Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Kegelisahan Rayya


__ADS_3

Beberapa saat lalu, Rayya yang dari pagi menghubungi Zafer karena semenjak mengetahui kejadian Tsamara jatuh dari kursi roda dan mengharuskan sang kekasih menolong, sampai melihat jika wanita cacat itu tidak memakai pakaian dalam di kamar.


'Aku sangat yakin jika wanita cacat itu sengaja melakukan itu untuk mencari simpati Zafer. Aku tidak akan pernah membiarkan wanita itu berpikir bisa merebut Zafer. Lihat saja nanti setelah aku tinggal bersama dalam satu rumah. Akan memberi pelajaran.'


Rayya dari pagi sudah dirias dan membutuhkan waktu beberapa jam. Tadi sudah meminta mertua untuk menghubungi nomor Zafer yang tidak aktif dan membuatnya berpikir macam-macam.


Jika Zafer bersenang-senang dengan wanita itu dan mematikan sambungan telpon. Jadi, ingin calon suami sekaligus calon ayah itu agar segera datang untuk menghilangkan kekhawatiran.


Namun, setelah make up selesai, Rayya semakin gelisah karena Zafer tak kunjung datang juga. Pikiran semakin diliputi kekhawatiran jika saat ini tengah bercinta dengan wanita yang merupakan istri sah tersebut.


'Meskipun selama ini Zafer sangat membenci wanita cacat itu, tapi naluri semua pria selalu tidak bisa menolak jika ada santapan tepat di depan mata. Bagaimana jika Zafer tergoda dan tidak bisa mengendalikan hasrat?'


'Akhirnya bercinta dengan wanita itu karena berpikir adalah hal yang wajar melakukan dengan istri sah? Sementara wanita cacat itu tidak mungkin menolak dan merasa telah menang karena bisa mengalahkanku?'


Rayya yang sangat gelisah di dalam kamar, kini memilih keluar karena ingin bertemu dengan mertua. Tentu saja saat ini sangat khawatir jika pikiran buruk tersebut terjadi dan akhirnya memiliki saingan.


'Bagaimana jika nanti wanita itu juga hamil benih Zafer? Aku tidak akan pernah membiarkan ada yang menguasai seluruh harta Dirgantara selain anak-anakku.'


Saat Rayya menuruni anak tangga dan tiba di lantai satu, kebetulan sekali sang ayah juga baru saja datang. Refleks sudut bibir melengkung ke atas karena melihat satu-satunya keluarga datang.


Semalam ia berpikir jika pria itu tidak mau datang karena marah. Apalagi setelah rencana untuk menjodohkan dengan Raymond Abrisam gagal.


"Akhirnya Ayah datang juga." Rayya memeluk erat sang ayah karena meskipun sering kesal dan marah, tidak bisa dipungkiri tetap menyayangi pria paruh baya tersebut.

__ADS_1


"Selamat. Ayah harap kalian bisa hidup bahagia selamanya." Leon Pratama menyembunyikan perasaan kesal karena rencana untuk menjodohkan Rayya gagal.


Kemudian melepaskan pelukan dan mengedarkan pandangan ke sekeliling area lantai satu yang sudah dihiasi bunga-bunga dan tersedia meja panjang dan kursi yang diketahui akan menjadi tempat pernikahan Rayya.


Bahkan terlihat beberapa pelayan sibuk menyiapkan makanan dan minuman di sudut ruangan.


"Di mana calon suami dan mertuamu?"


Rayya yang merasa sangat kesal, kini menceritakan semua hal mengenai pertengkaran hebat dengan Zafer.


Sementara Leon Pratama sudah tidak asing lagi dengan godaan sebelum menikah karena dulu juga mengalami hal itu. Namun, tetap saja kemurkaan menyeruak di dalam hati saat berpikir yang sama dengan Rayya.


"Sabarlah. Semuanya akan tetap berjalan lancar. Sebentar lagi Zafer pasti akan datang." Leon yang baru saja menutup mulut, melihat ke arah pasangan suami istri yang sudah bisa ditebak adalah orang tua Zafer baru menuruni anak tangga.


