
Saat ini, Rayya masih berada di atas ranjang bersama pria yang baru saja menikmati tubuhnya. Bahkan sibuk mengendus aroma khas maskulin dari pria yang tadi tidak berhenti membuatnya menggeliat dan mendesak mencapai puncak kenikmatan.
Aroma khas maskulin itu sangat berbeda dengan yang selama ini dirasakan dari Zafer. Ia merasa jika dua pria itu sangat berbeda dan sekarang merasa serakah karena ingin memiliki Raymond meskipun statusnya adalah seorang istri dan calon ibu.
Rayya merasa bahwa apa yang dilakukan tidak salah karena hanya ingin membalas perbuatan sang suami yang berselingkuh darinya dengan Tsamara.
Kini, ia ingin mengetahui apa yang dipikirkan pria yang memeluknya saat ini. Sosok pria yang membuatnya bisa segila ini karena memilih untuk berselingkuh untuk membalaskan dendam pada suami.
"Raymond, apa rencanamu sekarang? Apakah kamu akan meninggalkanku setelah berhasil mendapatkan tubuhku yang tidak berharga ini? Aku bukanlah seorang perawan ketika bercinta denganmu dan pastinya kamu sangat kecewa."
"Apalagi saat ini posisiku bahkan tengah hamil dan aku tidak tahu kenapa bisa berbuat segila ini denganmu. Kenapa kamu merayuku dan membuatku menyerahkan diri?"
Rayya bahkan berbicara sambil menelusuri tubuh telanjang penuh otot perut tersebut dengan jari telunjuk yang sibuk melukis di sana.
Sementara itu, Raymond yang saat ini hanya terkekeh geli mendengar suara Rayya ketika tidak percaya diri hingga merendahkan diri sendiri.
"Aku bahkan belum mengeluarkan rayuan maut padamu, tapi kamu malah sudah berlari ke arahku. Asal kamu tahu, bahwa apa yang tadi kukatakan adalah perasaanku padamu."
"Sepertinya ketulusanku membuatmu terharu, sehingga merasa bahwa aku adalah orang yang tepat menggantikan bajingan itu."
Raymond saat ini menoleh ke arah sosok wanita yang juga menatap ke arahnya. "Seharusnya aku yang bertanya padamu mengenai rencana selanjutnya. Itu karena aku bebas melakukan apapun karena masih belum terikat dengan siapapun."
"Sementara kamu saat ini berstatus sebagai istri Zafer. Jadi, kamu harus memikirkan mulai dari sekarang mengenai siapa yang akan kamu pilih di antara kami."
Rayya saat ini menelan saliva dengan kasar begitu mendapatkan pertanyaan dari Raymond yang membuatnya merasa bingung. Bahkan saat ini tidak yakin apakah bisa meninggalkan suami dan memilih pria dengan iris tajam yang mengunci tatapannya tersebut.
__ADS_1
"Aku sangat takut, Raymond." Akhirnya suara lirih penuh keraguan lolos dari bibir Rayya saat ini karena dikuasai oleh kebimbangan ketika mendapatkan pertanyaan dari Raymond.
Sementara itu, Raymond saat ini memberikan jarak agar bisa lebih leluasa melihat ke arah wanita dengan wajah penuh kebimbangan tersebut.
"Takut? Setelah semua ini terjadi? Kamu sudah masuk ke dalam api, Rayya. Jadi, tidak bisa keluar lagi karena akan terbakar sebentar lagi."
"Apa maksudmu? Apakah kamu ingin menegaskan bahwa aku akan hancur menjadi abu setelah bercinta denganmu?" Rayya bahkan bergidik ngeri mendengar kalimat ambigu dari pria yang masih tidak berkedip menatap ke arahnya.
Sementara itu, Raymond yang dari tadi bisa melihat keraguan di wajah Rayya, ingin membuang semuanya. Berharap wanita itu merasa yakin untuk mengambil keputusan dan tidak akan menyesal.
"Seharusnya kamu tahu konsekuensi ketika tiba-tiba menciumku tadi, bukan? Apalagi kamu bukan seorang perawan bodoh yang tidak tahu apa-apa ketika memancing hasrat kelelakian dari pria dewasa dengan menciumku tadi."
