Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Suara teriakan


__ADS_3

Sementara itu, Erina yang dari tadi masih berdiri di depan pintu, tetap berusaha untuk menghubungi nomor sang suami yang kini sudah tidak aktif dan semakin bertambah khawatir.


"Sekarang tidak aktif. Bagaimana ini?" Erina langsung menghambur masuk ke dalam ruangan kamar tanpa memperdulikan Rayya "Sayang, sekarang nomor papamu tidak aktif."


Zafer yang baru selesai menelpon, kini juga ikut khawatir, tetapi tidak menunjukkan pada sang ibu dan masih berusaha bersikap tenang untuk menghibur wanita yang sangat disayangi tersebut agar tidak panik.


"Tenang, Ma. Aku sudah menghubungi ahli IT untuk mencari lokasi terakhir dari GPS yang ada di ponsel papa Pasti sebentar lagi akan mendapatkan kabar." Zafer masih berusaha untuk menenangkan sang ibu dengan sesekali mengusap punggung dan lengan.


Berharap bisa menyalurkan hal positif pada wanita paruh baya yang terlihat pucat karena mengkhawatirkan sang suami.


"Kita tunggu kabar sebentar lagi. Nanti, aku akan langsung meluncur ke lokasi jika sudah diberitahu."


"Mama ikut!" seru Erina yang tidak pernah merasakan kekhawatiran seperti ini dan tidak tahu di mana keberadaan sang suami yang membawa Keanu.


"Sayangnya tidak membawa sopir saat pergi tadi. Jadi, tidak bisa menghubungi siapapun karena pergi sendiri. Sebenarnya mereka ke mana?" Masih dengan degup jantung yang berdebar kencang saat hanya kekhawatiran yang dirasakan ketika berpikir terjadi sesuatu hal buruk seperti mengalami kecelakaan atau ada penjahat yang menyakiti.


"Mama lebih baik tenang dulu karena kita belum mendapatkan kepastian apapun. Jika ingin ikut, tidak masalah dan kita akan pergi bersama." Zafer masih menunggu informasi dari orang yang tadi ditelpon dan sesekali menatap ke arah ponsel.


Hingga begitu mengetahui bahwa ada notifikasi yang masuk, refleks Zafer langsung memeriksa dan mendapatkan lokasi terakhir dari sang ayah.


"Kita pergi sekarang, Ma. Aku sudah mendapatkan lokasi terakhir papa yang berada di sekitar area restoran." Zafer langsung mengambil kunci mobil yang berada di dalam laci dan berjalan keluar bersama sang ibu.


"Ayo. Mama benar-benar khawatir pada papamu." Erina berjalan mengikuti putranya keluar dari pintu dan melewati menantu perempuannya yang dari tadi sama sekali tidak mengeluarkan suara ataupun menampilkan kekhawatiran.


Sebelum Zafer keluar, berbicara singkat pada Rayya. "Kembalilah tidur. Aku akan mencari papa dulu."


Rayya hanya mengangguk perlahan dan sama sekali tidak berkomentar karena berpikir bahwa sikap mertuanya tersebut terlalu berlebihan.

__ADS_1


Bahkan ia mengantar sampai di depan pintu dan melihat siluet ibu dan anak tersebut yang menghilang dibalik anak tangga.


"Kenapa wanita tua itu sangat berlebihan hanya ditinggalkan beberapa jam saja. Bagaimana jika satu hari suami pergi? Apakah akan menangis seharian? Waktu nyaman istirahatku jadi terganggu karena ulah tidak penting."


Rayy,berniat untuk masuk kembali ke dalam kamar, tetapi mendadak muncul sesuatu di pikiran dan tersenyum menyeringai.


"Sepertinya ini adalah saat yang tepat untuk memberikan pelajaran pada wanita cacat itu. Sekarang tidak ada yang melindungi Tsamara dan aku bisa membalas dendam sepuasnya."


Rayya saat ini tersenyum menyeringai dan tengah berpikir cara apa yang dilakukan untuk memberikan pelajaran pada wanita yang sangat dibenci.


"Kira-kira apa yang bisa kulakukan pada Tsamara? Pastinya yang tidak meninggalkan bekas, tetapi sangat menyakitinya." Masih terdiam di depan pintu dan memikirkan sesuatu.


Hingga indra pendengaran menangkap suara dering ponsel dan langsung masuk ke dalam untuk melihat siapa yang menghubungi.


