Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Mengungkapkan semua


__ADS_3

Zafer baru saja tiba di rumah sakit setelah berbicara dengan Rayya yang mengatakan bahwa tidak akan lagi membuat kesal karena cemburu. Sudut bibirnya dari tadi melengkung ke atas karena merasa sangat senang melihat perubahan Rayya yang tidak lagi merasa cemburu dengan sikap yang saat ini ditunjukkan pada Tsamara.


Kemudian keluar dari dalam mobil setelah memarkirkan kendaraan miliknya tersebut di tempat yang tersedia dan berjalan menuju ke arah lobby di rumah sakit.


Setelah bertanya pada resepsionis mengenai ruangan yang ditempati oleh Tsamara dengan menyebutkan nama usaha keluarganya, yaitu Dirgantara, tidak sulit bagi perawat yang langsung memberitahukan setelah melihat di komputer.


Zafer pun melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah lift dan memencet tombol lima. Di mana ruangan Tsamara berada.


Tak butuh waktu lama untuk tiba di lantai lima dan segera dicari ruangan yang tadi disebutkan oleh perawat. Begitu melihat ada pelayan yang tak lain adalah Paijo tengah duduk di kursi tunggu, sudah bisa dipastikan bahwa wanita yang berstatus sebagai istri sahnya berada di sana.


"Apakah istriku dirawat di dalam ruangan ini?" tanya Zafer begitu menghampiri sosok pria paruh baya yang saat ini tengah menunduk menata ke arah ponsel.


Refleks Paijo seketika berdiri dan membungkuk hormat. "Selamat datang, Tuan Zafer. Ya, nyonya ada di dalam bersama tuan dan nyonya besar, serta tuan Keanu."


Refleks Zafer berniat untuk masuk ke dalam ruangan tersebut menemui orang tua dan wanita yang pingsan karena tidak tahu apa penyebabnya.


Namun, tidak jadi masuk karena mendengar pembicaraan dari dalam ruangan. Akhirnya Zafer memilih untuk berdiri di depan pintu hingga apa yang disampaikan oleh sang ayah itu selesai.


Menatap ke arah Paijo, kini Zafer memberikan satu lembar uang. "Belikan aku minuman karena merasa sangat haus."


Buru-buru Paijo menganggukan kepala dan langsung melaksanakan perintah karena tidak ini majikan menunggu. "Baik, Tuan."


Kemudian Paijo langsung pergi meninggalkan majikan yang dirasa sangat aneh karena tidak jadi masuk ke dalam ruangan tersebut dengan sibuk bergumam di dalam hati.

__ADS_1


'Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa tuan Zafer tidak langsung masuk ke dalam? Tingkah tuan selalu mencurigakan. Apalagi seperti orang yang sedang mengendap-ngendap dan mendengarkan pembicaraan dari orang lain.'


'Buat apa aku memikirkan hal yang tidak penting? Lebih baik aku fokus pada diri sendiri dan juga istriku. Tuan Zafer mungkin menyadari bahwa selama ini sikapnya sangat tidak baik pada nyonya Tsamara, sehingga merasa menyesal setelah wanita malang itu berakhir di rumah sakit.'


Sementara itu, Zafer yang tadinya berdiri di depan pintu dan mendengarkan pembicaraan di dalam ruangan mengenai sang ayah yang membahas mengenai pria bernama Rey Bagaskara pada Tsamara.


'Jadi, papa dan mama kini sudah mengetahui bahwa pria itu tiba-tiba muncul di dekat Tsamara? Aku pikir hanya suami yang tahu dan menceritakan padaku. Ternyata bahkan Tsamara sudah mengetahui dan sampai ke telinga orang tuaku.'


Zafer yang merasa pegal karena berdiri terus di depan pintu, kini memilih untuk mendaratkan tubuh di kursi tunggu yang ada di depan ruangan.


Tidak ingin mengganggu pembicaraan penting antara mertua dan juga menantu kesayangan tersebut, ia memilih untuk diam di sana sampai selesai karena berpikir jika masuk sekarang, akan mengacaukan apa yang disampaikan oleh sang ayah yang terlihat sangat serius ketika menawarkan sesuatu pada Tsamara.


