Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Tuduhan


__ADS_3

Tsamara saat ini memeluk erat Keanu yang berada di pangkuan begitu mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Bahkan saat dirinya dikuasai oleh amarah atas perkataan dari pria di balik kemudi itu baru saja mengatakan hal yang seperti menganggapnya hanyalah seorang wanita murahan.


Akan tetapi, melihat jika perbuatan Zafer seperti melampiaskan kekesalan dengan mengemudikan kendaraan sangat kencang karena marah padanya.


Apalagi tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang baru saja diajukan tadi, Tsamara semakin bertambah kesal ketika melihat wajah Zafer seperti menahan amarah.


"Apa kamu ingin mengirim kami ada kematian? Hingga mengemudikan mobil dengan ugal-ugalan dan tidak memikirkan keselamatan?" Tsamara hanya memikirkan keadaan putranya jika sampai mobil menabrak kendaraan lain karena melaju dengan kecepatan sangat tinggi.


Sementara itu, Zafer masih merasa kesal pada perkataan Tsamara yang tidak bisa mengerti bahwa sebenarnya tadi hanya bercanda, menulis sekilas dan tersenyum menyeringai.


"Tenang saja, jika kita sampai pada kematian, akan bertemu di sana. Namun, aku masih ingin hidup dan menikmati tubuhmu sampai puas," ucap Zafer yang saat ini kembali berkonsentrasi menatap jalanan.


Sementara itu, Tsamara yang tengah mengepalkan tangan karena dikuasai oleh emosi atas perkataan vulgar dari pria itu, benar-benar seperti mau meledak amarah yang membuncah di dalam hati.


Namun, berusaha sekuat tenaga untuk menahan diri agar tidak semakin memancing pria itu berbicara vulgar dan juga melampiaskan amarah dengan semakin menambah kecepatan dan membahayakan nyawa putranya.


'Aku sama sekali tidak takut mati, tapi putraku harus tetap hidup dan menjalani kehidupan di dunia ini dengan baik. Sabar dan tahan amarahmu, Tsamara. Jangan semakin berbuat bodoh hanya karena terpancing oleh perkataan pria berengsek ini.'


Tsamara yang sibuk menormalkan perasaan agar tidak meluapkan amarah pada Zafer, kini sedikit merasa lega begitu kecepatan sudah dikurangi dan mobil tidak melaju dengan sangat cepat seperti beberapa saat lalu.


Zafer yang tadinya ingin mendengar apa jawaban dari Tsamara karena berpikir bahwa wanita itu akan kembali berbicara kasar padanya, tetapi kenyataan tidak seperti itu. Ketika sama sekali tidak ada komentar apapun, sehingga saat ini amarah yang tadi dirasakan telah berkurang.


Akhirnya tidak lagi membuka suara karena berpikir bahwa itu hanya akan menambah perdebatan di antara mereka, Zafer akhirnya bersikap biasa dengan mengurangi kecepatan menuju ke kontrakan Tsamara.


Zafer bahkan saat ini melirik mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kiri dan merasa bahwa masih ada waktu untuk melihat apa yang terjadi di kontrakan Tsamara.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, mobil mewah berwarna hitam tersebut sudah memasuki gang dan menginjak pedal rem begitu tiba di depan sebuah rumah yang dulu menjadi saksi bisu atas pernikahan mereka.


Kemudian Zafer beranjak turun dari mobil dan berjalan memutar untuk mengambil kursi roda, lalu membantu sang istri untuk duduk di sana dengan cara menggendong.


Bahkan meskipun saat ini harus mengeluarkan tenaga ekstra karena menggendong dua orang berbeda usia tersebut, Zafer sama sekali tidak mengeluh.


Namun, begitu berhasil menurunkan Tsamara di kursi roda, berbisik di dekat daun telinga yang tertutup dengan hijab. "Tenagaku sudah banyak terforsir hari ini karenamu. Mulai dari sofa dan sekarang menggendongmu seperti ini. Padahal Aku belum sarapan."


Saat Tsamara ingin membuka mulut untuk menjawab dengan menyalahkan karena sama sekali tidak menginginkan Zafer melakukan semua itu, tetapi tidak jadi melakukan karena mendengar suara dari orang kepercayaan.


"Selamat datang Tuan dan Nyonya." Wanita berusia 30 tahun itu membungkuk hormat begitu berada di hadapan majikan.


Zafer hanya tersenyum dan tidak membuka suara karena sebenarnya tadi ingin mengetahui jawaban apa yang diungkapkan oleh Tsamara atas godaannya.


'Sial! Wanita ini datang di saat waktu yang tidak tepat karena aku ingin mendengar jawaban Tsamara, tetapi gagal.' Zafer yang baru saja bergumam di dalam hati, memilih untuk segera berjalan masuk ke dalam kontrakan karena ingin melihat apa yang terjadi.