Begitu mengetahui nama di ponsel yang masih berdering, ia saat ini merasa bahwa kemenangan berada dalam genggaman dan tersenyum menyeringai penuh kepuasan.


Kemudian langsung menggeser tombol hijau ke atas dan mendengar suara bariton dari seberang telepon.


"Apakah kamu sekarang berubah pikiran dan membutuhkan bantuanku untuk mendapatkan Tsamara kembali?" Rayya berbicara sambil mendaratkan tubuh pada ranjang dan tersenyum penuh kemenangan.


"Sebenarnya bukan seperti itu tujuanku menelpon," ucap Rey yang saat ini tengah mencoba untuk tidak membuat Rayya merasa sombong.


"Lalu?" Rayya mengerutkan kening dan masih menunggu jawaban dari Rey.


"Aku hanya ingin bertanya satu hal." Rey masih berbicara singkat karena tidak berniat untuk mengakrabkan diri dengan Rayya karena tidak menyukai sikap wanita itu yang selama ini bersikap buruk pada Tsamara.


"Apa?" Tentu saja saat ini Rayya makin dibuat penasaran dengan pertanyaan ambigu dari pria di seberang telpon yang selalu membuatnya tidak bisa berbuat sesuka hati.

__ADS_1


"Apakah Zafer bercinta dengan Teman? Atau pernikahan di antara mereka hanya sebuah status di atas kertas?" Rey sedang mengurus sesuatu dan ingin mengetahui mengenai hal pribadi yang memang harusnya tidak pantas ditanyakan oleh orang lain.


Namun, merasa bahwa Rayya bisa memberikan jawaban yang tidak bisa diselidiki oleh detektif suruhannya, Rey saat ini menunggu sampai wanita itu menjawab.


Rayya sama sekali tidak pernah menyangka jika ternyata Rey menelpon hanya ingin mengetahui mengenai hal yang bersifat sangat pribadi tersebut.


Padahal tadi sangat yakin jika pria itu menelpon karena ingin mengajak bekerja sama untuk mendapatkan Tsamara. Namun, ternyata bukan itu yang diinginkan oleh Rey. Seolah ingin menunjukkan bisa melakukan semuanya sendiri tanpa campur tangan orang lain.


'Apa yang harus kukatakan pada Rey saat ini? Apakah aku harus berbicara jujur atau tidak? Jika mengatakan bahwa sebenarnya merasa ragu apakah Zafer tidak pernah bercinta dengan Tsamara, khawatir akan ditertawakan.'


Bahkan jika mengatakan Zafer menikahi Tsamara hanya karena ingin mempertahankan harta, khawatir jika nanti bermasalah dan mengakibatkan suaminya marah.


Jika itu terjadi, hubungan mereka akan kembali buruk dan bukan itu yang ia inginkan. Jadi, saat ini merasa sangat kebingungan untuk menjawab pertanyaan dari Rey.


Rayya akhirnya memutuskan untuk melangkah keluar dari kamar setelah bangkit dari ranjang dan menuju ke tempat di mana Tsamara berada saat ini.


"Lebih baik kau berbicara sendiri dengan orang yang bersangkutan karena aku tidak bisa menjawab."


Rayya langsung membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu dan begitu kaki telanjang melangkah masuk ke dalam ruangan kamar, melihat Tsamara masih tidur telentang seperti beberapa saat lalu.


"Tsamara, ada seseorang yang ingin berbicara denganmu dan ingin mengajukan pertanyaan yang sama sekali tidak bisa aku jawab."


Sementara itu, Tsamara yang dari tadi merasa khawatir dengan keadaan ayah mertua. Dari tadi menunggu kabar dari ibu mertua, sama sekali tidak pernah menyangka jika Rayya tiba-tiba masuk ke dalam kamar dan berbicara di telpon dengan seseorang.


Tsamara mengeluarkan suara karena merasa sangat yakin bahwa seseorang yang berbicara dengan Rayya adalah Rey.


"Aku tidak ingin berbicara dengan bajingan itu!" Suara teriakan Tsamara seketika menggema di ruangan kamar yang awalnya penuh keheningan.

__ADS_1


Semua hal yang berhubungan dengan Rey membuat Tsamara tidak bisa mengendalikan diri, sehingga berteriak tanpa memikirkan apapun lagi.


To be continued...


__ADS_2