
Saat ini, mobil yang dikemudikan oleh Zafer baru saja melewati toko buah. Ia berpikir jika pergi ke rumah sakit dengan tangan kosong sangat memalukan, akhirnya memilih untuk berhenti di salah satu tokoh yang menyediakan beraneka ragam buah.
Setelah menepikan mobil dan melangkah turun, ia mengedarkan pandangan pada jenis buah yang akan dibeli. "Buah apa yang harus kubeli? Bahkan aku sama sekali tidak tahu buah apa yang disukai oleh menantu kesayangan mama."
Zafer yang saat ini melihat parcel buah yang sudah disusun dengan sangat cantik, tengah mempertimbangkan untuk membeli itu saja karena di dalamnya ada berbagai macam.
"Selamat datang, Tuan. Mau membeli buah apa?" sapa sosok wanita yang saat ini baru saja melayani pembeli saat baru saja membayar dan beranjak pergi.
Zafer yang masih bersikap sangat datar, mengarahkan jari telunjuk pada keranjang berisi buah tersebut. "Aku ingin melihat itu."
Sebenarnya ia tidak pernah melakukan hal seperti ini, yaitu membeli buah untuk orang yang sakit. Dari dulu, sangat tidak suka dengan tempat persinggahan orang-orang yang mengalami penyakit dan identik dengan bau obat.
Meskipun di zaman sekarang ini, rumah sakit sudah sangat berbeda dan tidak seperti dulu lagi.
Sekarang banyak rumah sakit yang bersih dan sama sekali tidak tercium bau obat sama sekali. Asalkan siap merogoh kocek dalam, bisa dirawat di rumah sakit yang bagaikan hotel.
Zafer ingin memastikan bahwa tidak ada buah yang busuk di dalam keranjang itu karena berpikir itu sudah berhari-hari dan mungkin saja ada satu atau dua yang tidak layak makan.
Wanita tersebut menganggukkan kepala dan mengambil parcel buah. Kemudian menyerahkan pada pelanggan yang terlihat sangat jelas adalah keturunan konglomerat.
Karena semua yang dipakai sudah terlihat jelas adalah barang-barang mahal. "Silakan, Tuan. Di dalamnya ada apel, pir, anggur, pisang, jeruk dan terakhir adalah manggis. Semua masih segar dan baru saja dibungkus hari ini."
Tanpa menoleh ke arah wanita tersebut, Zafer masih ingin memastikan sendiri dengan matanya yang jeli mengamati berbagai macam buah tersebut.
Sampai pada indra pendengaran menangkap suara seorang pria di dekat tempatnya berdiri.
"Tolong buatkan aku parcel buah yang baru karena ingin menjenguk orang sakit. Apakah bisa?"
"Tentu saja bisa, Tuan. Anda pilih saja buahnya yang akan dibuat parcel. Saya akan menyiapkan peralatan." Berlalu pergi meninggalkan pria yang saat ini sudah sibuk memilih buah.
__ADS_1
Sementara itu, Zafer yang merasa tidak terpikirkan untuk menyuruh pegawai wanita itu membuatkan parcel buah baru, tetapi sibuk untuk melihat apakah ada yang busuk.
Merasa ingin mengetahui seperti apa pria yang dianggapnya memiliki ide tersebut, Zafer kini menoleh ke arah sebelah kanan.
Terlihat pria dengan berpakaian santai sepertinya setengah menunduk menatap ke arah buah dan memasukkan ke dalam keranjang.
Zafer menyipitkan mata karena merasa seperti pernah melihat pria itu dari samping.
'Kenapa aku merasa seperti pernah melihat pria ini?' gumam Zafer yang masih merasa penasaran dan berniat untuk menyapa pria tersebut agar bisa menatap dengan jelas.
"Apakah Anda ingin membeli itu, Tuan"
Zafer yang tadinya ingin membuka mulut untuk berbicara pada pria yang seperti telah dilihatnya, tidak jadi melakukan karena pelayan toko buah tersebut kembali mengganggu.
Bahkan sebenarnya merasa sangat risi jika selalu ada yang bertanya, sampai berpikir bahwa para pegawai di sana mengira ia hanya melihat-lihat tanpa membeli.