"Baiklah. Semua orang masih sibuk memasak dengan memindahkan kompor di ruang depan. Jadi, keadaan dapur masih sama dan belum dibereskan sesuai dengan permintaanmu." Menggendong anak laki-laki yang terlihat menggemaskan tersebut dan tersenyum sambil mencubit gemas pipi ambil tersebut.


Tsamara kemudian memilih untuk mengarahkan kursi roda dengan memencet tombol otomatis menuju ke arah pintu masuk kontrakan yang selama ini menjadi tempat produksi dari usaha catering yang sudah terkenal di mana-mana.


Begitu masuk ke dalam ruangan, mendapatkan sapaan dari semua orang dan langsung menuju ke dapur untuk melihat semua yang terjadi akibat ulah dari para perampok yang bahkan tidak mengambil satupun barang.


Tsamara bahkan melihat punggung lebar pria yang saat ini tengah memeriksa dapur.


'Kenapa Zafer tidak segera pergi ke kantor? Buat apa melihat dapur berantakan karena ulah perampok? Memangnya mau menangkap penjahat? Atau ingin bersikap sok pahlawan di depanku?'

__ADS_1


Saat Zafer bergumam di dalam hati sambil menatap bahu lebar dari Zafer yang tiba-tiba berbalik badan dan menatapnya, sehingga membuatnya merasa sangat terkejut karena bersikap dengan iris tajam tersebut.


Zafer yang merasa sangat heran dengan pemandangan di hadapan begitu memeriksa kekacauan yang dibuat oleh para perampok dan merasa curiga bahwa itu merupakan sebuah konspirasi untuk menghancurkan bisnis catering Tsamara.


Begitu, bersitatap dengan Tsamara, kini berjalan mendekat untuk mengungkapkan apa yang ada di pikiran. "Aku sangat yakin bahwa yang melakukan ini adalah orang-orang suruhan dari mantan suamimu itu."


"Bukankah perusahaan bajingan itu yang memesan catering? Jika kamu sampai gagal mengirimkan pesanan makanan dari perusahaan Bagaskara, aku yakin Rey akan menuntutmu dan menggunakan itu sebagai sebuah kelemahan."


Zafer merasa sangat yakin dengan apa yang dipikirkan, saat ini langsung meraih ponsel yang ada di dalam saku jas dan menelpon detektif untuk menyelidiki hal ini.


Sementara itu, Tsamara yang tidak pernah memikirkan hal itu, kini tengah mempertimbangkan perkataan pria di hadapannya tersebut.


'Apa benar apa yang dikatakan oleh Zafer? Itu memang bisa saja terjadi karena Rey berpikir akan memanfaatkan hal itu untuk menyerangku demi bisa mendapatkan Keanu. Menyerang titik terlemah dari lawan, memang merupakan cara yang tepat untuk menang dan sepertinya Rey memakai cara kotor agar aku menyerah.'


Beberapa saat kemudian tersadar dari lamunan begitu mendengar suara bariton dari Zafer yang bahkan sudah menggerakkan jari di depan wajah Tsamara.


"Apa kamu tidak yakin dengan perkataanku?" Zafer menyipitkan mata ketika melihat wanita di hadapannya tersebut sama sekali tidak berkomentar dengan tuduhan yang baru saja diungkapkan.


Sementara itu, Tsamara saat ini masih merangkai kata-kata yang tepat untuk menanggapi Zafer. Kemudian langsung membuka suara untuk menyampaikan apa yang ada di pikiran saat ini.


"Hal seperti ini hanya bisa dilakukan oleh seorang bajingan dan aku merasa heran Bagaimana kamu bisa berpikir seperti itu saat aku bahkan tidak pernah memikirkan kemungkinan seperti ini. Ataukah kamu sudah terbiasa melakukan cara kotor seperti ini, sehingga sangat hafal dengan perbuatan para penjahat?"


Zafer sama sekali tidak pernah menyangka akan mendapatkan sebuah tamparan keras dari seorang wanita yang jelas-jelas tengah menyindir. Refleks Zafer tertawa terbabak karena merasa seperti seorang penjahat tertangkap basah ketika melakukan perbuatan baik untuk menolong.


"Wah ... ternyata kamu saat ini kembali menunjukkan sifat aslimu yang ternyata merupakan seorang wanita bermulut tajam. Bahkan aku membantumu, tetapi sama sekali tidak mendapatkan ucapan terima kasih."

__ADS_1


"Namun, mendapatkan tuduhan secara tidak langsung bahwa aku adalah seorang penjahat seperti mantan suamimu itu. Bukankah kamu ingin mengatakan hal itu padaku, tetapi tidak secara langsung karena memakai sebuah peribahasa?"


To be continued...


__ADS_2