Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Pertanyaan ibu mertua


__ADS_3

Tsamara hanya diam membisu ketika merasakan saat pria di atas tubuhnya tersebut sudah mencapai puncak kenikmatan. Hanya ketakutan yang saat ini dirasakan jika sampai berakhir hamil karena perbuatan Zafer.


Meskipun seharusnya tidak khawatir karena pria tersebut merupakan suami sah, tetapi sesuatu dipikirkan adalah perasaan Rayya yang selama ini berpikir jika di antara mereka tidak akan pernah terjadi hal seperti ini.


Sementara itu, Zafer yang saat ini masih berusaha untuk menormalkan deru napas memburu setelah mendapatkan apa yang dicari, masih belum berniat untuk beranjak dari atas tubuh polos wanita dengan bibir terkunci rapat tersebut.


Kemudian, sedikit menarik wajah, agar bisa melihat dengan jelas wajah memerah Tsamara yang bahkan sudah dipenuhi oleh bulir peluh di pelipis. Ia mengarahkan ibu jari untuk membersihkan sambil tersenyum menyeringai.


"Sepertinya aku terlalu memforsir tenagamu. Hingga kamu pun berkeringat seperti ini, Istriku." Zafer bahkan berbicara dengan berbisik di dekat daun telinga Tsamara karena tidak ingin terdengar siapapun.


Apalagi saat ini sang ibu masih mengetuk pintu dan tidak pernah menyerah, sehingga membuatnya merasa kesal karena mengganggu kesenangannya.


Kemudian segera bangkit dari atas tubuh Tsamara karena ingin mengambil pakaian wanita yang masih tidak bergerak sedikit pun.


Sementara itu, Tsamara yang tidak bisa berkata apapun, merasa degup jantung seperti mau meledak begitu hari ini terjadi beberapa momen intim yang dilakukan oleh Zafer.


Tsamara memang berpeluh karena merasa sangat khawatir sekaligus takut jika sampai ibu mertuanya mengetahui jika Zafer berada di sini. Pasti akan langsung berpikiran buruk karena mengunci pintu.


'Apa yang harus katakan pada mama?' gumam Tsamara yang saat ini merasa sangat terkejut begitu melihat Zafer berjalan mendekat setelah mengambil pakaian dan memberikan padanya.


"Cepat pakai karena aku akan membuka pintu." Zafer yang baru saja mengambil pakaian milik Tsamara dan memberikan, sama sekali tidak berniat untuk membantu karena seperti sengaja.


Tentu saja sengaja menyiksa Tsamara agar wanita itu terburu-buru saat berpakaian sendiri ketika akan membuka pintu untuk sang ibu.


Kemudian ia pun langsung memakai celana panjang yang tadi dilemparkan ke sembarang arah ketika dikuasai oleh gairah.

__ADS_1


Sementara itu, Tsamara menelan ludah dengan kasar begitu mendengar apa yang dikatakan oleh Zafer saat ini. Saat langsung memakai gaun panjang di tubuh, ia ingin menghentikan pria itu dengan berbicara sangat lirih.


"Tolong aku ke kursi roda itu. Biarkan aku yang membuka pintu dan kamu bersembunyilah di dalam kamar mandi. Aku tidak ingin mama berpikiran buruk. Apalagi jika nanti sampai ke telinga istrimu."


Tsamara masih mencoba untuk mengingatkan Zafer agar tidak berbuat macam-macam dan bersikap bodoh dengan mengambil resiko. "Rayya akan sangat marah jika mengetahui berakhir di sini dengan mengunci pintu. Apa yang mereka pikirkan selain kita berbuat ...."


Saat ini, Tsamara tidak bisa melanjutkan perkataan karena merasa sangat konyol menyebut kita. Padahal hanya pria itu yang memaksa, bukan melakukan dengan dasar saling mencintai dan suka sama suka.


'Dasar bodoh! Kenapa aku menyebut kita? Bahkan bukan aku yang merayu ataupun mengajaknya bercinta. Pria arogan itu bahkan baru saja memperkosaku. Meskipun merupakan suami yang sah, tetapi ini adalah sebuah pemaksaan,' lirih Tsamara yang saat ini merasa sangat miris dengan takdir hidup yang harus dijalani.


Sementara itu, Zafer yang sama sekali tidak memperdulikan nada protes dari Tsamara, saat ini hanya diam sambil tersenyum menyeringai.


