
...๐๐๐...
Tanpa bicara sepatah katapun, Amayra turun dari mobil dengan wajah kesalnya. Bersama suaminya dia masuk ke dalam rumah, satu payung untuk berdua. Sementara Bram masih menunggu Satria di dalam mobil, untuk memberikan adiknya tumpangan ke rumah sakit.
"May, kenapa?" tanya Satria yang langsung bisa menebak dari raut wajah Amayra, bahwa sang istri sedang kesal.
"Aku tidak apa-apa kak," jawab Amayra masih dengan wajah kesalnya.
Aku akan menganggap tidak mendengar hal ini. Ya Allah, sabar sabar.. Astagfirullahaladzim.
Wanita itu mengelus dada nya, dia mengucap istighfar di dalam hati berulang kali.
"May, ada apa?" tanya Satria cemas melihat istrinya terlihat kesal sembari mengelus dada.
Klakson mobil Bram berbunyi kencang, pria itu seperti sengaja ingin menganggu Amayra dan Satria yang sedang bicara berdua di depan rumah.
"Sudah sana cepat pergi kak, kakak kan ada jadwal operasi," Amayra kembali tersenyum lembut di depan suaminya.
Ada apa ya sama May?
"Ya sudah, aku pergi dulu ya.. de, baik-baik di rumah ya. Suruh ibu mandi air hangat sama minum yang hangat, biar ibu gak masuk angin," Satria mengelus perut buncit itu dan bicara pada nyawa yang berada di dalamnya. Amayra tersenyum melihat kelembutan sang suami, yang tulus mencintai dia dan anak nya.
Bram membunyikan lagi klakson nya, kali ini berbunyi lebih keras dari sebelumnya. Memperjelas bahwa dia sengaja.
"Kakak juga jangan lupa ganti pakai baju kering ya, aku tunggu kakak pulang," ucap Amayra pada suaminya.
"Iyah, aku pergi dulu ya May.. Assalamualaikum..," Satria mengucap salam, kemudian dia mendaratkan bibirnya pada kening sang istri.
Amayra tersipu malu dengan kecupan mesra penuh kasih sayang dari suaminya. Dia mencium tangan sang suami, mendoakan keberhasilan dan keselamatan nya dalam menjalankan tugas mulia.
Satria dan Bram pergi meninggalkan Amayra sendirian di rumah itu. Satria duduk di samping kakaknya. Dia melihat pipi kakak nya merah seperti habis dipukul.
"Kenapa pipi mu kak?" tanya Satria sambil mengencangkan sabuk pengamannya.
"Tidak apa," jawab Bram cuek sambil menyetir.
__ADS_1
Ada apa dengan Amayra dan kak Bram? Apa mereka saling berbicara selagi aku tidak ada?
"Apa yang kakak bicarakan pada istriku?" tanya Satria tidak berbelit-belit langsung pada intinya.
"Kamu selalu peka sama seperti biasanya. Tapi, aku rasa lebih baik kamu tanyakan saja pada istri mu. Oh, apa jangan-jangan istrimu tidak mengatakan apa yang kami berdua bicarakan?" Bram tersenyum menyeringai, dia seperti berniat memanasi Satria.
Satria penasaran dengan apa yang dibicarakan Amayra dengan kakak nya. Satria terdiam, karena memang Amayra tidak bicara apa-apa padanya. "Dia bukan tidak mengatakan, tapi belum mengatakannya," ucap Satria tegas.
Bram memicingkan mata melihat sekilas ke arah Satria, dia melihat ada ketakutan pada diri adiknya. Ada rasa terancam di mata Satria. Bram tersenyum menyeringai melihat adiknya seperti itu.
Sepulang dari rumah sakit nanti, aku akan bertanya padanya.
"Rupanya hubungan kalian masih sama seperti sebelumnya ya," Bram tersenyum mengejek, mengomentari hubungan Amayra dan Satria.
Satria menoleh ke arah kakaknya,"Maksud kakak?"
"Kalian masih seperti orang asing," jawab Bram.
"Kakak ini sebenarnya ingin bicara apa sih?" tanya Satria tidak senang mendengar sang kakak terus memancing mancing sesuatu di dalam dirinya.
"Satria, apa kamu berniat menjadi ayah dari bayi ku selamanya?" tanya Bram dengan senyuman sarkastik nya.
