
Zafer tidak peduli lagi dan meminta maaf dalam hatinya karena tidak bisa berbicara dengan Rayya lagi. Kemudian, akan meminta maaf kepada wanita itu setelah menyelesaikan semua pekerjaan dan berbicara dengannya lagi.
Namun, tidak sekarang, Zafer menemukan dirinya dalam nasib yang akan menentukan hidup atau matinya sekarang.
Warisan dan kekayaan akan selalu menjadi prioritas nomor satu Zafer. Tentu saja tidak ingin kehilangan semua kemewahan yang dimiliki sebagai seorang anak.
Tidak mudah hidup susah dan ia benci menjadi miskin. Oleh karena itu, setiap kali ayahnya memberinya tugas yang berkaitan dengan warisannya, akan berusaha sebaik mungkin untuk melakukannya dengan baik agar tidak mengecewakan dan yang lebih penting, tidak kehilangan warisan.
Ada dua menit tersisa sebelum pertemuan kedua dimulai. Zafer melirik sekilas ke kotak makan siang di mejanya. Berpikir tidak akan ada cukup waktu untuk mendapatkan satu gigitan dari sana.
Bahkan sekarang ia berteriak marah, kesal dengan situasi bahwa takdir benar-benar tidak berpihak padanya.
“Arrgh! Hidupku sangat buruk akhir-akhir ini! Mengapa semuanya menjadi begitu berat? Aku benci ini!"
Merasa tidak punya pilihan lain, Zafer akhirnya mengabaikan kotak makan siang itu dan memutuskan untuk segera meninggalkan ruangan. Ia kembali ke ruang pertemuan utama untuk melanjutkan apa yang telah tertunda.
Tidak peduli isi perutnya berteriak untuk diisi, hanya berusaha minum sebanyak mungkin, agar perutnya bisa terisi terlebih dahulu. Berpikir akan langsung makan saat rapat selesai.
***
Dua jam berlalu dengan cepat, tapi sayangnya itu terlalu berat bagi Zafer yang baru saja menyelesaikan pertemuan terakhir untuk melanjutkan proyek yang diberikan ayahnya.
Pada pertemuan kedua, ia harus mati-matian menahan rasa laparnya dan menahan gemuruh perutnya yang terdengar beberapa kali.
Pagi ini ia melewatkan sarapan karena bangun terlambat, jadi harus langsung ke kantor.
__ADS_1
Zafer telah memarahi Tsamara pagi ini dan menyalahkan wanita itu karena tidak membangunkannya. Sampai harus terlambat. Padahal ada pekerjaan penting yang menunggunya di kantor.
Padahal, seharusnya ia tidak memarahi Tsamara karena apa yang terjadi pagi ini bukan seratus persen salah wanita itu.
Hingga saat ini, Zafer selalu membantah kehadiran Tsamara di sekitarnya. Ia meminta wanita itu untuk tidak pernah memasuki kamarnya dan menyentuh barang-barangnya yang ada di sana lagi.
Zafer benar-benar memperlakukan istrinya seperti orang asing di rumah. Mereka bahkan tidak terlihat seperti suami istri.
Zafer juga tidak pernah memberi tahu Tsamara tentang jadwal kerjanya. Ia tidak ingin Tsamara membangunkannya di pagi hari, karena jadwal bangun pria itu terkadang tidak menentu.
Zafer hanya bangun siang jika tidak ada pekerjaan penting, tetapi ketika ada sesuatu yang mengejarnya, bisa sampai ke kantornya lebih awal.
Karena itu, Tsamara tidak pernah benar-benar mengganggu Zafer karena dialah yang memintanya melakukan ini.
Namun, Zafer akan selalu melihatnya sebagai pelakunya. Untuk semua yang bukan salah Tsamara, itu akan salah di mata pria itu. Beginilah cara Zafer memandang istri sahnya sendiri.
Hal-hal penting yang harus dilakukan untuk hari itu telah selesai dan sekarang saatnya bagi Zafer untuk beristirahat sambil menunggu jam kantor.
"Sekarang akhirnya aku bisa makan dengan tenang tanpa diganggu," kata Zafer sambil menghela napas panjang.
Ia duduk di sofa empuk dan ingin menikmati makanannya dengan tenang.
Sayang sekali, sepertinya tidak akan tenang semudah itu karena baru saja mengambil sendok ketiga dari makanannya sendiri, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu.
Zafer menggerutu karena aktivitasnya tertunda. Padahal sudah berpesan untuk tidak diganggu selama sisa waktu.
__ADS_1
"Siapa?" Zafer berteriak kesal karena pengetuk itu sepertinya juga tidak pas.
Setelah teriakan Zafer terdengar, sosok itu akhirnya membuka pintu dan mulai muncul di ambang pintu.
Zafer kemudian mengernyit saat mengenali siapa sosok di depan pintu itu. Dia adalah detektif yang disewa untuk memata-matai Tsamara selama beberapa minggu terakhir.
Namun, untuk apa dia di sini? Zafer benar-benar bingung, tetapi segera membiarkan pria itu masuk dan menyuruhnya segera menutup pintu.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa kamu tidak mengawasi Tsamara? Di mana dia sekarang?" Zafer langsung bertanya pada pria itu.
Ia ingin tahu secara langsung karena masih ingin melanjutkan makannya yang tertunda, entah berapa kali hari ini.
“Maaf, saya langsung datang ke sini dan mengganggu jam makan siang, serta istirahat Anda, Tuan. Saya mencoba menghubungi, tapi tidak ada jawaban.
"Karena nomor Anda tidak aktif, saya akhirnya datang ke sini segera."
"Apa yang sedang terjadi?" Zafer sengaja menyetel ponselnya ke mode pesawat karena ingin menenangkan diri sejenak sambil makan.
"Tuan Kenzo, saya punya informasi yang lebih baik daripada harus mengawasi nyonya Tsamara di tempat kerja," kata pria itu dengan ekspresi sangat serius di wajahnya.
Mendengar kata 'informasi penting', Zafer langsung menjadi penasaran, ia yang sebelumnya tidak bersemangat, tiba-tiba merasa bahwa pria itu akhirnya mendapatkan cahaya dari semua pertarungan untuk menyingkirkan Tsamara
"Ceritakan sekarang tentang apa yang kamu temukan," tuntut Zafer cepat.
Pria itu memberikan sebuah map cokelat yang sudah lama ia bawa.
__ADS_1
"Saya berhasil menemukan fakta tentang masa lalu kelam nyonya Tsamara.
To be continued...