Sementara itu di dalam ruangan, beberapa saat lalu Tsamara sadar dari pingsan setelah mendengar suara mertua yang sedang berbicara dengan pelayan.


Cahaya perlahan masuk ke kornea mata dan membuat pandangan yang awalnya gelap kini sudah terang dan bisa melihat apapun yang ada di hadapan. Termasuk interaksi antara mertua dan putranya yang berada di sofa.


Refleks Tsamara mengingat jika hal terakhir yang dipikirkannya adalah sosok pria yang merupakan mantan suami ternyata bertemu dengan sang putra di minimarket waralaba. Bahkan sampai membelikan banyak makanan ringan.


Adam Dirgantara dan Erina seketika bangkit berdiri dari posisi dan berjalan mendekati sang menantu yang membuat mereka lega karena telah sadar.


"Syukurlah kamu sudah sadar, Sayang." Erina langsung mengusap lembut punggung tangan Tsamara.


"Iya, Ma. Aku tadi tiba-tiba pusing di kamar mandi dan semuanya menjadi gelap." Tsamara bahkan saat ini memegang dahi yang terasa nyeri. "Sepertinya aku tadi kembali menghantam lantai ketika pingsan. Bahkan rasanya sangat nyeri."

__ADS_1


Adam Dirgantara merasa iba melihat dahi Tsamara memar dan sedikit benjol. "Sumi tadi sudah menceritakan semuanya padaku."


Tsamara yang masih mengusap dahi yang terasa nyeri, kini mengerutkan kening karena tidak paham dengan kalimat ambigu yang disampaikan oleh mertua.


"Menceritakan mengenai pingsan yang dialami di kamar mandi? Apa kata dokter tadi, Pa? Sebenarnya aku tidak apa-apa dan tidak perlu berada di rumah sakit. Hanya pusing dan demam biasa. Setelah minum obat dari dokter, pasti sembuh." Tsamara dari dulu paling tidak suka berada di rumah sakit.


Apalagi jika harus meninggalkan putranya, memilih untuk periksa ke dokter tanpa dirawat di rumah sakit.


Namun, menyadari bahwa mempunyai mertua yang kaya, pasti akan mendapatkan semua hal yang terbaik, seperti yang saat ini terjadi. Hanya pingsan saja, langsung dibawa ke rumah sakit dan kamar yang menjadi ruangan saat ini adalah kelas terbaik di sana, yang pastinya membuat orang mengeluarkan uang banyak untuk membayar tagihan.


Tsamara yang dari dulu sangat perhitungan mengenai masalah uang karena memang jenis usaha yang dimiliki adalah memutar modal usaha, agar tidak macet dan mendapatkan keuntungan, serta bisa menolong berapa orang yang bekerja untuknya.


Apalagi mengerti bahwa mencari uang sangat susah, jadi harus berhati-hati dalam mengatur keuangan ketika menjadi seorang wiraswasta. Membayangkan mertuanya akan mengeluarkan banyak uang hanya demi ia yang pingsan, seolah jiwa miskinnya meronta dan tidak ingin menghamburkan uang.


Jadi, langsung mengungkapkan nada protes begitu berada di hadapan mertua yang terlihat sangat mengkhawatirkannya.


Tsamara membulatkan mata begitu mendengar perkataan dari mertua yang membantah apa yang dipikirkan saat ini.


"Bukan masalah itu, Sayang, tapi mengenai pria yang merupakan ayah kandung dari Keanu—Rey Bagaskara yang tadi pagi membelikan banyak makanan. Aku yakin jika pria itu sudah mengikutimu setelah mencari banyak informasi semenjak lama." Erina mengungkapkan apa yang ada di pikiran, agar menantu mempercayai hal yang saat ini dikhawatirkan.


Adam Dirgantara bisa melihat ekspresi wajah Tsamara seketika berubah pucat, seperti menunjukkan tengah ketakutan.


Tidak ingin membuat menantunya semakin khawatir karena memikirkan tentang mantan suami, Adam tidak membuang waktu karena mengungkapkan rencana yang tadi disusun dan dibicarakan dengan sang istri.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2