Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Menyelesaikan misi


__ADS_3

Zafer saat ini sangat yakin bahwa Tsamara yang mempengaruhi orang tuanya dan meminta untuk menikahinya atas dasar tanggung jawab.


Dalam benak Zafer, saat ini ia hanya berpikir mungkin memang ingin menguasai harta warisannya dan berpikir bahwa ia akan menikah dengan pria kaya yang bisa memberinya banyak harta, sehingga menyetujui untuk menikah.


Namun, tentu saja semua itu hanya berasal dari pikiran Zafer karena kenyataannya tidak seperti itu.


Tsamara tidak seperti yang dipikirkan pria itu.


Sayangnya, isi kepala Zafer tidak bisa lagi diubah karena memiliki mata yang gelap dan sejak awal membenci dengan sepenuh hati.


Terlepas dari semua prasangka yang muncul di kepala pria itu, pasti akan selalu menyalahkan Tsamara untuk semuanya tanpa berpikir dua kali.


Dalam sepersekian detik, kekesalan Zafer tiba-tiba berubah menjadi senyuman lebar.


“Tidak masalah, yang penting sekarang aku memiliki semua ini dan dapat dengan cepat memberikannya kepada papa dan mama, sehingga mereka tahu yang sebenarnya.


“Aku yakin setelah kalian berdua membaca semua bukti ini, akan langsung memintaku menceraikan wanita cacat saat itu juga.”


"Dengan begitu banyak informasi, aku yakin mereka tidak akan membiarkan aku jatuh lebih dalam. Akhirnya bisa bercerai dari wanita itu dan kemudian hidup bahagia bersama Rayya."


Zafer membuat rencana untuk pergi ke rumah orang tuanya malam ini, tetapi sebelum itu, harus pulang dan memberi tahu Tsamara agar segera berkemas dan angkat kaki.


Bahwa sekarang ia sudah tahu tentang semua masa lalunya. Zafer bisa sepuasnya mengolok-olok karena menjadi wanita yang tidak setia.


Tentu saja ia sangat ingin melakukan itu. Zafer sudah tidak sabar ingin melihat wajah Tsamara yang akan sangat malu karena ia sudah tahu segalanya tentang masa lalu wanita itu.


Tentu saja, tidak lupa, Zafer juga akan meminta untuk mempersiapkan diri karena sangat yakin bisa mengusir wanita itu segera setelah memberikan semua bukti tentang perselingkuhan kepada orang tuanya.


Setelah jam kantor tiba, Zafer langsung bergegas mengemasi barang-barangnya karena ingin segera pulang dan kemudian mengunjungi tempat lain.


Zafer yang biasanya paling malas pulang lebih awal karena harus bertemu Tsamara, hari ini sangat bersemangat. Karena hari ini mungkin hari terakhir akan melihatnya.


Pria dengan tubuh tinggi tegap dan kekar yang mengenakan setelan jas lengkap itu tak lupa membawa map berwarna cokelat yang menjadi kunci utama segala sesuatu yang akan terjadi hari ini. Zafer benar-benar tidak sabar untuk melihat wanita cacat itu meninggalkan rumahnya.


Kondisi hati yang sangat baik membuat Zafer terus tersenyum tanpa henti, seolah mewakili perasaannya saat ini. Bahkan, dalam setiap kesempatan, ia tersenyum saat berpapasan dengan staf perusahaan yang juga sedang pulang ke rumah masing-masing.


Semua orang sangat terkejut karena tidak biasa melihat bos tersenyum seperti itu.


Pria yang biasanya terlihat dingin dengan wajah penuh emosi setiap hari, tiba-tiba terlihat bahagia hari ini, seolah-olah baru saja memenangkan lotere yang sangat besar.


Zafer sendiri tidak memperdulikan semua tanggapan dari stafnya.


Zafer bahkan tidak keberatan dicap sebagai orang aneh karena sangat bahagia sekarang.


Zafer kini telah sampai di tempat parkir kantor, masuk ke mobilnya sendiri dan bersiap untuk segera membelah jalanan ibu kota menuju rumahnya sendiri.


Namun, sebelum menyadarinya, Zafer tiba-tiba teringat sosok Rayya dan obrolan mereka yang belum selesai sore itu.


"Astaga, aku lupa. Pasti Rayya sangat marah padaku sekarang karena aku secara sepihak memutuskan panggilan."


Zafer menepuk keningnya, merasa bodoh karena melupakan kekasihnya yang baru saja dimarahi tadi pagi.

