
"Tidak terasa sudah sangat lama kita bersama dan bahkan putri kita sudah menikah, serta hidup bersama suaminya dengan bahagia." Paijo beralih menatap ke arah majikan yang seumuran dengan sang putrinya.
"Aku ingin melihat kebahagiaan didapatkan nyonya Tsamara. Sekarang sangat menderita karena hidup bersama pria yang sama sekali tidak pernah mencintai. Kenapa tidak memilih untuk bercerai saja, dari pada bertahan dengan rasa sakit."
"Kamu benar. Aku sebagai seorang wanita saja tidak akan pernah bisa mengizinkan ataupun menerima suami menikah lagi. Apalagi nyonya Tsamara menikah karena terpaksa dan hanya didasari oleh kebahagiaan Keanu." Sumi saat ini ikut menatap ke arah majikan dengan wajah pucat tersebut.
"Jika nanti nyonya Tsamara bercerai dengan tuan Zafer, bagaimana kalau kita memohon agar bisa bekerja untuknya?"
"Aku tidak ingin memiliki majikan jahat seperti tuan Zafer dan juga istri barunya itu. Bahkan hanya melihat sekilas saja sudah bisa menilai seperti apa sifat dari wanita yang semalam datang."
Sumi semalam memang memperhatikan wanita yang datang dengan sang majikan karena ingin membandingkan dengan majikan perempuan.
Begitu melihat pertama kali, sudah bisa menebak jika sifat wanita itu sangat kasar dan suka berbuat sesuka hati. Bahkan menghina orang lain karena dengan sangat tidak sopan, meminta dibuatkan minuman jus jeruk semalam begitu tiba di rumah.
Paijo memang memikirkan hal yang sama seperti sang istri dan kini mengganggu setuju.
"Nanti kamu berbicara saja pada nyonya Tsamara jika rumah tangga mereka tidak bisa diselamatkan."
Sumi tersenyum senang karena sang suami selalu sependapat dengan apa yang dipikirkan dan jarang terjadi perdebatan di antara mereka.
Hal itulah yang membuat rumah tangga mereka semakin erat karena jarang berdebat ataupun bertengkar.
Sementara itu, di dekat ruang kantor yang merupakan tempat untuk mencari informasi mengenai pasien di ruangan terbaik tersebut, terlihat Adam Dirgantara baru saja keluar dari sana setelah mendapatkan penjelasan dari perawat mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada menantu.
Bahkan tadi sempat merasa heran karena sang istri tiba-tiba datang dan berdiri di sebelah sambil mendengarkan penjelasan perawat.
Awalnya, Adam berpikir jika sang istri hanya ingin mengetahui apa yang terjadi pada menantu.
Namun, begitu berjalan keluar dari ruangan tersebut, mendengar suara wanita paruh baya itu mengenai hal yang selama ini dikhawatirkan.
"Ternyata Rey Bagaskara sekarang sudah mendekati Keanu. Sepertinya apa yang kita takutkan akan terjadi dan sebelum hal buruk menimpa Tsamara dan Keanu, kamu harus segera menyelesaikan masalah ini."
"Apakah mantan suami Tsamara datang ke rumah?" Adam Dirgantara saat ini menghentikan langkah dan menatap wanita dengan wajah pucat tersebut.
__ADS_1
Jawaban sang istri dengan gelengan kepala menegaskan bahwa apa yang saat ini dipikirkan salah. Jadi, kini merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Lalu?"
Erina pun menceritakan mengenai penjelasan dari pelayan dan tidak ada satu pun yang terlewatkan.
Bahkan wajah pucat kini terlihat karena khawatir jika pria itu akan semakin membuat hidup Tsamara menderita dengan cara merebut Keanu yang merupakan harta paling berharga dari sang menantu.
Adam Dirgantara saat ini mengusap lembut punggung sang istri untuk mengirimkan aura positif dan menenangkan.
"Sekarang aku tahu apa yang harus dilakukan. Kamu tidak perlu takut atau pun khawatir karena selama Tsamara berada di bawah pengawasan keluarga kita, akan terlindungi."
"Sepertinya aku akan membicarakan mengenai masalah ini dengan pengacara."
"Jadi, saat pria itu mengajukan gugatan di pengadilan, kita sudah siap. Sekarang kita perlu berbicara dengan Tsamara saat sadar nanti untuk membahas masalah ini."
"Mungkin memang akan menyakitkan karena membuka luka lama, tetapi tidak ada pilihan lain. Tidak mungkin kita berpura-pura seperti orang bodoh."