'Justru aku suka membuatmu terlihat sangat khawatir seperti ini karena rasanya permainan lebih menyenangkan,' gumam Zafer yang saat ini mengungkapkan jawaban dengan sebuah gelengan kepala.


Sementara itu, Tsamara yang dari tadi merasa sangat lemas karena sudah dihajar habis-habisan oleh Zafer, sekarang bertambah seperti kehilangan seluruh tenaga begitu melihat pria itu sudah memutar kunci pintu.


Begitu pintu terbuka, ia menelan kasar saliva dengan degup jantung berdebar sangat kencang melebihi batas normal. Kemudian berpikir bahwa saat ini akan ketahuan oleh ibu mertua jika mereka baru saja bercinta di dalam kamar.


'Zafer benar-benar sangat keterlaluan dan sekarang aku tidak mempunyai muka lagi di hadapan mama,' gumam Tsamara yang saat ini merasa bingung harus melakukan apa dan memilih untuk bangkit dari posisi yang awalnya berbaring terlentang, sehingga kini telah berubah duduk dengan bersandar pada punggung sofa.


Sementara itu, Zafer yang baru saja membuka pintu, langsung memasang wajah masam pada sang ibu.


"Sebenarnya ada apa Mama merasa kebingungan saat pintu dikunci? Aku sedang membantu istriku berpakaian dan tidak ingin ada orang yang melihat."


Zafer sengaja berbohong begitu melihat ekspresi dari wajah wanita paruh baya di hadapan tersebut seperti sangat shock.

__ADS_1


"Zafer? Semenjak kapan kamu ada di kamar? Mama bahkan tadi berbicara dengan Tsamara dan kamu tidak ada. Lalu, benarkah apa yang kamu katakan mengenai alasan mengunci pintu? Tidak karena hal lain, bukan?"


Erina yang saat ini merasa sangat terkejut sekaligus senang telah bercampur menjadi satu dan ingin memastikan sendiri, sehingga langsung berjalan melewati putranya untuk masuk ke dalam kamar.


Begitu melihat jika Tsamara sedang duduk di sofa dan langsung menyapa, ia merasa ada sesuatu yang tidak beres di antara putra dan menantu kesayangannya tersebut.


Tentu saja karena sangat berpengalaman dan bukan merupakan anak kecil lagi, sehingga saat ini menebak jika Zafer baru saja berbuat macam-macam pada Tsamara.


"Tsamara, apa yang baru saja dilakukan putraku padamu? Kenapa sampai mengunci pintu segala?" tanya Erina yang saat ini berjalan mendekati Tsamara dan berniat untuk memeriksa karena mengetahui jika perbuatan intim pasangan suami istri meninggalkan bekas.


Sementara itu, Tsamara yang berkali-kali menelan ludah sambil tidak merasakan nyaman pada bagian inti yang masih basah karena belum membersihkan diri di dalam kamar mandi, berusaha untuk tidak gugup dan menjawab.


"Itu, Ma. Seperti tadi yang dikatakan oleh tuan Zafer. Aku kesusahan untuk berpakaian dan putra Mama sangat baik hati karena mau membantuku tanpa aku harus meminta tolong."


Tsamara yang masih merasa sangat gugup, berusaha untuk menampilkan senyuman dan berharap wanita paruh baya tersebut mempercayai kebohongannya yang jelas-jelas sangat konyol jika dipikirkan dengan baik.


Hingga jawaban dari ibu mertuanya membuat Tsamara dan Zafer yang sudah berjalan masuk, saling bersitatap.


"Kenapa aku merasa jika kalian baru saja berbulan madu dan tengah berusaha untuk berbohong pada Mama?" Kini, Erina saat ini menatap menelisik pada putra dan menantunya untuk mencari jawaban atas perkataannya barusan.


Sementara itu, Tsamara yang saat ini masih bersitatap dengan Zafer merasa sangat kebingungan mengenai apa yang harus dikatakan untuk menanggapi perkataan dari ibu mertuanya yang memang benar adanya.


'Apa yang harus kukatakan? Aku berharap tuan Zafer mau membantah tuduhan dari mama yang memang merupakan fakta yang terjadi,' gumam Tsamara yang saat ini hanya bisa memberikan kode kepada pria tak jauh dari tempat duduk, agar tidak membenarkan perkataan dari wanita paruh baya tersebut.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2