__ADS_1


“Haruskah aku menelepon dan memberitahunya bahwa aku merindukan sekarang? Ah, haruskah memberi tahu tentang bukti yang kutemukan untuk menghilangkan kemarahan terhadapku?"


"Rayya pasti akan senang mendengar kabar baik ini karena juga menunggu waktu yang tepat untuk bersamaku lagi."


"Kalau begitu, aku tidak perlu membuatnya menunggu lebih lama lagi karena semuanya akan segera berakhir."


Zafer tersenyum lebar, merasa bangga dengan pemikirannya sendiri. Kemudian menghubungkan panggilannya dengan Rayya terlebih dahulu sebelum akhirnya menyalakan mobil dan keluar dari tempat parkir perusahaannya.


Panggilan ketiga telah dilakukan, tetapi Rayya masih belum menjawab juga. Zafer mulai khawatir dan berpikir bahwa gadis itu mungkin masih marah padanya atau kembali ke apartemen sekarang.


Zafer mengira panggilan itu tidak akan pernah dijawab karena sudah pada dering kesepuluh. Satu dering terakhir, panggilan itu pasti akan mati.


Namun, sebelum Zafer menyerah, ternyata Rayya menerima panggilannya.


"Halo, Sayang. Kamu akhirnya menjawab telponku!" Zafer berseru dari tempatnya berada.


Pria berwajah bersinar itu langsung menyalakan speaker agar bisa mendengar suara kekasihnya dengan sangat jelas, mengingat saat itu juga sedang mengemudikan mobil.


Napas kasar Rayya terdengar dari ujung telpon. "Untuk apa kamu menghubungiku? Bukankah kamu tadi secara sepihak mengakhiri panggilan telepon kita tanpa memikirkan perasaanku?"


"Jadi, mengapa menelpon sekarang setelah semua hal yang telah kamu lakukan?" Wanita itu sudah mengomel kesana-kemari.


“Tenanglah, Sayang. Tenang dulu dan jangan marah." Zafer berusaha menjaga suaranya serendah mungkin untuk meredakan emosi Rayya saat ini.


"Maaf. Aku tahu perbuatanku tadi salah karena dengan ceroboh menutup telepon seperti itu. Namun, aku melakukannya karena harus pergi ke ruang rapat terlebih dahulu untuk melanjutkan meeting yang tertunda."


"Aku tidak bisa menahannya karena papa mengawasi secara langsung. Kamu tahu betapa marahnya papa jika kamu membuang waktu untuk pertemuan penting.


“Karena itu, aku minta maaf karena membuatmu marah seperti itu. Aku benar-benar tidak bermaksud menyakitimu, Sayang. Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan. Aku melakukan itu, tentu saja, bukan karena tidak ingin mendengar suaramu lagi. Aku juga takut membuatmu marah, tetapi untuk saat ini, kamu tahu sendiri bahwa kamu harus memprioritaskan semua hal yang diperintahkan papa untuk mengambil kepercayaannya."


Zafer tahu bahwa cukup sulit baginya untuk menenangkan hati Rayya yang gelisah. Jika sang kekasih sedang marah, akan sedikit sulit membujuknya untuk bersikap baik lagi.


Zafer tidak bisa emosi saat Rayya marah. Dalam keadaan seperti ini, harus bersikap baik dan berusaha menenangkan Rayya dengan segala cara agar masalahnya cepat teratasi.


"Sayang, kamu mendengarku, kan?" Zafer kembali angkat bicara karena tak kunjung mendapat jawaban dari kekasih yang diajak bicara.


"Ya, aku mendengar".


Jawaban dari seberang telpon terdengar dengan lembut. Zafer tahu bahwa Rayya sudah tidak marah lagi. Jadi, tidak meledak seperti sebelumnya.


"Maafkan aku? Aku benar-benar minta maaf karena membuatmu marah. Aku juga minta maaf karena membuatmu menunggu, tapi menghubungimu sekarang adalah ingin memberitahu kabar baik."


"Kamu harus tahu bahwa aku telah menemukan bukti untuk mengeluarkan wanita lumpuh itu dari rumahku!"


Suara Zafer terdengar sangat senang dan berpikir benar-benar harus memberitahu kekasihnya tentang kabar baik ini.


"Benarkah? Kamu tidak berbohong padaku, kan?" Rayya mengajukan pertanyaan.


Ia masih belum bisa sepenuhnya mempercayai Zafer setelah apa yang terjadi di antara mereka.


