
Adam dan sang istri seketika saling bersitatap begitu mendengar nada protes dari putra mereka. Memang apa yang saat ini dikatakan oleh Zafer adalah sebuah fakta dan tidak bisa dibantah oleh kenyataan.
Jika mereka selama ini memikirkan cara untuk merubah Zafer, tetapi sama sekali tidak pernah terpikirkan akan terjadi hal seperti ini dan pastinya menyakiti menantu yang semakin menderita karena perbuatan putra mereka.
Adam Dirgantara tidak bisa meredakan emosi yang seolah membakar tubuhnya karena ingin sekali mengarahkan pukulan pada kepala Zafer karena telah menghamili seorang wanita yang belum dinikahi.
"Kau memang bajingan, Zafer! Papa bahkan tidak pernah berpikir kau akan menjadi seperti ini saat membesarkanmu dengan memenuhi segala keinginanmu. Cara kami salah dan sepertinya kau akan semakin tersesat jika kami membiarkanmu berbuat sesuka hati."
Erina yang merasa tubuhnya seketika lunglai begitu mengetahui kabar buruk yang mengejutkan dan sekaligus mencemarkan nama baik keluarga besar dari Dirgantara.
Ia pun memilih untuk menurunkan balita yang digendongnya dan berbisik di telinga. "Keanu dengan mama dulu, ya."
Bocah laki-laki yang mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi karena para orang tua dari tadi sibuk berdebat, membuatnya berlari ke arah sang ibu.
"Mama."
Tsamara saat ini menganggukkan kepala dan memilih untuk memangku putranya di atas kursi roda.
Kemudian ia memilih untuk mengajak putranya keluar dari ruangan makan dengan mengarahkan kursi roda ke pintu keluar karena tidak ingin putranya melihat dan mendengar hal buruk yang dilakukan oleh sang ayah tiri.
"Kita keluar sebentar karena kakek dan nenek ingin berbicara dengan papa," ucap Tsamara dengan berbisik lirih di dekat daun telinga putranya dan berlalu pergi dari ruang makan.
Tsamara berpikir adalah orang lain karena sang suami sama sekali tidak menganggap ia adalah istri. Jadi, lebih memilih untuk membiarkan orang tua membahas dengan putra mereka mengenai jalan keluar.
__ADS_1
Saat ini, ia berpikir akan menyetujui apapun keputusan dari mertuanya karena menganggap bahwa itu adalah jalan yang terbaik. Meskipun sebenarnya sudah mengetahui hasil akhir dari mertuanya.
Ia merasa yakin jika sebentar lagi sang suami akan menikah lagi secara siri dan pastinya semakin tersisihkan dan juga tidak akan mendapatkan perhatian atau pun cinta dari Zafer.
'Aku pasti kuat dan bisa menjalani semua karma ini karena ini sebanding dengan apa yang kulakukan pada mantan suamiku dulu. Dulu, ia jauh lebih terluka daripada aku karena kami pernah sama-sama saling mencintai.'
'Tidak seperti yang terjadi antara aku dan tuan Zafer karena pernikahan kami hanyalah sebuah keterpaksaan dan tidak didasari rasa cinta. Meskipun sebenarnya saling mencintai tidak menjamin pasangan akan selamanya bersama.'
'Namun, aku pun tidak bisa menjamin bagaimana nasib rumah tanggaku bersama pria yang sangat membenci dan jijik padaku,' gumam Tsamara yang saat ini menghentikan kursi roda begitu mendengar suara dari mertua.
"Tsamara, biar Zafer ditemani oleh pelayan dan kembalilah ke sini." Adam saat ini ingin membahas tentang masalah yang terjadi secara kekeluargaan dan tidak mengandalkan emosi.
Bahkan berpikir bahwa Tsamara sangat berhak untuk ikut dalam pembahasan itu. Kali ini, merasa sangat berdosa pada seorang wanita yang mempunyai nasib nahas karena ulah Zafer.