"Jadi, bukankah kamu sudah bisa menebak akan berakhir seperti apa setelah menciumku? Lalu, setelah kita bercinta, apa mungkin bisa tetap mempertahankan rumah tanggamu dan membuangku? Saat kamu memilih salah satu di antara kami, hasilnya tetap sama, yaitu terbakar."
Raymond menjelaskan agar Rayya mengerti bahwa apapun keputusan wanita itu, maka sama-sama menghancurkan karena tidak ada pria manapun yang rela melihat istri berselingkuh.
"Itulah yang disebut dengan terbakar. Saat seseorang berani bermain api, harus siap dengan kemungkinan terburuk dan aku ingin kamu tidak ragu dengan keputusan terbaik menurutmu."
Kini, Rayya mulai mengerti apa yang baru saja diungkapkan oleh Raymond. Memang semua itu benar adanya dan sudah bisa diprediksi apa yang akan terjadi ketika memutuskan sesuatu.
Namun, saat ini Rayya masih dipenuhi oleh keraguan mengenai pria mana yang akan menjadi pilihan hati dan dipercayai bisa membahagiakannya.
Jujur saja setelah Zafer berubah sikap, padahal dulu sangat mencintai dan memujanya, Rayya seperti susah untuk memupuk kepercayaan pada seorang pria.
Meskipun saat kecil pernah berteman baik dengan Raymond, tetap saja tidak mengetahui bagaimana watak pria yang baru saja bercinta dengannya tersebut.
__ADS_1
Sementara Zafer sudah lebih dipahami. Bahwa suaminya tersebut adalah seorang pria yang arogan dan berbuat sesuka hati, tapi tidak pernah sekalipun kasar padanya meskipun sedang marah.
Namun, yang terjadi malah sebaliknya karena sering menampar Zafer ketika sedang marah. Sementara sosok pria di hadapannya tersebut masih belum dipahami bagaimana sifat dan watak seorang Raymond.
Rayya seperti merasa trauma jika kembali disakiti oleh pria yang dicintai sekaligus dipercaya. Bahkan selama ini tidak pernah memakai perasaan dengan seorang pria dan melabuhkan pada Zafer.
Hingga berakhir menikah dan memiliki keturunan yang sebentar lagi akan lahir ke dunia.
Namun, ketika berhadapan dengan Raymond saat ini, seperti tidak percaya diri karena pria tersebut memiliki semua hal yang membuat para wanita tergila-gila.
Muda, tampan, kaya adalah tiga perpaduan yang membuat para wanita rela melakukan apapun agar bisa bersama dengan seorang pria yang terlihat tanpa cela tersebut.
Hal itulah yang membuat Rayya merasa ragu untuk meninggalkan Zafer karena berpikir jika suatu saat Raymond berselingkuh darinya setelah bosan.
Apalagi statusnya saat ini hanyalah seorang istri sekaligus calon ibu. Bahkan tidak yakin apakah Raymond mau menerima anak yang dikandungnya.
"Aku butuh waktu untuk memikirkan hal ini, Raymond. Posisiku saat ini tidak sedang berada dalam fase pas untuk mengambil keputusan penting dalam hidup. Apalagi sekarang pikiran sedang kacau."
Rayya berharap Raymond mau mengerti apa yang saat ini dirasakan. Namun, kalimat dari pria yang kini berubah menatap tajam, seolah menusuk tepat di jantungnya.
"Sepertinya aku bisa membaca jika kamu hanya sedang memanfaatkanku untuk mengobati lukamu akibat perbuatan suamimu." Raymond merasa sangat kesal sekaligus marah atas jawaban dari Rayya yang tidak langsung memilihnya.
Menandakan bahwa wanita itu dipenuhi oleh keraguan karena berpikir ia tidak pantas untuk bersama Rayya. Kini ia beranjak dari ranjang dan melangkah pergi menuju ke arah kamar mandi untuk meninggalkan wanita yang berhasil memantik amarahnya.
Tentu saja saat ini ingin membersihkan diri dan mendinginkan kepala dengan berdiri di bawah guyuran air shower yang dingin. Berharap setelah melakukan itu, perasaannya yang akan menjadi lebih baik.
__ADS_1
To be continued...