Bram hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan Satria, dia berhasil memancing Satria untuk penasaran. Satria yakin kalau Bram memiliki niat terselubung dalam rumah tangganya.
Satria menjadi semakin waspada pada Bram, pria yang ingin merusak rumah tangganya.
****
๐Rumah sakit๐
Nilam bersama dengan Anna di rumah sakit, dia melihat neneknya baru saja tertidur pulas setelah meminum obat. "Huuuhh, akhirnya Oma tidur juga," Anna menghela napas panjang, dia terlihat lelah mengurus neneknya.
Pintu ruangan itu terbuka, terlihat lah Cakra sudah berdiri disana. "Anna, kamu pulang saja sayang! Besok kan kamu harus siap-siap untuk kuliah ke luar negeri," Cakra menyuruh Anna untuk pulang ke rumah. Tak lama lagi Anna akan segera pergi ke luar negeri untuk melanjutkan kuliah.
"Opa, mana mungkin aku meninggalkan om di dalam keadaan seperti ini. Aku gak bisa meninggalkan Oma," Anna berat hati pergi kuliah keluar negeri meninggalkan neneknya yang masih berada dalam keadaan stroke itu.
__ADS_1
"Oma mu akan segera sembuh, banyak yang merawatnya disini. Pergilah sayang, opa akan merawat Oma mu," Cakra mengelus kepala Anna dengan lembut.
Ketika cucu dan kakeknya sedang mengobrol, Bram dan Satria datang ke kamar itu untuk melihat kondisi Nilam. Wanita tua itu tertidur sangat lelap.
1 bulan kemudian...
Keadaan Nilam masih sama, dia masih duduk di kursi roda dan belum menunjukkan tanda-tanda kesembuhan. Selama satu bulan itu, Amayra selalu datang setiap hari ke rumah keluarga Calabria untuk mengurus ibu mertuanya dengan sabar. Sementara Anna sudah pergi keluar negri untuk melanjutkan kuliahnya.
Kandung Amayra sudah menginjak usia 7 bulan dan perutnya semakin besar saja. Dia sudah mulai kesulitan berjalan.
"Ma, mama makan dulu ya. Biar May suapi," Amayra tersenyum, dia mengangkat sendok berisi nasi dan sayur sop untuk ibu mertuanya.
"Iyaaa," jawab Nilam dengan wajah cueknya seperti biasa.
Selama satu bulan ini, dia selalu bersikap baik kepadaku. Padahal aku selalu memperlakukan nya dengan buruk. Nilam menatap Amayra dengan sedikit rasa bersalah di hatinya.
Alhamdulillah sikap mama sudah menjadi lebih baik padaku.
Amayra tersenyum senang sambil menyuapi ibu mertuanya. Setelah selesai menyuapi ibu mertuanya makan dan minum obat, Amayra pamit karena dia harus berjualan kue seperti biasanya. "Mama, May pamit dulu ya, mama sama Bi Lulu dan Bi Dewi di rumah ya," Amayra tersenyum penuh kasih sayang.
Ketika Amayra akan pergi, Nilam memegang tangannya. "Ya ma? Ada apa?"
"Perwutt.. perwutt!" Nilam melihat ke arah perut buncit wanita hamil itu. Amayra mengerutkan kening, berusaha menerka apa maksud Nilam.
"Maksud mama perut?" tanya Amayra sambil memegang perut buncitnya. Nilam menjawab dengan anggukan sambil tersenyum. "Mama mau lihat perutku?" tanya Amayra lagi.
Nilam mengangguk sambil memegang tangan Amayra. Amayra berjalan semakin mendekat ke arah ibu mertuanya. Nilam mengelus perut buncit Amayra, sambil tersenyum penuh kasih sayang. Tidak dengan senyuman sinis dan tatapan tajam seperti biasanya.
"Bayinya menendwang," Nilam tersenyum bahagia, saat dia merasakan ada yang menendang di dalam sana.
"Iya ma, aku juga merasakan nya," Amayra menjawab ibu mertuanya dengan senyuman lembut.
Tiba-tiba terucap pengakuan tak terduga meluncur dari mulut Nilam, "Cucuku, ini cucuku,"
"Mama bilang apa?" tanya Amayra terpana mendengar ucapan Nilam.
__ADS_1
...---***---...
Sambil nunggu ini up, Readers bisa mampir dulu ke tahanan cinta CEO, Second life Liliana atau novel author yang tamat lainnya ya ๐ฅฐ๐ฅฐ