Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 32. Menjemput istri


__ADS_3

..."Mungkin sekarang hatimu sedang terluka oleh sesuatu, hatimu sedang berada di dalam kegelapan. Tapi percayalah akan akan keindahan yang menantimu, akan ada cahaya yang menerangi mu. Mungkin setelah badai akan ada pelangi"...


...🍀🍀🍀...


#Flashback


Pagi-pagi buta, Amayra sudah bersiap-siap dengan membawa tas gendong besarnya. Entah berapa banyak baju yang dia bawa, gadis itu seperti akan pindahan rumah saja.


Melihat Nilam yang sedang pergi ke kamar mandi, Amayra berpamitan pada Nilam untuk menginap di rumah ayahnya. Nilam setuju, malah dia senang kalau Amayra berada di rumah ayahnya untuk waktu yang lama. Saat Amayra akan pergi, Bram juga sudah bangun pagi. Pria itu terlihat ngantuk, karena pekerjaan sebagai ob mengharuskan nya pergi ke kantor setiap pagi.


"Kamu mau kemana pagi-pagi begini? Bawa tas gede pula?" tanya Bram heran melihat Amayra.


"Saya mau pulang ke rumah ayah, ayah saya sedang sakit jadi saya harus merawat nya." jawab Amayra dengan wajah yang tidak ramah pada Bram.


"Terus kamu mau pergi pakai apa?"


"Naik angkot." jawabnya singkat.


"Naik motor ku saja. Itu karena jam segini gak ada angkot, jangan kepedean! Aku mengajak karena aku kasihan!" Bram mengajak Amayra naik motor bersama nya karena mobilnya disita oleh Cakra selama masa hukuman.


"Ya semua orang terlihat baik padaku karena kasihan, aku tau." gerutu Amayra dengan wajah cemberut.


"Kamu bilang apa?" Bram tidak mendengar jelas apa yang dikatakan oleh Amayra.


"Saya tidak mau pergi dengan om, saya mau cari kendaraan sendiri. Jalan kaki juga tidak masalah!" Amayra berjalan keluar dari rumah itu, dia sudah berada di dekat gerbang.


"Ta-tapi bayinya akan lelah!" ucap Bram khawatir.


Amayra langsung membalikkan badannya, karena dia terkejut dengan kata-kata Bram tentang anak di dalam perutnya. Pria itu seolah cemas pada Amayra dan anaknya. Amayra mengacuhkan nya dan terus berjalan keluar dari area rumah itu.


Bram mengendarai motornya, dia memaksa Amayra naik motor bersama nya karena tidak ada kendaraan yang lewat sepagi itu. Bram berusaha membujuk Amayra agar mau diantar olehnya. Nilam melihat semua itu dari balkon, dia heran kenapa akhir-akhir ini Bram jadi memperhatikan Amayra.


"Heh, kamu gak mau Satria tau kan kalau kamu pergi? Kalau kamu gak ikut aku sekarang, nanti dia keburu bangun." Bujuk Bram.


Amayra menatap tajam pada Bram, memang benar kepergian nya sepagi itu adalah rencana untuk menghindari Satria. Akhirnya Amayra berboncengan dengan Bram. Bram mengantar Amayra ke rumah ayahnya. Di sepanjang perjalanan, Bram bertanya tentang kondisi bayinya. Amayra menolak menjawabnya, karena dia merasa Bram tidak perlu tau. Sebelumnya Bram tidak mengakui keberadaan bayi itu. Bram sedikit merasa bersalah, dia harap agar Amayra bisa melupakan dan memaafkan masa lalu. Tentu saja Amayra menolak nya, masa lalu yang membuat masa depannya hancur tidak bisa dilupakan begitu saja.


Obrolan mereka harus terputus, ketika mereka sampai di rumah Amayra. Bram tidak disambut baik oleh Harun. Tidak ada kata dari Bram, pria itu langsung pergi begitu saja untuk pergi bekerja.


#End Flashback.


"May? Jawab ayah, kenapa kamu malah melamun?"


"Om Bram cuma kebetulan mau berangkat kerja dan dia mengantarku. Itu saja yah! Sudah ya yah, aku mah shalat dhuhur dulu terus siapkan makanan untuk ayah." Amayra menyudahi dan menutup semua obrolan nya tentang Bram dan Satria.


