
Tsamara saat ini masih tidak mengalihkan pandangan dari sosok pria di balik kemudi tersebut berbicara tidak masuk akal. Bahkan sama sekali tidak pernah terpikirkan jika Zafer berkata seperti itu padanya.
Hal yang saat ini dipikirkan oleh Tsamara adalah luapan emosi dari Zafer karena tersinggung dengan perkataannya, sehingga memilih memilih untuk membalas dendam dengan cara berbicara seperti itu tanpa berpikir terlebih dahulu.
'Sebenarnya apa yang saat ini ada di otak pria ini? Bahkan aku sama sekali tidak pernah berpikir jika Zafer menginginkan keturunan dari rahimku saat Rayya sudah memberikan dua anak kembar sekaligus.'
Tsamara yang saat ini masih sibuk bergumam sendiri di dalam hati, mencoba untuk menenangkan pikiran agar lebih dingin dan tidak menanggapi dengan emosi.
'Sabar, Tsamara. Kamu tidak boleh mengandalkan emosi ketika berbicara dengan pria ini karena sepertinya ia sedang dikuasai oleh amarah. Melawan api harus dengan api bukan melakukan hal yang sama karena akan bertambah berkobar dan mungkin bisa membakar dirimu sendiri.'
Tsamara saat ini mencoba untuk mengambil napas teratur demi menormalkan perasaan yang membuncah ketika sebenarnya juga merasa sangat kesal pada Zafer.
Begitu merasa sedikit lebih tenang, ia mencoba untuk berbicara dengan Zafer demi merubah pikiran konyol dari pria yang berstatus sebagai suami dan dianggap hanyalah sebatas perjanjian semata atas sebuah pertanggungjawaban.
"Kamu saat ini sedang dikuasai oleh emosi dan pasti akan menyesal mengatakan hal itu padaku. Lebih baik tahan amarah dan berpikirlah yang jernih untuk mencoba mempertimbangkan apa yang baru saja kamu katakan tadi."
Namun, meskipun berbicara dengan lembut, tetapi Zafer tidak mau membuka mulut untuk menanggapi, sehingga Tsamara kembali menyadarkan pria itu agar tidak berbuat seenak jidat.
"Kamu saat ini hanya ingin menikmati tubuhku karena ingin memanfaatkanku setelah membantu menyingkirkan Rey, bukan? Namun, sebentar lagi akan bosan dan kembali pada wanita yang kucintai dan sudah memberikan dua anak untukmu. Apa kamu lupa bahwa saat ini Rayya sedang hamil kembar?"
Tsamara berharap Zafer berubah pikiran setelah menyebutkan Rayya dengan mengingatkan kehamilan dari wanita yang berpikir bahwa ia menjadi sebuah ancaman.
Padahal tidak pernah terbersit sedikit pun di pikirannya untuk bersama Zafer. Bahkan tekad Tsamara sudah bulat untuk bisa berjalan kembali dan langsung pergi dari keluarga Dirgantara.
Namun, karena keadaan beberapa hari ini tidak enak badan, sehingga terapi harus ditunda sampai kondisinya fit dan kuat. Hingga hari ini terpaksa pergi ke kontrakan karena masalah yang dibuat oleh Rey dan juga orang kepercayaan menerima pesanan tanpa memberitahukan terlebih dahulu.
Sementara itu, Zafer berpikir bahwa apa yang baru saja disampaikan oleh Tsamara hanyalah sebuah alasan klise untuk menolak, sehingga saat ini hanya tertawa sinis.
Meskipun sama sekali tidak berniat untuk menanggapi kalimat konyol Tsamara, tetap saja Zafer tidak bisa menyembunyikan apa yang saat ini dirasakan.
__ADS_1
Di saat bersamaan, mobil yang dikemudikan berhenti tepat di lampu merah, sehingga bisa menatap puas wanita yang dari tadi tidak mengalihkan perhatian darinya.
"Aku berhak melakukan apapun sesuai dengan keinginanku, Tsamara. Mengenai Rayya, memang sudah mengandung benihku, tapi apa salahnya jika aku juga ingin kamu melahirkan keturunanku? Bukankah kamu juga adalah istriku yang sah secara agama dan negara?"
"Saat seorang suami menginginkan anak dari istri sah, apakah itu salah? Apakah aku mau menikmati tubuhmu sepuasnya atau ingin menghamilimu, itu adalah sebuah hal yang wajar dilakukan. Benihku sangat berharga, jadi seharusnya kamu merasa bersyukur menerimanya."
Zafer yang sebenarnya masih ingin berbicara panjang lebar sambil menatap Tsamara, tidak bisa melakukannya karena mendengar suara klakson mobil dari belakang saat lampu lalu lintas sudah berubah hijau.
Akhirnya berpaling dari Tsamara dan kembali fokus menatap ke arah jalanan dengan banyaknya kendaraan yang melintas karena siang ini cukup padat.
Namun, saat mengingat satu hal yang terlupakan dan berpikir akan menampar Tsamara agar tidak membantah semua yang dikatakan, Zafer kembali membuka suara untuk mengungkapkan.
"Bukankah penampilanmu sudah seperti seorang wanita yang mengerti agama? Pasti sudah mengerti kewajiban dari seorang istri pada suami."
