Cinta Suci Amayra

Cinta Suci Amayra
Bab 230. Tamat riwayatnya Clara!


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Clara kaget bukan main, melihat Satria ada dua dimatanya. Dia tercengang, menatap keduanya berkali-kali memastikan bahwa yang dia lihat itu bukanlah mimpi.


"Ke-kenapa..."


"Kaget? Kenapa Satria ada dua?" tanya Bima dengan suara yang meninggi, dia menunjukkan perangainya sebagai diri sendiri. "Ah...aku lelah terus berpura-pura didepanmu wanita rubah." desis Bima sambil tersenyum sinis.


"Kamu...apa kamu bukan Satria?" tanya Clara pada Bima, kedua matanya melebar terkejut bukan main.


"Clara, kamu menanyakan hal yang tidak penting! Kak Bima, tolong langsung bereskan saja." ucap Satria pada kakaknya itu.


"Oke." Bima patuh.


Kemudian terlihatlah 4 orang polisi sudah datang kesana untuk menangkap Clara. Salah satu dari mereka membawa borgol, diperuntukkan bagi Clara.


"Silahkan pak, tersangkanya ada disini." ucap Bima mempersilakan polisi menangkap Clara.


Clara panik melihat polisi, sontak saja dia berlari dan tujuannya sudah jelas ingin melarikan diri. Namun, Bima dan salah satu polisi berhasil mengemukakannya. Clara meluapkan semua emosinya pada Bima karena dia sudah menipunya.


"Ternyata kamu penipu! Kamu bukan Satria! Kamu jahat!" Clara berteriak sambil menangis, kedua tangannya sudah diborgol oleh polisi.


"Heh cewek rubah! Emang aku pernah bilang kalau aku Satria?" Kata Bima kesal, dia tidak ragu lagi menunjukkan sisi premannya.


"Kamu jahat...kalian jahat, Amayra, Satria dan penipu! Kalian pasti akan dapat KARMA!" Teriak Clara pada si kembar dan Amayra dengan penuh emosi jiwa.


"Clara kamu masih belum kapok juga ya? Aku doakan semoga setelah kamu sampai dipenjara nanti, kamu akan bertaubat dan kembali ke jalan yang benar. Menyadari semua kesalahanmu, menjadi pribadi yang lebih baik...aku mendoakan kamu dengan tulus." ucap Amayra dengan tatapan penuh harapan seraya mendoakan Clara.


"Cuih! Jangan sok suci kamu ya! Kamu itu cuma benalu, aib, pezinah! Wanita kotor yang gak punya harga diri, membuat malu keluarga dengan kain yang terpasang dikepalamu, munafik!" Clara mendengus emosi dan melontarkan hinaan untuk Amayra.


"Diam kamu! Sudah tamat saja masih banyak omong," ucap Bima dengan suara kencang.


"Pak, bawa dia!" seru Satria pada polisi itu untuk segera membawa Clara pergi dari sana.


Clara menangis, dia tidak bisa berlari kabur darisana. Riwayatnya memang sudah tamat seperti apa kata Bima.


"Beraninya dia menghina istriku yang paling cantik, Sholehah sedunia ini." gerutu Satria dengan suara pelan.


"Kamu bilang apa mas?" Amayra menoleh ke arah suaminya.

__ADS_1


"Ehem, apa ya." Satria mengangkat dagunya, matanya memutar kesana kemari.


"Mas..."


"Cantik, Sholehah sedunia...paling aku sayang."


Amayra menundukkan kepalanya dengan malu, dia terlihat menyembunyikan wajah malunya itu. Mendapatkan pujian setinggi langit, membuat dirinya meleleh. Padahal dia tidak boleh begitu, tapi Satria membuatnya merona.


"Ehem, jadi kita sudah bisa pulang nih?" tanya Bima pada kedua orang itu sambil berdehem. Tak tahan dengan kemesraan Satria dan Amayra.


"Oh iya, ayo kita pulang. Urusan Clara sudah tamat..." ucap Satria lega.


"Iya mas, semoga dengan hukuman ini Clara bisa jera agar dia bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi." Ucap wanita hamil itu sambil tersenyum.


