
Zafer selalu merasa damai dan sedikit lebih tenang setelah berbicara dengan Tsamara. Hal yang sangat bertolak belakang ketika bersama dengan Rayya yang seperti membuatnya selalu diliputi amarah.
Kini, Zafer mengingat saat Rayya murka padanya karena tidak mengusir Tsamara dari rumah setelah orang tuanya meninggal.
"Apakah Rayya suatu saat nanti bisa berubah menjadi seorang istri yang lebih baik dan tidak selalu dikuasai oleh kecemburuan, kecurigaan dan kemurkaan?"
Meskipun sudah mengetahui jawaban dari pertanyaan yang baru saja diajukan pada Tsamara, tetap saja ingin mendengar tanggapan dari wanita yang dianggap paling bijak di rumah itu.
Tsamara saat ini tidak langsung menjawab karena khawatir jika Zafer akan tersinggung dengan perkataannya. Namun, karena melihat tatapan pria itu penuh pengharapan, sehingga kali ini mengungkapkan apa yang ada di pikiran mengenai Rayya.
"Semua orang akan berubah setelah mendapatkan hidayah dan pelajaran berharga dari akibat perbuatan yang dilakukan."
"Hidup di dunia ini, ada sebab akibat yang disebut karma. Seperti saat aku dulu yang penuh dosa, sekarang berusaha untuk menebus semua hal buruk yang pernah kulakukan dengan menerima takdir Tuhan."
Ia mengarahkan tangan pada kedua kakinya. "Ini adalah hukum karma yang tidak pernah salah sasaran. Aku tidak mungkin akan berakhir seperti ini jika dulu setia pada suami pertamaku."
"Bahkan sama sekali tidak terpikirkan jika akan menikah lagi dengan Anda. Padahal sudah berjanji pada diri sendiri tidak akan menikah lagi dan fokus mengurus Keanu. Namun, manusia hanya bisa berencana dan Tuhan yang menentukan."
"Lebih baik berdoa saja agar Rayya segera menyadari kesalahan dan kita bisa hidup damai di rumah ini, sehingga papa dan mama akan bahagia dari atas sana."
Tsamara saat ini mengakhiri pendapatnya dan berniat untuk kembali menyusul Keanu karena tidak jadi beristirahat ketika ada Zafer di dalam kamar.
Namun, ketika hendak membuka mulut, melihat Zafer meraih ponsel yang ada di saku celana begitu mendengar suara notifikasi masuk.
Tidak hanya itu saja, karena beberapa saat kemudian terlihat wajah memerah dari pria di hadapannya tersebut dengan tangan mengepal dan bunyi gemeretak gigi yang saling berbenturan menandakan jika saat ini baru saja melihat sesuatu yang sangat mengejutkan.
__ADS_1
Belum sempat untuk pergi, Tsamara mendengar Zafer berbicara di telpon dengan meledakkan amarah saat membahas mengenai masalah Rayya dan membuatnya membekap mulut begitu mengetahui kegilaan wanita itu.
Tentu saja ia bisa mendengar pembicaraan Zafer dengan seseorang di seberang telpon dan bisa menebak bahwa itu adalah seorang pria yang berhubungan dengan Rayya dan berbuat hal terlarang saat masih berstatus sebagai seorang istri dan calon ibu.
'Ya Tuhan, baru beberapa saat yang lalu, tuan Zafer memberikan pertanyaan mengenai Rayya dan langsung Engkau tunjukkan semua kenyataan pahit yang semakin menghancurkan suamiku.'
'Aku sangat yakin jika saat ini perasaan tuan Zafer semakin hancur begitu mengetahui jika wanita yang dicintai telah berselingkuh dengan pria lain saat berstatus sebagai istri dan juga ibu dari calon anak-anaknya.'
Tsamara bahkan bisa melihat raut wajah memerah penuh kemurkaan ketika Zafer berbicara dengan pria di seberang telpon. Hingga terputus dan seketika melihat Zafer bangkit dari ranjang dan seperti hendak pergi.
Tsamara sudah bisa menebak jika Zafer akan pergi mencari Rayya di tempat pria itu. Tentu saja merasa sangat khawatir jika terjadi hal buruk pada Zafer dan saat ini berusaha untuk menghentikannya.