Tidak ingin semakin merasa pusing gara-gara ulah wanita yang bekerja di toko buah tersebut, Zafer saat ini memilih untuk menganggukkan kepala dan menyerahkan parcel buah tersebut.
Ada dua pegawai wanita yang saat ini sedang melayani pelanggan termasuk dirinya dan pria yang masih asyik memilih buah. Saat Zafer menunggu kartu kreditnya kembali, mendengar kembali suara dari pria yang berdiri cukup jauh darinya.
"Tolong tulis ucapan juga pada parcel buahnya."
"Baik, Tuan. Dengan nama siapa?" tanya pegawai yang sedang memegang kertas dan pulpen di tangan.
Saat Zafer mendengar pembicaraan dari pria yang memantik rasa ingin tahu dan penasaran, merasakan wanita yang menepuk pundak.
"Maaf, Tuan. Ini sudah selesai." Menyerahkan kartu berwarna hitam tersebut pada pelanggan dan juga parcel
Zafer seketika menolehkan kepala dan menerima kembali kartu kredit tersebut. Sampai beberapa detik kemudian, mendengar sesuatu yang membuatnya menyadari bahwa apa yang tadi sempat membangkitkan rasa ingin tahu mulai terjawab sudah.
__ADS_1
"Nama lengkap atau panggilan saja?"
"Kalau mengenai itu, terserah Anda." Bersiap untuk menuliskan pada kartu ucapan yang akan dimasukkan dalam parcel buah tersebut.
"Putramu yang tampan, Rey Bagaskara."
Zafer yang tadi sempat berjalan beberapa langkah, seketika berhenti bergerak dan terdiam di sana. 'Nama itu?'
Refleks Zafer langsung berbalik badan untuk memastikan bahwa pria tersebut adalah mantan suami Tsamara yang dari tadi pagi membuat pikirannya dihantui dengan rasa penasaran sekaligus kekesalan.
"Rey Bagaskara!" Akhirnya Zafer berhasil membuat pria yang dari tadi memunggungi tersebut berbalik badan dan bersitatap dengannya.
Bisa dilihat pria yang saat ini tengah bersikap sangat tenang dan menatap penuh rasa heran.
"Apa kita pernah bertemu?"
Hanya senyuman masam yang saat ini terukir dari bibir Zafer. "Kau memang sangat pandai playing victim. Apakah kau sengaja mengikutiku sampai di sini?"
Sementara itu, Rey Bagaskara yang merupakan langganan toko buah tersebut, seketika terbahak atas tuduhan yang dilayangkan dan tidak pernah dilakukannya.
"Memangnya siapa yang mengikutimu? Apakah kau berfikir bahwa aku tidak mempunyai kesibukan? Sampai menuduh jika aku mengikutimu." Rey saat ini hanya geleng-geleng kepala karena tuduhan tidak berdasar.
Kemudian mengarahkan jari telunjuk pada wanita yang terlihat tengah sibuk membungkus buah dalam keranjang dan langsung dihias secantik mungkin.
"Aku bahkan sering datang ke sini dan mereka sangat mengetahui ketika aku membeli buah. Apalagi aku suka membelikan buah untuk ibuku. Bukankah begitu, Nona?"
"Ya, itu memang benar, Tuan. Bahkan terkadang ibu Anda yang datang sendiri ke sini. Jadi, sangat hafal dengan ibu Anda." Pegawai wanita tersebut baru saja menyelesaikan pekerjaan menyulap keranjang buah menjadi sangat cantik.
Rey tidak habis pikir dengan tuduhan pria yang sama sekali tidak dikenal, tetapi merasa penasaran tentang hal yang membuat pria itu seperti dipenuhi oleh kekhawatiran.
__ADS_1
"Sebenarnya kau siapa dan kenapa mengira aku membuntutimu. Bagaimana mungkin aku punya waktu membodohi orang tidak penting saat banyak pekerjaan menanti. Siapa yang bodoh di sini sebenarnya?" tanya Rey Bagaskara yang kini ingin tahu siapa sebenarnya sosok pria yang berdiri di hadapannya tersebut.
To be continued...