
"Aku akan menyuruh detektif yang selama ini membantuku untuk menyelidiki mengenai kecelakaan yang menimpa orang tuaku dan sekaligus yang kualami. Terkadang kerja para polisi tidak secepat detektif yang dibayar mahal untuk menyelesaikan suatu masalah."
Zafer saat ini menunjuk ke arah ponsel miliknya di atas laci. Memberikan sebuah kode pada Tsamara agar segera mengambil karena kepalanya kembali pusing.
Ia memilih untuk kembali berbaring setelah tadi duduk selama beberapa menit untuk menikmati buah apel yang dikupas oleh sang istri.
Tanpa membuang waktu, kini Tsamara langsung mengambilkan ponsel milik Zafer dan memberikan ke tangan dengan buku-buku kuat tersebut.
Berharap Zafer bisa mendapatkan kebenaran mengenai kecelakaan yang membuatnya merasa curiga jika keduanya saling berhubungan.
"Mungkin saja ada orang jahat yang iri dengan kesuksesan keluarga Dirgantara. Jadi, mereka menghalalkan segala cara agar bisa menyingkirkan orang-orang yang dianggap menghalangi jalan untuk meraih kesuksesan kesuksesan."
Zafer yang sudah lama mengerti dunia bisnis dan juga persaingan sangat kuat, memang mengetahui bahwa apa yang dikatakan Tsamara benar.
"Jangankan perusahaan besar seperti milik keluargaku, bahkan orang-orang yang berjualan di pinggir jalan ada yang saling iri dan menjatuhkan demi bisa mendapatkan uang."
Zafer yang baru saja menutup mulut, langsung menekan tombol panggil dan memberikan perintah pada detektif yang dulu diperintahkan untuk mencari tahu semua hal mengenai Tsamara dan juga Rey.
Sementara Tsamara mendengarkan percakapan antara Zafer dan sang detektif yang sudah membahas mengenai kecelakaan, Tsamara mengingat mengenai kejadian saat orang tuanya berjualan dulu.
'Memang hanya gara-gara uang, semua orang rela melakukan apapun untuk bisa mendapatkan. Bahkan dengan cara berbuat hal yang dilarang agama.'
'Seperti ketika ibuku dulu laris berjualan makanan, tapi selalu mendapatkan kiriman bunga yang disebarkan di depan rumah dan tidak diketahui dari siapa.'
Tsamara sudah mengerti semua hal itu semenjak remaja karena orang tuanya menceritakan mengenai ulah orang-orang jahat yang merasa iri dan takut tidak bisa bersaing.
__ADS_1
Hingga memilih jalan pintas untuk menyingkirkan saingan dengan cara melakukan hal-hal dilarang agama.
'Jika benar ada yang berusaha untuk menyingkirkan papa, mama dan tuan Zafer, sudah dipastikan bahwa orang-orang itu tak lebih baik dari binatang karena membunuh.'
"Kira-kira siapa orang yang memiliki pikiran buruk seperti itu? Melenyapkan nyawa orang lain tanpa belas kasih dan pastinya merupakan sebuah dosa paling besar." Tsamara ingin mengetahui seperti apa respon dari Zafer setelah pria itu menyelesaikan panggilan.
Berharap pria tersebut mau memikirkan kira-kira siapa yang mempunyai niat jahat pada keluarga Dirgantara.
Zafer yang saat ini menatap ke arah Tsamara, mengembuskan napas kasar karena tidak bisa menjawab. "Ada banyak orang yang menjadi saingan bisnis Dirgantara Grup."
"Jadi, mana mungkin aku bisa menuduh mereka semua yang selama ini bersaing dengan perusahaan milik orang tuaku." Zafer kemudian menaruh ponsel di samping kiri pembaringan agar bisa memudahkan ketika mengambil saat ada yang menghubungi.
Tsamara merasa bersalah karena membuat pria itu terlalu memforsir pikiran di saat belum sepenuhnya pulih. "Lebih baik Anda serahkan saja semuanya pada polisi dan juga detektif itu."