"Selamat datang, Tuan Leon Pratama." Adam Dirgantara kini mengulurkan tangan dan berusaha untuk bersikap baik pada pria yang dianggap sangat arogan tersebut.


"Namun, mempelai pengantin pria belum kunjung tiba juga. Apakah kamu tidak bisa menasihati putramu agar tiba sebelum pernikahan? Jangan sampai semua orang menunggu dan semakin membuat putriku cemas."


Aura ketegangan yang tercipta di ruang tamu tersebut seolah seketika menimbulkan keheningan di antara keduanya.


Bahkan beberapa orang yang ada di sana bisa mendengar suara bariton dari ayah mempelai pengantin pria yang seperti membuat keributan.


Sementara, Adam Dirgantara masih bersikap sangat tenang dan tidak terpancing emosi. Apalagi mengetahui semua yang terjadi di rumah Zafer setelah sahabat mengirimkan video dan beberapa foto.

__ADS_1


Namun, tidak memberitahu sang istri karena berpikir tidak akan bisa menjaga rahasia. Adam kini menatap ke arah sosok pria di tersebut. "Masih ada waktu setengah jam dan orang yang menikahkan pun belum tiba. Jadi, tidak perlu berlebihan."


"Zafer pasti sedang bersiap karena tadi sudah dihubungi dan pelayan mengatakan sudah berpakaian rapi. Pasti sebentar lagi tiba. Lebih baik kita tunggu di sana." Mengarahkan tangan pada tempat yang tersedia.


Ingin sekali Leon mengumpat saat merasa kesal ketika melihat sikap tenang seolah tidak terjadi apapun hari ini. Terpaksa menuruti ajakan sang pemilik rumah karena tamu-tamu mulai berdatangan.


Saat hendak mendaratkan tubuh di sofa, tidak jadi melakukan itu karena mendengar suara dari Rayya yang terdengar diliputi kekhawatiran.


"Apa Mama sudah menghubungi Zafer lagi? Kenapa sampai sekarang belum tiba juga? Bagaimana jika tidak datang karena wanita itu yang menahan? Aku akan sangat malu." Wajah Rayya kini diliputi oleh kekhawatiran karena sangat takut jika nanti pernikahan gagal dilakukan.


"Jika sampai pernikahan gagal, akan mengungkapkan semua fakta mengenai hubungan kami pada media." Tidak ada lagi yang dipikirkan Rayya selain pernikahan.


Sementara itu, Erina yang bisa memahami perasaan mempelai pengantin wanita, kini berusaha menenangkan dengan mengusap lembut punggung Rayya.


"Zafer mengatakan akan berangkat sendiri dan tidak ingin memakai supir. Mungkin sebentar lagi tiba. Jadi, tenanglah. Berpikir positif, agar acara hari ini berjalan lancar." Erina memberikan sebuah kode pada sang suami saat melihat jika orang yang akan menikahkan baru saja tiba.


Kemudian Adam Dirgantara menyambut kedatangan beberapa pria yang membawa tas tersebut. Tidak ingin suasana terlihat kacau karena kekhawatiran Rayya yang memang beralasan, kini mengajak mengobrol untuk mengisi waktu sepuluh menit.


Karena pernikahan akan diadakan sepuluh menit lagi. Sementara mempelai pengantin belum datang.


Tentu saja hal itu semakin membuat Rayya ketakutan jika sampai Zafer tidak datang. "Bagaimana ini, Ma? Zafer belum datang juga. Lebih baik Mama hubungi. Sudah sampai di mana."


"Bukankah tadi sudah kukatakan jika ponsel Zafer rusak? Jadi, sekarang tidak membawa ponsel. Lebih baik aku hubungi Tsamara saja." Saat Erina baru saja menutup mulut, mendengar suara pria yang merupakan petugas pernikahan tersebut.

__ADS_1


"Saya harus segera menyelesaikan pernikahan di sini karena ada kejadian darurat di rumah sakit. Kecelakaan yang membuat pasien pria tetap ingin menikahi calon mempelai, agar tidak putus asa. Apakah mempelai pengantin pria sudah siap?"


To be continued...


__ADS_2