Harun hanya melihatnya dengan heran, seperti nya dia harus bertanya pada Satria nanti.

__ADS_1


3 hari kemudian..


Selama di rumah ayahnya, Amayra terlihat sedih dan murung. Meski dia tersenyum dan terus melanjutkan aktivitas nya seperti biasa.Namun, itu semua tidak menutupi kesedihannya. Setiap kali Harun memintanya untuk pulang, Amayra selalu beralasan kalau dia masih rindu dengan rumah lama dan ayahnya. Sesekali Cakra dan Anna menelpon Amayra untuk menanyakan keadaan nya dan bayi yang sedang di kandungnya.


Kenapa kak Satria tidak menghubungi ku? Apa dia benar-benar tidak peduli padaku?


Saat itu Harun sedang pergi bekerja seperti biasanya mengangkut sampah. Amayra baru pulang dari menjual kue nya, dia hanya duduk diam dan menonton televisi untuk mengisi rasa bosan nya. Setelah bosan menonton tv, Amayra pergi ke kamarnya. Dia melihat ada beberapa catatan kecil yang tersisa dan masih menempel di dinding. Disana tertulis semua rencana masa depan Amayra.


"Semangat Amayra!! Kamu pasti bisa, setelah kamu melahirkan anak ini, kamu pasti bisa melanjutkan perjalanan masa depanmu. Anak ini adalah amanah, berkah, yang akan membantumu dan bukannya penghalang." Perih hatinya setiap kali dia melihat seseorang berpakaian seragam putih abu. Hatinya sakit, ingin kembali sekolah seperti mereka. Namun, apa daya nya semua sudah terjadi, masa lalu tidak dapat diubah.


****


Di rumah keluarga Calabria, tepat pada hari minggu Satria mengambil cuti untuk beristirahat di rumah. Kebetulan dia melihat Anna yang akan pergi untuk menemui Amayra. Dia melihat Satria sedang duduk termenung di kamarnya, pria itu terlihat kesepian.


Biasanya setiap kali pada hari libur, aku selalu mengobrol dengannya, tapi sekarang dia tidak ada. Kenapa wajahnya selalu terbayang-bayang? Aku selalu merasa ada yang hilang sejak dia pergi dari rumah ini. Satria melihat lemari bajunya, tidak ada satupun baju Amayra yang tersisa disana. Hal itu membuat Satria berfikir bahwa Amayra tidak akan kembali lagi.


"Om!" panggil Anna pada Satria.


"Anna?" Satria menengok ke arah Anna yang menghampiri nya. Tangannya menutup lemari baju itu.


"Om, aku mau ke rumah Mayra."


"Ya?" Satria terlihat tidak fokus. Pikirannya melayang kemana-mana.


"Om bilang om gak peduli padanya, bukankah om sudah keterlaluan? Amayra itu istri om, ya walaupun dia hamil anaknya om Bram. Tapi statusnya adalah istri om Satria, kenapa om bersikap seperti ini padanya? Aku gak ngerti sama om Bram dan om Satria, apa menyakiti seorang wanita sudah menjadi hobi kalian berdua?" Anna protes pada Satria, dia kecewa pada kedua pamannya yang sudah menyakiti Amayra.


"Aku mau pergi jemput dia, terserah om mau ikut atau enggak. Aku khawatir sama dia dan sepupuku!" kata Anna sambil melangkah pergi dari sana.


"Tunggu An, om akan ikut dengan kamu!" Satria buru-buru mengambil jaketnya dan kunci mobil yang ada di atas ranjang.


Satria bertekad untuk memperbaiki hubungannya dengan Amayra dengan meminta maaf dan membawa istrinya kembali. Satria sadar kalau ada yang mengganjal hati nya dan ada yang hilang di dalam dirinya ketika dia mulai terbiasa melihat Amayra.


Padahal aku sudah berjanji untuk menemani dan melindungi nya walau bukan sebagai suami. Tapi aku malah mengabaikan nya seperti ini, bagaimana pun juga dia masih istriku secara hukum agama dan negara.


Anna tersenyum pada Satria, mereka berdua pun berangkat menuju ke rumah Amayra untuk menjemputnya. Anna senang karena Satria mau menjemput Amayra.


