
Sebenarnya, setiap hari Zafer selalu bangun di pagi buta karena tidak pernah bisa tidur nyenyak semenjak kejadian mengerikan yang menimpa orang tuanya.
Bahkan beberapa saat yang lalu, mendengar suara ketukan pintu dari Tsamara, tapi sama sekali tidak memperdulikan karena tengah larut dalam dunianya sendiri dengan menatap ke arah bingkai foto penuh kenangan dari orang tuanya.
Hingga begitu melihat Tsamara sudah masuk dan mencoba untuk menasihatinya, tidak membuat Zafer mengakhiri keterpurukan yang dirasakan setelah orang tuanya meninggal.
Mungkin jika selama ini ia adalah seorang putra yang membanggakan orang tua, tidak mungkin akan jatuh seperti ini hingga terpuruk berhari-hari dengan mengurung diri di dalam kamar.
Rasa bersalah yang teramat besar dirasakan oleh Zafer saat ini ketika sepanjang hidup, belum pernah membuat bangga orang tua dan selalu saja mengecewakan mereka. Bahkan hingga ajal menjemput, tidak bisa membanggakan orang tua.
Ingin sekali melakukan perintah Tsamara karena mengetahui bahwa itu demi kebaikan semua orang, tapi sangat berat dilakukan. Kini, Zafer hanya diam saja tanpa berkomentar apapun.
Kemudian tanpa memperdulikan Tsamara yang sudah mengarahkan kursi roda mendekat. Ia kembali menatap ke arah foto orang tuanya dan beberapa kali mengusap lembut di sana.
Sementara itu, Tsamara merasa bingung harus melakukan apa untuk menyadarkan pria yang masih tidak memperdulikan kedatangannya, sehingga menatap ke arah nampan berisi makanan yang dibawanya.
"Anda harus sarapan karena ini sudah terlambat," ucap Tsamara semakin mendekatkan kursi roda agar bisa memberikan nampan berisi sandwich untuk mengganjal perut yang butuh masukan energi untuk menjalani hari.
"Tuan Zafer, jika orang tua Anda melihat keadaan seperti ini, papa dan mama akan menangis dari atas sana. Jika Anda menyesal dan merasa bersalah pada orang tua karena belum bisa menjadi putra yang membanggakan, lebih baik segera bangkit dari keterpurukan dengan cara fokus mengurus perusahaan."
"Tuan Adam selama ini merintis usaha dari nol hingga bisa sukses sekarang dan dibutuhkan banyak perjuangan. Anda tidak boleh membuat jerih payah papa sia-sia. Mereka masih bisa melihat Anda dari atas sana."
Tsamara sebenarnya ingin berbicara panjang lebar, tetapi berpikir bahwa itu akan membuat Zafer muak padanya, sehingga hanya menasehati seperlunya saja dan berharap langsung tepat di hati.
Meskipun sangat berat karena kehilangan orang tua adalah sesuatu yang teramat luar biasa menghancurkan hidup seseorang. Apalagi langsung ditinggalkan oleh dua orang sangat disayangi, memang bukanlah sebuah hal yang mudah untuk dihadapi.
Tsamara perlahan memberikan nampan ke pangkuan Zafer. "Anda harus makan dan tidak boleh sakit, Tuan. Mulai besok, Anda harus kembali bekerja di perusahaan karena ada banyak orang yang menggantungkan hidup."
__ADS_1
Zafer saat ini menatap ke arah nampan berisi sandwich dan susu. Menu itu sebenarnya adalah favoritnya di masa lalu dan sering dibawakan oleh sang ibu ketika masih bersekolah dulu, tapi sekarang semuanya terasa berbeda setelah kehilangan wanita yang sangat disayangi dan tidak mungkin lagi membawakan itu untuknya.
'Mama, ini adalah menu kesukaanku. Mama yang selalu memasukkan ke dalam kotak bekal saat masih sekolah dulu. Apakah mama ingin Tsamara menggantikan posisimu?'
Tsamara yang saat ini masih masih bergumam sendiri di dalam hati, kini berpikir jika sosok wanita di hadapannya tersebut memang sangat keibuan. Sama persis seperti wanita yang telah melahirkannya.
Berbeda dengan sosok wanita yang selama ini dipuji dan dicintai. Rayya bahkan sama sekali tidak memberikan perhatian seperti ini padanya. Meski mengetahui bahwa wanita itu tengah berusaha untuk kuat saat mengandung keturunannya.
Apalagi semenjak menikah, tidak lagi perhatian seperti dulu karena ada banyak konflik di antara mereka dan membuat perasaannya seperti dipenuhi keraguan.
Kini, Zafer mengangkat pandangan dan menatap ke arah wanita yang masih diam membisu di hadapan.
