Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Merasa bimbang


__ADS_3

Erina merasa sangat tertarik sekaligus penasaran dengan apa yang saat ini ada di pikiran Tsamara ketika mengungkapkan mengenai ide demi bisa mengalahkan mantan suami.


Kini, Erina memilih untuk memasang telinga lebar-lebar agar bisa mendengar semua penjelasan dari menantu perempuan kesayangan tersebut saat terlihat sangat serius ketika berbicara.


"Aku memiliki ide untuk memasukkan hasil tes DNA demi menyelamatkan Keanu dari pria tidak bertanggung jawab itu." Akhirnya Tsamara meloloskan ide yang muncul di kepala dan menatap ekspresi wajah dari ibu mertua yang terlihat membulatkan mata saat merasa terkejut.


"Aku tahu bahwa ini adalah sebuah ide jahat yang tidak pantas dilakukan. Namun, sebagai seorang ibu, tidak ingin kehilangan putraku. Bukan karena tidak mempercayai kekuatan keluarga ini yang sudah mengatakan akan membelaku."


Kemudian Tsamara beralih menundukkan pandangan saat menatap ke arah kedua kakinya yang saat ini tidak bisa berjalan lagi seperti dulu.


"Kelemahan ini akan dimanfaatkan oleh pria jahat itu untuk menyerangku, agar bisa merebut hak asuh dari wanita cacat yang pasti dipikirkan tidak akan bisa memberikan semua yang terbaik untuk putraku. Aku tidak ingin kehilangan Keanu, Ma. Hanya putraku yang menjadi pusat duniaku."


Bahkan saat ini merasa tidak bisa mengendalikan kekhawatiran dirasakan begitu membayangkan apa yang barusan dikatakan menjadi kenyataan.


Kembali bulir air mata menghiasi wajah pucat itu dan tidak bisa menahan diri lagi. Tsamara sudah menangis tersedu-sedu ketika merasa takut akan kehilangan Keanu yang sangat disayangi.


"Aku tidak bisa berpikir jernih saat ini selain ide jahat itu, Ma." Tubuh Tsamara kembali bergetar dengan suara serak menyayat hati ketika berbicara sambil menangis.


Sementara itu, wanita paruh baya yang dari tadi diam dan tidak berkomentar karena khawatir melakukan kesalahan. Apalagi ide dari Tsamara bisa dibilang merupakan sebuah konspirasi besar yang akan melibatkan hukum jika sampai diketahui oleh aparat kepolisian.


Hal yang paling dikhawatirkan adalah menantunya akan berakhir di balik jerusi besi untuk mempertanggungjawabkan perbuatan saat memasukkan hasil tes di DNA.


Namun, juga bisa merasakan seperti apa pedihnya kehilangan putra kandung. Erina malah lebih takut jika nanti Keanu direbut oleh Rey, sehingga membuat Tsamara memilih untuk kembali pada pria itu demi bisa selalu bersama dengan putranya.


Kini, ia bangkit berdiri dari sofa dan memeluk erat tubuh wanita dengan suara tangisan menyayat hati memenuhi ruangan kamar dengan nuansa gelap tersebut.


Bahkan tidak berhenti mengusap punggung belakang menantunya untuk memberikan sebuah ketenangan. "Mama sangat mengerti bagaimana perasaanmu, Sayang. Seorang ibu memang akan melakukan apapun demi tetap bersama putranya."


"Jadi, Mama sama sekali tidak menyalahkan kau mempunyai ide untuk memasukkan hasil tes DNA. Hanya saja, kita hanyalah seorang wanita biasa dan tidak tahu bagaimana caranya. Sepertinya aku harus membicarakan hal ini pada suami dulu."


"Bagaimana pendapat dari ayah mertuamu, harus dipertimbangkan karena nanti jika kita melakukan itu, prialah yang bergerak untuk mengatur segalanya. Kita tunggu mereka pulang."


Erina tadi bertanya pada salah satu pelayan mengenai keberadaan sang suami dan mendapatkan keterangan jika baru saja keluar bersama Keanu untuk membeli aneka snack kesukaan anak laki-laki tersebut.

__ADS_1


Bahkan tadi saat berjalan melintasi ruang depan, melihat ada coklat di atas meja. Karena berpikir bahwa yang membawa adalah Rey untuk merayu Keanu, langsung mengambil dan memberikan pada pelayan agar dimakan.


Sebenarnya ingin sekali langsung membuang di tong sampah, tetapi prinsip keluarga Dirgantara adalah pantang membuang makanan karena itu adalah rezeki yang tidak boleh disia-siakan.


Jadi, selalu menyuruh para pelayan yang menghabiskan atau memberikan kepada orang yang lebih membutuhkan, agar rezeki selalu lancar karena tidak pernah membuang makanan.


Tsamara membenarkan semua perkataan dari ibu mertuanya yang masih memeluk dengan erat.


Hal itu dibalas dengan Tsamara dengan melingkarkan tangan untuk semakin mengeratkan pelukan karena saat ini sedang membutuhkan sandaran.


"Apakah aku adalah wanita yang buruk karena mengusulkan ide itu? Pasti Mama berpikir aku selama ini memakai topeng untuk bersikap baik di keluarga ini." Saat Tsamara baru saja menutup mulut, meringis kesakitan ketika merasakan telinga dibalik menutup kepala terasa nyeri.


Erina merasa sangat kesal ketika mendapatkan tuduhan yang tidak pernah dilakukan karena selama ini sangat mempercayai Tsamara.