"Tentu saja tidak. Kenapa aku harus berbohong padamu tentang masalah serius ini? Aku tidak akan berbohong tentang ini, Sayang. Jika belum menemukan bukti, aku hanya akan mengatakan sesuatu seperti kemarin dan memintamu untuk tidak bertemu dulu."

__ADS_1


"Namun, sekarang aku menemukan bukti dan yakin bisa mengeluarkan wanita itu dari rumah. Dengan begitu, kita juga bisa bertemu lagi dalam waktu dekat," kata Zafer bersemangat.


Ada keheningan sejenak di ujung sana, Rayya tidak segera menanggapi kata-kata Zafer karena suatu alasan.


Namun, Zafer masih menunggu jawaban dari kekasihnya.


“Zafer, aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa, tapi sangat senang mendengar kabar baik. Akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi dan tidak perlu menahan rindu terlalu lama."


Senyum Zafer melebar saat melihat ke jalan dan membagi perhatiannya untuk juga mendengar suara dari sang kekasih di seberang telpon.


Benar dugaan Zafer, Rayya akan senang mendengar kabar ini dan wanita itu pasti akan melupakan kemarahan terhadapnya karena kabar bahagia ini.


Sangat bahagia karena kenyataannya, sebentar lagi mereka akan bisa menghabiskan waktu bersama lagi.


Meski kemudian mereka berdua tetap harus waspada karena Zafer tidak bisa dengan cepat mendapatkan izin ayahnya untuk berkencan dengan Rayya.


Namun, Zafer bersumpah untuk membuat hati ayah dan ibunya meleleh, sehingga mereka kemudian dapat menerima Rayya sebagai wanita yang akan dijadikan sebagai istri.


"Saat ini, aku sedang dalam perjalanan pulang untuk memberitahu wanita itu agar mengemasi pakaiannya sekarang karena aku akan segera membuangnya."


"Aku juga akan pergi ke rumah orang tuaku malam ini. Tentu saja, untuk memberikan bukti yang kuterima dari detektif yang kusewa. Mereka pasti akan terkejut dengan semua ini."


Rayya penasaran dengan bukti apa yang diterima Zafer karena pria itu tidak memberitahunya. “Sayang, bolehkah aku tahu bukti apa yang kamu miliki tentang wanita jelek itu? Kamu belum memberitahuku."


Zafer menepuk jidat pelan.


“Oh ya, aku lupa. Maaf. Nanti aku kabari kalau kita bisa bertemu karena bukti ini sangat penting yang tidak bisa kuberikan.


"Namun, yang bisa kukatakan dengan pasti adalah bahwa masa lalu Tsamara ternyata lebih buruk dari yang kukira. Wanita itu bermuka dua dan aku yakin ia mengatur semuanya agar orang tuaku melakukan pernikahan ini."


"Wanita licik! Dari pertama kali aku melihatnya, sangat yakin bahwa dia adalah wanita jahat. Hanya penampilannya yang tampak suci. Meskipun kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada wanita itu!" seru Rayya kesal.


Tidak masalah jika Zafer benar-benar tidak dapat menjelaskan sepenuhnya karena Rayya juga mengetahuinya.


Mungkin sulit untuk bertemu sekarang karena masalahnya belum selesai.


Di dalam mobil, Zafer sedikit mengangguk meski tahu bahwa Rayya tidak bisa melihat anggukan itu.


"Ya. Aku memikirkan hal yang sama, Sayang. Jadi, tunggu sebentar lagi, oke? Aku berjanji akan datang ke apartemenmu dalam beberapa hari ke depan dengan berita yang lebih baik dari ini."


"Aku harus menyelesaikan masalah ini dengan cepat terlebih dahulu untuk mendapatkan hasil yang bagus. Kamu mau menungguku, kan?"


Zafer mungkin tidak bisa melihat sekarang, tapi Rayya sebenarnya tersenyum manis sekarang.


"Ya, Sayang. Aku akan menunggumu. Tolong cepat datang dan beri aku kabar baik yang kamu katakan."


"Baiklah, Sayang. Tunggu sebentar lagi karena aku akan segera membawa kabar baik untuk kita berdua. Aku mencintaimu dan akan selamanya begitu."


"Aku juga mencintaimu, Zafer."


Zafer tersenyum senang dan langsung menutup telpon dengan perasaan senang. Akhirnya, Zafer bisa menghilangkan amarah Rayya dan menjadikannya wanita yang lebih baik.

__ADS_1


Kini, saatnya Zafer fokus menyelesaikan misinya untuk mengusir Tsamara dari rumahnya.


To be continued...


__ADS_2