Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Seorang pria


__ADS_3

Zafer tahu bahwa wanita di hadapannya tersebut mengalami perubahan hormon akibat kehamilan dan tidak ingin membuat mood Rayya berubah buruk hanya karena jawabannya yang jujur, sehingga memilih untuk berbohong.


"Sebenarnya aku hanya ingin memenuhi keinginan orang tuaku yang sudah meninggal. Aku benar-benar sangat menyesal karena tidak bisa menjadi putra yang baik untuk mereka."


"Keinginan mereka adalah agar aku tidak menceraikan Tsamara dan menjadi putra yang bertanggungjawab dan bisa membuat mereka bangga. Hanya itu," ucap Zafer yang saat ini tengah menatap sosok wanita yang ada di hadapannya tersebut.


Berharap Rayya mau percaya bahwa sama sekali tidak punya perasaan seperti yang dituduhkan beberapa saat lalu.


Saat Rayya merasa bahwa apa yang dikatakan oleh Zafer sangat konyol, refleks tertawa terbahak-bahak. Ia merasa miris dengan apa yang dialami karena tidak pernah menyangka jika semuanya tidak berubah meskipun sudah melenyapkan nyawa orang tua Zafer.


Jika awalnya Rayya berpikir jika Zafer akan mengusir Tsamara setelah tidak ada yang menghalangi setelah mertua disingkirkan, tapi semua semakin rumit karena meskipun sudah tidak ada di dunia, tetap dijadikan alasan utama oleh sang suami.


"Omong kosong!" Karena merasa sangat marah dengan alasan konyol yang diungkapkan oleh Zafer, Rayya merasa sangat marah dan tidak bisa menahan diri lagi, sehingga langsung mengarahkannya tangan untuk menampar wajah dengan rahang tegas itu.


Meskipun tamparan Rayya terasa sangat panas di wajah, tetapi tidak membuat Zafer murka pada Rayya karena mengetahui jika perasaan wanita itu tengah terluka.


Apalagi Rayya selama ini selalu curiga padanya jika berinteraksi dengan Tsamara.


Zafer kini hanya menatap sosok wanita yang sebentar lagi akan melahirkan keturunannya. "Sayang, jangan mengandalkan emosi saat menghadapi sesuatu. Kamu sedang hamil dan itu akan berdampak pada kehamilanmu."

__ADS_1


Lalu ia berusaha untuk mendekati sang istri dan meraih pergelangan tangan wanita itu, tapi sama sekali tidak diperdulikan.


Malah yang ada, tangannya diempaskan dengan kasar oleh Rayya yang kini masih merasa kecewa dan marah.


"Jangan menyentuhku! Aku benar-benar sangat kecewa padamu, Zafer karena selalu saja menggunakan alasan orang tuamu dari semenjak kita menjalin hubungan."


"Sementara sekarang, mereka bahkan sudah tidak ada di dunia, tapi kamu tetap beralasan yang sama. Aku benar-benar bosan, Zafer!" teriak Rayya yang saat ini berlalu pergi dari hadapan sang suami.


Rayya bahkan membanting pintu dan tidak memperdulikan jika Zafer murka padanya. Saat ini, satu-satunya yang diinginkan oleh Rayya hanyalah ingin mencari ketenangan dengan pergi keluar.


Tanpa membuang waktu, ia sudah menuju ke kamar dan mengganti pakaian. Kemudian merias wajahnya agar tidak terlihat pucat. Rencananya hari ini ingin pergi bersenang-senang ke manapun.


Hal yang selalu dilakukan oleh seorang wanita ketika badmood adalah pergi shopping dan beberapa orang suka makan apapun yang disukai, tanpa memperdulikan timbangan yang mungkin bisa menaikkan berat badan.


Namun, Rayya hari ini ingin menghabiskan waktu di Mall dengan menghabiskan uang Zafer karena merasa berhak melakukan itu. Apalagi merupakan istri seorang konglomerat yang sebentar lagi melahirkan keturunan untuk Zafer.


Tidak menunggu waktu lama, beberapa saat kemudian, Rayya sudah terlihat rapi dan langsung menuju ke garasi untuk memakai mobil mewah berwarna merah yang belum pernah dicoba.


'Mulai hari ini, aku akan menikmati semua fasilitas milik keluarga Dirgantara karena memang berhak melakukan itu."

__ADS_1


Rayya yang baru saja meminta kunci mobil pada supir, langsung masuk ke dalam begitu membukanya.


Sebenarnya tadi supir mengatakan ingin mengantar, tapi langsung diusirnya karena berpikir hanya akan membuatnya kesal.


Kini, ia sudah mengemudikan kendaraan mewah tersebut meninggalkan area istana megah keluarga Dirgantara dan membelah jalanan ibu kota dengan kecepatan tinggi.


"Berengsek! Zafer pasti mempunyai hubungan khusus dengan Tsamara dan telah mengkhianatiku. Sementara aku selama ini sangat setia padanya, tapi dengan mudahnya berselingkuh di belakangku dan beralasan konyol ingin menjadi putra yang baik demi orang tua yang telah meninggal."


Rayya beberapa kali mengempaskan tangan ke atas kemudi dan kembali menginjak pedal gas untuk menambah kecepatan ketika jalanan siang ini tidak terlalu ramai. Apalagi sekarang adalah jam bekerja, sehingga tidak banyak orang yang menghabiskan waktu di jalanan.


Seolah Rayya sama sekali tidak takut dengan apapun saat mengemudi dengan kecepatan tinggi, tetap fokus dengan mendahului beberapa kendaraan di depan.


Hingga setengah jam kemudian, ia sudah membelokkan mobil begitu tiba di pusat perbelanjaan terbesar di kota. Begitu keluar dari mobil, langsung berjalan masuk ke dalam Mall.


Tentu saja semilir mesin pendingin seketika terasa di kulitnya dan bau khas Mall menusuk indra penciumannya.


Kini, Raut langsung menuju ke lantai tiga karena selalu berlangganan semua fashion wanita di sana. Saat memencet tombol lift dan menunggu hingga terbuka, mendengar suara bariton dari seorang pria yang memanggil.


"Rayya?"

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2