Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Menyelidiki


__ADS_3

Tsamara setiap hari menemani Zafer di rumah sakit tanpa memperdulikan kemurkaan pria itu yang masih terus bersikap kasar padanya dan tidak mau menerima bantuan. Bahkan ia selalu disuruh pulang oleh Zafer.


Namun, Tsamara semakin menantang dan tidak mau patuh pada sang suami. Itu karena tidak ingin pria itu semakin membenamkan diri dalam kesendirian dan memendam semua perasaan kesedihan.


Jadi, ia berpikir bahwa kemurkaan Zafer akan jauh lebih baik untuk mental karena melepaskan kesedihan yang dirasakan. Seperti yang dikatakan oleh dokter bahwa itu jauh lebih baik daripada sendirian dan memendam kesedihan.


Hingga beberapa minggu kemudian, Zafer yang sudah menyerah dan bosan marah-marah pada Tsamara karena tidak mau menurut, sehingga saat ini hanya membiarkan wanita itu berbuat sesuka hati.


Sebenarnya ia mengusir Tsamara agar tidak tidur di rumah sakit karena tidak tega melihatnya kelelahan. Ia juga tidak ingin merepotkan sang istri dan merasa tidak pantas mendapatkan semua kebaikan dari wanita yang selama ini disia-siakan.


Jadi, berakting marah agar Tsamara tidak datang ke rumah sakit dan kelelahan. Ia khawatir jika wanita itu jatuh sakit karena kelelahan, tapi melihat Tsamara sangat bandel dan tidak mau menurut padanya.


Kini, Tsamara terlihat mengarahkan kursi roda untuk mendekat padanya dan ada penyesalan serta kesedihan ketika Zafer mengamati perbuatan wanita itu.


Tsamara baru saja mengupas buah dan membuang sampah. Kemudian kembali mengarahkan kursi roda untuk mendekat.


"Apakah Anda ingin kusuapi makan buah apel itu?" tanya Tsamara saat ini bersitatap dengan Zafer yang dari tadi seperti tidak berkedip mengamatinya.


"Aku sudah mengupaskan buah untuk Anda. Paling tidak, hargai sedikit usaha orang lain. Masa dari tadi buah yang sudah aku potong-potong itu tetap utuh dan tidak dimakan. Nanti akan berubah menjadi kecoklatan karena sudah tidak segar."


Tsamara mengarahkan tangan untuk meraih buah yang sudah dipotong-potong tersebut dari atas laci, tapi tangan ditahan oleh Zafer.


"Lebih baik kamu diam dan jangan cerewet. Aku benar-benar sangat bosan mendengarnya," sarkas Zafer yang saat ini bangkit untuk mengambil buah apel yang sudah disiapkan oleh Tsamara beberapa saat lalu.


Sebenarnya ia sangat bosan berada di rumah sakit dan ingin segera pulang, tapi yang terjadi adalah dokter tidak mengizinkan dengan alasan jika luka pada kepala belum pulih.

__ADS_1


Memang beberapa hari ini masih merasa pusing ketika bersandar pada punggung ranjang. Jadi, menanyakan hal itu pada dokter.


Mengenai apa penyebabnya. Setelah mengetahui bahwa itu karena hantaman sangat kuat dari ketika kecelakaan, sehingga berpengaruh pada saraf bagian kepala.


Nasib baik bagian kaki tidak sampai mengalami kelumpuhan seperti Tsamara. Zafy membayangkan jika sampai itu terjadi, mungkin memilih untuk mengakhiri hidup daripada harus selamanya duduk di kursi roda dan tidak bisa bergantung pada diri sendiri.


Zafer tadi menatap Tsamara yang duduk di kursi roda dan merasa sangat bersalah karena selama ini tidak pernah memperdulikan perasaan wanita itu yang pastinya sangat hancur ketika mengetahui tidak bisa berjalan karena perbuatannya.


Ia saat ini mengambil potongan buah dan menikmati dengan mengunyah di dalam mulut sambil sibuk bergumam sendiri di dalam hati untuk merututi kebodohan serta penyesalan.


'Aku tidak akan bisa sekuat Tsamara jika mengalami cacat. Bahkan aku sudah menabrak wanita ini, tetapi selalu menyakitinya dengan membawa Rayya


ke rumah setelah menikahinya.'