"Aku akan membunuh Rayya dan pria itu!" teriak Zafer yang saat ini sudah tidak bisa lagi mentolerir apa yang dilakukan oleh Rayya.
Sosok wanita yang selama ini dibanggakan di depan orang tua dan selalu dibela, ternyata dengan mudahnya bercinta dengan pria lain saat dalam keadaan hamil benihnya.
Zafer tidak berbicara apa-apa pada Tsamara karena sekarang sudah berjalan menuju ke arah pintu keluar.
"Tuan Zafer, berhenti! Anda mau ke mana?" tanya Tsamara yang beberapa saat kemudian merutuki kebodohan karena bertanya mengenai ke mana pria itu akan pergi.
Padahal sudah jelas terlihat jika Zafer akan pergi menemui Rayya dan pria itu.
Sementara itu, Zafer saat ini sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab pertanyaan Tsamara karena satu-satunya yang dipikirkan hanyalah ingin segera menghabisi pria yang telah menodai anak-anaknya dan bahkan belum dilahirkan di dunia.
Zafer saat ini membuka pintu dan melangkah keluar dari ruangan kamar.
__ADS_1
Tsamara segera mengejar Zafer dengan cara menekan tombol pada kursi roda agar lebih cepat mengarah ada pria dengan bahu lebar tersebut. Begitu berhasil mengejar, segera menahan pergelangan tangan kiri Zafer.
"Anda tidak boleh pergi dengan dipenuhi kemurkaan seperti ini karena itu akan berdampak buruk bagi kalian semua. Membunuh bukanlah jalan penyelesaian dari masalah, tapi malah membuat semakin rumit dan berakhir buruk."
"Anda harus meredam emosi sebelum pergi. Atau aku ikut bersamamu pergi untuk menemui Rayya dan pria itu." Tsamara tidak menyerah untuk menghentikan Zafer yang dikhawatirkan benar-benar akan menghabisi nyawa pria selingkuhan Rayya.
Namun, Zafer sama sekali tidak memperdulikan larangan dari Tsamara karena benar-benar merasa sangat marah pada Rayya sekaligus malu pada orang tua yang telah meninggal.
Apalagi dulu tidak pernah mendengarkan perkataan orang tua dan nekad menikahi Rayya meskipun sudah berkali-kali dinasehati bahwa wanita itu bukanlah yang tepat untuk dijadikan pasangan hidup.
Zafer saat ini seperti tengah disadarkan oleh takdir kejam yang diawali dengan kematian orang tua dan sekarang disusul oleh perbuatan Rayya yang berselingkuh dengan pria lain.
"Lepaskan tanganku sebelum aku menyakitimu, Tsamara! Ini menyangkut harga diriku dan juga kehormatan keluarga Dirgantara. Aku harus menyelesaikan hari ini juga meskipun dengan cara apapun."
Tsamara tadinya berpikir bahwa Zafer bisa dinasehati dan meredam amarah terlebih dahulu sebelum pergi, tapi begitu melihat tatapan tajam yang seperti langsung menghunus jantungnya.
Akhirnya dengan terpaksa Tsamara melepaskan genggaman tangan karena tidak ingin menjadi korban kekerasan dari pria yang sedang dikuasai oleh umat emosi.
"Tuan Zafer, jangan berbuat hal yang buruk karena dikuasai oleh amarah! Orang tua Anda sangat sedih melihat Anda seperti ini dari atas sana. Izinkan aku untuk ikut agar bisa menghentikan ketika Anda berbuat di luar batas."
Tsamara benar-benar sangat berharap bisa ikut mendampingi Zafer, tapi keinginannya tidak ditanggapi oleh pria yang sudah berjalan pergi menuju ke arah anak tangga, sehingga saat ini hanya bisa menatap dari atas.
"Tuan Zafer, jangan melakukan hal diluar batas seperti membunuh." Tsamara saat ini menatap pria dengan bahu lebar tersebut sudah menuruni anak tangga dengan cepat dan berlalu pergi setelah menghilang di balik pintu keluar.
"Apa yang harus kulakukan sekarang? Tidak ada orang tua yang bisa menasehati tuan Zafer."
__ADS_1
Tsamara tidak menyerah dan saat ini seperti dikejar waktu dan memilih untuk menghubungi kepala pelayan agar membantu karena tidak tahu harus meminta tolong pada siapa.
To be continued...