"Semua itu berlaku jika suami juga mengerti kewajiban pada seorang istri," sahut Tsamara yang berpaling dari Zafer untuk menyembunyikan gejolak perasaan membuncah yang membuatnya meremas Salah satu sisi pakaian.
Apalagi tadi sudah banyak memforsir otak dan tenaga gara-gara ulah Rey. 'Sepertinya ia tidak pernah bercermin, sehingga bisa berbicara mengenai kewajiban seorang istri.'
Tsamara bisa melihat gedung-gedung yang menjulang tinggi di kanan kiri. Pemandangan ibukota yang sudah sering dilalui olehnya karena dulu Rey sering mengajaknya jalan-jalan.
Namun, kini di sampingnya ada pria lain yang baru saja mengatakan ingin membuatnya hamil agar melahirkan keturunan. Sementara wanita lain sudah terlebih dahulu hamil anak kembar, Tsamara saat ini seperti seorang wanita perebut suami orang jika benar-benar keinginan Zafer terwujud.
'Aku memang seorang istri sah, tetapi malah merasa menjadi wanita perebut suami Rayya. Apalagi mereka menikah karena saling mencintai. Bagaimana tanggapan Rayya jika sampai mengetahui apa yang baru saja dikatakan oleh suaminya.'
Lamunan Tsamara seketika sirna begitu mobil memasuki area hotel bintang lima yang sangat megah baru disadari bahwa itu juga merupakan milik keluarga Dirgantara karena melihat dari simbol pada bangunan mewah tersebut.
Hingga mobil yang sudah terparkir rapi di tempat khusus karena tidak bercampur dengan kendaraan tamu hotel lain, seolah menegaskan bahwa Zafer bukanlah orang biasa karena merupakan putra dari pemilik hotel.
"Jangan memikirkan hal lain saat kita bercinta nanti di kamar," ucap Zafer yang beranjak turun dari mobil dan tidak berniat untuk mengeluarkan kursi roda, tetapi langsung berbicara dengan manager hotel untuk menyiapkan kamar.
__ADS_1
Zafer berniat untuk menggendong Tsamara tanpa memakai kursi roda saat memasuki hotel. Bahkan membayangkan hal itu saja sudah membuatnya merasa sangat bersemangat karena akan dianggap merupakan suami yang romantis.
Begitu permintaannya langsung ditanggapi, kini Zafer berjalan memutar mobil dan menghampiri Tsamara yang tadi tidak membuka suara.
Sementara itu, Tsamara yang tidak bisa menolak semua perintah Zafer, hanya diam saja ketika pria itu membuka pintu mobil dan membungkuk untuk menggendongnya.
"Kamu melupakan sesuatu. Kursi rodaku belum dikeluarkan," ujar Tsamara yang saat ini sudah berpindah ke atas lengan Zafer.
Hingga mendengar suara bisikan dari pria yang berhasil membuat bulu kuduknya meremang seketika. Apalagi bibir tebal pria yang berstatus sebagai suami tersebut menyentuh daun telinganya, sehingga ia menelan ludah dengan kasar.
"Aku tidak akan memakai kursi roda itu dan dengan senang hati menggendongmu masuk ke dalam kamar hotel. Karena hanya membuatku sakit mata jika membawa ke kamar. Aku ingin hari ini kamu melayaniku dengan baik sebagai seorang istri yang memuja suami."
Kemudian Zafer tersenyum menyeringai karena puas dengan apa yang dilakukan pada Tsamara. Sosok wanita yang tidak akan pernah bisa menang melawannya dan sekarang telah tunduk pada perintah.
'Aku adalah satu-satunya orang yang bisa menaklukkan wanita dingin sepertimu, Tsamara. Meskipun kamu mengatakan bahwa tidak akan menikah lagi seumur hidup dan menutup hati pada seorang pria, tapi nyatanya saat ini tidak bisa menghentikan takdir yang membawa kita bersama.'
Zafer berjalan masuk melalui pintu khusus yang terhubung dengan lift untuk menuju ke lantai lima. Di mana di sana kamar terbaik berada.
Sementara Tsamara masih tidak berkutik berada di gendongan pria yang terlihat tersenyum menyeringai. Seolah sangat puas saat berhasil membuatnya pasrah.
'Siapkan hatimu, Tsamara karena hari ini benar-benar cukup berat untukmu. Tadi harus berperang melawan Rey dan sekarang melayani nafsu liar pria mesum ini. Kenapa aku dikelilingi oleh para pria berengsek?'
'Sialnya, aku seolah menyerahkan diri pada pria ini, sehingga sekarang ia terlihat seperti seorang penguasa yang berhak atas budaknya,' gumam Tsamara yang saat ini mengkhawatirkan sesuatu mengganjal di pikiran.
'Apa yang harus aku lakukan sekarang? Rasanya sekarang aku hanya ingin pergi dari pria ini, tapi sayangnya tidak bisa melakukannya.'
Tsamara saat ini masih bergumam di dalam hati, kini melihat beberapa orang yang melintas menatapnya, sehingga merasa sangat malu dan memilih untuk menyembunyikan diri di dada bidang Zafer.
To be continued...
__ADS_1