'Ya Tuhan, kenapa aku baru menyadari bahwa selama ini adalah orang yang jahat? Bahkan tidak pernah mengakui kesalahan, meskipun sudah kehilangan orang tuaku. Padahal mengetahui bahwa mereka ingin aku berubah menjadi seorang pria yang baik.'


Saat mengingat orang tua dan belum bisa membahagiakan mereka, ia yang saat ini menundukkan kepala saat mengambil buah dengan garpu, sebenarnya menyembunyikan wajah dari Tsamara yang berada di hadapannya.


Saat ini, bola mata Zafer sudah berkaca-kaca dan semakin tidak bisa menahan diri untuk tidak bersedih ketika mengingat orang tua yang sudah meninggal.


'Papa, Mama, maafkan putramu yang belum pernah membuat bangga kalian. Aku berjanji akan bangkit dari keterpurukan ini dan membuat kalian tersenyum dari surga sana,' gumam Zafer masih mengunyah apel di dalam mulut untuk menghilangkan kesedihan yang dirasakan.


Hingga mendengar suara Tsamara dan membuatnya seketika mengangkat wajah dan melupakan jika bola mata dipenuhi oleh bulir kesedihan.


Tsamara yang tadinya tidak mengalihkan pandangan pada sosok pria di hadapannya terlihat seperti sedang meratapi nasib, ingin membuat semangat Zafer bangkit.

__ADS_1


"Tuan Zafer, apakah Anda tidak merasa curiga dengan kecelakaan yang seperti sebuah kebetulan? Bagaimana bisa kalian sama-sama mengalami kecelakaan?"


Tsamara tadinya berpikir bahwa Zafer tetap akan menundukkan kepala, tetapi begitu menatapnya, kembali mengungkapkan apa yang ada di pikirannya saat ini.


"Bedanya adalah Tuhan masih memberikan kesempatan untuk Anda sadar mengenai kesalahan dan berubah menjadi seorang pria yang baik seperti harapan orang tua."


Meskipun berpikir bahwa Zafer akan semakin merasa bersedih saat membahas mengenai masalah orang tua yang sudah meninggal, tapi Tsamara ingin pria itu juga menyelidiki mengenai kecelakaan yang terjadi.


Begitu melihat jika bola mata dengan iris tajam itu mewakili kesedihan, Tsamara merasa terkejut sekaligus tidak tega. Mungkin Jika hubungan mereka baik, akan langsung membantu menghapusnya.


Namun, menyadari bahwa hubungan mereka tidak seperti layaknya pasangan suami istri yang saling mencintai, sehingga hanya mengungkapkan kalimat bernada penghiburan.


"Anda boleh bersedih, tapi jangan selamanya terpuruk. Jika terus menyalahkan diri sendiri atas semua kemalangan yang terjadi pada keluarga, yang terjadi adalah sebuah kehancuran dan pastinya semua jerih payah dari papa akan percuma."


"Kasihan jika perjuangan orang tua Anda berakhir sia-sia," ucap Tsamara yang saat ini berharap Zafer bangkit dan kembali bersemangat seperti saat sebelum kecelakaan terjadi.


Padahal tadinya Tsamara sudah merasa lega ketika melihat Zafer bersemangat untuk kembali memimpin perusahaan dan menjadi seorang pria yang lebih baik, tapi semakin terpuruk begitu mengetahui kenyataan mengenai Rayya yang berselingkuh serta mengalami kecelakaan.


Zafer yang selalu merasa sangat terhibur ketika perasaan membuncah dirasakan, saat ini membenarkan bahwa semua yang dikatakan oleh Tsamara memang masuk akal.


Sebenarnya juga sempat berpikir mengenai kecelakaan yang menimpa keluarga serta dirinya, tapi ketika mengetahui jika polisi mengatakan itu murni kecelakaan, sehingga berpikir hanyalah prasangka buruk semata.


Namun, begitu apa yang dirasakan juga membuat Tsamara merasa curiga, Zafer berpikir akan membicarakan hal itu pada para polisi dan menyuruh untuk menyelidiki lagi mengenai kasus kecelakaan karena kelalaian sopir yang mengantuk serta mabuk.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2