatap ke arah suaminya.


"Biarin, biar dia mikir apa yang diomonginnya itu cuma bualan dan omong kosong doang! Heh, Anna...pinter banget ya kamu ngomong. Kamu bilang kamu belum dewasa dan belum bisa berkeluarga? Terus ngapain kamu berduaan basah-basahan sama si Ken di dalam kamar, ciuman..." Bram menatap tajam dan bicaranya tegas pada Anna.


"Tapi kami kan gak melakukannya sampai ke tahap itu! Kami berdua masih bisa menahannya dan itu gak sengaja." Anna beralasan tak mau kalah dengan omnya kalau dalam hal berbicara.

__ADS_1


Bram tersenyum tipis, dia menaikkan bahunya sambil menggelengkan kepala. "Kalau kalian gak sengaja, terus salah siapa kalian berduaan didalam kamar, hah?" tanya Bram lagi.


"Salahnya setan!" jawab Anna yakin.


Pletak!


Bram menyentil lagi kening Anna lebih keras daripada yang tadi. "Aduh om!" pekik gadis itu kesakitan, dengan wajah cemberutnya.


"Mas, jangan kasar gitu ah!" Diana memegang tangan suaminya seraya mengingatkan Bram untuk tidak kasar pada Anna.


"Sayang, kamu diam aja...anak ini terlalu dimanjakan oleh mama dan papa makanya dia bisa bersikap seenaknya." ucap Bram meminta istrinya untuk diam saja.


"Om jahat! Tante, Om jahat..." Anna mengadu pada Diana dan memeluk Diana.


"Mas...udah ah jangan emosi." Diana mengusap punggung Anna dengan lembut, namun matanya mengarah pada Bram.


"Haaahhh...Anna dengarkan om ya, pernikahan itu mau dijalani usia muda atau tua sekalipun, kalau kalian saling cinta dan kalian memang jodoh, pasti Allah akan selalu menyatukan kalian dalam keadaan apapun. Alasan Oma dan opamu melakukan ini karena dia sangat menyayangi kamu dan tidak mau kamu seperti...."


"Seperti siapa om? Bilang sama Anna?" tanya Anna sangat penasaran.


"Seperti almh. kak Raisa." jawab Bram sedih.


"Mamaku?" Anna terlihat sedih saat Bram mengungkit tentang mamanya yang telah tiada saat usianya 5 tahun.


Mama...aku jadi kangen mama.


"Iya, kamu tau kan apa yang terjadi sama Alm. mama kamu." Bram membelai kedua pipi Anna sambil menahan tangis, teringat kakaknya yang sudah tiada itu.


Anna tidak bicara apa-apa lagi, dia kembali dengan wajah pucat dan termenung. Diana heran melihatnya, dia tidak tahu apa yang membuat Anna seperti itu. "Anna, kamu..."


Bram menahan tangan Diana sambil menggelengkan kepalanya, "Udah sayang, biarin aja." ucap Bram.


Anna kenapa ya?. Diana menatap Anna dengan cemas.


Anna pergi ke kamarnya dengan wajah murung dan mata berkaca-kaca. Dia teringat mamanya yang telah lama meninggal dunia, dia jadi teringat masa kecilnya yang sedikit terlintas diingatannya.


"Mama..." Anna menatap foto mamanya dan dirinya waktu kecil yang terpasang di atas meja kamar.


Saat Anna berusia 5 tahun, Raisa (Ibu Anna) menggandeng tangan kecil Anna. Mereka berdua pergi ke sebuah kompleks perumahan yang mewah. "Ma, kenapa kita ada disini? Bukannya kita mau ketemu papa?" tanya Anna pada mamanya.


"Sayang, katanya papa kamu ada disini." Raisa tersenyum pada anaknya itu.


Mas, apa benar kamu berselingkuh lagi? Semoga apa yang dikatakan Bram tidak benar.


Raisa menikah di usia yang sangat muda, 16 tahun karena hamil diluar nikah dengan pacarnya yang kini adalah suaminya, papa Anna. Dia terlena oleh cinta hingga berbuat dosa.


"Papa ada disini? Memangnya ini rumah siapa ma?" tanya Anna dengan wajah polosnya.


"Iya sayang, ini rumah teman mama. Sayang, kamu tunggu disini ya...mama mau masuk dulu ke dalam. Jangan kemana-mana!" Raisa tersenyum lembut seraya mengingatkan Anna untuk menunggunya.


"Iya ma, mama jangan lama-lama." jawab Anna polos.


Raisa masuk ke dalam rumah itu, sementara Anna menunggu di luar rumah. Tak lama kemudian, Anna melihat kedua orang tuanya bertengkar didepan rumah itu dan ada seorang wanita berpakaian tidak senonoh yang juga keluar dari rumah itu.


"Mas, ternyata kamu melakukannya lagi dan lagi! Mama dan papaku benar, seharusnya aku tidak jatuh cinta padamu dan termakan rayuanmu itu." ucap Raissa sambil memukul-mukul tubuh suaminya.


