
Pria yang saat ini berbicara, masih mengarahkan ponsel pada anak kecil yang sudah dua kali main bumper car dan seperti sangat menyukai permainan itu.
"Aku sedang dalam perjalanan ke sana dan akan menjemput putraku. Baiklah, sebentar lagi aku akan sampai. Tutup saja telponnya!" Tsamara yang baru saja menutup mulut, melihat panggilan masuk dan ternyata dari Rayya dengan nama Sayang di sana.
Entah mengapa Tsamara merasa sedikit aneh melihat kontak yang disimpan dengan nama Sayang di ponsel Zafer.
'Kenapa aku memikirkan masalah tidak penting ini? Bahkan aku sudah tahu bahwa pria ini sangat mencintai Rayya dan hanya ingin menikmati tubuhku saja, sehingga melakukan apapun dengan cara merayu dan beberapa kali memanggil istri.'
Tsamara yang bahkan sibuk bergumam sendiri di dalam hati sambil menatap panggilan dari Rayya, seketika musnah begitu mendengar suara bariton dari Zafer.
"Ada telpon masuk. Memangnya dari siapa?" Zafer melirik sekilas ke arah Tsamara dan menunggu jawaban dari wanita itu.
"Dari istrimu," sahut Tsamara dengan singkat dan langsung menyerahkan pendamping di tangan tersebut pada Zafer agar segera dijawab.
Zafer yang tidak ingin terganggu saat bersama Tsamara karena berpikir bahwa waktu bersama Rayya jauh lebih banyak dan akan berbicara di rumah nanti.
"Taruh saja di sana!" Zafer mengarahkan daku ke arah depan untuk memberikan sebuah kode pada Tsamara agar menaruh ponsel pada dashboard mobil.
Sementara itu, Tsamara hanya diam dan menuruti perintah Zafer, tapi karena merasa tiba pada Rayya karena menelpon beberapa kali, tapi tidak diangkat.
"Kenapa tidak diangkat telpon dari Rayya? Aku sangat yakin jika Rayya akan sangat kesal padamu karena beberapa kali menghubungi dan tidak diperdulikan." Tsamara memalingkan wajah pada jendela mobil karena tidak ingin melihat Zafer yang membuat perasaannya seperti tidak nyaman hari ini.
'Apa ia selama ini selalu bersikap seperti ini pada semua wanita? Selalu cepat bosan pada pasangan setelah menemukan yang baru? Aku tidak ingin menjadi korban selanjutnya. Jaga hati dan pikiranmu, Tsamara. Kamu sama sekali tidak boleh tertarik pada pria ini karena bukan milikmu seutuhnya.'
Tsamara yang hanya bisa mengungkapkan kalau kesah di dalam hati, saat ini berpikir bahwa apa yang terjadi padanya saling berkaitan dan hampir mirip dengan apa yang dialami di masa lalu.
__ADS_1
Bahwa dulu Rey memiliki banyak wanita tanpa pengetahuannya dan berpikir bahwa pria itu mencintainya dengan tulus. Hingga hanya kekecewaan dan sakit hati yang dirasakan.
'Aku tidak ingin terluka lagi oleh perbuatan seorang pria.' Tsamara saat ini mengingat perkataan Zafer yang menginginkan keturunan darinya dan membuatnya benar-benar sangat pusing jika memikirkan hal itu.
Meskipun Tsamara masih muda dan pantas untuk mendapatkan anak lagi, tapi tidak pernah terpikirkan olehnya berada pada situasi sepelik ini karena ia yang menikahinya memiliki istri lain.
Mungkin jika dulu, lebih memilih untuk menggugurkan kandungan, tapi setelah bertobat dari dosa-dosa yang dilakukan, Tsamara tidak mungkin bisa melakukan hal itu karena membunuh nyawa yang bahkan belum dilahirkan ke dunia merupakan hal yang paling dilaknat oleh Tuhan.
Suara bariton dari Zafer yang saat ini mengungkapkan jawaban atas pertanyaan, membuat Tsamara merasa seperti diombang-ambingkan oleh seorang pria.
"Aku mempunyai banyak waktu dengan Rayya di rumah dan tidak penting menjawab telpon darinya. Sementara hanya beberapa jam saja bersamamu. Jadi, aku tidak ingin terganggu dan harus menghemat tenagaku yang sudah banyak terforsir hari ini untuk melayani Rayya di rumah."
Zafer yang berbicara dengan sangat santai sambil mengemudi, sekilas menoleh ke arah Ayu yang masih menata kearah sebelah kiri. Seolah pemandangan itu jauh lebih menarik daripada menatap wajahnya.