Bahkan tidak pernah berpikir bahwa wanita itu berpura-pura baik di depan mereka. Itulah mengapa saat ini sangat kesal dan memilih untuk menjawab telinga di balik penutup kepala yang dikenakan oleh Tsamara saat ini.


"Kamu benar-benar sangat keterlaluan! Jadi, Mama akan memberikan hukuman seperti yang dilakukan Zafer."


"Itu merupakan hukumanmu karena memilih untuk menuduh Mama mempunyai pikiran jelek terhadapmu. Padahal kami sangat mempercayaimu melebihi diri sendiri. Bahwa kau tidak pernah sekalipun mempunyai niat jahat pada keluarga Dirgantara."


"Selama ini, kamu rela disakiti dengan dihina dan diinjak-injak harga dirimu oleh putraku yang tidak tahu diri itu. Namun, sekarang aku baru menyadari bahwa kekuatan seorang wanita akan terlihat ketika melindungi putranya."


"Begitu pula dengan apa yang kamu lakukan saat ini hanyalah merupakan bentuk kasih sayang dan ketakutan kehilangan Keanu." Melihat ekspresi wajah Tsamara yang masih meringis sambil memegangi, Erina merasa sangat bersalah dan menyesal karena menambah rasa sakit wanita itu.


"Maaf karena menyakitimu, pada saat ini kamu sedang terluka lahir dan batin. Mama malah menambah lukamu." Erina saat ini ikut mengusap telinga Tsamara, berharap bisa meringankan rasa sakit yang diciptakan barusan.


Sementara itu, Tsamara langsung semakin memeluk erat tubuh wanita yang masih berdiri menjulang di hadapan.


"Mama selalu mengingatkanku pada ibuku yang sudah meninggal ketika masih sekolah. Dulu juga sering mendapatkan hukuman seperti ini ketika tidak patuh. Rasanya merindukan momen-momen bersama orang tua yang sudah lama tidak kurasakan."


"Terima kasih, Ma. Aku tidak akan pernah bisa membalas kebaikan kalian yang mencurahkan kasih sayang tulus padaku dan juga Keanu. Mengenai Rayya, tadi tidak mendengarkan dengan jelas. Maaf."


Merasa aura kesedihan saat ini telah berkurang dan melihat Tsamara lebih baik, Erina melepaskan pelukan dan ingin kembali membahas mengenai sikap Rayya hari ini yang sangat aneh.

__ADS_1


Tidak ingin kakinya terasa pegal berdiri terus ketika menjelaskan, memilih untuk kembali duduk dan menatap Tsamara yang saat ini terlihat sudah siap fokus mendengarkan.


"Aku tadi sekuat tenaga menahan diri untuk tidak marah pada Tsamara. Jadi, menasihati dengan cara halus. Bahkan sengaja menjaga wanita itu agar tidak keluar dari ruang makan dan mengacaukan perbincangan kalian yang membahas mengenai masalah tes DNA."


"Aku pikir Rayya akan kembali berbicara kasar karena kesal saat mendengar nasihat panjang lebar dariku. Bahkan aku berkali-kali menegaskan bahwa keadaanmu jauh lebih buruk dari pada Rayya, demi untuk mencari simpati, agar nuraninya sebagai manusia terbuka."


Saat Tsamara merasa sangat serius mendengarkan, terganggu dengan suara dering ponsel saat ini berada di balik saku gaun panjang yang dikenakannya.


"Mengganggu saja." Beralih menatap ke arah ibu mertua yang menghentikan penjelasan karena mendengar suara telpon yang berdering. "Sebentar, Ma."


"Iya, angkat saja telponnya. Siapa tahu penting." Erina ikut merasa penasaran dengan siapa yang menghubungi Tsamara. "Apakah orang yang akan memesan catering?"


"Entahlah, Ma." Tsamara tidak bisa memastikan karena memang sekarang nomor catering dan pribadi sudah berada di satu benda pipih tersebut karena Zafer sudah membanting salah satu ponsel miliknya.


Kini, ia memeriksa panggilan telpon dari nomor yang tidak terdaftar. "Siapa ini?"


"Kenapa?" tanya Erina penasaran dengan apa yang dimaksud oleh menantunya saat merasa heran.


"Ada telpon dari nomor tidak terdaftar, Ma. Aku jawab atau tidak telpon ini? Kenapa merasa mempunyai firasat buruk?" Tsamara masih menatap ke arah ibu mertuanya dan juga ponsel berada di tangan kiri.


Semenjak Rey muncul kembali, seolah pikiran Tsamara didoktrin dengan hal-hal yang buruk dan selalu merasa cemas jika pria itu tiba-tiba menelpon. Padahal mengetahui bahwa mantan suaminya tersebut tidak memiliki nomornya, tetapi selalu merasa takut jika Rey meneror.


Mengetahui bawa pria itu bisa melakukan apa saja saat menginginkan sesuatu dan bukanlah hal sulit mendapatkan nomor ponsel Tsamara yang hanya merupakan wanita biasa.


Tidak ingin menantunya terlihat gelisah karena merasa bimbang, akhirnya Erina merebut ponsel tersebut dari tangan Tsamara dan langsung menggeser tombol hijau ke atas.


Tanpa membuka suara, Erina ingin mendengarkan siapa yang menghubungi Tsamara.


"Halo."


"Astaga!" Erina saat ini menepuk jidat begitu mengetahui siapa yang menelpon.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2