Amayra sendiri sedang pergi ke warung untuk membeli minyak yang sudah habis. Saat dalam perjalanan pulang, ada beberapa preman sedang nongkrong disana yang muncul entah dari mana dan menghadang jalan Amayra.


"Kenapa di warung Bu Mimin harus kehabisan minyak goreng sih? Jadi, aku harus beli jauh kan." gerutu Amayra kesal, dia memegang keresek berisi minyak goreng dan terigu.


"Mau kemana neng?" tanya salah satu preman yang berwajah menyeramkan itu.


"Maaf pak, saya mau jalan. Tolong jangan halangi jalan saya!" Amayra berusaha melewati ketiga preman itu.


Kenapa tidak ada orang lain disini selain aku? Aku harus minta bantuan para siapa? Biasanya jalan ini aman, kenapa bisa ada preman disini?

__ADS_1


Amayra merasa heran karena biasanya tidak ada preman disekitar jalan menuju ke rumahnya. Dia bertanya-tanya darimana preman ini berasal.


Tiga orang pria bertubuh besar itu, sengaja menghalangi jalan Amayra. Bahkan salah satu dari mereka memegang tangan Amayra dengan kasar. "Lepaskan saya! Kalian mau apa?!" Teriak nya sambil berusaha melepas diri nya.


Salah satu preman itu melepaskan cincin emas yang tersemat di jari Amayra. "Wow, ada cincin emas." preman berkumis itu memegang cincin Amayra.


"Balikin cincinnya! Itu cincin saya!" kata Amayra sambil berusaha mengambil cincin itu dari tangan preman.


Seorang preman lainnya mengambil gelang emas dan kalung milik Amayra. Wanita itu memohon agar cincinnya di kembalikan, karena cincin itu adalah cincin pernikahan nya. "Kalian boleh ambil semuanya, tapi jangan cincin itu! Saya mohon!"


"Gimana ya? Kami mau semuanya!"


Ketika berusaha mengambil cincin itu, preman bertopi mendorong Amayra dengan sengaja hingga wanita itu jatuh ke aspal.


BUGH!


"Astagfirullahaladzim!"


Tiga orang preman itu melarikan diri dengan membawa emas juga dompet Amayra dan meninggalkan wanita hamil itu sendirian disana. Amayra memegang perutnya yang terasa sakit sambil berteriak-teriak minta tolong. Kaki nya lemas, dia tidak bisa berdiri dengan benar.


"Tolong! Tolong!! Ya Allah... cincinnya, cincin pernikahan ku." Amayra melihat ada darah di aspal itu, berasal dari tubuhnya. "Darah! Ini darah apa?" Amayra panik.


Tanpa dia sadari ada seorang wanita di dalam mobil yang memperhatikan nya. Wanita itu tersenyum senang melihat Amayra kesulitan.


"May!"


"Mayra!"


Satria dan Anna kompak turun dari mobil, mereka menghampiri Amayra dengan panik."May! Kamu gak apa-apa??" tanya Anna cemas melihat posisi Amayra yang terduduk di aspal.


"Kak Satria? Anna?" Amayra terpana melihat


kedua orang itu tiba-tiba ada disana. Wanita itu masih terlihat bingung.


"May, kamu gak apa-apa?" tanya Satria sambil memandang Amayra dengan cemas. Amayra hanya menggeleng sambil menahan rasa sakit di perutnya.


"Ugghhh.." rintih nya kesakitan.


Anna melihat darah yang berada di bawah rok Amayra, "Om Satria! Ada darah!"


Kedua mata Satria membulat, dia langsung menangkap tubuh istrinya dengan wajah panik. "May, kamu tahan ya! Kita ke rumah sakit!"


"Om, ayo cepat!" Anna meminta om nya untuk cepat membawa Amayra ke rumah sakit.


Ketika semua orang panik melihat keadaan nya, Amayra masih memikirkan cincin pernikahan nya yang dibawa kabur.

__ADS_1


Wanita yang dari tadi memerhatikan Amayra, terlihat tidak senang dengan kehadiran Satria dan Anna. "Sialan! Bagaimana kalau anak yang ada di dalam perut nya itu tidak mati?"


...---***---...


__ADS_2