Tsamara sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun karena sebenarnya ingin sekali menolak untuk kembali masuk ke ruang makan.
'Padahal usia pernikahan kami baru beberapa bulan, tetapi tuan Zafer memutuskan untuk menikah lagi. Meskipun kami tidak seperti layaknya pasangan suami istri, tapi jika suami menikah lagi, apakah akan mengajak istri baru untuk tinggal di sini?'
Tsamara yang saat ini sibuk bergumam sendiri di dalam hati dengan perasaan berkecamuk dan gelisah karena takut tidak bisa menahan diri dari kemurkaan ketika tinggal bersama dengan istri siri sang suami.
Namun, ia berusaha untuk memenuhi kepala dengan energi positif karena keputusan belum diambil dan jika nanti benar ada pernikahan, sangat berharap tidak akan tinggal satu rumah dengan wanita yang mempunyai sifat kasar dan tidak sopan padanya.
Sementara itu, Zafer yang dari tadi tidak memperdulikan Tsamara saat keluar, berpikir bahwa wanita itu tidaklah penting karena hanya menginginkan restu dari orang tuanya untuk bisa menikahi Rayya.
__ADS_1
Setelah melihat Tsamara sudah menghilang di balik dinding, kini Zafer kembali menatap ke arah orang tuanya yang terlihat jelas sedang kebingungan karena tidak bisa menjawab ejekannya.
'Aku sangat pandai memutarbalikkan kenyataan dan membuat orang tuaku tidak berkutik. Sepertinya tidak sia-sia aku membenci Tsamara karena tiba-tiba mendapatkan ide di kepala saat merasa jijik jika kembali satu rumah dengan wanita itu.'
Zafer yang sibuk berguman di dalam hati, kini memilih untuk mengatakan apa yang ada di otaknya saat ini sebagai bahan pertimbangan dari orang tuanya yang masih belum mengungkapkan jawaban atas permintaannya.
"Rayya adalah seorang wanita yang selama ini kurang kasih sayang karena tidak mendapatkan perhatian sang ibu. Jadi, Aku tidak ingin benihku yang tumbuh di rahimnya, digugurkan karena tidak bisa bertanggung jawab untuk menikah."
"Ayah Rayya pastinya akan menghukum jika mengetahui bahwa putri yang selama ini dibesarkan telah hamil diluar nikah. Jadi, aku harap kalian sebagai orang tua, bisa bersikap bijak dan tidak kekanakan dengan memihak satu pihak."
Erina yang dari tadi merasa lemas dan kecewa pada putranya karena telah menghamili wanita lain yang bukan istri sendiri, kini berjalan mendekat. Kemudian menatap dengan intens putranya yang dibesarkan dengan sepenuh hati.
"Mama pikir, selama ini kau bisa menjaga diri dengan tidak menghamili wanita yang bukan istrimu dengan memakai pengaman. Namun, hari ini Mama menyadari bahwa kau bisa seperti ini karena kami salah mendidikmu."
Kini, Erina sudah tidak kuasa menahan kulit kesedihan yang menganak sungai di biru putih. Seolah apa yang membuatnya menangis, mewakili perasaannya yang hancur karena gagal menjadi seorang ibu yang baik untuk putranya.
"Mama telah gagal mendidikmu menjadi seorang pria baik. Mungkin aku akan masuk neraka karena menjerumuskanmu ke lembah kenistaan."
Suara tangisan yang menyayat hati sudah memenuhi ruangan makan di rumah mewah itu.
Bahkan kini Adam Dirgantara ikut merasa terluka dan sesak di dada melihat sang istri bersedih dan menangis tersedu-sedu.
Tanpa membuang waktu, Adam pun memilih untuk segera berjalan ke arah sang istri dan merengkuh tubuh yang bergetar karena efek menangis. Tentu saja ingin menghibur perasaan sang istri yang sedang dilanda kesedihan luar biasa.
__ADS_1
"Jangan berbicara seperti itu, Sayang."
To be continued...