"Aamiiin." jawab Bima dan Satria bersamaan.


Mereka pun kembali pulang bersama-sama ke rumah Calabria.


*****


Disebuah restoran mewah, Cakra, Nilam, Dimas, Anna dan Ken sedang makan malam bersama sambil membicarakan tentang pernikahan Ken dan Anna.


Perasaan mereka berdua juga sudah mantap untuk menikah muda dan insya Allah mereka sudah siap membangun bahtera rumah tangga, menghadapi segala konsekuensi pernikahan.


"Jadi, mau tanggal 18 Agustus saja?" tanya Dimas pada pasangan suami istri yang duduk berhadapan dengannya itu.


"Iya pak, saya setuju." jawab Nilam.


Ketika para orang tua sedang mengobrol tentang pernikahan mereka, Anna dan Ken pergi diam-diam ke lantai atas restoran itu. Disana terlihat view yang tampak indah.


"Aku baru tau restoran ini sangat indah pemandangannya pada malam hari." Anna terpana melihat pemandangan dari balkon lantai dua restoran itu.


"Sebenarnya gak begitu indah sih." Ken menatap Anna dengan nanar.


"Terus apa dong yang indah?"


"Kamu, indah." Ken tersenyum, mulutnya mengeluarkan kata manis yang membuat Anna berdebar.


Anna tercekat mendengarnya. "Kamu gombal deh..."

__ADS_1


"Aku gak gombal, serius...kamu indah, cantik dan aku akan melihat kamu setiap harinya setiap bangun tidur." Ken tidak dapat membayangkan bahwa dia akan menikah dengan wanita pujaannya itu. Wanita yang selalu beradu mulut dengannya di masa lalu.


"Ken..."


Cup!


"Ken! Kenapa kamu menciumku?" Anna memegang pipinya yang baru saja mendapatkan kecupan manis dari Ken.


"Bukan ciuman, tapi kecupan. Kecupan sama ciuman beda ya." Ken tersenyum manis.


Keduanya saling melemparkan senyum dengan bahagia. Mereka bersiap menangkan hari-hari indah mereka.


...*****...


Hai Readers, Author ada rekomendasi novel yang bagus banget untuk kalian wajib mampir 😉😉 sambil menunggu novel ku up..


Silahkan intip cuplikannya yuk 🤫


.


.


"Jangan terlalu bahagia dengan semua yang kulakukan ini," bisik Syakir yang membuat bulu kuduk Humai merinding. "Ini hanyalah paksaan dan setelah ini, kau akan tahu bagaimana kehidupan yang kau inginkan sebenarnya." 


Syakir tetap menatap Humai dengan pandangan rendah. Bahkan dia langsung membuang wajahnya karena tak mau menatap wajah itu lagi. Wajah yang menurutnya merusak segala hal yang ia inginkan. 


Wajah dari wanita yang merebut kasih sayang kedua orang tuanya. Wajah yang merusak masa depan indahnya. Semua itu sudah sirna dan itu karena Humaira dan anak yang dikandungnya. 


 "Jangan pernah menatapku seperti itu, Wanita bodoh!" seru Syakir saat Humai menatapnya dengan lekat. "Aku sangat membencimu dan aku tak mau melihatmu lagi! Enyahlah dari duniaku bersama anak haram ini!" 


Jantung Humai mencelos. Dia menunduk dan tanpa sadar langsung memegang perutnya. Wanita itu merasa sakit ketika kata-kata itu keluar dari bibir Syakir. Namun, Humai tak bisa melakukan apapun.


Saat ini Syakir telah menjadi suaminya. Dia tak bisa melawan balik dan memilih diam. Humai juga tak mau membuat kekacauan disini. Dia tak mau Syakir semakin membencinya saat kedua orang tuanya terus membelanya daripada putranya sendiri. 


"Kau mau mengadu? Silahkan!" seru Syakir dengan pelan karena melihat kedua orang tuanya hendak ke arah mereka. "Tapi jangan salahkan aku, jika kau dan anakmu ini, akan mendapatkan sakit yang lebih dari ini dariku!" 


Gimana? Seru kan 😉 ikuti kelanjutannya disini ya 😍❤️


__ADS_1


__ADS_2