"Apa yang kamu lihat sebenarnya? Apakah tidak aneh berbicara sambil memalingkan wajah dan tidak ingin menatap lawan bicara? Bahkan meskipun aku mengemudi, tetap sesekali melihatmu saat berbicara."
Namun, itu hanya berlangsung selama beberapa detik saja karena begitu Tsamara membuka suara, malah membuatnya merasa emosi dan kesal.
"Aku memang tidak ingin melihat wajahmu karena hanya akan menyakiti mataku. Apalagi saat membahas Rayya, rasanya menyadarkanku bahwa semua yang kamu lakukan hari ini hanyalah sebuah nafsu."
"Aku bahkan merasa tak lebih dari seorang pelacur yang melayani pelanggan. Rasanya tidak jauh beda dengan apa yang kamu lakukan dulu di masa lalu." Tsamara berbicara dengan nada suara yang terdengar miris dan menyayat hati.
"Aku berpikir ingin bertaubat dari semua dosa-dosaku dengan tidak melakukan hubungan bersama seorang pria, tapi gagal setelah kamu memaksaku untuk melayanimu dan melanjutkan karena ingin lepas dari kelicikan Rey."
Saat baru saja berbelok setelah sampai di Mall, Zafer mematikan mesin mobil dan tidak terima dengan apa yang baru saja diungkapkan Tsamara.
__ADS_1
"Apa kamu pikir aku adalah seorang pelanggan yang membutuhkan tubuhmu dan langsung membayarnya setelah selesai?"
Tanpa pikir panjang, Tsamara terlihat langsung menundukkan kepala sebagai tanda persetujuan.
Karena memang berpikir bahwa ia tak lebih dari seorang wanita murahan, meski yang berbeda adalah statusnya merupakan istri sah dari Zafer, tetap saja berpikir bahwa pria itu hanya ingin menikmati tubuhku karena berpikir punya hak dan memang pada kenyataannya mereka tidak saling mencintai.
"Iya, memang hubungan kita seperti itu, bukan? Hanya saja, yang membedakan adalah status saja. Status di atas kertas yang melegalkan hubungan kita dan tidak melakukan dosa saat bercinta, tapi tetap saja ada balasan setimpal untuk apa yang dilakukan."
Memang bukan uang yang menjadi balasan setimpal dalam hubungan mereka karena diganti dengan hal lainnya, tapi tetap saja berpikir bahwa itu adalah bayaran dari pelayanannya pada Zafer.
Sementara itu, Zafer yang merasa kesal atas pemikiran Tsamara, kini melepaskan sabuk pengaman dan bergerak mendekat ke arah Tsamara. Kemudian berbicara tanpa mengalihkan tatapan ketika berada pada posisi sangat dekat dengan jarak hanya beberapa senti saja.
"Baiklah, jika kamu berpikir bahwa aku menganggapmu hanyalah seorang pelacur, akan menerimanya!" Kemudian Zafer mendekatkan wajah untuk mencium bibir sensual yang dari tadi membuatnya merasa geram.
Ingin sekali ia mengatakan bahwa tidak pernah berpikir seperti itu untuk membantah tuduhan Tsamara, tetapi merasa percuma dan hanya akan berakhir berdebat cukup panjang, sehingga memilih untuk melampiaskan amarah dengan cara membungkam bibir sensual itu agar tidak kembali berbicara.
Sementara itu, Tsamara sama sekali tidak pernah menyangka jika apa yang disampaikan membuat Zafer malah semakin berbuat gila padanya.
Tidak ingin Zafer semakin berbuat gila di dalam mobil karena tangan sudah bergerilya ke mana-mana, khususnya bagian inti, sehingga mengarahkan pukulan pada punggung pria yang seperti tidak bisa menahan gejolak gairah tersebut.
'Zafer benar-benar gila! Aku harus segera menghentikannya!' gumam Tsamara yang saat ini masih mengarahkan pukulan pada bahu Zafer.
Tsamara merasa sangat lega begitu Zafer melepaskan pagutan, tetapi itu tidak berlangsung lama.
"Karena kamu berpikir sama dengan seorang pelacur, berarti bisa melayaniku di manapun sesukaku. Sepertinya akan sangat nikmat juga bercinta di dalam mobil," ucap Zafer yang kini masih mengarahkan tatapan tajam mengintimidasi dan tersenyum menyeringai pada wanita yang terlihat memerah wajahnya.
__ADS_1
To be continued...