"Menganggap tidak terjadi apapun pada Tsamara. Padahal pasti saat ini sangat takut dengan pria itu karena juga memiliki kekuasaan."
"Kita tidak akan membiarkan Tsamara merasa hidup di dunia ini sendirian."
"Tsamara dan Keanu memiliki kita yang menyayangi mereka seperti putri dan cucu kandung sendiri." Erina merasakan tangan suaminya melingkar di pundak dan merasakan ketenangan setelah pria itu mengatakan hal-hal positif dan mengurangi kekhawatiran.
"Ya, kamu benar. Aku sudah menganggapnya seperti putriku sendiri saat pertama kali bertemu di rumah sakit.
Aku masih sangat ingat wajah pucat dan dipenuhi banyak alat kesehatan yang menopang hidup setelah mengalami kecelakaan akibat perbuatan Zafer, membuatku langsung memutuskan bahwa ia akan selamanya menjadi putriku."
"Apalagi perasaan bersalah dan berdosa semakin menggerogoti diri begitu mendengar sang dokter mengatakan jika kakinya lumpuh." Adam bahkan mengiyakan perkataan sang istri ketika membahas masalah orang tua Tsamara.
"Jika orang tua Tsamara masih hidup, pasti akan mengutuk keluarga kita. Kutukan atau doa orang yang teraniaya biasanya selalu menjadi kenyataan."
"Aku tidak ingin keluarga kita hancur karena itu. Semoga Zafer segera menyadari kesalahan dan memperlakukan wanita sebaik Tsamara, selayaknya sebagai istri."
__ADS_1
Erina yang baru saja menutup mulut, melihat sang suami mengeluarkan ponsel dan seperti sedang mencari sesuatu.
"Sepertinya harapanmu akan menjadi kenyataan sebentar lagi, Sayang."
Adam Dirgantara tiba-tiba mengingat foto dan video yang dikirimkan sahabat baik—merupakan dokter pribadi keluarga mereka.
"Kamu pasti tidak percaya melihat ini." Kemudian Adam menunjukkan benda pipih di tangan pada sang istri.
"Lihat ini!"
Refleks Erina seketika membekap mulut dan membulatkan mata karena sangat terkejut sekaligus tidak mempercayai apa yang saat ini dilihat.
"Ini putra kita? Bagaimana bisa?"
Adam hanya terkekeh melihat raut wajah sang istri yang seperti merasa shock atas apa yang dilihat. "Hal inilah yang membuat putramu merasa ragu untuk menikahi Rayya tadi."
"Apalagi setelah mendapatkan pukulan dari mertuanya. Jadi, Zafer datang terlambat karena Tsamara. Karena inilah aku tidak meluapkan amarah dengan memukul putra kita tadi meskipun sudah mempermalukan nama baik keluarga Dirgantara."
Wajah wanita paruh baya yang semula pucat dan dipenuhi oleh kekhawatiran tersebut, seketika berubah berbinar begitu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pagi ini di antara putra dan menantu kesayangan.
"Aku sama sekali tidak pernah berpikir tentang hal ini. Zafer tidur dengan memeluk istri yang selama ini dibenci dan tidak diharapkan ketika malam sebelum menikah dengan Rayya."
"Apakah ini adalah pertanda yang baik untuk keluarga kita, Sayang?" Erina bahkan saat ini mencubit tangan untuk memastikan tidak sedang bermimpi dan langsung meringis menahan rasa nyeri atas perbuatan sendiri.
"Ternyata sakit."
"Apa yang kamu lakukan?" Adam yang dari tadi tekekeh melihat sikap sang istri yang seperti sangat bahagia, kini menyipitkan mata.
"Aku pikir, ini semua adalah mimpi dan ingin menyadarkan diri agar terbangun, tetapi ternyata semuanya nyata." Erina mengusap tangan yang tadi dicubit dan menoleh ke arah sang suami setelah mendapatkan ide di kepala.
"Setelah kejadian yang membuat menantu kita khawatir, lebih baik membawa Tsamara ke rumah utama. Di sana, ada banyak pelayan dan juga pengawal yang pasti akan menjaga Tsamara, serta Keanu. Aku khawatir jika pria itu menyuruh orang untuk menculik Keanu."
"Sepertinya kamu benar. Lebih baik kita bicarakan ini dengan Tsamara terlebih dahulu, untuk memastikan apakah menyetujui idemu ini. Sekarang kita kembali ke ruangan untuk melihat apakah menantu kita sudah sadar atau belum."
__ADS_1
Adam Dirgantara masih memeluk sang istri dan mengajak berjalan menuju ke ruangan di mana menantu mereka dirawat.
To be continued...