"Beraninya kamu memukul aku!!" Saat pria itu akan melayangkan pukulan pada Raissa.


Anna berjalan mendekati kedua orang tuanya itu. "Mama? Papa?" mata polos Anna menatap mama dan papanya.


"Sayang, kamu ada disini nak?" raut wajah marah pria itu langsung menghilang saat melihat Anna.


"Papa sama mama kenapa berantem?" tanya Anna heran.


"Gak kok, papa sama mama gak berantem." Jawab Jordy sambil tersenyum.


Jordy membawa istri dan anaknya pergi dari sana ,wajah Raisa masih terlihat marah meski sudah sampai rumah. Jordy langsung meminta anaknya untuk pergi ke kamar, dia tidak mau Anna melihat sikapnya pada Raisa.


Namun, Anna mendengar semuanya didalam kamar. Kedua orang tua mereka bertengkar hebat, bahkan Jordy sampai memukul Raisa. Padahal dulu pria itu sangat mencintai Raisa sampai menghamilinya, namun cinta itu sepertinya telah hilang dari hati Jordy untuk Raisa.

__ADS_1


Mereka pun memutuskan untuk berpisah, Raisa mendapatkan hak asuh Anna atas bantuan Nilam dan Cakra. Setelah itu Jordy langsung pergi meninggalkan Raisa dan anaknya, dia menikah lagi dengan seorang wanita di luar negeri. Tak lama setelah Jordy pergi tanpa peduli keadaan Anna dan Raisa, mantan istrinya itu sakit parah kemudian meninggal dunia.


Sejak saat itu Anna selalu dimanja oleh kakek, nenek dan kedua omnya. Demi membuat Anna tidak kesepian dan melupakan lukanya. Anna yang mendapatkan kasih sayang didalam keluarga Calabria bagaikan seorang putri Raja, tumbuh menjadi pribadi yang manja dan kadang egois.


#ENDFLASHBACK


Luka lama Anna kembali teringat, dia takut kejadian masa lalu membuat Anna


"Mama.... hikss...mama...aku kangen mama..." Anna memeluk foto itu sambil menangis terisak.


Oma, opa dan om Bram benar, mereka melakukan semua ini demi kebaikanku juga. Anna pun sadar, dia tidak seharusnya menolak pernikahan yang sudah ditetapkan oleh Ken, hanya karena mereka masih muda.


Dreett..


Dreett..


Anna menjawab telpon yang berdering diatas ranjang. "Halo..."


"Halo An?"


"Iya Ken?"sahut Anna sambil menyeka air matanya.


"Aku sudah bilang sama opa, katanya opa tidak setu..ju.." jelas Ken dengan suara menciut.


"Hem...iya...hiks."


Aduh, aku masih belum bisa bicara dengan benar.


"Anna, kamu nangis?" tanya Ken cemas mendengar suara Anna yang terdengar getir dan sesegukan.


"Gak kok, aku gak apa-apa." Anna tersenyum sambil bicara dengan Ken.


"Gak apa-apa gimana? Suara kamu kayak gini!" kata Ken cemas pada Anna.


Anna tiba-tiba bertanya pada Ken."Ken, kamu mau gak nikah sama aku? Kamu mau gak berkeluarga sama aku sekarang?"


"Hah? An, apa kamu nangis karena dimarahin opa dan Oma kamu? Makanya kamu ngomong kayak gini?"


"Enggak kok, ini keputusan aku...kamu cinta gak sama aku? Mau gak kamu nikah sama aku, Ken?" tanya Anna bersungguh-sungguh.


"Anna...kamu..."


"Ken, jawab!" pinta Anna agar Ken segera menjawab pertanyaannya.


Ken menghela nafas, kemudian dia malah bertanya pada Anna. "Kamu dimana?"


"Aku di kamar."


"Oke, jangan lupa buka jendelanya ya." jawab Ken yang lalu menutup telponnya begitu saja.


Tut...


"Hah? Kenapa dia tutup telponnya begitu saja? Nyebelin! Ngapain juga dia suruh aku buka jendela?" kata Anna mendengus kesal.


Anna pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Seusai solat magrib, Anna mendengar ada yang mengetuk pintu ke jendelanya.


"Kok kayak ada suara ya?" gumam Anna tak yakin. "Ah, biarin aja deh."


Tring!


Anna melihat pada ponselnya yang berdering, dia mengangkat telpon itu dengan malas. "Apa sih?"


"Buka jendela! Lihat ke bawah!"


Ken langsung menutup lagi telponnya. Anna kesal, dia pun berjalan ke arah jendela dan membuka jendela kamarnya. Dia terpana entah melihat apa.


...*****...


Hai Readers ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜ sambil nunggu Novelku up, mampir karya temenku ya...seru banget ceritanya...๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช

__ADS_1



__ADS_2