"Semoga kita bisa segera mengetahui mengenai kecelakaan itu apakah merupakan sebuah konspirasi percobaan pembunuhan, ataukah memang murni hanyalah kelalaian dari seorang supir." Tsamara merasa iba melihat sosok pria dengan wajah pucat tersebut selalu meringis menahan rasa nyeri di kepala.
Tsamara berniat untuk menjauh dari pria itu dengan memutar kursi roda dan berniat untuk menonton televisi yang ada di sudut ruangan. Namun, mendengar suara bariton Zafer yang memantik rasa kesal.
"Jika kamu sudah bosan mengurusku di rumah sakit, lebih baik pergi! Aku bahkan tidak memintamu untuk merawatku, bukan? Namun, kau sama sekali tidak perduli ketika aku mengusirmu dari sini." Zafer selalu saja merasa kesal jika Tsamara seolah pergi meninggalkannya.
Sebenarnya ia menyukai saat-saat ketika wanita itu banyak bicara. Apalagi selalu merasa kesepian jika Tsamara lebih fokus pada hal lain daripada dirinya.
Entah mengapa Zafer menjadi berubah seperti seorang anak kecil yang membutuhkan perhatian semenjak kecelakaan dialami.
Apalagi ketika melihat Tsamara selalu sabar mengurusnya, membuat Zafer ingin terus merasakan itu. Bahkan seolah melupakan mempunyai istri lain yang saat ini tengah mengandung calon keturunannya.
__ADS_1
Tsamara yang ingin sekali memarahi Zafer karena selalu saja berkata pedas padanya, kini seketika mengarahkan kursi roda untuk menghadap ke arah pria itu lagi dan mengarahkan tatapan tajam.
"Sekarang aku mengerti bagaimana rasanya menjadi mama. Saat ini, ingin sekali memutar telingamu hingga memerah karena tidak pernah bisa dinasehati dan selalu bersikap arogan serta sesuka hati."
Tsamara bahkan terlihat sangat kesal dan wajah memerah tampak jelas saat ini sambil menatap ke arah Zafer.
Namun, kemurkaannya hanya ditanggapi dengan sikap Zafer yang malah tertawa terbahak-bahak dan Tsamara semakin kesal.
Zafer yang merasa jika saat ini seperti tengah berhadapan dengan sang ibu yang sangat cerewet dan suka menghukum dengan cara menjewer telinga, Zafer menahan diri untuk tidak tertawa.
Namun, gagal karena saat ini sudah terbahak melihat ekspresi wajah Tsamara yang malah terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
Bahkan saat ini memegangi perut karena tidak bisa berhenti tertawa. "Astaga! Kamu bahkan terlihat seperti menganggapku seorang anak kecil, hingga berpikir bisa menjewer telingaku seperti yang selama ini dilakukan oleh mama."
"Sekali saja kamu berani melakukan itu, aku tidak akan tinggal diam dan membuatmu menyesal." Zafer sebenarnya hanya bercanda ketika mengungkapkan ancaman, tetapi berpikir bahwa jika tidak melakukan itu,. mungkin Tsamara benar-benar akan menjewer telinganya.
Zafer mungkin bisa menerima jika yang melakukan adalah sang ibu karena merupakan wanita yang telah melahirkannya.
Namun, jika yang melakukan adalah sang istri, menganggap itu adalah sebuah penghinaan darinya karena dianggap seperti anak kecil yang bisa dihukum karena melakukan kesalahan.
'Aku tidak akan membiarkanmu menganggapku seperti anak berusia 6 tahun layaknya Keanu.'
'Namun, kamu harus menganggapku merupakan seorang pria dewasa yang bisa membuatmu kagum padaku. Aku akan menunjukkan itu padamu dan juga orang tuaku,' gumam Zafer yang saat ini melihat wajah memerah yang tadinya dipenuhi oleh amarah, kini berubah tidak berkutik.
Hal itu membuat Zafer merasa senang karena seperti terhibur dengan ekspresi wajah Tsamara ketika diliputi oleh kekhawatiran mengenai hukuman yang akan diberikan jika sampai menyentuh telinganya dengan melakukan hal sama seperti sang ibu dulu saat marah padanya.
__ADS_1
To be continued...