"Apa kau adalah wanita yang tidak tahu malu? Bahkan aku mengatakan bahwa kau yang membuat orang tuaku meninggal. Kau adalah wanita pembawa sial yang masuk dalam keluargaku."
"Kenapa masih berani menampakkan wajahmu di depanku dan menasehatiku seperti menganggap aku hanyalah anak kecil?" sarkas Zafer dengan wajah memerah karena dikuasai oleh amarah.
Tsamara mencoba untuk memposisikan diri sebagai seorang putra yang terluka karena ditinggalkan oleh orang tua. Apalagi dulu juga mengalami hal yang sama ketika orang tuanya meninggal dalam kecelakaan.
Tsamara tidak pernah menyangka jika hal yang sama terjadi pada mertua. Bahkan ketika mendengar kabar kecelakaan tersebut, seperti mengalami Dejavu dan membuatnya benar-benar terpukul karena dua kali merasakan hal itu
Meskipun mertuanya bukan orang tua kandung, tetapi selama ini menyayangi mereka. Bahkan Tsamara sangat senang saat mendapatkan mertua sangat baik dan menganggapnya seperti putri kandung sendiri.
Namun, harapannya untuk bisa merasakan hal itu seketika pupus begitu melihat mayat mereka terbujur kaku di rumah sakit.
Kini, Tsamara mencoba untuk menata hati dan memberanikan diri berkomentar atas perkataan menyayat hati dari sang suami yang menganggap ia hanyalah penyebab dari kemalangan yang menimpa mertuanya.
"Anda boleh menghina sepuasnya dan aku tidak akan pernah sakit hati. Aku akan bertahan karena mendapatkan pesan dari papa dan mama untuk menjadikan Anda seorang pria bertanggung jawab dan hebat seperti tuan Adam."
__ADS_1
"Bahkan jika itu mengorbankan saya, akan menerima semuanya." Tsamara siap mendapatkan kemurkaan Zafer yang masih menatapnya dengan tatapan tajam mengintimidasi.
Saat ini, Zafer sebenarnya ingin berteriak untuk meluapkan semua kesedihan yang dirasakan, tetapi melihat Tsamara berbicara seperti sedang menanggung semua kesalahan dan mengorbankan diri tanpa memperdulikan kebahagiaan, sehingga saat ini kembali dikuasai oleh rasa iba.
Apalagi melihat wanita itu hanya bisa duduk di kursi roda dan tidak pernah mengeluh ketika selalu dihina olehnya dan juga Rayya.
Zafer saat ini memilih untuk mencoba menenangkan diri dengan mengambil satu potong sandwich dan menikmatinya.
Zafer berusaha untuk menikmati dan berpikir bahwa sang ibulah yang mengantarkan makanan kesukaannya tersebut. Bahkan ketika mengunyah sandwich di dalam mulut, Zafer sampai berkaca-kaca karena terus mengingat jika sang ibu sudah meninggalkannya.
"Mama," lirih Zafer yang saat ini sudah tidak bisa menahan bulir kesedihan dari bola mata.
Suara lirih yang menyayat hati dan membuat Tsamara ikut meneteskan air mata karena bisa memahami bagaimana perasaan pria di hadapannya tersebut.
Ingin sedikit menghibur, kini ia sudah mengarahkan tangan untuk menghapus bulir air mata di pipi putih dengan rawan tegas tersebut.
"Mama sangat menyayangi Anda, Tuan Zafer. Apalagi dulu sering menceritakan mengenai masa kecil Anda kepadaku. Sepertinya mama sudah memiliki firasat akan dipanggil oleh Tuhan dan memberikan banyak pesan padaku."
Zafer yang tadinya hanya membiarkan perbuatan Tsamara saat membersihkan bulir air mata dari wajahnya, ingin mengangkat pandangan dan kalimat terakhir dari wanita di hadapannya tersebut membuatnya merasa trenyuh.
"Apa yang dikatakan oleh mamaku padamu? Katakan semuanya padaku karena kau telah merebut orang tuaku," sarkas Zafer yang saat ini merasa penasaran sekaligus iri karena sang ibu tidak mengatakan apapun padanya.
Perkataan Tsamara seolah menegaskan bahwa ia bukanlah putra yang menjadi kebanggaan orang tua. Namun, meskipun merasa kesal pada Tsamara, tetap saja ingin tahu apa yang diungkapkan oleh orang tuanya dan tidak diberitahu kepadanya.
'Kenapa mama lebih mempercayai Tsamara daripada aku?' gumam Zafer yang saat ini masih menunggu wanita di hadapannya tersebut menceritakan semua hal yang tidak diketahui olehnya.
To be continued...
__ADS_1