Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Tidak aktif


__ADS_3

Beberapa jam setelah operasi, Rayya sudah sadar dan begitu membuka kedua mata, ia sama sekali tidak melihat siapapun di ruangan bernuansa putih itu. Ia tahu jika saat ini berada di rumah sakit, tapi tidak tahu kenapa tidak ada satu pun orang yang menemaninya.


Kini, tenggorokannya terasa sangat kering dan ia ingin minum, tapi tidak bisa mengambilnya sendiri karena tubuhnya sangat lemah dan tidak bisa bergerak sesuka hati seperti biasa.


"Haus. Di mana Raymond? Tadi ia yang bilang membawaku ke rumah sakit," lirih Rayya yang saat ini tidak tahu harus bagaimana ketika sama sekali tidak ada yang menunggunya di ruangan.


'Apa Raymond sedang pergi ke kantin? Papa ... apa papa tahu aku ada di rumah sakit?' gumam Rayya yang saat ini tengah meraba bagian perutnya yang datar dan sama sekali tidak ada merasakan benjolan seperti biasa.


Ia hanya merasakan sesuatu yang kasar di perutnya dan begitu membuka seragam rumah sakit, kini bisa melihat di bagian sana tertutup.


'Operasi? Apakah anak-anakku bisa diselamatkan? Tapi ini bekas operasi, bagaimana jika ternyata anak-anakku sudah dikeluarkan dari rahimku?'


Rayya hanya bisa bergumam sendiri di dalam hati saat pikirannya dipenuhi oleh kekhawatiran. Ia benar-benar sangat takut jika apa yang dipikirkannya benar.


Rayya berusaha untuk menghibur diri sendiri dengan cara berpikir positif agar pikirannya tidak dipenuhi kegundahan karena jika kehilangan dua janin kembar di rahimnya, tidak akan bisa menggunakan itu untuk mengancam Zafer.


'Tidak, mereka baik-baik saja di sini?' Rayya masih berusaha untuk berpikir positif meskipun di dalam hati dipenuhi keraguan.


Rayya ingin sekali berteriak untuk memanggil perawat agar memberitahu apa yang terjadi padanya dan juga apakah ada Raymond yang menunggunya selama belum sadar.


Namun, ia seolah merasa lidahnya kalau untuk berbicara dengan suara keras karena benar-benar sangat lemah serta tidak punya tenaga untuk sekedar berteriak.


Bahkan saat ini bola matanya terasa lengket dan ingin kembali memejamkan mata, tapi berusaha untuk tidak tertidur dan menunggu hingga ada seseorang yang masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


'Raymond, kamu di mana? Aku takut sekali. Pasti kamu sangat lelah menungguku hingga sadar dan sekarang tengah pergi ke kantin untuk membeli makanan atau kopi.'


Entah berapa lama Rayya menunggu kedatangan seseorang yang sangat diharapkan berada di ruangannya untuk menemani keadaan yang tidak berdaya, tapi setelah cukup lama tidak kunjung melihat siapapun yang datang.


Hal itu membuatnya merasa sangat khawatir sekaligus miris karena saat ia tidak berdaya di rumah sakit, sama sekali tidak ada orang yang menemaninya.


Bahkan ayah kandung serta pria yang sangat diharapkan menemaninya, ini sama sekali tidak terlihat dan membuatnya berurai air mata karena merasa miris dengan nasibnya.


"Kenapa aku hanya sendiri di sini? Di mana mereka semua? Papa, Raymond? Kenapa mereka tidak terlihat di sini?"


Rayya yang baru saja menutup mulut, saat ini melihat pintu terbuka dan berpikir bahwa itu adalah salah satu dari pria yang ia pikirkan.


Namun, wajahnya seketika berubah murung karena melihat wanita berseragam yang tak lain adalah perawat baru saja masuk dan berjalan mendekat.


"Syukurlah Anda sudah sadar, Nyonya. Saya akan memeriksa sebentar." Sang perawat yang tadinya ingin memeriksa keadaan pasien, kini merasa lega karena sudah sadar.


"Apa dari tadi tidak ada orang di ruangan ini yang menemaniku? Apa keluargaku sama sekali tidak datang ketika aku mendapatkan penanganan di rumah sakit?"


Rayya masih berusaha untuk berpikir positif dan berharap wanita berseragam putih di hadapannya tersebut tidak membenarkan pertanyaannya.


Hingga ia seketika bernapas lega karena jawaban dari wanita di hadapannya tersebut membuatnya merasa sangat lega.


"Ada ayah dan teman Anda yang tadi menunggu di ruang operasi, Nyonya. Bahkan saat Anda dipindahkan ke sini, masih ditemani oleh seorang pria yang mengaku adalah teman Anda. Hanya saja, saya tidak tahu ke mana perginya ayah serta teman Anda sekarang."

__ADS_1


Sang perawat tadi sudah mendapatkan berita mengenai pasien dan merasa heran karena tadi sudah dua kali datang ke ruangan itu ketika wanita di atas ranjang tersebut belum sadar, pria yang tadi berada di kamar sudah tidak ada.


Tadinya ia berpikir mungkin sedang pergi ke kantin atau keluar untuk merokok, tapi saat tidak kunjung kembali, berpikir bahwa pria itu sudah pergi dan merasa iba pada wanita yang sama sekali tidak ditemani oleh siapapun di ruangan.


Rayya yang saat ini ingin mencari tahu di mana keberadaan Raymond karena berpikir bahwa sang ayah mungkin sibuk dengan bisnisnya. Kini, Rayya menunjuk ke arah tas miliknya di atas laci.


"Apa Anda bisa mengambilkan ponsel saya di dalam tas? Saya yakin ada di sana dan ingin menghubungi teman saya." Rayya benar-benar tidak berdaya dan berharap wanita tersebut mau membantunya.


Refleks sang perawat langsung mengganggu perlahan dan mengambil ponsel seperti perintah pasien. Begitu menemukan benda yang, seketika menyerahkan pada wanita dengan wajah pucat itu.


"Silakan, Nyonya."


Rayya seketika mencari kontak Raymond dan membuatnya segera memencet tombol panggil. Namun, ia mengerutkan kening karena nomor yang dituju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan seperti yang dikatakan oleh operator.


"Tidak aktif? Raymond ada di mana kamu sebenarnya?" Rayya saat ini merasa ada sesuatu yang tidak beres dan berpikir bahwa mungkin terjadi sesuatu pada Raymond, sehingga saat ini ingin bertanya pada sang ayah.


Tanpa membuang waktu, Rayya memencet tombol panggil pada kontak sang ayah dan menunggu hingga mendapatkan jawaban dari seberang telpon.


Begitu mendengar suara dari sang ayah, seketika membuatnya segera menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Raymond karena merasa yakin jika sang ayah mengetahuinya.


"Apa Papa tahu di mana Raymond sekarang?"


"Raymond? Bukannya ia ada di sana karena aku tadi menitipkanmu padanya saat ada meeting penting dengan rekan bisnis. Papa nanti akan ke sana Setelah selesai," jawab Leon dengan memicingkan mata karena merasa heran saat Raymond tidak ada di rumah sakit dan tidak mengabarinya akan pergi dari rumah sakit.

__ADS_1


Sementara itu, Rayya yang merasa sangat marah pada sang ayah karena tidak bisa menjelaskan apa yang ingin ia ketahui, langsung mematikan sambungan telpon dan kembali menghubungi kontak Raymond.


To be continued...


__ADS_2